Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Pria yang cemburu



Di ujung sofa, kedua tangan Hiro terkepal erat melihat sikap Andrew yang sengaja memanas-manasinya. Jari-jarinya bertaut sangat erat sehingga perawat di sebelahnya khawatir pembuluh vena di punggung tangan pria itu akan pecah karena terlalu kuat mengepal.


“Tuan, jaga emosi Anda, tekanan darah Anda masih belum stabil.” Akhirnya perawat itu tidak tahan untuk menegur ketika melihat darah dari punggung tangan Hiro mengalir balik ke arah tabung infus.


Namun, Hiro seolah tidak mendengarkan perkataan perawat itu. Matanya kembali menatap nyalang ke arah cincin di jari manis Keiko. Rasanya ia ingin melompat ke sana dan memaksa Keiko untuk melepaskan benda itu. Sungguh sangat mengganggu pemandangan matanya.


“Kamu dengar itu? Jaga emosimu kalau ingin berumur panjang. Barangkali kamu bernasib baik dan menemukan gadis yang bersedia menjadi kekasihmu,” ujar Andrew sambil terus mengunyah buah cherry dengan santai.


“Kamu ....” Hiro kehabisan kata-kata. Tampaknya Andrew benar-benar sedang menguji kesabarannya. Bibirnya bergerak-gerak, tapi tak ada suara yang terdengar. Begitu pun dengan jari-jarinya yang mengetat dan meregang beberapa kali di atas paha, membuat perawat di sampingnya tidak dapat berdiri dengan tenang.


“Emosimu sedang buruk, ya? Aku akan meminta dokter untuk meresepkan obat anti depresan yang bagus untukmu,” ucap Andrew dengan ekspresi penuh kesungguhan. Wajahnya yang polos dan bersungguh-sungguh itu seolah menunjukkan bahwa perubahan emosi Hiro tidak ada hubungannya dengan sikapnya yang provokatif sama sekali.


Hiro semakin melotot. Andrew bergedik dan membalas tatapan itu sambil mengangkat alisnya, membuat Keiko memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Gadis itu menghela napas panjang dan bangkit dari sofa. Ia melirik sekilas ke arah dua orang pria di sisi berlawanan yang sedang bertarung lewat tatapan mata, seolah ingin saling membunuh satu sama lain dengan ekspresi wajah mereka yang benar-benar terlihat sangat jelek.


“Kalian teruskan saja, siapa tahu dengan terus saling menatap, kalian bisa saling jatuh cinta. Aku mau tidur,” ujar Keiko sambil berjalan ke lorong menuju kamarnya.


Dalam hati ia membuat catatan agar jangan pernah berada dalam satu ruangan bersama dua orang pria yang tidak rasional itu kalau tidak ingin ikut menjadi gila.


Karena Keiko sudah pergi, Andrew pun bangkit dan memberi perintah kepada pramugari yang masih berdiri di sisi sofa sambil memegang troli makanan, “Antarkan makanan ini ke kamar Nona Keiko, lalu beritahukan kepada pilot untuk segera lepas landas.”


“Baik, Tuan.” Pramugari itu segera pergi dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.


Andrew sudah berjalan beberapa langkah, tapi kemudian berhenti sejenak dan berpesan kepada perawat di dekatnya, “Jangan lupa minta dokter untuk meresepkan obat anti depresan untuk Tuan Hiro.”


Ia lalu melenggang pergi sambil mengulum senyum, meninggalkan Hiro yang sudah hampir muntah darah di tempat duduknya.


Hehe ... siapa suruh berusaha merebut wanita milikku ....


Wajah Andrew terlihat benar-benar sangat puas. Sebenarnya ia berencana untuk memberikan cincin itu kepada Keiko saat mereka sudah tiba di Paris, ketika ia sudah menemukan waktu dan tempat yang tepat. Akan tetapi, keberadaan Hiro membuatnya merasa tidak tentram. Apalagi pria itu terus-terusan merangsang emosinya.


Kebetulan sekali mereka harus berhenti di sini untuk mengisi bahan bakar. Jadi, ide untuk memberikan cincin itu sekarang melintas begitu saja di benaknya. Sungguh, ia sangat puas dengan hasil akhirnya. Dan ... oh, tentu saja ia tidak akan memberitahukan hal ini kepada Keiko, biar menjadi rahasia untuk dirinya sendiri saja.


Andrew lalu menyusul ke kamar Keiko, ingin memastikan apakah gadis itu sudah sarapan atau tidak. Ia berdiri di depan pintu dan memanggil, “Baby, bolehkah aku masuk?”


Klik.


