Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Insiden



Di halaman luar Hotel Le Bristol, cahaya penerangan dari lampu jalan menciptakan bayangan dari sosok yang berdiri di trotoar. Wajah cantik itu terlihat sesuram langit malam. Tertatih, selangkah demi selangkah maju dan bersandar di bawah tiang listrik. Tubuh mungil yang tampak rapuh itu seolah akan terbang tertiup angin kapan saja.


Lalu lalang kendaraan yang sesekali lewat di sekitarnya seolah tak mengganggunya sama sekali. Ia seperti tinggal dalam dunianya sendiri, hingga akhirnya suara bariton yang datang dari balik tubuhnya membuatnya sedikit tersentak.


“Sudah hampir subuh, seorang gadis cantik berdiri sendirian dan menatap hotel tempat pengantin baru sedang menghabiskan malam, bukankah itu terlalu menyedihkan, Nona Cecille?”


Cecille berbalik dengan cepat. Iris birunya yang berubah pekat dalam kegelapan memantulkan bayangan pria yang seingatnya tadi mengaku bernama Hansel Roux. Melihat seringai penuh ejekan di wajah pria itu membuat Cecille ingin membalasnya dengan kalimat yang lebih kejam.


Gadis itu menggertakkan gigi, mengepalkan kedua tangannya seolah sedang bersiap untuk bertarung sebelum mengatakan, “Apa yang sedang Anda lakukan, Tuan Muda? Menguntitku atau mencari di kamar mana mantan kekasih Anda sedang bercumbu dengan suaminya malam ini?”


Cecille tersenyum puas melihat air muka Hansel berubah keruh setelah mendengar perkataannya. Huh. Siapa suruh memprovokasinya terlebih dahulu.


Hansel cemberut. Gadis di hadapannya baru saja menusuk dengan sangat telak tepat di lukanya yang masih berdarah. Ia memang sedang menatap hotel di depannya dan membayangkan apa yang mungkin sedang atau telah dilakukan oleh Andrew dan Keiko. Apakah mereka ....


Sialan.


Pria itu mendengkus dan membuang muka. Ia tahu seharusnya tidak melakukan tindakan bodoh seperti ini, tapi ... ia benar-benar tidak bisa menolak dorongan untuk berdiri di sini seperti orang tolol, memikirkan kembali saat-saat ia masih bersama Keiko di Jepang, saat mereka melakukan upacara pertunangan, lalu ...


Sial, ini benar-benar hanya menyiksa diri sendiri. Bukankah akan lebih baik jika mencari selingan? Kebetulan sekali ada gadis cantik yang cukup menarik ....


Mata Hansel berkilat, sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia lalu maju satu langkah, membuat Cecille mundur dua langkah karena pergerakan yang tiba-tiba itu.


“Apa yang kamu lakukan?” seru gadis itu dengan mata melotot.


“Sudah memikirkan tawaranku tadi? Bagaimana kalau kita berkencan?”


Dalam jarak sedekat itu, aroma alkohol yang menguar dari mulut Hansel ketika berbicara dapat tercium dengan sangat jelas oleh Cecille, meski tidak terlalu tajam, tapi tetap membuatnya kesal dan tidak ingin berbasa-basi lagi. Tanpa membalas perkataan pria itu, Cecille memutar tubuhnya dan berjalan dengan cepat menuju mobil sport miliknya yang terparkir di satu blok di depan hotel.


“Hei, berbahaya bagi seorang gadis untuk berjalan sendiri di malam hari. Biar aku menemanimu.” Hansel mengacuhkan pengabaian yang disengaja oleh Cecille dan bergegas menyejajarkan langkah di sisi gadis itu.


“Dengan siapa kamu pulang? Bisa menyetir sendiri?”


“Pergi urus dirimu sendiri!” seru Cecille. Ia menyampirkan tas selempangnya menyilang di dada, kemudian mulai berlari.


“Hei, tunggu!”


Cecille mengabaikan teriakan dari belakangnya dan berlari semakin cepat. Saat ia sudah hampir sampai di mobilnya, tiba-tiba dari sudut jalanan yang gelap muncul dua orang pria berjaket dan bermasker hitam menghadang langkahnya. Belum sempat bereaksi, dua orang pria itu langsung menyeretnya menuju mobil van di sisi jalan.


