
Berlyn’s Club.
Dalam ruangan VIP, seorang gadis bermata biru sedang berdiskusi dengan dua orang pria berusia awal 40-an. Tampaknya diskusi itu berjalan alot karena sejak tadi, tidak terlihat ada yang mau mengalah. Masing-masing tetap mempertahankan keinginan mereka. Wajah si gadis tampak kesal, sedangkan dua orang pria di hadapannya tetap tenang dan tak tergoyahkan.
"Itu tidak masuk akal!" sergah Cecille ketika dua orang pria di depannya menginginkan upah lima kali lipat dari persetujuan sebelumnya.
Wajah Cecille sudah merah padam. Sudah hampir dua jam, tapi dua orang pria di hadapannya tetap bergeming. Benar-benar sinting! Hanya karena ia terdesak, bukan berarti mereka bisa memanfaatkan keadaan untuk memerasnya!
“Aku hanya bisa menambahkan seratus miliar lagi, tidak bisa lebih!” seru Cecille seraya memukul permukaan meja dengan selembar cek. Nominal yang tertera di atas kertas itu sama dengan jumlah yang baru saja ia sebutkan.
“Kalian tidak akan mengalami kerugian apa pun jika langsung menghilang dari Paris,” lanjutnya lagi sambil bersedekap. “Dengan uang sebanyak itu, kalian bisa bersenang-senang di Macau, atau Ibiza ... hamburkan bersama para gadis cantik di sana, atau membangun bisnis baru di Meksiko. Aku tidak peduli. Yang jelas, jangan pernah kembali kalau masih ingin hidup lebih lama.”
Kedua orang pria di depan Cecille saling berpandangan, seolah ingin mendapatkan kesepakatan dalam diam. Setelah bertukar kata melalui tatapan mata, salah seorang dari mereka mengangguk dan mengambil cek itu.
Pria yang terlihat lebih tua berdeham sebelum membuka suara, “Baiklah, Nona Cecille. Kami akan segera mengabari Anda jika sudah siap.”
Pria itu segera berdiri, diikuti oleh rekannya yang tampak cukup puas dengan hasil negoisasi. Untunglah ia memberi ide untuk menaikkan tawaran, kalau tidak ... mereka hanya akan mendapatkan 50 miliar. Ia hampir meringis senang ketika membayangkan 150 miliar yang sebentar lagi akan menjadi milik mereka. Jika dibagi dua, masing-masing akan mendapatkan 75 miliar. Itu sudah lebih dari cukup untuk merintis bisnis baru di luar negeri.
“Senang bekerja sama dengan Anda, Nona,” ujar kedua pria itu bersamaan.
Mereka lalu berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Cecille yang masih duduk dengan anggun di atas sofa. Ekspresi wajah gadis itu menunjukkan kepuasan sekaligus sebersit rasa tidak sabar.
Cecille menyeringai puas. Seringai tipis itu membuat fitur wajahnya terlihat semakin menawan. Isi kepalanya dipenuhi berbagai angan yang tergambar jika rencananya kali ini berjalan mulus. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencegahnya mendapatkan Andrew. Bahkan semua omong kosong dan peringatan dari Hansel pun tidak bisa.
Kelopak mata Cecille tiba-tiba terbuka ketika mengingat Hansel. Pertemuan terakhir mereka adalah saat di kantor polisi. Saat itu, Hansel memberikan kesan yang mendalam ketika menyelipkan anak rambutnya sambil mengatakan agar ia tidak cemas. Hatinya sedikit tergerak ketika pria itu berjanji bahwa Bryan tidak akan mengganggunya lagi. Sejujurnya, saat itu Hansel terlihat cukup menawan, mirip seperti pangeran berkuda dalam negeri dongeng yang datang untuk menyelamatkan sang putri.
Seperti kata Hansel, Bryan tidak pernah muncul lagi sampai hari ini. Kasus tuntutan dari kantor polisi dicabut ketika surat pernyataan dari Bryan ditemukan oleh perawat yang sedang menyapu kolong ranjang rumah sakit. Sepertinya kertas itu terjatuh karena embusan angin. Dengan adanya surat itu, ia dan ayahnya dibebaskan dari semua tuduhan. Namun, setelah itu Hansel Roux tidak pernah menghubunginya lagi.
