Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kuil Omiya



Keiko bersenandung pelan. Wajahnya cerah dan berseri-seri, tampaknya sama sekali tidak ingat dengan tingkah konyolnya mengerjai Andrew tadi siang. Setelah menggigit bibir pria itu, ia masuk dan tidur dengan nyaman di balik selimut.


Gadis itu baru bangun ketika cahaya matahari senja menelusup dari jendela dan menerpa wajahnya. Setelah bangun, ia lalu mandi dengan cepat. Sekarang ia sudah berpakaian dengan rapi, siap untuk pergi ke Kuil Omiya. Hari sudah mulai gelap ketika akhirnya ia keluar dari kamar.


Di luar, Andrew sudah menunggu dengan tidak sabar. Beberapa kali ia mengulurkan tangan, terlihat seperti ingin mengetuk pintu, tapi gerakan itu terhenti di udara. Terus begitu selama beberapa kali. Hingga akhirnya ketika ia mendengar suara kunci pintu yang dibuka dari dalam, akhirnya ia menarik napas dengan lega. Ia merapikan syal yang melilit di lehernya dan mengambil lampion yang tadi diletakkannya di lantai.


“Hei, sejak kapan kamu di situ?” tanya Keiko dengan raut wajah sedikit terkejut.


“Aku sudah hampir mendobrak pintu dan menyeretmu keluar,” jawab Andrew sambil menyeringai lebar.


Keiko terkekeh hingga matanya menyipit. Ia lalu berkata, “Maaf, aku ketiduran."


“Mana lampionku?” sambung gadis itu lagi seraya mengulurkan tangan.


“Biar aku bawakan,” jawab Andrew seraya menenteng dua buah lampion mereka dengan satu tangan, “Ayo, Tuan Kenjiro sudah menyuruh orang untuk menjemput kita makan malam.”


“Oke. Aku memang sudah lapar,” balas Keiko sambil tersenyum senang.


Dua orang itu berjalan bersisian di selasar. Seorang pria yang berdiri sekitar lima meter dari mereka segera menyapa dengan sopan dan mengantar mereka ke ruang makan. Keiko hampir berdecak kagum ketika melihat dekorasinya yang sangat indah. Buket bunga hampir memenuhi ruangan itu, juga lilin-lilin mungil yang cantik di beberapa sudut, membuat semuanya terlihat sangat sempurna.


Ruang makan itu cukup luas. Ada sebuah meja kristal di tengah ruangan dengan sebuah lilin putih besar di tengahnya. Di atasnya terhidang aneka makanan. Ia segera menghampiri kursi berwarna marun yang diletakkan berseberangan di sisi meja dan menatap semua hidangan yang ada. Di matanya, semua makanan itu tampak memancarkan cahaya yang berkilauan. Aroma makanan yang lezat membuat air liur gadis itu hampir menetes.


Andrew menyerahkan lampion kepada pria yang tadi mengantar mereka, lalu menarik kursi dan mempersilakan Keiko untuk duduk. Ia lalu melangkah ke sisi yang berlawanan dan duduk di kursinya.


“Kamu suka?” tanya pria itu saat melihat binar di mata Keiko yang sedang fokus menatap makanan di atas meja.


Keiko mengangguk cepat sambil menjawab, “Suka sekali! Terima kasih!”


“Bagus. Ayo, cepat makan ....”


“Hum.”


Keiko mengambil piring dan mulai mengambil makanan yang ada di atas meja. Ia sudah mengincar tumis abalon dan lobster yang tampak sangat menggoda di dalam mangkuk kristal.


“Ini semua makanan favoritku. Dari mana kamu tahu?” tanya Keiko dengan wajah berseri-seri.


“Ra-ha-si-a,” jawab Andrew sambil mengedipkan mata.


“Bibirmu masih sakit tidak?”


“Tidak.” Andrew menggeleng. “Kenapa?”


“Mau kugigit lagi?” tanya Keiko sambil memasang ekspresi nakal.


“Boleh. Dengan senang hati aku bersedia. Kalau kamu ingin memakanku pun boleh, aku tidak keberatan sama sekali,” balas Andrew dengan sorot mata yang penuh arti.


Keiko terdiam. Ia mengerti apa maksud pria itu dengan kata “memakanku”. Ia ingin memarahi pria itu, tapi tak ingin merusak suasana. Akhirnya hanya bisa diam dan makan dengan tenang.


Andrew tersenyum puas ketika berhasil membuat Keiko merona. Gadis itu menunduk dan makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Andrew juga mengambil piringnya dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang sama dengan dipilih Keiko, lalu mulai makan.


Saat hidangan yang mereka santap sudah hampir habis, seorang pelayan masuk dan membawa keranjang sampanye. Pria itu meminta izin dengan sopan, lalu menuangkan minuman itu ke dalam dua buah gelas yang sudah disiapkan sebelumnya.


Keiko meletakkan sendok dan garpu di piring dan menatap Andrew. Ia lalu berkata, “Aku tidak bisa minum alkohol.”


Andrew tersenyum lembut dan berkata, “Aku tahu. Oleh karena itulah aku memilih sampanye yang kadar alkoholnya paling rendah, rasanya juga sangat lembut.”


Pria itu mengambil gelasnya dan mengulurkannya ke arah Keiko sambil melanjutkan, “Untuk merayakan kencan pertama kita.”


Keiko menghela napas dan mengangkat gelasnya seraya berkata, “Bersulang untuk kencan pertama kita.”


Andrew menyentuh gelas Keiko dengan gelasnya sehingga suara berdenting bergema di udara.


“Untuk kencan pertama kita,” ucap Andrew sambil tersenyum lembut.


