
Keiko mengikuti Hiro memasuki sebuah ruangan yang didominasi oleh warna abu-abu dan putih. Ada sebuah ranjang size king di tengah ruangan, sebuah lemari pakaian berwarna hitam di sebelah kanannya, dan sebuah pintu berwarna putih di sisi kirinya. Sepertinya itu adalah pintu ke kamar mandi.
Gadis itu memapah Hiro dan mendudukannya di tepi ranjang, kemudian bertanya, “Di mana kotak P3K?”
“Ada di laci ketiga sebelah kiri,” jawab Hiro sambil menunjuk ke pintu putih.
“Tunggu sebentar,” ujar Keiko seraya berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Hiro. Ia membuka pintu dan mengambil kotak obat di tempat yang disebutkan oleh pria itu tadi.
Ketika kembali ke kamar, ia melihat Hiro sedang kesulitan membuka kemejanya. Ia meletakkan kotak obat di lantai dan segera membantu Hiro membuka bajunya. Pria itu mendesis dan menahan napas ketika kedua tangannya sedikit tertekuk ke belakang. Darah menetes dari ujung-ujung baju, memercik di atas kasur dan lantai.
Kening Keiko sedikit berkerut ketika melihat luka di bahu dan pinggang pria itu. Gurat kemerahan menandakan bahwa itu adalah luka lama yang belum sembuh dengan baik. Goresan yang cukup dalam di pinggang menampakan tanda-tanda robekan ulang. Meski tidak panjang, darah terus merembes keluar dari luka itu.
“Bagaimana bisa sampai terluka seperti ini?” gumam Keiko seraya melipat baju Hiru dan meletakkannya di lantai. Ia lalu membuka kotak P3K, mengeluarkan kapas dan cairan anti bakteri, kemudian membersihkan luka Hiro dengan sangat hati-hati.
“Itu kudapatkan saat di Zeotrope,” jawab Hiro pelan.
“Kenapa ceroboh sekali, sudah tahu luka ini belum sembuh, malah berkelahi dengan pejahat. Lukamu ini bisa infeksi, tahu tidak?” omel Keiko seraya menekan pinggir-pinggir luka dengan sedikit keras sehingga membuat Hiro mengaduh.
Gadis itu menghela napas pelan. Untunglah setelah dibersihkan, luka-luka itu tidak terlihat separah yang ia kira, mungkin berdarah karena Hiro bergulat dengan penyusup di kamarnya. Oleh karena itu, ia sedikit merasa bersalah terhadap pria itu.
“Kamu tidak ingin tahu bagaimana aku bisa selamat?” tanya Hiro tiba-tiba.
“Bagaimana?” tanya Keiko seraya menoleh sekilas.
“Aku pikir saat itu aku sudah akan mati, tapi salah seorang anak buahku berhasil tiba tepat waktu sebelum para polisi datang. Dia membawaku keluar, memapahku dan melompat lewat jendela. Sialnya, ada seorang petugas yang sedang berpatroli di bagian belakang gedung. Dia mengacungkan senjata dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, dia membiarkanku pergi ... dengan syarat, aku tidak boleh muncul sama sekali, sampai kapan pun.”
Hiro menahan napas ketika obat disemprotkan di lukanya, kemudian melanjutkan, “Belakangan aku baru tahu bahwa pria tersebut adalah anak buah Andrew.”
“Oh.” Gerakan Keiko terhenti sejenak. Mengapa Andrew tidak pernah memberitahukan hal ini kepadanya?
“Dia bilang, kalau aku muncul maka akan ditangkap dan diadili seperti seharusnya. Tapi, bagaimana bisa aku diam saja saat mengetahui kamu sedang berada dalam bahaya. Hanya kamu satu-satunya yang aku miliki sekarang ....”
Keiko tetap diam. Meski batinnya bergejolak, ia tetap memasang ekspresi tenang dan menyemprotkan obat ke seluruh luka di tubuh Hiro. Ia lalu menutup luka yang cukup besar dengan plester anti infeksi dan memastikan tidak ada yang terlewat.
Hiro duduk dengan tenang dan memperhatikan Keiko yang sedang mengobatinya. Dengan jarak sedekat ini, wajah gadis itu terlihat sangat manis dan imut. Meski lukanya terasa cukup sakit, tapi hatinya terasa sangat hangat. Perhatian ini ... belum pernah ia dapatkan dari Keiko sebelumnya.
“Aku jadi ingin terluka terus, agar bisa dirawat olehmu,” goda Hiro dengan mata berpendar jenaka.
