Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Sudah jatuh cinta padaku?



Kecepatan mobil yang dikendarai oleh Kim perlahan berkurang ketika mendekati gudang tua yang terlihat terbengkalai. Wanita itu mematikan lampu mobil dan memasuki pelataran yang tampak suram. Tidak ada penerangan sama sekali sehingga bayangan bangunan tua itu terlihat samar-samar di bawah cahaya bulan yang hanya bulat separuh.


“Kapten, saya hanya bisa mengantar Anda sampai di sini. Saya harus segera kembali ke markas agar tidak ada yang curiga,” ujar Kim setelah memarkir mobil di dekat semak-semak yang rimbun.


“Aku mengerti,” balas Andrew seraya turun dari mobil.


Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Keiko, “Hati-hati, ada banyak potongan kayu.”


“Hum, terima kasih,” gumam Keiko sambil menerima tangan Andrew yang terulur ke arahnya.


Kim ikut turun dan membuka bagasi. Ia mengambil sebuah tas ransel yang cukup besar dan menyerahkannya kepada Andrew.


“Telepon sekali pakai, senjata dan amunisi, semuanya sudah disiapkan. Sepuluh menit lagi akan ada seorang pemuda yang menjemput Anda dan Nona Sakamoto untuk pergi ke Chiba. Kata sandinya Anda sudah tahu, bukan?” ujar Kim dengan wajah serius.


“Ya. Terima kasih,” jawab Andew sambil memanggul tas ransel yang diberikan kepadanya.


“Berhati-hatilah, Kapten.”


Andrew mengangguk dan berkata, “Kamu juga hati-hati. Jangan sampai identitasmu terbongkar.”


“Mengerti. Anda tenang saja,” balas Kim sambil tersenyum tipis, “Saya pergi dulu.”


Wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Tak lama kemudian, kendaraan itu sudah menghilang di ujung gerbang besi yang sudah miring ke satu sisi.


Keiko memerhatikan sekitar. Ia sama sekali tidak mengenali lingkungan ini. Gadis itu mengusap-usap lengannya perlahan. Cuaca cukup dingin, apalagi di pertengahan musim gugur seperti ini, angin berembus cukup kencang. Gadis itu dibawa ke ruangan interogasi tanpa sempat memakai jaket atau pun sweater.


Tiba-tiba tangan Keiko bergerak naik untuk menutup mulutnya, sedangkan matanya terpejam erat.


“Hatchu!”


Sedikit menggigil, gadis itu menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniup-niupnya agar terasa sedikit lebih hangat. Kalau tahu akan begini, tadi ia memilih untuk memakai baju yang lebih tebal, bukannya kaos oblong seperti ini.


Tanpa menoleh, Andrew membuka jasnya dan menyampirkan benda itu di pundak Keiko sambil bergumam pelan, “Pakailah.”


Keiko memutar lehernya sehingga garis wajah Andrew yang tegas terlihat seperti patung dewa Yunani, terlihat begitu nyata tapi juga seolah berasal dari dunia yang berbeda. Tanpa sadar gadis itu menahan napas. Bagaimana bisa ada manusia yang terlihat begitu sempurna. Alis yang tebal menaungi sepasang mata yang bersorot tajam dan penuh dominasi, tulang hidung yang tinggi terlihat sangat serasi dengan bentuk rahang yang kokoh dan bibir yang ....


“Sudah jatuh cinta padaku?”


“Hah?! A-apa?”


Andrew menoleh perlahan, menatap Keiko lekat-lekat. Sorot mata pria itu terlihat lembut juga sedikit menggoda ketika mengulang pertanyaannya, “Menatapku seperti itu, sudah mulai jatuh cinta kepadaku?”


Wajah Keiko memanas. Ia membuka mulut, tapi tidak ada satu patah kata pun yang sanggup ia ucapkan untuk membalas pria di sampingnya itu. Di saat genting seperti ini ... masih bisa menggodanya ... benar-benar bernyali besar ....


“Aku hanya bercanda,” ujar Andrew seraya mengulum senyum dan mengulurkan tangan untuk merapatkan jasnya di tubuh Keiko, “Tapi ... kalau kamu sudah mulai menyukaiku, katakan saja ....”


Katakan kepalamu.


Keiko ingin menolak jas yang dikenakan ke tubuhnya, tapi udara malam ini benar-benar dingin. Akhirnya ia hanya bisa menerima benda itu dengan pasrah.


Gadis itu menatap lurus ke depan dan menggertakkan gigi sambil bergumam pelan, “Terima kasih.”


Andrew mengulum senyum dan mengusap bagian belakang kepalanya. Hanya Sakamoto Keiko yang bisa membuatnya mengatakan hal-hal bodoh dan tidak merasa malu sama sekali. Bukankah ini sangat berbahaya?


Pria itu melirik sekilas dan mendapati wajah Keiko yang tegang. Ia tidak berani menggodanya lagi. Takutnya gadis itu marah dan memutuskan untuk pergi, maka semua usahanya untuk membawa mereka berdua keluar dari markas EEL akan sia-sia.


Suara binatang malam bersahut-sahutan, terdengar jelas dalam keheningan yang kembali tercipta. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Beberapa kali Andrew melihat jam tangannya. Sepuluh menit sudah berlalu, tapi pemuda yang seharusnya menjemput mereka belum juga terlihat batang hidungnya. Apakah ada masalah di jalan?