Sepasang kekasih itu menyesap cairan berwarna kuning keemasan yang ada dalam gelas dengan perlahan. Aroma yang lembut dan manis menggelitik syaraf indera penciuman mereka, menambah nikmat ketika buih-buih cairan itu pecah di ujung-ujung papila dan menghantarkan rasa manis dan sedikit asam yang segar. Keiko mengerjap sehingga bulu matanya yang lentik terlihat indah dalam pantulan cahaya lilin.


“Ini enak sekali,” gumam gadis itu seraya memperhatikan gelembung-gelembung kecil yang bergerak naik dari dasar gelas.


“Bagus sekali kalau kamu suka. Aku—“


Duar! Duar! Duar!


“Ah, sayang sekali ... sampanye ini—“


“Nanti pelayan akan menyimpannya. Kita bisa meminumnya setelah pulang nanti,” ujar Andrew seraya bangun dan membantu Keiko berdiri.


Ia lalu menggandeng tangan gadis itu dan menuntunnya keluar. Di depan pintu, pria yang tadi memegang lampion mereka sudah menunggu. Pria itu tersenyum sopan seraya menyerahkan kembali lampion yang ada di tangannya.


“Terima kasih,” ujar Andrew sembari menerima benda itu dan memegangnya dengan hati-hati.


“Sama-sama, Tuan. Selamat menikmati acaranya.”


Andrew lalu mengajak Keiko berjalan menuju pintu utama yang langsung terhubung dengan jalan raya. Suasana yang semarak langsung menyambut mereka di depan pintu. Orang-orang dengan beragam kostum lalu-lalang di hadapan mereka sambil tertawa ceria. Lampu-lampu lampion yang cantik dengan aneka rupa dan warna berderet di sepanjang jalan menuju Kuil Omiya. Mereka berdua pun mulai melangkah mengikuti kerumunan orang-orang melewati jalanan yang sedikit menanjak.


Senyum lebar tak hilang dari wajah Keiko. Ia menggenggam tangan Andrew erat-erat, seolah takut jika melepaskannya maka pria itu akan hilang dari hadapannya. Ia benar-benar sangat bahagia! Meski lahir dan tinggal Jepang, ia belum pernah datang ke tempat ini. Ayahnya menjaganya dengan sangat ketat dan hati-hati, tidak diperbolehkan pergi ke sembarang tempat, apalagi ke perayaan-perayaan di tempat terbuka dengan banyak orang seperti ini.


Keiko menoleh dan berseru di dekat telinga Andrew, “Terima kasih, aku sangat senang!”


Andrew tersenyum dan menarik tangan Keiko hingga lengan mereka saling menempel. Ia lalu balas berteriak, “Sama-sama, aku juga senang kalau kamu menyukainya.”


Senyum di wajah Keiko semakin lebar. Andrew sudah memberitahunya bahwa pukul 18:30 nanti, sebuah tarian untuk pengabdian lampion akan diadakan di pelataran Kuil Omiya. Itu artinya setengah jam lagi pertunjukan itu akan dimulai. Kemudian, sekitar 4.000 kembang api akan dinyalakan dalam pertunjukan kembang api di Sungai Kikuchi. Itu akan diadakan pada pukul 20.00. Setelah itu, mereka bisa ikut menerbangkan lampion dari tepi Sungai Kikuchi. Keiko benar-benar sudah tidak sabar! Ia ingin menuliskan sesuatu pada lampionnya.


“Sudah hampir sampai,” ujar Andrew ketika gerbang utama Kuil Omiya sudah terlihat beberapa meter di depan mereka.


Bangunan kuil yang dominan berwarna merah itu kini hampir tertutup oleh lautan manusia. Andrew mengajak Keiko Keiko pergi ke sebuah stand yang menyediakan kuas dan tinta khusus untuk menulis di kertas lampion. Mereka berdua lalu sibuk menulis di lampion masing-masing.


Keiko penasaran, ingin melihat apa yang ditulis oleh Andrew, tapi pria itu menyembunyikan ukiran tangannya.


“Apa yang kamu tulis? Tunjukkan padaku,” pinta Keiko dengan mata berbinar penuh harap.


“Ini rahasia. Kamu tidak boleh melihatnya,” jawab Andrew seraya sedikit membungkuk untuk menghalangi pandangan Keiko.


“Kenapa tidak boleh? Pembaca juga ingin melihatnya,” gerutu Keiko pelan.


“Pembaca? Di mana mereka?” tanya Andrew sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Itu ... di belakangmu ....”


Andrew menoleh ke belakang dan menatap para pembaca yang sekarang sedang mengernyit heran.


“Nggak usah kepo, deh,” ujar pria itu dengan mata menyipit, “Katanya kalian ngefans sama Mr.Roux dan Sakamoto Keiko, tapi like dan vote aja susah. Huh!”


Pria itu lalu bersedekap dan menatap tajam ke arah para pembaca yang kini semakin terlihat bingung.


“Kata author, kalau kalian masih pelit like dan vote tapi rajin nanya kapan up, kalo komen ngeselin dan selalu bilang ‘kurang panjang’, author bakal bikin Keiko mati seperti Kinara Lee di season 1. Kalian mau kalau begitu? Hah? Mau?”


“Hey, jangan marah-marah seperti itu,” ujar Keiko seraya menariki tangan Andrew, “Nanti para pembaca kabur ketakutan.”


“Mereka pasti bakal rajin like dan vote, kok,” sambung gadis itu lagi seraya menatap penuh harap ke arah para pembaca yang masih mengernyit kebingungan.


Cerita macam apa ini?


Kok endingnya gini?


Maap, otor lagi gabut.


Bye.


Sampe ketemu besok.


***