
Asap mengepul dari atas wajan, menguarkan aroma harum yang membuat perut lapar. Andrew terus menggoyang-goyangkan wajan hingga api sedikit menyambar ke atas sayuran yang sedang ditumis. Ia menambahkan sedikit minyak wijen dan penyedap rasa, lalu mematikan kompor dan menuang sayuran itu ke dalam mangkuk.
Tak ada waktu untuk mencari resep masakan baru, jadi Andrew hanya memasak sesuatu yang bisa cepat matang agar bisa segera dimakan. Tak lama kemudian, pria itu meletakkan sayur ke atas nampan, kemudian menyusul sepiring nasi dan ayam goreng tepung, juga segelas air putih. Setelah siap, ia membawa nampan itu ke kamar Keiko.
“Baby, kamu sudah bangun?” panggilnya dari depan pintu.
Di dalam kamar, Keiko hampir tersedak mendengar panggilan yang cukup mesra itu. Ia merasa sedikit canggung, tapi juga menyukai panggilan itu.
Bagaimana ini?
“Ya,” sahut gadis itu sambil menggigit bibir.
“Apa aku boleh masuk?”
“Masuklah.”
Begitu melihat Andrew masuk, Keiko langsung melanjutkan, “Jangan panggil aku seperti itu. Aku merasa sedikit tidak nyaman.”
Andrew melangkah dengan santai ke sisi meja, meletakkan nampan di sana, lalu menoleh ke arah Keiko.
“Seperti itu apa?” tanyanya.
Keiko memutar bola matanya dan menjawab, “Baby. Aku tidak suka dipanggil seperti itu.”
“Tapi aku suka memanggilmu begitu,” ujar pria itu dengan lembut. Ia mendekat dan berhenti tepat di depan wajah Keiko, lalu kembali bergumam, “Siapa suruh kamu sangat imut, membuatku sangat menyukaimu.”
“....”
Napas hangat Andrew menerpa wajah Keiko, membuat gadis itu tidak berani mengerjap atau bergerak. Bibir mungilnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sangat jarang seseorang dapat membuatnya kehilangan kemampuan berbicara seperti ini. Meskipun godaan Andrew sedikit norak dan kekanakan, tapi ... sial, ia sedikit menyukainya.
“Terserah padamu saja,” omel Keiko setelah berhasil memulihkan kesadarannya. Ia mengangkat tangan dan meninju bahu Andrew, memberi tekanan pada kepalannya agar pria itu sedikit menjauh.
Andrew terkekeh dan berkata, “Mungkin aku akan pergi selama beberapa hari. Aku sudah meminta seseorang untuk datang menemanimu.”
Keiko menatap Andrew dengan sorot menyelidik dan penuh rasa ingin tahu. Apakah pria itu akan pergi untuk mengurus sesuatu yang berhubungan dengan Ryuchi dan anggota organisasinya yang membelot?
“Pergi ke mana?” tanya Keiko sedikit curiga.
“Kembali ke Tokyo. Ada beberapa hal yang harus aku bereskan di sana,” jawab Andrew singkat. Ia tidak ingin mengatakan informasi yang baru saja didapatnya tadi. Jika Keiko sampai tahu, bisa-bisa dia bersikeras untuk ikut ke Tokyo dan mencari para tetua dari dinasti paling kuno di Jepang.
“Aku ikut,” ujar Keiko setelah terdiam sejenak.
Andrew tersenyum kaku. Lihat. Dugaannya benar, bukan? Padahal baru saja kemarin mereka membahas mengenai masalah ini, bahwa ia tidak akan mengizinkan gadis itu pergi ke mana pun. Risiko dan peluang gadis itu tertangkap oleh musuh sangat besar.
Keiko menghela napas dan membuang muka. Seharusnya ia tidak terbujuk kata-kata romantis Andrew kemarin dan mengiyakan permintaan pria itu. Seharusnya ia bersikap keras kepala dan tidak mau bekerja sama sehingga Andrew terpaksa mengajaknya ikut serta dalam misi balas dendam. Wajah Keiko mendadak murung. Air mukanya yang ceria perlahan berubah suram.
“Kakimu masih sakit tidak?” Pria itu balik bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan. “Kalau belum bisa turun, makan di situ saja. Aku ambilkan makanannya, ya?”
