Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Misi Rahasia



Setelah melihat Andrew dan Keiko turun ke lantai dasar, Clark berjalan cepat menuju lantai dua. Masih ada tugas yang harus diselesaikan olehnya. Dalam hati ia merasa bersyukur karena Andrew telah mempersiapkan semua ini sejak jauh hari. Timbul sedikit rasa iri sekaligus kagum atas ketelitian Andrew yang mampu membaca gerakan musuh dan menyiapkan rencana cadangan ini. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada mereka.


Pantas saja Mr.X sangat mengandalkannya. Kemampuan bedebah itu memang hebat, gerutu Clark dalam hati.


Sahabatnya itu benar, ada seseorang dalam organisasi yang mengincar tampuk kekuasaan tertinggi dengan menggunakan segala cara, termasuk menggunakan kekuatan dari dunia mafia. Mulanya ia pikir Andrew hanya terlalu paranoid, tapi rupanya ia yang salah. Tidak mungkin musuh dapat membaca semua pergerakan mereka tanpa ada yang membocorkannya.


Clark mendorong pintu besi dan menyusup dalam ruangan pertama di sisi kiri, ruangan yang digunakan untuk menyimpan peralatan kebersihan. Setelah meletakkan barang bawaannya di atas sebuah kursi kecil, dengan cepat ia dan membuka pakaiannya dan menggantinya dengan baju yang ada dalam kantong yang sudah disiapkan di lemari penyimpanan paling bawah.


Pria itu memasukkan rambut palsu dan peralatan menyamarnya ke dalam kantong tadi, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Besok pagi akan ada orang suruhannya yang datang dan membereskan barang-barang ini.


“Seharusnya mereka sudah sampai,” gumam Clark sambil mengambil kembali barang-barangnya dari atas kursi.


Ia memeriksa panel kontrol dan menekan beberapa angka. Tak lama kemudian, seluruh daya dalam bangunan itu kembali pulih. Lampu-lampu menyala terang, sedangkan CCTV berkedip-kedip pelan, pertanda semuanya telah kembali normal.


Clark menonaktifkan night vision pada lensa kontaknya, lalu mendorong pintu dengan hati-hati. Ruangan ini terletak paling belakang, selain petugas kebersihan, seharusnya tidak ada orang lain yang datang ke sana. Ia melirik sekilas ke arah kamera pengawas di ujung lorong lalu berjalan dengan tenang ke arah selasar utama.


“Aku akan mentraktirmu makan sampai puas kalau berhasil keluar dari tempat ini dengan selamat,” ujar Clark pelan, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.


Akan tetapi, tidak lama kemudian terdengar suara tawa penuh rasa puas juga kebanggaan menggema dalam gendang telinga Clark. Di saluran komunikasi yang lain, Garry sedang terbahak hingga gumpalan lemak di perutnya bergetar seperti jelly.


“Sekarang kamu percaya kalau aku bisa mengambil alih sistem pertahanan gedung itu?” tanya pemuda itu setelah tawanya mereda. Dari nada suaranya,terdengar jelas penuh kesombongan.


Clark mendengkus kesal. Tadinya ia memang meragukan kemampuan bocah itu, tapi sekarang ia percaya kalau Garry bisa membajak apa pun yang diinginkannya. Pantas saja semua organisasi pemerintahan di seluruh dunia sangat menginginkan bocah tengil itu.


“Tutup mulutmu dan bantu aku keluar,” gerutu Clark sambil menggertakkan gigi. Ia harus menyelidiki keterlibatan para petinggi dalam kasus kali ini.


“Keluarlah, pimpinanmu sedang menuju ruangan Mr.Tanaka,” ujar Garry seraya mengawasi monitor di hadapannya.


“Jovanka?”


“Hum,” gumam Garry singkat. Matanya memicing ketika melihat wanita yang sedang diawasinya tiba-tiba berbelok ke arah titik buta kamera pengawas. Terlihat cukup mencurigakan, sayang ia tidak memiliki akses ke bagian itu. Tidak ada alat elektronik di ujung lorong itu.


Clark melipat panel kontrol ditangannya menjadi sebuah kotak kecil, lalu mengaitkannya di balik kepala ikat pinggang. Ia menunduk dan memeriksa pakaiannya dengan teliti. Setelah yakin tidak ada yang mencurigakan, ia berkata, “Bawa aku ke sana.”


“Lorong pertama di sisi kirimu, lurus hingga lorong kedua di sisi kanan. Akan ada lima pengawal di sana, bersikaplah natural.”


