Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Akan bertanggung jawab



Berbanding terbalik dengan Hansel yang sedang tersenyum lebar seperti orang bodoh, Cecille sudah hampir muntah darah. Apanya yang seputih salju? Apanya yang harus bertanggung jawab? Jelas-jelas penampilan pria itu seperti musang tua yang licik!


“Berkencan kepalamu!” gerutu Cecille seraya turun dari ranjang. Ia ingin mandi, lalu pergi dari tempat itu secepatnya. Semakin lama berada satu ruangan dengan Hansel Roux bisa membuatnya semakin sakit kepala.


Hansel menghadang di depan Cecille, tidak mengizinkannya untuk pergi. Cahaya yang menyilaukan terpantul dari manik matanya. Ia menatap wanita berambut keemasan di hadapannya dengan sorot memuja, persis seperti seekor anak anjing yang ingin dimanja oleh tuannya.


“Aku bersungguh-sungguh, Cecille. Kalau tidak ... kita pergi ambil akta nikah?”


Cecille mendongak dan membalas tatapan Hansel, seolah ia sedang menatap seorang pria yang telah kehilangan kewarasannya. Pertemuan mereka bisa dihitung dengan jari, itu pun tidak selalu dalam situasi yang baik. Beberapa waktu lalu pria itu bahkan masih saling menempel dengan wanita lain di Berlyn’s Club, lalu sekarang mendadak mengajaknya mengambil akta nikah? Ia mungkin sedikit ceroboh dan impulsif, tapi belum segila itu untuk menikahi pria hanya karena sekss satu malam. Ya, itu hanyalah sekss satu malam, bahkan tidak ada cinta yang terlibat di dalamnya.


Wanita itu menghela napas dan memijit pelipisnya yang semakin berdenyut, lalu mengangkat kedua tangannya ke udara, membuat gerakan menahan ketika melihat Hansel ingin mendekat.


“Kita bukan anak kecil lagi, Hansel. Aku tidak akan mempermasalahkannya karena semalam adalah kesalahanku. Ini juga bukan masa di mana kesucian adalah segalanya. Tapi kalau kamu merasa keberatan, aku akan memberikan kompensasi untukmu. Berapa yang kamu inginkan? Sebutkan saja nominalnya. Aku—“


“Kamu pikir aku gigo*lo?” Hansel merengut, terlihat jelas kalau ia tersinggung dengan ucapan Cecille barusan. “Aku tidak kekurangan uang.”


“Lalu apa yang kamu inginkan? Jangan bilang pernikahan karena itu tidak mungkin!”


“Kalau begitu, ayo berkencan?”


Cecille menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya erat-erat, menahan dorongan kuat untuk meninju pria di hadapannya yang bersikap tidak masuk akal.


“Kenapa kamu sangat keras kepala? Aku tidak mau!” serunya.


“Kenapa?”


“Kenapa?! Karena aku tidak mencintaimu!”


“Aku juga tidak mencintaimu, setidaknya untuk sekarang ... tapi, aku pikir kita bisa memulainya ... seharusnya tidak sulit untuk jatuh cinta kepadamu. Meski kamu sangat keras kepala dan tidak masuk akal, tapi aku masih bisa menerimanya. Lagi pula semalam adalah sekss yang luar biasa, rasanya—“


“Dasar sinting!”


“... aku ketagihan.”


Tubuh Cecille menegang mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Hansel. Pria itu ternyata lebih tidak tahu malu dibanding perkiraannya. Meski demikian, rona merah muda merambat di pipi dan telinga Cecille. Harus ia akui, sekss tadi malam memang luar biasa, meski seluruh tubuhnya remuk redam setelahnya.


Wanita itu memelototi Hansel dan mendesis dingin, “Tidak tahu malu!”


Untunglah suara bel pintu menginterupsi pertikaian kecil itu. Cecille segera menuju kamar mandi ketika Hansel pergi untuk membukakan pintu. Saat membuka baju dan berdiri di depan cermin, Cecille bisa melihat dengan jelas seluruh mahakaraya yang ditinggalkan Hansel di tubuhnya. Mulai dari leher hingga paha, jejak kemerahan terlihat di mana-mana. Beberapa bahkan tampak lebam dan kebiruan. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh lebam itu, lalu mendesis pelan ketika tempat yang disentuh terasa sakit.


