Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Pertempuran di Pulau



“Kapten, ada serangan misil!” seru pilot dari kokpit, terkejut melihat empat buah misil pengejar panas meluncur ke arah mereka dengan kecepatan penuh.


“Sebarkan sekam!” teriak Mr.Durrant dengan lantang.


Sepersekian detik kemudian, dua orang anak buahnya menembakkan roket yang kemudian pecah menjadi ratusan bola berasap yang berpencar ke segala arah. Bersamaan dengan itu sang pilot melakukan manuver dan menukik tajam ke bawah untuk menghindari tabrakan.


Boom! Boom!


Suara ledakan bertubi-tubi terdengar ketika misil pencari panas bertabrakan dengan sekam yang dilontarkan. Entakan udara akibat tekanan dari ledakan membuat helikopter sedikit tidak stabil dan mengalami turbulensi. Akan tetapi, pilot dengan cepat menstabilkan kemudi dan kembali membubung ke angkasa.


“Kirim serangan balasan!” perintah Mr.Durrant lagi seraya mengamati tebing menggunakan teropong.


“Gunakan kekuatan penuh!” imbuhnya lagi dengan tangan terkepal.


Di sisi lain, Kim memicing sekilas. Matanya lalu bergerak dan memindai di antara debu dari ledakan. Helikopter musuh jelas tidak jatuh karena serangannya tadi, suara deru baling-baling yang berputar cepat justru terdengar semakin mendekat. Ia bersiap meluncurkan tembakan susulan, berlutut dan memasang misil ke roket peluncur. Akan tetapi, rentetan peluru lebih dulu berhamburan ke arahnya.


“Sial!” umpat Kim seraya berguling ke sisi kanan dan bersembunyi di balik pohon oak.


Wanita itu mendesis pelan. Lengan kanannya tergores peluru. Cairan merah pekat merembes dari sela bajunya yang koyak. Namun, tidak ada waktu untuk mengurusi hal sepele itu karena suara tembakan dan ledakan mulai terdengar pula dari dermaga.


Kim melongok dari balik pohon, ingin mengintai musuh yang semakin mendekat. Namun, baru saja kepalanya bergerak beberapa sentimeter, suara desingan peluru melesat cepat melewati pelipisnya. Wanita itu mengokang senjata laras panjangnya dan berguling cepat ke sisi kiri, lalu melepaskan rentetan tembakan bertubi-tubi ke arah helikopter yang hanya berjarak sekitar lima meter dari ujung tebing.


Salah satu pelurunya mengenai baling-baling, menimbulkan bunyi berdentang yang cukup keras. Sepertinya peluru juga mengenai pilot yang mengendarai helikopter itu sehingga kendaraan udara itu mulai kehilangan kendali. Lima penumpangnya melompat dari ketinggian hampir 10 meter tanpa ragu sedikit pun, membuat Kim sedikit terpana. Ia belum pernah melihat manusia yang memiliki kemampuan seperti itu.


Sedetik kemudian, Kim kembali berlutut dan membidik ke arah helikopter yang sedang bersiap untuk mendarat. Akan tetapi, lima orang pasukan yang lebih dulu melompat turun segera menyerbu ke arah Kim sehingga wanita itu terpaksa mengalihkan serangannya kepada mereka.


Selongsong terpental ke udara ketika pelatuk ditarik. Suara mesin yang memuntahkan ratusan peluru dalam satu waktu menghasilkan bunyi bising yang memekakkan telinga. Timah panas itu melesat dan menembus tubuh para pria yang sedang menghambur ke arah Kim, tapi ekspresi wajah mereka tetap datar, seolah tidak merasakan sakit sama sekali.


Pengalihan yang dilakukan oleh anak buahnya membuat Mr.Durrant mendapat kesempatan untuk turun dari helikopter tanpa kesulitan yang cukup berarti. Pria itu menyeringai kejam ketika melihat Kim yang terkepung di balik pohon oak. Ia sempat melihat wajah Kim saat helikopter akan mendarat tadi.


Ia puas karena dugaannya benar: wanita itu adalah salah satu anggota pasukan Andrew Roux. Tragedi Tanaka membuatnya lebih berhati-hati dan mempersiapkan diri jika harus berhadapan dengan salah satu humanoid lagi. Oleh karena itulah ia sudah menyiapkan sebuah alat khusus untuk melumpuhkan manusia sintetik itu.


“Keluarkan EMP!” seru Mr.Durrant kepada salah seorang anak buahnya.


“Siap, Komandan!” jawab pria yang berdiri di sisi Mr.Durrant.


Pria itu segera mengeluarkan sebuah alat berwarna perak dengan bentuk menyerupai torpedo sepanjang 50 sentimeter. Ia mengaktifkan elektromagnetik pulse itu dan menekan tombol merah, lalu mengarahkan pemancar ke arah pohon oak.


