Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kamu harus bertanggung jawab



Cecille gelisah dalam tidurnya, sesekali ia mengerang dan bergumam tidak jelas. Lalu tiba-tiba sebuah lengan kokoh menariknya mendekat, memeluk dan mengusap lengan mungilnya dengan sangat lembut. Merasakan sentuhan itu, Cecille bergelung dengan nyaman dan kembali terlelap.


Dalam mimpinya, ia merasakan seseorang sedang mengendus-endus dan menciumi lehernya. Ia menggedikkan bahu untuk menyingkirkan gangguan itu, tapi tak lama kemudian, telapak tangan yang lebar dan hangat melingkari pinggangnya dan merayap di perutnya seperti ular!


 


“Minggir!” desis wanita itu seraya menendang ke belakang.


 


“Ugh!”


 


Suara lenguhan tertahan terdengar cukup nyata. Kelopak mata Cecille bergetar. Mengapa rasanya bukan seperti mimpi?


 


Perlahan kesadaran wanita itu mulai kembali. Kabut tipis yang menyelimuti otaknya perlahan sirna ketika seberkas cahaya keemasan menelusup masuk dan tertangkap oleh retinanya. Pandangan yang berbayang dan samar-samar secara bertahap menjadi lebih jelas, sejelas otaknya yang sudah kembali bekerja.


 


“Sudah bangun?”


 


Suara serak dari balik tubuhnya membuat Cecille berubah kaku. Ingatannya melesat melebihi kecepatan cahaya, berusaha mengumpulkan kepingan informasi yang berceceran di mana-mana. Ia tidak berani menoleh, tidak berani bergerak, bahkan tidak berani bernapas ....


 


“Mana yang tidak nyaman? Masih sakit tidak?”


 


Cecille menggigit bibir kuat-kuat. Kalau tahu konsekuensi yang harus ditanggung sebesar ini, ia lebih memilih untuk tidak mengharapkan Andrew Roux sama sekali.


Ia ingin pura-pura mati, tapi pria di belakangnya sama sekali tidak memberinya jalan untuk melarikan diri.


 


“Tidak mau bicara? Ini ketiga kalinya aku menolongmu, setidaknya ucapkan terima kasih ....” Hansel menopang kepalanya dengan lengan, kemudian memilin helaian rambut Cecille dengan santai.


 


“Aku tidak keberatan dengan ciuman selamat pagi,” lanjutnya lagi seraya mencium gulungan rambut di tangannya.


 


Cecille agak sedikit terdistorsi dengan sikap dan perlakuan Hansel. Tadinya ia pikir pria itu akan mencampakkannya seperti Andrew, tapi dia tidak. Lalu ia pikir pasti Hansel akan meninggalkannya setelah ... um, setelah semalam ... tapi pria itu justru menemaninya sampai pagi, menanyakan apakah keadaannya baik-baik saja atau tidak, bahkan masih sempat menggodanya. Ia tidak mengerti ... apa yang ada di pikiran pria itu?


 


“Kenapa masih di sini?” Akhirnya Cecille membuka suara, meski nada yang terdengar dari mulutnya sedikit sumbang dan mengandung sedikit kepahitan.


 


Gerakan tangan Hansel berhenti.


 


“Apa maksudmu?” tanyanya sambil mengernyit. “Kamu ingin aku pergi setelah semalam?”


 


“Semalam itu kesalahan. Anggap saja tidak pernah terjadi. Pergilah.” Cecille menarik selimut dan menutupi tubuhnya rapat-rapat.


 


Tiba-tiba Hansel merasa kesal karena alasan yang tidak jelas. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya karena memikirkan kemungkinan bahwa Cecille masih mengharapkan Andrew. Ia berguling dan menekan tubuh Cecille dengan keras, tidak melepaskan meski wanita itu meronta dan mengumpat.


 


“Apa yang kamu lakukan!” bentak Cecille seraya berusaha melepaskan cekalan Hansel di pergelangannya. Namun, seberapa keras pun ia berusaha, pria di atasnya bergeming.


 


“Lepaskan! Kamu tidak berhak!” Cecille memelototi pria itu dengan mata yang memerah. Apa hak pria itu untuk menindasnya seperti ini?


 


Hansel menggertakkan gigi. Namun, nyala api yang berkobar di matanya perlahan padam ketika melihat Cecille sudah hampir menangis.


Sial. Dirinyalah yang dipermainkan dan dimanfaatkan di sini, tapi ia justru terlihat seperti penjahat.