Ia mengeluarkan benda pipih yang mirip ponsel dan menyalakannya. Sebuah titik merah terlihat berkedip-kedip dan semakin mendekat ke lokasinya sekarang. Itu berarti seharusnya tidak ada masalah.


Tiba-tiba suara Keiko memecah keheningan. Ia sudah sangat ingin menanyakan hal itu sejak tadi, tapi belum menemukan waktu yang tepat. Sekarang ... seharusnya tidak apa-apa jika ia menanyakannya ‘kan?


Andrew terdiam sesaat. Sebenarnya, ia pun ingin menyampaikan perihal Hiro kepada gadis itu. Hanya saja, untuk saat ini ia belum bisa memastikan apakah pria itu selamat atau justru tertangkap oleh pihak yang ingin memanfaatkan kekuatannya.


“Mengenai hal itu, aku juga belum tahu dengan jelas. Terakhir kali kami berbicara, dia sedang terluka parah. Tapi saat aku sampai di markas, pasukan yang di sana tidak melihatnya di mana pun. Jadi aku tidak tahu apakah dia berhasil selamat atau ....”


“Begitu.”


“Hm.”


Keheningan kembali menyeruak di udara. Keiko tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tahu Andrew Roux tidak sedang berbohong, jadi akhirnya ia hanya mendongak untuk melihat bulan yang tidak bulat sempurna. Sementara Andrew beberapa kali memeriksa layar monitor di tangannya.


Dari kejauhan terlihat cahaya lampu mobil berkedip di antara rumput-rumput yang menjulang tinggi. Refleks Andrew menarik tangan Keiko, membawa tubuh gadis itu agak tersembunyi di belakang bayangan pilar yang sudah patah separuh. Saat ini, ia harus sangat berhati-hati. Jika terjadi kebocoran informasi mengenai operasi rahasia mereka, maka bukannya tidak mungkin informasi pelariannya kali ini pun bocor kepada pihak lain.


Tanpa disuruh Keiko mengambil senjata yang diberikan oleh Andrew ketika mereka melarikan diri tadi. Setelah menonaktifkan pengaman, ia membidik ke arah datangnya mobil, mengikuti setiap gerakan yang tertangkap oleh matanya.


Andrew maju satu langkah lalu berjongkok dan mengawasi hingga mobil berhenti sekitar sepuluh meter dari tempat mereka bersembunyi. Ia memerhatikan titik merah dan dua titik hijau yang berpendar dalam monitor mini di tangannya. Seharusnya pemuda di depan sana adalah pengawal yang ditugaskan untuk mengantarnya ke Chiba.


Benar saja, tak lama kemudian seseorang keluar dari dalam mobil, berdiri dan mengamati sekitar dengan waspada. Bayangan tubuhnya tampak samar di bawah cahaya bulan, meski begitu gambaran wajahnya masih terlihat cukup jelas karena berdiri di tanah lapang.


“Itu jemputan kita, ayo pergi,” ajak Andrew seraya memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas.


Ia lebih dulu berjalan keluar dari balik pilar. Keiko mengikuti dengan hati-hati tanpa menyarungkan senjatanya. Lebih baik waspada daripada disergap tanpa persiapan.


Pemuda yang masih berdiri di dekat mobil itu tampak siaga ketika mendengar pergerakan tidak jauh dari tempatnya, tapi ia kembali rileks ketika melihat siapa yang muncul.


“Kapten,” sapanya dengan hormat, “Saya Leon yang akan mengantarkan Anda.”


Dengan sigap pemuda itu membukakan pintu mobil dan mempersilakan atasannya untuk masuk.


“Maaf merepotkanmu, Leon,” ujar Andrew sambil menatap Keiko dan memberi isyarat kepada gadis itu untuk lebih dulu masuk.


“Tidak masalah, Capt. Ini tugas saya.”


Sekilas Andrew dapat menebak bahwa Leon baru berusia di awal dua puluhan. Usia yang terbilang cukup muda untuk berkecimpung di dunia spionase.


Andrew membuka pintu depan dan duduk di sebelah kursi pengemudi. Kalau harus duduk di sebelah Sakamoto Keiko sepanjang perjalanan nanti, takutnya ia tidak bisa berkonstrasi dengan benar.


“Kita berangkat sekarang,” ujar Leon ketika melihat dua orang penumpangnya telah memakai sabuk pengaman. Ini tugas pertamanya, dan ia merasa sedikit gugup.


“Jangan takut,” gumam Andrew tanpa menoleh ke samping, “Kita akan baik-baik saja. Ayo, jalan.”


“Baik, Kapten Roux.”


Leon menarik napas panjang, lalu menginjak pedal gas dengan hati-hati. Mobil itu perlahan meninggalkan bangunan tua yang semakin lama semakin mengecil, membentuk siluet yang berbayang.


“Ini perjalanan panjang. Tidurlah, aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai,” kata Andrew seraya menoleh sekilas ke belakang.


“Baik,” jawab Keiko dengan patuh, tapi matanya tetap terbuka lebar.


Bagaimana bisa tidur dalam situasi seperti ini?


Gadis itu bersandar dan separuh memejamkan mata. Akan tetapi, tingkat kewaspadaannya sama seperti seekor burung hantu yang sedang mengincar mangsa. Pistol semi otomatis dalam genggamannya tetap dalam posisi siaga. Ia tidak akan melepaskan siapa pun yang ingin mengacau dengannya. Ia harus tetap hidup untuk membalaskan dendam ayahnya, juga Hiro ... oleh karena itu, ia harus tetap waspada.


***