Kim yang tidak mengetahui serangan itu sedang berkelahi dengan tiga orang prajurit yang berhasil menerobos serangan pelurunya. Ia menggunakan belati untuk menebas leher dan menikam jantung orang-orang itu tanpa ampun. Penampilannya sangat berantakan. Cairan merah yang lengket dan anyir membasahi wajah dan tubuhnya. Entah darah musuh atau darahnya sendiri, ia sudah tidak dapat membedakannya lagi.


Kemudian, saat wanita itu hendak memungut senapannya yang tergeletak di atas tanah, tiba-tiba tubuhnya bergetar dengan sangat keras. Seluruh sistem komputer dalam tubuhnya mendadak kacau. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, matanya hanya menangkap garis-garis horizontal dan vertikal yang tumpang tindih. Gendang telinganya seolah akan meledak karena mendengar suara dengungan dengan kapasitas desibel yang tidak dapat ditoleransi oleh indera pendengarannya.


“Arrrgh!”


Kim menjerit kencang dan terbanting di atas tanah. Tubuhnya berkelonjotan seperti sedang dialiri arus listrik ribuan volt. Sungguh sangat menyakitkan.


Sistem error. Repeat. Sistem error.


“Tidak!” teriak Kim sekuat tenaga. Cahaya di matanya meredup sebelum akhirnya benar-benar padam.


Mr.Durrant terkekeh puas. Ia menendang tubuh Kim yang tergeletak seperti boneka rusak di atas tanah. Pria itu lalu memimpin sisa pasukannya menuruni tebing.


Saat melewati beberapa anak buahnya yang terluka parah tapi masih bergerak, tanpa segan pria itu mengarahkan pistol ke kepala mereka dan menarik pelatuk. Baginya, pasukan yang terluka sungguh tidak berarti, hanya akan menjadi beban untuk keberlangsungan misi.


Pria botak itu langsung menuju rumah pondok yang terlihat sepi. Meski demikian, ia yakin putri dari Sakamoto Zen pasti bersembunyi di dalam sana. Saat tiba di halaman pondok, pasukannya yang menyerang dari laut juga datang sambil menodongkan senjata ke kepala Tuan Sergio dan tiga orang anak buahnya.


Rupanya Tuan Sergio pun berhasil dikalahkan, bahkan satu orang anak buahnya tewas terkena ledakan granat.


“Geledah rumah ini!” perintah Mr.Durrant kepada anak buahnya.


Enam orang pria bersenjata lengkap segera menerobos masuk dan memeriksa semua ruangan. Namun, ternyata mereka tidak berhasil menemukan gadis itu di mana pun. Setelah menggeledah setiap sudut ruangan dengan teliti tapi tetap tidak menemukan gadis itu, keenam pria itu pun akhirnya keluar dengan tangan hampa.


“Dia tidak ada di dalam, Bos,” lapor salah seorang pengawal seraya menundukkan kepala.


“Tidak mungkin!” seru Mr.Durrant seraya menendang anak buahnya yang baru saja melapor itu, “Dia pasti bersembunyi di dalam ... mungkin dalam ruang rahasia."


Mata pria itu berkilat licik. Ia mengeluarkan cerutu dan membakar ujungnya dengan santai, lalu menoleh ke arahTuan Sergio dan berseru, “Suruh gadis itu keluar!”


Tuan Sergio mencibir dan meludah ke tanah.


“Bunuh saja aku,” ujar pria tua itu tanpa rasa takut sedikit pun.


“Begitu?” Mr.Durrant tidak terlihat marah sama sekali. Ia mengisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke wajah Tuan Sergio.


“Tenang saja, kalian memang akan mati, tapi tidak sekarang,” ujar Mr.Durrant lagi seraya menjentikkan tangannya.


Dengan sigap anak buah Mr.Durrant yang menodongkan pistol ke kepala Tuan Sergio mengayunkan popor senjatanya ke kepala pria tua itu hingga dia jatuh tersungkur.


Tuan Sergio tetap mengatupkan mulutnya rapat-rapat meskipun rasa sakit membuat kepalanya terasa seolah hampir meledak.


Tawa dari mulut Mr.Durrant semakin kencang. Ia menghampiri Tuan Sergio dan menginjak kepala pria itu, lalu menoleh ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut depan rumah sambil melambaikan tangan.


“Hallo, Gadis Kecil. Aku tahu kamu dapat melihatku. Tentu kamu tidak ingin menyaksikan otak mereka berceceran ke mana-mana, bukan?” ujar Mr.Durrant sambil terus tersenyum lebar.


“Lagipula, kalau kamu tidak keluar ... aku akan tetap meratakan tempat ini dengan tanah, tentunya setelah mengumpankan potongan tubuh teman-temanmu ini kepada ikan hiu,” sambung pria itu lagi sebelum terkekeh hingga matanya menyipit.


Pria itu jelas terlihat sangat bahagia. Ia sudah dapat membayangkan bahwa Keiko akan keluar dan menyerahkan diri dengan sukarela. Setelah itu ... jalan untuknya menuju puncak tertinggi pasti akan lebih mudah.


Hanya saja, pria itu terlalu meremehkan kemampuan Sakamoto Keiko. Jelas gadis itu tidak akan menyerahkan diri dengan mudah.


***