
“Kamu mau? Dokter memang melarang ... tapi ....”
Wajah Keiko merah padam. Ia mendongak untuk mencari jawaban dari ekspresi wajah suaminya saat tangannya berusaha melepaskan ikat pinggang.
Andrew menelan ludah dengan susah payah. Sepasang mata bulat dan bercahaya yang menatapnya dengan intens itu membuatnya hampir kehilangan akal. Ia menunduk, mengamati jemari mungil yang sedang berusaha melepaskan kait besi di pinggangnnya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Andrew menggeram, suaranya berubah serak dan dalam saat jemari mungil istrinya bergerak dengan lincah dan nakal ... membuat napasnya tercekat. Otaknya tiba-tiba kosong melompong.
“Membantumu,” bisik Keiko pelan, “Seharusnya begini tidak masalah, ‘kan?”
Andrew hampir jatuh. Kedua kakinya gemetaran. Dengan Keiko yang lebih dulu mengambil inisiatif saja sudah membuatnya hampir meledak karena hasrat yang tak tertahan. Lalu sekarang ... ia mengerang dengan suara yang terputus-putus. Tangannya meraih sisi meja di samping ranjang dan mencengkeramnya erat-erat saat kehangatan melingkupinya secara utuh.
“Baby ....” Andrew mengerang sambil mendongak.
“Hum?”
Gerakan dada Andrew yang bergerak naik-turun tak beraturan membuat Keiko menyeringai puas. Selama ini suaminya yang selalu membuatnya gemetar, sekarang ....
“Oh!”
Andrew menarik tubuh Keiko, menahan pinggangnya dengan satu tangan, lalu menekan bagian belakang kepalanya dengan kuat, menjarah isi mulut wanita itu hingga mereka berdua sama-sama megap-megap karena kehabisan napas.
Ketika akhirnya Andrew melepaskan ciumannya, Keiko melirik ke bawah dan menatap tangannya sambil tersipu malu. Ternyata saran dari artikel di internet itu sangat berguna! Sudah diputuskan, besok ia akan mencoba cara yang lain. Apakah akan berdampak yang sama atau tidak.
“Itu sedikit lebih cepat dari yang aku pikirkan,” gumam Keiko sambil menganggkat alisnya, memberi tatapan menggoda kepada suaminya.
Andrew bersandar ke tepi meja dan mengatur deru napasnya. Ini adalah pengalaman pertama ia tidak menggunakan tangannya sendiri ... rasanya tidak buruk, bahkan bisa dibilang luar biasa. Pria itu mengecup bibir istrinya sekali lagi, mengulum*nya dengan pelan dan penuh kelembutan.
“Hum, itu karena istriku sangat istriku sangat baik, terima kasih sudah bekerja keras demi suamimu,” gumamnya di sela ciuman mereka.
Keiko memelototi pria itu dan menyuruhnya untuk pergi. Ia lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Andrew terkekeh pelan dan merapikan pakaiannya.
“Aku pergi dulu, kamu jangan tunggu, pergi tidur lebih awal,” ujarnya ketika melihat Keiko keluar dari kamar mandi.
“Oke, kamu hati-hati. Ajak Kim untuk menemanimu.”
“Tidak perlu. Ada pengawal yang akan ikut denganku, kamu jangan khawatir.”
Andrew menunggu hingga istrinya berbaring di atas kasur. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh wanita itu, lalu mencium keningnya satu kali lagi.
“I love you, Baby.”
“I love you more.”
Andrew mematikan lampu dan berjalan keluar. Deru suara helikopter sudah terdengar ketika ia menuju pintu depan. Perjalanan darat akan memakan waktu terlalu lama. Oleh karena itulah ia meminta anak buahnya untuk menyiapkan helikopter.
“Jaga istriku baik-baik,” pesannya kepada Kim yang berdiri di dekat pintu.