“Humph!” Cecille meronta dan mencoba untuk berteriak, tapi sebuah tangan kekar membekap mulutnya dengan sangat kuat.


Bam!


Tubuh Cecille dilempar ke jok belakang, pintu tertutup dengan keras, lalu kedua pria berjaket hitam segera melompat masuk ke dalam. Cecille sudah ketakutan setengah mati ketika mendengar suara mesin mobil yang menyala. Dari sisi kiri dan kanan tubuhnya, aroma alkohol yang sangat kuat menyengat indra penciumannya. Tangan kedua pria itu terentang bersamaan, hendak menutup daun pintu. Namun, sebelum niat itu terlaksana, sebuah tendangan keras menghantam pintu di sisi kanan dengan sangat keras.


Brak!


Pintu itu terlepas dan terpental menghantam aspal. Dua orang pria di samping Cecille terlonjak kaget dan mengumpat. Mereka belum sempat berpikir jernih ketika tiba-tiba sebuah lengan kokoh menerobos masuk dan menarik pria dari sisi pintu yang terlepas tadi.


Hansel mengayunkan tinjunya dengan kekuatan penuh, menghantam wajah pria yang tergeletak di atas jalan itu bertubi-tubi. Rekannya yang berada di sisi kiri segera melompat keluar, merogoh belati dari balik punggungnya dan menghunjam ke arah Hansel.


“Awas!” teriak Cecille yang sudah melompat keluar dari mobil van itu.


Hansel berkelit dan berputar dalam satu gerakan cepat, tetapi belati masih sempat menggores bahunya. Ia menggeram kesal, melompat dan mengayunkan kakinya ke lengan pria yang memegang belati sehingga suara berderak terdengar jelas di udara. Raungan kesakitan bergema di sepanjang jalan, tetapi pejalan kaki yang melintas tidak ada yang berani mendekat.


Melihat itu, pria yang berada di balik kemudi segera turun untuk membantu kedua rekannya. Ia melompat dan menyerang Hansel dengan beringas.


Cecille menjerit dan menutup mulut dengan tangannya, kemudian segera tersadar dan segera mengeluarkan ponsel dari tas untuk menghubungi polisi. Di depannya, Hansel masih terus bergulat dengan tiga orang pria yang terus menyerangnya bertubi-tubi. Untungnya Hansel terlihat lebih unggul, mungkin karena ketiga lawannya dalam kondisi mabuk, atau mungkin juga karena kemampuan bertarungnya lebih bagus dibandingkan ketiga berandalan itu. Yang jelas, Cecille berharap Hansel Roux tidak terluka ... jangan sampai terluka karena menyelamatkannya.


Suara sirine polisi meraung dari kejauhan, membuat ketiga bandit itu berbalik arah dan berlari menuju mobil van. Akan tetapi, Hansel melompat dan mencekal kerah jaket salah satu dari pria itu erat-erat, lalu mendaratkan tinju berkekuatan penuh ke rahangnya sehingga membuat wajah pria itu menoleh ke samping. Dua rekannya yang sudah mencapai mobil segera tancap gas, meninggalkan rekan mereka yang merosot ke aspal.


Rasa manis dan sedikit asin di dalam mulutnya membuat Hansel meludah. Aroma anyir seketika menyengat di hidungnya, membuatnya mengernyit karena kesal. Salah satu dari berandalan itu berhasil meninju rahangnya dengan cukup keras.


Cecille berlari mendekat dan berdiri sekitar dua langkah di hadapan Hansel. Dilihat dari jarak sedekat itu membuatnya bisa melihat dengan cukup jelas bahwa ternyata kondisi Hansel tidak sebaik yang ia pikirkan. Pelipis pria itu berdarah, juga sudut bibir dan buku-buku jarinya.


Seketika ia merasa sangat bersalah. Kalau saja tadi ia tidak mengabaikan pria itu dan tetap berjalan bersamanya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Atau ... jika saja ia langsung pulang bersama kedua orang tuanya dan tidak berdiri seperti orang bodoh di pinggir jalan selarut ini ....


Ini semua salahnya ....


***


Hansel Roux.


Uhuk!