
Tubuh Cecille terangkat ketika sebuah cekalan menekan dengan keras dan menariknya untuk berdiri. Ia meringis dan merintih pelan sambil mencoba melepaskan tangan yang sedang mencapit lengannya.
“B-ryan ... s-sakit ....”
“Heh! Sakit? Sebegitu saja sudah sakit? Lihat apa yang orang tuamu lakukan terhadapku! Terhadap kedua orang tuaku!”
“Bryan ... jangan begini ... aku mohon—Akh!”
Tubuh Cecille menegang tatkala jemari Bryan menjenggut rambutnya hingga ia merasa mungkin beberapa helai mungkin ada yang tercerabut.
Brak!
Tubuh Cecille terempas dan menabrak pintu bilik. Gadis itu meringis kesakitan.
“Jangan begini? Kamu yang memaksaku menjadi seperti ini, Cecille! He-he ... apa bagusnya Andrew Roux itu? Aku hanya memandangmu seorang, tapi kamu tidak pernah menoleh ke arahku!”
Sret!
Suara kain yang robek membuat air mata kembali menderas di pipi Cecille. Gaun biru muda yang dikenakannya robek di bagian depan, menampilkan separuh dadanya yang tertutup bra berenda.
“Dasar pria gila!“ maki Cecille dengan bibir gemetar, berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos di depan Bryan.
Plak!
Sebuah tamparan yang sangat keras membuat wajah Cecille terayun ke samping, tubuhnya jatuh telentang karena tak siap menerima pukulan yang tiba-tiba itu. Bekas lima jari yang besar menutupi separuh wajahnya. Matanya berkunang-kunang, rasa darah yang amis dan asin memenuhi mulutnya.
“Aku memang sudah gila! Kamu yang membuatku gila!” Bryan mendesis dengan mata merahnya yang nyalang menyoroti tubuh Cecille, mendekat selangkah demi selangkah.
Cecille beringsut mundur. Ia menatap ke arah Bryan dengan ekspresi terkejut dan tak percaya. Pemuda itu sungguh terlihat berbeda dari biasanya. Bryan yang ia kenal selalu humoris dan lemah lembut, mengapa sekarang jadi begini? Atau ... apakah sosok yang selama ini dikenalnya hanyalah topeng? Inilah wujud aslinya, pemuda berandalan yang kasar dan menjijikkan.
“Bryan, mari bicara baik-baik,” gumam Cecille, mengubah nada suaranya menjadi lebih pelan sambil menatap penuh harap. Ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa lagi. Hanya bisa membujuk dan bernegoisasi untuk mengulur waktu, “Jangan begini ... kamu—“
“Diam!”
Bryan melompat maju dan berjongkok di depan Cecille dan menyeringai lebar. Sorot matanya terlihat seperti iblis ketika melanjutkan, “Kamu pikir kamu sangat hebat bukan? Kita lihat, apakah masih ada pria yang mau denganmu setelah aku menidurimu di sini.”
“Kamu pasti mati kalau berani melakukan itu, Bryan!” gertak Cecille dengan keberanian terakhir yang dimilikinya.
Bryan mencibir dan membalas, “Kalau harus mati setelah mencicipi tubuhmu, anggap saja kita impas.”
Pemuda itu mengulurkan tangan dan menangkup wajah Cecille, menahan leher dan rahangnya sampai gadis itu tak bisa bergerak lagi, kemudian menunduk dan menciumnya dengan brutal.
Cecille berusaha menendang, tapi Bryan menangkap kakinya lalu menindihnya dengan kuat.
Breeet!
Suara robekan yang panjang kembali bergema dalam ruangan.
Cecille meronta dan memberikan perlawanan, tapi hanya membuat Bryan semakin beringas dan membuka kakinya dengan paksa, mencekik dan menekannya semakin keras. Ia merasa sangat menderita. Benar-benar tidak rela jika harus dipermalukan dengan cara seperti ini.
Bryan tidak mengurangi tenaganya sama sekali. Ia menggigit bibir Cecille hingga gadis itu mengaduh, lalu lidahnya menelusup masuk dengan paksa, sama seperti tangannya yang menjarah dengan kurang ajar. Seperti orang gila yang kehilangan akal sehat, pemuda itu mengobrak-abrik semua pertahanan dan harga diri Cecille.
