
Keiko mendorong daun pintu dan melangkah pelan menuju tempat tidur Hiro. Pria itu berbaring dengan mata terpejam. Bibirnya terlihat pucat, membuat wajahnya terlihat lusuh dan menyedihkan. Peralatan medis yang menempel di tubuh Hiro membuatnya terlihat rapuh, sangat jauh berbeda dengan sosok yang selama ini Keiko kenal.
Gadis itu mengambil kursi dan duduk di sisi tunangannya. Ia meraih jemari Hiro yang tidak terluka dan menggenggamnya pelan. Gerakan itu membuat Hiro membuka matanya.
“Kamu mencariku?” tanya Keiko seraya tersenyum lembut.
“Ya. Aku khawatir. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu terluka? Mereka memperlakukanmu dengan baik tidak?” cecar Hiro bertubi-tubi, lalu sedikit terengah karena kehabisan napas.
“Tenanglah. Aku baik-baik saja,” ujar Keiko seraya mengusap lengan Hiro, “Jangan khawatir. Kamu beristirahatlah supaya cepat pulih.”
“Syukurlah kalau begitu. Katakan kalau orang-orang itu bersikap kurang ajar padamu. Aku tidak akan melepaskan mereka,” ujar Hiro sambil mencoba untuk duduk, tapi Keiko menahannya.
“Jangan banyak bergerak. Nanti lukamu bisa pendarahan lagi. Berbaringlah. Aku akan menemanimu di sini.”
“Keiko-chan,” panggil Hiro sembari menghela napas pelan.
Sapaan itu membuat Keiko tertegun. Hiro hanya memanggilnya seperti itu jika ingin membicarakan sesuatu yang serius. Di saat seperti ini, entah pembicaraan serius seperti apa yang akan terjadi. Gadis itu mulai menebak-nebak. Apakah Hiro mulai curiga padanya dan Andrew? Apakah ada orang yang melihat Andrew menyusup ke dalam kamarnya dan melaporkan hal itu pada Hiro?
“Hey, kenapa wajahmu tegang seperti itu? Aku belum akan mati sekarang, jadi jangan takut,” canda Hiro ketika melihat perubahan ekspresi tunangannya.
Pria itu menatap Keiko lekat-lekat sebelum melanjutkan, “Maafkan aku karena sudah membuatmu terseret ke dalam semua kekacauan ini. Seharusnya aku tidak memaksamu ikut denganku. Maafkan sikapku yang selalu keras kepala dan memaksakan kehendak padamu. Aku berjanji akan memperbaikinya. Apakah kamu mau memaafkanku, Sayang?”
Lagi-lagi Keiko tertegun. Ia kira ....
“Kei—“
“Kamu menakutiku, Hiro. Aku pikir ada apa ....”
Gadis itu tersenyum kaku dan menepuk-nepuk punggung tangan Hiro.
“Memangnya kamu pikir aku ingin mengatakan apa?” tanya Hiro sambil menarik tangan Keiko dan meletakannya di dadanya.
“Aku ... aku pikir ... aku pikir orang-orang ini menggunakan diriku untuk mengancammu,” gumam Keiko pelan, sedikit merasa bersalah karena terus menerus membohongi calon suaminya.
Tiba-tiba raut wajah Hiro berubah. Rahangnya mengetat, menandakan ia merasa terganggu dengan perkataan Keiko barusan. Kenyataan bahwa orang-orang itu menggunakan Keiko untuk menekannya membuatnya sangat kesal.
Akan tetapi untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apa pun untuk melawan. Ia belum menemukan cara untuk menghubungi Ryuchi atau pun ayahnya. Kalau ia sudah berhasil memberikan lokasinya pada mereka, maka sudah dipastikan tidak perlu waktu lama untuk menjemput kebebasannya dan Keiko.
“Hiro,” panggil Keiko ketika melihat tunangannya menatap nanar ke satu titik tanpa berkedip.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Kamu cantik sekali,” gumam Hiro seraya meraih tangan Keiko dan mengecup punggung tangannya, “Aku mencintaimu, Keiko-chan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Sorot mata Keiko melembut. Ia sudah mendengar pengakuan cinta dari Hiro berulang kali, baik saat pria itu sadar, atau mabuk, atau saat dia sedang marah ... dan sekarang, saat dia sedang terbaring di atas ranjang pasien. Sepertinya itu sudah lebih dari cukup. Jadi meskipun ia belum bisa membalas perasaan pria itu, ia ingin mengatakan sesuatu yang dapat membuat Hiro merasa lebih baik.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Keiko menjawab, “Terima kasih, Hiro. Aku—“
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Keiko-chan ... yang penting kamu memaafkanku, itu sudah lebih dari cukup.”
Keiko mengangguk pelan dan tersenyum tipis. “Tentu saja aku memaafkanmu. Istirahatlah. Aku akan berjaga di sini.”
“Baik,” jawab Hiro dengan patuh, lalu memejamkan matanya.
Keiko membetulkan posisi bantal yang menyangga kepala Hiro agar pria itu bisa berbaring dengan nyaman, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh pria itu. Biar bagaimana pun, ia tidak bisa mengatakan bahwa Hiro adalah pasangan yang buruk. Apalagi akhir-akhir ini pria itu sudah berusaha keras untuk menyenangkannya, bersikap manis dan perhatian. Itu sudah cukup menunjukkan bahwa pria itu sungguh-sungguh mencintainya dan mau berubah.
Akan tetapi, Keiko tidak merasakan apa-apa terhadap Hiro sama sekali, selain rasa cemas, sebagai seorang teman. Sangat berbeda dengan ... tidak, tidak boleh memikirkan pria itu.
Gadis itu mengangkat tangan dan menyentuh dadanya yang menggila bahkan hanya dengan mengingat nama Andrew Roux sekilas. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan terhadap Hiro. Tatapannya yang intens dan dalam, juga aromanya yang memikat ... Keiko selalu kehilangan akal sehat setiap kali berada di dekat pria itu.
Bagaimana semua ini akan berakhir?
Sejujurnya, Keiko tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia ingin menjauh dari Andrew, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin ia menolak, pria itu semakin merasuki otak dan pikirannya. Lalu, ia harus bagaimana?
***
Halo semuanya, aku akan usahakan untuk crazy update, tapi tolong kalian untuk tidak "menabung bab" yaa,please....
karena itu berpengaruh ke ranking, performanya turun karena sistem menganggap kalian tidak tertarik dengan cerita ini.
So, please jangan nabung bab banyak baru dibaca yaa ...
Jangan lupa tinggalkan jejak juga berupa like/komen agar aku tahu kalian suka, dan semakin semangat menulis di sela kesibukan duta yang menyita waktu dan tenaga.
Terima kasih banyak untuk kalian semuaa, muahhh
😍🥰😘