“Baik, Tuan.” Kim membungkuk dan memberi hormat ketika Andrew berjalan melewatinya.
Setelah Andrew naik ke helikopter, pilot mengonfirmasi dan kendaraan itu segera mengudara. Kalau bukan karena pesan terakhir yang memberi tahu bahwa Marquess of Alrico sedang menunggunya di Berlyn’s Club untuk membicarakan sengketa tanah itu, Andrew tidak akan mau repot-repot pergi saat ini juga. Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya. Baru pukul 19.00 petang, seharusnya ia bisa kembali sebelum tengah malam.
Lampu-lampu yang berkelap-kelip menarik perhatian Andrew, bergerak dan membaur dengan kepingan memori di kepalanya, berdenyut ... berpendar ... membuat detak jantungnya perlahan meningkat. Ada rasa tidak nyaman yang membuat pria itu tiba-tiba menjadi gelisah. Seperti ada yang salah dan ia tidak bisa menebak apa. Namun, insting dan firasatnya terus berdenting bak gema lonceng yang membuat telinganya berdenging.
Saat akhirnya helikopter mendarat di rooftop Berlyn’s Club, Andrew turun dengan perasaan yang sedikit linglung. Ia merapikan jasnya sebelum melangkah menuju pintu kaca. Seorang pria berkacamata menyambutnya di dekat pintu dan menyerahkan map berisi dokumen dan berkas-berkas penting.
“Tuan, semuanya sudah ada di dalam,” lapor pria itu seraya menjajari langkah Andrew.
“Aku mengerti.” Andrew mengambil map itu dan memeganganya dengan tangan kanan.
“Sang Marquess sudah menunggu di ruangan nomor 301A di lantai 20. Dia meminta Anda untuk datang sendiri, Tuan.”
Kening Andrew berkerut. Ini terdengar semakin janggal. Namun, ia mengesampingkan semua kecurigaan dan berkata, “Kalian tunggulah di sini. Aku akan pergi sendiri.”
Pria itu lalu berjalan menuju lift dan menekan nomor lantai. Ketika kotak kaca itu bergerak turun, rasanya jantungnya pun ikut merosot. Perutnya bergolak, seperti ada yang melompat keluar dari perutnya dan tersangkut di kerongkongan. Meski demikian, ketika pintu lift kembali terbuka, pria itu melangkah dengan mantap menuju ruangan yang dimaksud.
Andrew menggertakkan gigi ketika melihat seorang gadis berambut pirang keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi.
“Oh, kamu sudah sampai?” gumam gadis itu dengan semburat merah muda menjalar di pipinya, “Aku pikir kamu—“
“Hentikan omong kosong ini, Cecille! Aku akan pergi sekarang.”
Andrew sangat marah. Begitu marah sampai rasanya ia ingin maju dan mencekik leher Cecille dengan kedua tangannya. Ia memutar tubuhnya dan hendak berbalik, tapi Cecille lebih dulu melompat ke sisinya dan mencekal pergelangan tangannya dengan kuat.
“T-tunggu sebentar. Ayah memintaku untuk mewakilinya—“
“Omong kosong! Sejak kapan kamu mengurusi hal seperti ini?!” Kesabaran Andrew benar-benar sudah mencapai batasnya. Ia menepis tangan Cecille dengan kasar dan meraih gagang pintu.
“Aku bersungguh-sungguh. Tunggu sebentar, aku ambilkan dokumennya. Setelah kita berdua tanda tangan, maka secara tidak langsung tanah itu menjadi milik Phoenix.Co.”
Gerakan Andrew terhenti.
“Pergi ganti pakaianmu!” gertak Andrew tanpa membalikkan tubuhnya.
“Oke. Tunggu sebentar.”
Cecille bergegas menuju walk in closet dan mengganti pakaiannya dengan off shoulder dress berwarna merah menyala. Ia memoles bedak dan pelembab bibir tipis-tipis, kemudian berjalan keluar dengan anggun.
