
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap detik yang terlewati seolah menguras seluruh energi yang tersisa. Andrew sudah memerhatikan Keiko yang masih berdiri di tepi tebing sejak hampir dua jam lalu. Gadis itu hanya berdiam diri dan menatap riak ombak dengan tatapan kosong. Ia menolak berbicara dan bergeming meski Andrew sudah membujuknya beberapa kali.
Pria itu mengerti jika kehilangan seseorang yang penting, apalagi merupakan satu-satunya orang tua yang tersisa, tentu memberikan pukulan yang cukup keras. Terutama mungkin karena tidak sempat mengucapkan salam perpisahan dengan layak.
Andrew mendesah pelan dan mengetatkan cekalan pada sepotong selimut beludru di tangannya. Setelah mengumpulkan keberanian, ia berjalan keluar dan meletakkan selimut di atas pundak Keiko, merapikannya sehingga seluruh tubuh gadis itu tertutup dengan baik.
“Sudah malam, angin semakin kencang. Ayo masuk,” kata Andrew lirih, berusaha membujuk gadis itu sekali lagi. Sudah hampir tengah malam dan Keiko belum mengisi perutnya lagi, ditambah angin pesisir yang dingin, Andrew benar-benar khawatir gadis itu akan jatuh sakit.
Keiko terkesiap, melihat selimut yang menutupi tubuhnya, lalu menoleh kepada Andrew. Ia menatap pria di sampingnya cukup lama sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa kamu sangat baik kepadaku?”
Ia sudah memikirkannya ribuan kali. Mengapa Andrew Roux bersikap sangat baik terhadapnya. Pria itu menyelamatkannya berkali-kali, bahkan mempertaruhkan karir demi menyelamatkan dirinya yang bukan siapa-siapa. Seingatnya, mereka bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu mengapa pria ini begitu gigih menjaganya?
Kalau pria itu berniat jahat, ada terlalu banyak celah baginya untuk menyerang dan memanfaatkan kesempatan ketika ia sedang rapuh. Akan tetapi pada kenyataannya, pria itu justru selalu menghibur dan merawatnya dengan sangat baik. Meski terkadang Andrew mengganggu dan menggodanya, tapi itu masih dalam batas yang wajar. Keiko benar-benar penasaran, apa alasan Andrew Roux menjaganya dengan sangat hati-hati.
Andrew yang terdiam beberapa saat akhirnya mengalihkan pandangan ke langit malam yang bertabur bintang sebelum menjawab, “Aku berutang kepadamu dalam kehidupan sebelumnya. Anggap saja aku sedang menebus utang-utangku kepadamu dulu.”
“Huh?” Keiko mengernyit dan menatap Andrew dengan ekspresi kebingungan. “Apa maksudmu?”
Andrew tersenyum dan membalas tatapan Keiko sambil berkata, “Kamu hanya perlu tahu bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu. Selamanya akan menjagamu dengan baik. Ayo masuk. Sudah malam. Angin laut tidak baik untuk kesehatan.”
“Tidak. Jelaskan dulu, apa maksud perkataanmu tadi,” balas Keiko sedikit keras kepala. Jika itu adalah Hiro yang mati-matian untuk membela dan melindunginya, maka ia akan percaya. Namun, pria di hadapannya ini ... atas dasar apa ia harus mempercayainya?
Sambil tersenyum lembut, Andrew mengulurkan tangan dan merapikan rambut Keiko yang tertiup angin dan menyelipkannya ke telinga.
“Meski aku menjelaskannya, kamu tidak akan percaya,” gumam pria itu pelan, lalu berbalik dan melangkah ke dalam rumah.
Keiko tertegun mendengar suara pria di depannya yang seakan menyimpan sesuatu. Ia masih terpaku beberapa detik ketika melihat punggung Andrew menjauh. Dari belakang, pria itu terlihat seolah kesepian, membuat hati Keiko sedikit merasa tidak nyaman. Ia mengepalkan tangan dan ikut berjalan masuk.
Aroma masakan yang lezat tercium dari pintu depan. Keiko menatap sosok Andrew yang berjalan menuju dapur dan tanpa sadar mengikutinya ke sana. Dua macam sayuran dan semangkuk sup daging tertata rapi di atas meja. Asap yang mengepul di atas wadah-wadah itu jelas memberi tahu bahwa makanan-makanan itu masih panas.
Keiko terdiam di sisi meja dan menatap makanan itu dengan kening mengernyit. Tidak ada siapa pun lagi di dalam rumah itu selain mereka berdua, itu artinya ... Andrew yang memasak semua makanan itu.