“Apakah aku harus menghubunginya lebih dulu?” gumam Cecille seraya memutar ponsel di tangannya.
Tapi untuk apa? Nanti dia besar kepala.
Ingat, Cecille, dia sudah berkali-kali menyelamatkanmu. Sudah sepantasnya untuk berterima kasih dengan sopan.
Ya, lalu dia akan mulai menggoda dan mempermainkanmu. Ingat rencana semula, Cecille. Apa tujuanmu?
Lupakan Andrew. Dia tidak layak. Hansel lebih baik dari pria itu.
Dalam kepala Cecille seperti ada iblis dan malaikat yang sedang berkelahi, masing-masing memberikan sugesti dari sudut pandang yang berbeda, membuatnya pusing setengah mati.
“Jangan pikirkan pria menjengkelkan itu lagi! Fokus, Cecille ... fokus ....”
Gadis itu bangkit dan mengambil minuman di mini bar, lalu meneguknya sampai habis dalam satu tarikan napas. Uap panas memenuhi rongga mulut dan kerongkongannya. Ia menuang satu sloki lagi dan meminumnya sampai habis. Setelah itu ia berderap menuju pintu. Sekarang sebaiknya ia pulang dan menunggu kabar dari dua cecunguk tadi.
Cecille membuka pintu dan melangkah keluar. Saat berputar dan hendak berbalik, hidungnya menabrak sebuah dinding kokoh yang beraroma maskulin. Ia mengaduh dengan keras. Kepalanya yang sudah pusing terasa semakin berdenyut. Ia mendongak untuk memeriksa apa yang baru saja ditabrak olehnya. Alangkah terkejutnya saat ia mendapati seringai menyebalkan yang baru saja membuat iblis dan malaikat bertengkar dalam kepalanya.
Gadis itu menatap pria di hadapannya dengan linglung, mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
“A-apa yang kamu lakukan?” tanyanya setelah menemukan kembali kesadarannya.
Hansel mengangkat alisnya dan balas bertanya, “Aku? Tentu saja ingin bersenang-senang. Ada masalah?”
Sikap yang dingin itu membuat Cecille mengernyit tidak suka. Gadis itu mendorong dada Hansel dengan kesal, kemudian berbalik dan melangkah pergi, tidak mau memedulikan pria itu lagi.
“Tunggu.” Hansel menahan pergelangan tangan Cecille. “Temani aku makan siang?”
Kerutan di kening Cecille semakin dalam. Matanya menyipit dan menatap Hansel dengan sorot menyelidik.
Lihatlah pria ini, sebentar hangat dan manis, sekejap kemudian dingin dan menyebalkan. Tidak tahu mana yang bisa dipercaya. Apakah dia berkepribadian ganda? gerutu Cecille dalam hati.
“Mau tidak?” desak Hansel saat melihat gadis di hadapannya hanya membeku dan menatapnya seperti patung.
Sebenarnya, pria itu sengaja datang ke Berlyn’s club untuk mencari Cecille dan menggodanya. Siapa tahu sebelum ia sempat mencari, gadis itu telah melemparkan dirinya sendiri ke dalam pelukannya.
“Aku ada urusan,” jawab Cecille sambil berusaha melepaskan tangannya. “Aku traktir makan siang kalau urusanku kali ini sudah beres.”
Mata Hansel berbinar. Ia melepaskan cekalan tangannya dan bertanya, “Benarkah?”
“Um. Oleh karena itu, doakan agar urusanku berjalan lancar, oke?”
“Oke. Kabari aku kalau urusanmu sudah selesai.”
Cecille tersenyum puas dan melenggang meninggalkan Hansel. Tentu saja rencananya kali ini tidak akan gagal. Semuanya sudah ia susun dengan sangat baik, tidak ada celah sama sekali.
***