Brak!
Bryan menoleh dengan cepat ketika mendengar suara pintu yang terempas dan terbuka. Namun, belum sempat menyadari apa yang sedang terjadi, sebuah tendangan mendarat di wajahnya, membuat tubuhnya terpental dan menabrak pintu bilik di sebelahnya hingga terbuka.
Bryan mencoba untuk berdiri, tapi sebuah tendangan kembali menghajar ulu hatinya sehingga membuat napasnya hampir putus. Ia meringkuk dan menekan dadanya dengan napas tersengal. Sakit. Sangat sakit seperti dirobek dari dalam.
“Bedebah tengik! Aku akan membunuhmu!”
Hansel meraung dan menjambak rambut Bryan, lalu menghantamkan kepalanya ke kloset berulang kali, menimbulkan suara berderak yang berbaur dengan raung kesakitan dari mulut Bryan. Sorot mata yang gelap itu terlihat sangat menakutkan. Ia tidak berhenti meskipun suara teriak kesakitan sudah tidak terdengar lagi dari mulut Bryan.
Cecille yang baru menemukan kembali kesadarannya segera merangkak dan memeluk kaki Hansel.
“Cukup, kamu akan membunuhnya,” ucapnya dengan suara yang sangat lemah.
“Aku memang ingin membunuhnya!” sergah Hansel seraya mengempaskan kepala Bryan ke bawah.
Tubuh Bryan tidak bergerak lagi. Hidungnya patah, bahkan bisa dibilang hancur. Sudut matanya robek dan lebam, begitu pun sudut mulutnya yang mengeluarkan darah hitam dan kental. Beberapa gigi yang patah berserak dalam genangan darah. Hansel benar-benar menghajarnya tanpa ampun.
Cecille terkesiap melihat semua itu, terlalu mengejutkan baginya. Melihat darah yang merembes dari pinggiran kloset dan membasahi lantai di sekitarnya membuat gadis itu hampir muntah lagi, tapi otot perutnya hanya terasa sakit ketika berkontraksi. Sudah tidak tersisa apa-apa lagi di dalam sana. Kepalanya terasa berputar. Ia menggapai, berusaha mencari pegangan. Namun, sebelum berhasil menemukan tumpuan, matanya menggelap.
“Dasar gadis bodoh!”seru Hansel seraya menangkap tubuh Cecille yang merosot ke lantai. Jantungnya terasa diremas saat melihat keadaan Cecille yang mengenaskan.
Ia segera melepaskan kemejanya dengan cepat dan memakaikannya ke tubuh Cecille, lalu menggendongnya dan berjalan keluar. Untung saja tadi ia melihat dua orang pria yang menyusul di belakang Cecille ketika gadis itu pergi melewati pintu exit. Ia semakin curiga ketika gadis itu tak kunjung kembali. Kecemasan dan kecurigaannya terbukti ketika melihat dua orang pria berjaga di depan toilet wanita, hal yang tidak lazim sama sekali. Oleh karena itulah ia segera menerobos masuk setelah menghajar dua orang itu, hanya untuk mendapati pemandangan yang membuatnya hampir gila karena amarah.
Hansel membopong tubuh Cecille dan berjalan menuju pintu yang terhubung dengan tangga darurat. Untuk saat ini, sangat tidak mungkin menggunakan lift biasa. Ia tidak ingin memancing perhatian dan membuat nama Cecille tercemar.
Setelah bersandar di tembok dan menumpu tubuh Cecille dengan satu pahanya, pria itu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi manager yang tadi membantunya membuatkan kartu member. Ia perlu akses ke lift barang.
Cecille menggeliat pelan dan bergumam tidak jelas dalam dekapan Hansel, membuat pria itu buru-buru memasukkan kembali ponselnya dan menopang punggung Cecille dengan tangannya.
“Sialan ... gadis bodoh, kenapa kamu sangat bodoh dan ceroboh?”
Pria itu mengetatkan pelukannya dan kembali berbisik, “Jangan takut. Aku di sini ....”
***
Uhuk!
3x up, kalian ga mau kasih vote/bunga gitu?
🤣🤣