Pintu terbuka lebar, wajah mungil Keiko muncul dengan mata bulat menatap tajam ke arah Andrew.


“Sudah selesai berkelahi?” tanya gadis itu dengan bibir mengerucut.


Bibir yang merona itu membuat Andrew gemas dan ingin menciumnya. Ia merangsek maju, menutup pintu dengan kaki, kemudian dengan cepat mendorong tubuh Keiko ke dinding pesawat. Satu detik kemudian, ia sudah memerangkap tubuh gadis itu dengan kedua tangannya.


Ia membuka mulut dan ingin protes, “Kamu—“


Namun, Andrew lebih dulu menunduk dan mematuk bibir kekasihnya, sesekali lidahnya menyapu gumpalan daging yang lembut dan kenyal itu, seolah sedang mencicipi sebuah hidangan lezat yang menggiurkan. Deru napasnya yang hangat menerpa wajah Keiko, membuat seluruh tubuh gadis itu berubah menjadi jelly.


Keiko ingin mendorong tubuh Andrew agar sedikit menjauh, tapi tiba-tiba pesawat mulai berguncang pelan diiringi suara mesin yang semakin kencang. Perut Keiko bergolak, seolah ada pusaran air yang memantul-mantul di dalam sana dan hendak menerobos keluar dari kerongkongannya. Mata bulatnya terlihat panik. Tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram kerah baju Andrew erat-erat.


Andrew mengulurkan satu tangannya dan menopang pinggang Keiko dengan kokoh, sementara lidahnya terus membujuk dan merayu agar gadis itu membalas pagutannya.


Keiko terengah-engah. Otaknya seperti terbelah dua, memikirkan guncangan yang membuatnya mual sekaligus menghadapi siksaan yang diberikan oleh kekasihnya. Ia mengerang ketika Andrew tiba-tiba menggigit bibirnya dengan sedikit keras. Dengan segera ia membuka mulut dan membalas menggigit bibir pria itu dengan kesal.


Andrew tertawa tanpa melepaskan ciumannya, membuat udara dari mulutnya bercampur dengan napas Keiko yang memburu. Sekejap kemudian, lidahnya mengusap bekas gigitan yang dibuatnya, lalu mengul*umnya dengan sangat hati-hati.


Tubuh Keiko berubah menjadi air, ia tidak punya tenaga untuk melawan lagi. Seluruh pikirannya kini hanya tertuju kepada aroma pria yang sedang memeluk dan menjarah bibirnya dengan rakus. Aroma yang sudah sangat lama dirindukannya.


Andrew mendesah pelan dan menjauhkan wajahnya. Ia menatap wajah Keiko yang tampak bercahaya dan mengusap bibirnya yang terlihat sedikit bengkak. Ekspresi pria itu tampak sangat puas. Ia merapikan rambut Keiko yang berantakan, kemudian menuntun gadis yang masih linglung itu untuk duduk di sofa bulat yang ada di sudut kamar.


“Sudah cukup hidangan pembukanya. Sekarang ayo sarapan,” ujar pria itu sambil membuka tudung saji. Ia memilihkan beberapa menu dan menyodorkannya ke tangan Keiko.


Keiko menerima pemberian Andrew sambil menatap pria itu tanpa berkedip. Napas pria itu terlihat cukup stabil, sikapnya pun terlihat sangat polos. Pria itu tidak terlihat seperti baru saja melakukan ciuman yang intim, juga tidak terlihat berantakan seperti dirinya yang seolah baru saja berlari sejauh ratusan mil.


“Jangan memasang ekspresi seperti itu kalau tidak ingin aku memakanmu lagi.” Andrew menggeram pelan dengan sorot mata berapi-api.


Keiko terkejut, mengusap wajahnya sambil mengernyit. Memangnya ekspresi wajahnya seperti apa? Namun, karena tidak ingin Andrew melakukan apa yang baru saja dikatakannya, Keiko pun menunduk dan makan dengan tenang.


“Gadis pintar. Makan yang banyak. Kamu harus mengumpulkan tenaga dari sekarang agar dapar mengimbangi aku di masa depan ....”


Telinga Keiko memerah mendengar perkataan itu. Tentu saja ia mengerti apa maksud Andrew. Tiba-tiba seluruh tubuhnya merinding dan diliputi perasaan tidak berdaya. Di masa depan, apa yang akan terjadi ... tidak, sepertinya Andrew benar, ia harus mengumpulkan tenaga dari sekarang.


***


Haii..


kalau kalian rajin like dan vote, othor jg jd semangat dobel up nih. semoga kalian suka yaaa...


xixixi..


***