Tanpa menunggu persetujuan Keiko, pria itu berbalik dan mengambil nampan yang tadi ia letakkan di atas meja. Ia membawa benda itu dan menyerahkannya kepada Keiko. Akan tetapi, gadis itu menepis pelan ujung nampan dengan ekspresi acuh tak acuh.
“Aku tidak lapar,” ujar Keiko tanpa melihat isi nampan sedikit pun.
Karena kesal, napsu makan gadis itu mendadak menguap begitu saja. Padahal tadi saat aroma masakan Andrew tercium sampai ke kamarnya, ia benar-benar sudah tidak sabar untuk menunggu dan ingin mencicipi hasil masakan pria itu. Sekarang ia tidak berselera sama sekali. Rasanya harga dirinya seperti dipertaruhkan kalau sampai ia menerima nampan yang disodorkan kepadanya itu.
Andrew tidak tahu harus tertawa atau kesal. Mendadak ia teringat ketika Kinara harus membujuknya untuk makan karena sedang kesal. Waktu itu, apa yang gadis itu katakan? Hum ....
“Seseorang pernah mengatakan kepadaku, ketika ia masih kecil dan sakit atau tidak mau makan, maka ibunya akan menyuapi dengan cara ... um, menyuapi dari mulut ke mulut. Kamu mau mencobanya?” tanya Andrew dengan mimik wajah yang terlihat sangat serius.
Keiko memelototi pria yang bertingkah bodoh di hadapannya itu dan berseru, “Pergi! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
Dengan kesal ia meraih nampan dari tangan Andrew, kemudian memutar tubuhnya untuk memunggungi pria itu.
Alih-alih marah dan kesal karena sikap Keiko, Andrew justru terbahak hingga suaranya memenuhi seisi ruangan.Pria itu mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala Keiko, berharap tindakan itu dapat sedikit meredakan amarahnya.
“Makanlah yang banyak. Kalau kurang, aku akan mengambilkannya lagi,” ujar Andrew pelan.
Keiko mendengkus, benar-benar tidak mau memedulikan pria di belakangnya lagi. Ia memperhatikan tampilan masakan di dalam mangkuk yang terlihat sangat menarik. Sayurannya masih segar, tidak layu atau menghitam sama sekali. Ia menyendokkan sayuran itu dan memakannya dengan nasi. Lidahnya berdecap karena rasa gurih dan segar yang sangat lezat. Ia penasaran bagaimana teknik memasak Andrew bisa sangat bagus.
Sambil makan, otak gadis itu mulai memikirkan beberapa cara agar bisa kembali ke Tokyo. Siapa tahu ... kalau beruntung ia bisa menemukan petunjuk. Atau, apakah ia harus berpura-pura merayu Andrew Roux agar bisa diizinkan untuk ikut? Hmmm ... atau ... bagaimana kalau menyelinap ke kamarnya untuk memeriksa laptop dan ponselnya?
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa serius sekali?”
Keiko terlonjak dan hampir tersedak. Ia menoleh dengan cepat dan memelototi Andrew. Ia pikir pria itu sudah keluar dari kamarnya.
“Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kamu lakukan? Kenapa masih berdiri di sini?” desis Keiko seperti seekor kucing yang hendak mengeluarkan cakarnya untuk bertarung.
“Menunggumu selesai makan. Siapa tahu ada yang kurang,” jawab Andrew tenang. Matanya berkilat penuh kewaspadaan. Dari gerak-gerik dan mimik wajah Keiko, ia sudah bisa menebak bahwa gadis itu sedang merencanakan sesuatu.
“Aku sudah berpesan kepada Tuan Sergio dan anak buahnya, jika kamu keras kepala dan ingin mencoba pergi dari pulau ini, maka mereka boleh mengikat dan mengurungmu di ruangan bawah tanah,” lanjut pria itu lagi sambil mengangkat alisnya.
Keiko menelan makanannya dengan kesal. Meski raut wajah Andrew terlihat tenang, ia tahu pria itu tidak sedang sekedar menggertaknya saja.
Gadis itu menghabiskan makanannya dengan cepat, lalu menyodorkan nampan kembali kepada Andrew tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi dirinya. Persetan dengan Andrew Roux!
Andrew hanya bisa menghela napas dan berjalan keluar dari kamar itu. Salah siapa ia sangat mencintai gadis itu? Bahkan saat melihat Sakamoto Keiko merajuk pun tetap membuatnya jatuh cinta.