“Baik,” jawab Hiro dengan patuh. Ia kembali menatap Keiko yang sedang mengoleskan obat ke lukanya. Ia merasa lega, keputusannya untuk datang ke kota ini tidak sia-sia. Setidaknya, ia memiliki waktu untuk berduaan dengan Keiko.
“Sudah selesai,” kata Keiko sambil menegakkan tubuhnya, “Jangan bergerak lagi, beristirahatlah."
“Kudengar kalian akan pergi ke Paris?” tanya Hiro dengan suara yang sedikit serak. Sorot matanya sedikit meredup, lalu mendadak semua rasa bahagia dalam hatinya menguap begitu saja ketika menyadari kedekatannya dengan Keiko saat ini adalah semu belaka.
Keiko tergamam sesaat, berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang tiba-tiba itu.
“Aku ... aku pikir kamu sudah tidak ada, sama seperti ayahku. Aku tidak bisa hidup sendirian di sini dengan semua kenangan yang menyakitkan itu,” gumam Keiko pelan. Ia menunduk dan mengaitkan jemarinya, tidak berani membalas tatapan Hiro yang seolah sedang menelanjangi isi kepalanya.
“Aku sudah kembali sekarang. Tetap tinggal di Tokyo bersamaku, ya?” pinta Hiro seraya mengulurkan tangan dan meraih jari-jari mungil Keiko. Meskipun ia tahu kemungkinan Keiko akan setuju sangat kecil, tapi ia masih sedikit berharap ....
Keiko menarik kembali tangannya dari genggaman Hiro dengan hati-hati, kemudian menjawab, “Aku sudah terlanjur berjanji kepada Andrew untuk ikut dengannya. Tidak mungkin membatalkannya tiba-tiba.”
Hiro tersenyum miris. Dasar bodoh. Ia sudah tahu jawabannya tetapi masih terus ingin mencoba peruntungannya.
“Aku bisa berubah, Keiko. Aku bisa menjadi pria yang kamu inginkan. Aku bisa sehebat Andrew Roux, bisa membuatmu bahagia dan jatuh cinta kepadaku. Aku akan meninggalkan semuanya dan memulai hidup yang baru dan bersih bersamamu. Beri aku kesempatan satu kali lagi. Hanya satu kali. Setelah itu, kalau memang kamu belum bisa mencintaiku, maka aku akan melepaskanmu dengan sukarela. Bagaimana? Apa kamu bersedia?”
Melihat wajah Hiro yang muram dan penuh harap membuat Keiko merasa serba salah. Namun, ia tidak mau memberikan harapan palsu kepada pria itu. Jadi, pada akhirnya ia berkata, “Hiro, kita sudah bersama sangat lama ... jauh sebelum kita bisa mengerti apa itu cinta. Jika aku akan jatuh cinta kepadamu, seharusnya itu sudah terjadi sejak dulu. Tapi ... yang kurasakan terhadapmu hanyalah perasaan sayang seorang adik kepada kakaknya. Jangan salah paham. Aku—“
“Begitu ....” Wajah Hiro tampak kuyu, tapi ia memaksakan seulas senyum sambil berkata, “Bagaimana kalau aku tetap bersikeras untuk mendapatkanmu?”
Keiko menatap Hiro dengan ekspresi yang sedikit rumit. Ia tidak menyangka pria di hadapannya itu akan sangat keras kepala. Bibirnya bergerak-gerak, ingin mengatakan sesuatu, tapi kalimat yang beterbangan di dalam kepalanya tak kunjung terucap.
“Pergilah. Kamarmu di sebelah kanan kamar Andrew,” ujar Hiro ketika menyadari mimik wajah Keiko yang berubah-ubah dengan cepat.
Ia tidak ingin terlalu memaksa gadis itu dan membuatnya semakin menjaga jarak. Ia sudah bertekad untuk mendapatkan hati Keiko dengan cara yang halus dan penuh perhatian. Bahkan sebuah karang akan berlubang jika terus ditetesi air setiap saat bukan?
Keiko mendesah pelan, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu. Langkah kakinya terasa berat, seolah tatapan Hiro menahan setiap gerakannya dari belakang.
Ketika akhirnya ia sudah berada di luar kamar, ia berhenti sebentar dan menghela napas dalam-dalam, lega karena sudah menjelaskan semuanya kepada Hiro.
Meskipun Hiro masih bersikeras, setidaknya pria itu tahu posisi di dalam hatinya.
***