 


Cecille berhenti meronta. Ia memalingkan wajah dan menangis dalam diam. Hal itu membuat Hansel semakin tidak berdaya. Pria itu melepaskan cekalannya dan turun dari ranjang. Sekilas Cecille bisa melihat otot perutnya yang kencang, juga sesuatu yang tersembunyi di dalam celana boxer hitam itu. Tiba-tiba wajahnya memanas dengan cepat, membuatnya kembali berpaling untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.


 


 


Pria itu mengulurkan tangan untuk membelai rambut Cecille sambil berkata, “Aku minta maaf, jangan menangis lagi. Bangun dan pergi mandi. Setelah itu sarapan.”


 


Hidung Cecille terasa semakin pedih dan masam. Ia tidak menginginkan semua perhatian itu! Ia tidak ingin ....


 


“Tidak usah mengurusiku! Pergi!” teriaknya sambil mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Hansel.


 


Pria itu tidak menghindar, membiarkan bantal menghantam wajahnya dan jatuh ke lantai. Dengan sabar ia memungut kembali benda itu dan meletakannya di samping Cecille. Ia lalu mengungkung tubuh wanita itu dengan kedua lengannya yang kokoh dan menatap manik birunya yang berair, terlihat sangat menyedihkan sekaligus menggemaskan.


 


“Jangan marah lagi ...," bujuk Hansel dengan sangat lembut "Semalam tidak memakai pengaman, mau aku belikan pil kontrasepsi tidak?”


 


Cecille mengepalkan kedua tangannya dan mematung. Ia sama sekali tidak memikirkannya. Tidak sanggup juga untuk terus membalas tatapan Hansel yang tenang dan teduh itu. Ia pikir pria itu langsung menghilang dan kabur setelah kejadian semalam. Ia pikir Hansel akan mencibir dan menertawakannya, atau setidaknya menceramahinya panjang lebar. Ia pikir pria itu akan menghinanya seperti sikap Andrew yang merendahkannya, bukannya bersikap lembut dan penuh perhatian seperti ini. Pria itu bahkan menawarinya apakah ingin membeli pil kontrasepsi atau tidak, bukannya membuat keputusan sepihak dan memaksanya minum obat atau pergi ke dokter. Hansel Roux benar-benar membuatnya tidak tahu harus merespon seperti apa.


 


“Cecille, lihat aku,” pinta Hansel dengan suara yang sangat pelan, membuat Cecille menoleh ke arahanya. Namun, gadis itu hanya menatapanya sekilas, kemudian mengalihkan tatapannya ke tempat lain.


 


Hansel menghela napas sebelum bertanya, “Kamu masih belum bisa melepaskannya? Masih ingin memilikinya?”


 


Suara pria itu terdengar sedikit putus asa dan kesepian, membuat Cecille mengernyit karena seolah bisa merasakan kesakitan yang terkandung dalam kalimat itu.


 


“Tidak,” jawab Cecille singkat. Bagaimana ia menjelaskan kalau ia hanya merasa ... malu dan kesal pada dirinya sendiri.


 


Wanita itu menggigit bibir dan mencoba untuk duduk. Akan tetapi, saat ia sudah separuh bersandar di kepala ranjang, ia baru menyadari bahwa tubuhnya masih telanj*ng. Cepat-cepat ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai leher.


 


Hansel tersenyum tipis dan mengambilkan pakaian untuk Cecille tanpa mengucapkan apa-apa. Jawaban singkat Cecille membawa pergi awan mendung dalam hatinya. Kalau wanita itu sudah tidak memikirkan Andrew lagi, mungkinkah jika ....


 


“Kamu berbalik dulu!” perintah Cecille dengan bibir mengerucut.


 


Hansel mengangkat alisnya. “Bagian mana dari tubuhmu yang belum aku lihat?” godanya.


 


“Diam!” Cecille meraih bantal dan melemparkannya lagi ke arah pria itu. “Balik badan!”


 


Hansel terkekeh dan menuruti permintaan wanita itu.


 


“Kamu ada penyakit tidak?” tanya Cecille sambil memakai bajunya.


 


“Pertama kali,” jawab Hansel santai.


 


Cecille tertegun sejenak mendengar jawaban itu. Tak lama kemudian ia melotot kesal. Siapa yang peduli itu pertama kalinya atau bukan? Ia hanya ingin tahu apakah ia perlu berobat ke dokter kalau-kalau pria itu memiliki penyakit tertentu! Apa susahnya menjawab kalau dia sehat atau tidak?


Cih! Lagi pula, semalam juga merupakan pengalaman pertama untuknya!


 


Saat Cecille masih memarahinya dalam hati, Hansel tiba-tiba membalikkan tubuh dan berkata, “Aku seputih salju saat kamu meniduriku semalam ... karena kamu sudah mengambil pertama kaliku, kamu harus bertanggung jawab ... kita berkencan, ya?”


 ***