“Dasar binatang buas! Apakah dia itu anjing liar? Menggigit sembarangan seperti ini! Benar-benar brutal!”


“Ini akibat kesalahanmu, Gadis Bodoh! Dasar tolol! Kamu pantas menerimanya,” rutuknya lagi, memaki dirinya sendiri.


Wanita itu lalu mengisi bathtub dengan air hangat dan berendam. Saat ia masuk, air dan cairan sabun membuat pangkal pahanya terasa pedih setengah mati, Ia mendesis dan mengerutkan kening. Sialan. Rasanya benar-benar sakit. Mengingat bagaimana Hansel Roux memasuki dan merobeknya semalam membuatnya kembali merinding.


Untuk ukuran pria Asia, milik Hansel cukup ... um, bagaimana mengatakannya? Lagi pula ia belum pernah melihat milik pria lain sehingga tidak ada acuan untuk perbandingan.


“Astaga! Hentikan, Cecille! Kamu sama mesumnya dengan pria sinting itu!” gerutu Cecille seraya memukuli pipinya sendiri. Tiba-tiba ia merasa suhu air meningkat drastis, membuatnya kepanasan dan berkeringat.


Wanita itu berendam hampir satu jam sebelum membersihkan dan mengeringkan diri, lalu memakai kembali bajunya. Sebenarnya ia sudah selesai sejak setengah jam lalu, tapi sengaja berlama-lama di dalam sana, berharap Hansel sudah pergi ketika ia keluar. Sayangnya, harapannya tidak terkabul. Pria menjengkelkan itu sedang duduk di sofa dengan wajah masam ketika ia keluar.


“Apakah kamu mandi atau berganti kulit? Kenapa lama sekali?” tanya pria itu seraya bangkit berdiri dan mengambil piring. “Cepat makan. Kamu bisa sakit kalau bertingkah bodoh seperti itu.”


Cecille tidak mau memedulikan pria itu dan duduk di ujung sofa yang paling jauh setelah mengambil sarapannya. Ia menunduk dan makan dalam diam, tidak menoleh ke arah Hansel, bahkan tidak menanyakan apakah pria itu sudah makan atau belum.


Hansel bersedekap dan berdiri di hadapan Cecille, memperhatikan wanita itu makan tanpa menoleh atau berbicara dengannya sama sekali. Sungguh wanita paling keras kepala yang pernah ditemui olehnya. Pria itu menghela napas dan merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan satu strip pil yang bungkusannya berwarna keperakan dan meletakkannya di atas meja.


“Kamu memiliki nomorku kalau terjadi sesuatu. Asal kamu menginginkannya, aku akan bertanggung jawab.”


Suara yang dalam dan tenang itu bergema dalam ruangan, meninggalkan kesunyian panjang ketika sang pemilik suara berbalik dan pergi. Cecille yang terbengong mengerjap ketika suara pintu yang tertutup terdengar beberapa detik kemudian.


Apakah dia marah?


Cecille menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat.


Cih. Kenapa harus marah? Karena aku mengabaikannya?


Cecille ingin melanjutkan kembali menikmati sarapannya, tetapi mendadak ia kehilangan selera. Rasanya seperti makanan yang baru saja ia telan tersangkut di kerongkongannya. Wanita itu bangun dan mengambil segelas air, kemudian menenggaknya sampai habis.


Kalimat Hansel terus bergema di telinganya. Pria itu membiarkannya untuk mengambil keputusan, meminum pil kontrasepsi itu atau tidak. Kalau ia tidak meminumnya, Hansel Roux akan bertanggung jawab kalau-kalau ia hamil karena percintaan mereka semalam.


Asal ia menginginkannya, pria itu akan bertanggung jawab.


Heh. Lucu sekali. Apakah ia mau menikahi pria sinting itu?


Cecille menelan ludah dan memejamkan mata. Bibirnya gemetar, tiba-tiba ia merasa kedinginan untuk alasan yang tidak jelas. Seluruh tubuhnya mulai ikut gemetar. Ia berjongkok dan memeluk dirinya sendiri, lalu mulai menangis dengan sedih. Berpura-pura tegar ternyata menguras semua emosi dan tenaganya.


***


jangan lupa like dan vote yaa😘