“Duduk dan makanlah,” ujar Andrew sambil menyiapkan perlatan makan di atas meja, “Aku sudah—“
“Kenapa begitu baik padaku? Apa yang kamu inginkan dariku?” sela Keiko seraya menatap Andrew lekat-lekat. Ia melepas selimut di pundaknya dan meletakkan benda itu di atas kursi.
Tangan Andrew yang sedang mengambil sup dan mengisinya ke dalam mangkuk terhenti di udara. Ia mendongak dengan kaku, termenung beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan.
“Makanlah dulu,” jawab Andrew seraya meletakkan mangkuk berisi sup di hadapan Keiko, “Kita bicara setelah kamu selesai makan.”
Keiko terpaksa menurut. Selain karena tidak ingin berdebat, perutnya juga terasa lapar. Apalagi aroma makanan yang ada di hadapannya benar-benar sangat lezat. Gadis itu duduk dan menyendok nasi, lalu mengambil lauk dan makan dengan tenang. Ia meniup kuah sup dan mencicipinya. Meski tidak seenak masakan di restoran bintang lima, untuk ukuran seorang pria hasil masakan Andrew Roux cukup memuaskan.
Tanpa sadar Keiko mendongak dan mendapati Andrew sedang memerhatikannya. Hal itu membuatnya tiba-tiba merasa gugup. Terutama karena pemikirannya mengenai Andrew sebagai suami yang baik kembali melintas di kepalanya.
“Apakah supnya terlalu panas?” tanya Andrew ketika melihat pipi Keiko bersemu merah.
“Em ... tidak,” jawab Keiko cepat. Ia menunduk dan kembali makan dengan penuh konsentrasi. Ia tidak ingin pikirannya berkelana ke mana-mana dan membuat wajahnya semakin memerah lagi.
“Lumayan. Terima kasih,” jawab Keiko.
Andrew tersenyum puas dan bergumam pelan, “Kalau kamu suka, aku akan memasak untukmu setiap hari.”
Keiko mendongak dan memerhatikan Andrew sekilas sebelum membalas, “Tidak perlu. Besok aku akan menyiapkan makananku sendiri. Kamu tidak usah repot.”
“Tidak repot sama sekali,” jawab Andrew cepat. Ia kembali memerhatikan gadis di hadapannya sambil menopang dagu dengan satu tangan, lalu berpikir alangkah bahagianya jika gambaran indah di hadapannya itu dapat ia lihat seumur hidup.
Jawaban itu membuat Keiko mengernyit. Bukankah pria di hadapannya itu memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan? Memasak cukup memakan waktu, apakah dia benar-benar ingin melakukannya?
Namun, karena tidak ingin berdebat, Keiko tetap diam dan menghabiskan makanannya. Ia bangkit untuk membereskan piring dan mangkuk, lalu memasukkannya ke dalam mesin pencuci piring. Begitu berbalik, ia mendapati Andrew sedang menatap ponselnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
“Ada apa?” tanya Keiko ketika melihat raut wajah Andrew semakin serius.
“Um ... itu ....”
Andrew sedikit terkejut, dengan cepat mematikan ponselnya dan mengamati Keiko dengan ragu-ragu.
“Apakah kabar mengenai ayahku? Atau Hiro?” cecar Keiko lagi.
“Ya,” jawab Andrew setelah menimbang sejenak, “Ayahmu baru saja dikremasi. Kalau kamu mau, aku bisa mengatur agar abunya segera dikirim ke sini ....”
“Oh.”
Tercipta jeda yang cukup lama di dalam ruangan itu. Dua orang yang ada di dalam ruangan itu termenung dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Di bawah cahaya lampu, mata Keiko lagi-lagi memanas dan memerah. Sedangkan Andrew mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba menghalau berbagai emosi yang melanda hatinya ketika melihat Keiko berkaca-kaca seperti itu.
“Kenapa begitu baik padaku?” bisik Keiko lirih, menahan agar getaran dalam suaranya tidak terdengar jelas.
“Apa kamu percaya pada reinkarnasi?” Andrew balas bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Keiko. “Sudah kukatakan, aku berutang padamu dalam kehidupan sebelumnya.”
“Utang? Utang apa?”
Kali ini Keiko yang sedikit mengernyit. Ia sama sekali tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Andrew. Reinkarnasi? Bukankah itu hanya dongeng? Mitos. Omong kosong yang tidak dapat dipercaya keabsahannya.
Melihat respon Keiko yang membalas tatapannya dengan penuh rasa curiga membuat Andrew tanpa sadar melangkah ke depan. Ia baru berhenti ketika hanya berjarak sekitar dua langkah dari hadapan gadis itu.
“Kalau aku bilang bahwa kita adalah suami istri dalam kehidupan sebelumnya. Apa kamu percaya?”
***
uhuk!
kira2 Keiko percaya/nggak yaaa...