“Maaf, aku benar-benar tidak tahu kamu akan datang secepat ini,” ujar gadis itu seraya mengambil nampan berisi dua gelas air meneral di atas meja bar dan membawanya ke hadapan Andrew.
“Aku tahu kamu tidak mau minum alkohol, jadi aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan air mineral.”
Andrew mendengkus dan tidak ingin melihat wajah gadis itu sama sekali.
“Cepatlah, apa yang harus aku siapkan sebagai kompensasi untuk tanah milik keluarga kalian?”
“Oh, tunggu sebentar.” Cecille bangun dan mengambil dokumen yang sudah disiapkannya di atas meja dekat ranjang besar yang ada di sebelah ruang tamu.
“Aku sungguh minta maaf, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa begini. Tadinya Papa membeli lahan ini untuk dibangun pusat perbelanjaan terbaru yang rencananya akan dikelola olehku. Kami tidak tahu bahwa ....” Cecille menyodorkan berkas itu ke sisi Andrew. “Tidak masalah, tanda tangan saja. Cukup kembalikan sejumlah harga yang tertera di situ.”
Andrew membuka berkas-berkas itu dan membacanya satu per satu dengan teliti. Tanah itu memang sudah dibeli oleh sang Marquess atas nama putrinya. Rupanya wakil direktur dan direktur dari anak perusahaan Phoenix.Co yang telah menggelapkan dana sehingga hal seperti ini bisa terjadi. Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari kedua orang itu, tapi sampai sekarang keberadaan mereka tidak terlacak sama sekali. Akan tetapi, cepat atau lambat ia yakin mereka akan segera tertangkap. Saat masa itu tiba, lihat bagaimana ia membereskan mereka.
“Tanda tangan saja dulu, besok kita bisa ke kantor notaris untuk mengesahkan dokumennya. Sekarang karena sudah terlalu malam, aku tidak sempat menghubungi mereka.”
Kening Andrew terlihat seperti jalanan bergelombang. Ia tahu Cecille bersikap sangat sopan, tapi penuh trik dan kemunafikan. Sejujurnya, sekarang ia sedikit curiga bahwa semua kekacauan ini juga disebabkan oleh gadis itu, hanya untuk membuatnya datang ke tempat ini.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Andrew membubuhkan tanda tangannya kemudian mengembalikannya kepada Cecille.
Cecille tersenyum dengan sangat lembut dan menunduk untuk membubuhkan tanda tangannya sendiri. Gerakan itu membuat gaunnya sedikit merosot, memamerkan sepasang bukit indah yang ranum dan menggoda. Andrew mengernyit jijik dan membuang muka.
“Izinkan aku bersulang denganmu,” ujar Cecille seraya mengambil gelas berisi air mineral. Meski Andrew mengabaikannya sejak awal sampai akhir, senyuman di wajahnya tidak berkurang sedikit pun.
“Tenang saja, ini hanya air mineral biasa. Kalau kamu ragu—“
“Bersulang.” Andrew mengangkat gelasnya, menyentuhkannya ke pinggir gelas Cecille hingga bunyi dentingan pelan bergema dalam ruangan itu.
“Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Nona Cecille,” lanjutnya lagi sebelum menenggak habis air dalam gelasnya.
Senyum di wajah Cecille semakin lebar. Ada kilasan tersembunyi di sudut matanya saat ia berkata, “Bersulang, Mr.Roux.”
Gadis itu meminum habis air dalam gelasnya, kemudian duduk bersandar seperti seekor kucing yang sedang bermalas-malasan. Dalam diam, gadis itu itu mulai menghitung dalam hati ....
Kata Johan, reaksinya tidak sampai satu menit sejak diminum.
Yang perlu ia lakukan sekarang adalah sedikit mengulur waktu ....
***
*otor kabur sebelum didemo berjamaah 🤣🤣🤣