“Aku mengerti,” balas Clark sambil berjalan sesuai arahan Garry.


Ketika akan berbelok di tikungan terakhir, pria itu berlari cepat menghampiri lima orang pengawal yang sedang berjaga di sana, lalu bertanya dengan napas tersengal, “Di mana Mr.Tanaka? Ada yang harus aku sampaikan kepadanya.”


Clark mengenali pria yang mengantarnya itu. Pria itu yang membantunya masuk ke gedung ini tadi. Dia adalah salah satu anggota pasukan khusus yang ditempatkan secara rahasia di bawah komando Andrew untuk mengusut kasus yang rumit ini.


Meski saling mengenal, dua orang itu bersikap seolah mereka baru kali ini bertemu. Setelah diam di sepanjang perjalanan, akhirnya pria di sisi Clark berhenti dan membukakan pintu. Clark baru saja akan melangkah masuk ketika suara bernada tajam dan penuh curiga terdengar dari balik tubuhnya.


“Dari saja mana kamu?”


Clark berbalik dan mendapati Jovanka menatapnya dengan sorot yang tidak dapat dibaca. Mata wanita itu terlihat seperti sebilah samurai yang siap menghabisinya kapan saja.


“Dari kediaman Koboyashi, Kapten. Aku langsung ke sini ketika mendengar kabar bahwa Andrew Roux ditahan karena bekerja sama dengan Hiro,” jawab Clark dengan wajah polos.


Jovanka terlihat tidak puas mendengar jawaban itu. Ia melihat jam tangannya, lalu berkata, “Dilihat dari jam kamu menghilang sampai tiba di sini, ada jeda dua puluh menit.”


“Ada kecelakaan di kawasan Shibuya. Anda bisa memeriksanya di berita terkini, ada di topik pencarian paling atas,” jawab Clark sambil tersenyum manis.


Tentu saja ada kecelakaan di sana, Garry yang mengaturnya, tapi ia tidak berada di sana ketika hal itu terjadi. Memangnya wanita di hadapannya ini akan melakukan apa? Pergi ke sana dan menanyai semua orang satu per satu? Hehe ....


Mata Jovanka memicing. Ia tahu ada yang salah, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk mencecar pria di hadapannya dengan pertanyaan. Ia akan memeriksa sendiri kebenaran perkataan anak buahnya itu nanti, setelah pertemuan dengan Mr.Tanaka selesai.


Akhirnya setelah saling tatap selama beberapa detik, Jovanka menggerakkan kepalanya sebagai isyarat agar Clark mengikutinya. Mereka berdua melangkah memasuki ruangan Mr.Tanaka dan mendapati pria tua itu sedang berdiri seperti patung di tengah ruangan. Kedua bahunya terlihat tegang dan kaku, seolah menyimpan beribu amarah yang siap dilemparkan kapan saja.


“Mr.Tanaka,” panggil Jovanka pelan, “Saya—“


“Bawa anak buahmu dan putri dari Sakamoto kembali kepadaku, kalau tidak ... aku sendiri yang menghapus nama kalian dari organisasi ini,” sela Mr.Tanaka sambil menggertakkan gigi.


Kematian Robert Castilo, kehilangan Kobayashi junior dan asistennya saja sudah membuat pria tua itu kesal. Sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa salah satu anak buah yang seharusnya bekerja untuknya malah melarikan diri bersama satu-satunya jaminan yang masih ia miliki, Sakamoto Keiko.


Mr.Tanaka benar-benar sudah hampir meledak dalam amarah. Ketika pria itu membalikkan tubuh, Clark bisa melihat wajahnya yang biasa tenang kini seolah siap menyemburkan api.


Sedangkan Jovanka sendiri hanya dapat berkata, "Baik, Anda jangan khawatir. Saya akan mengurusnya."


Berita mengenai kaburnya Andrew dan gadis Jepang itu tentu saja sudah sampai ke telinganya. Memikirkannya saja sudah membuat darahnya mendidih. Kalau ia berhasil menemukan dua orang itu, maka ... jangan salahkan kalau ia bertindak sedikit keras.


Clark menatap dua orang atasannya itu dengan penuh minat. Ekspresi wajah mereka yang berubah-ubah dengan cepat sangat menarik. Sepertinya sekali lagi Andrew benar, ada yang tidak beres dengan dua orang di hadapannya itu. Sekarang tugasnya adalah menyingkap kebenaran yang tersembunyi, kebenaran yang sesungguhnya ....


***