Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Menagih janji



Boom!


Suara tembakan dan ledakan terdengar bersamaan. Debu dan asap bercampur di udara, mengaburkan pandangan dan menyesakkan dada. Andrew terbatuk-batuk dan merangkak di antara puing-puing tembok. Ia tidak bisa menebak siapa yang baru saja menghancurkan ruangan itu: apakah anak buah Robert, orang-orang yang dipimpin oleh Ryuchi, atau Jovanka.


“Kobayashi!” teriak Andrew sambil menumpu tubuhnya pada sofa yang dipenuhi debu.


Ia berdiri dan tertatih melangkah ke depan. Hampir seluruh pria yang tadi berdiri di dekat pintu terpental ke segala arah. Beberapa mengalami luka di tubuh mereka, tapi Andrew tidak sempat memeriksa satu per satu. Fokusnya adalah Hiro yang bersandar di dekat pintu dengan mata terpejam. Darah merembes dari sudut-sudut mulutnya, membuat kemeja putih yang dikenakannya memerah. Sementara Ryuchi dan anak buahnya tidak terlihat lagi.


“Sial!”


Mr. Tanaka sudah pasti akan marah.


Tidak.


Tidak.


Sudah pasti dia akan meledak seperti bom atom yang menghantam kota Hiroshima dan Nagasaki. Pria itu terlalu berambisi untuk menangkap gembong mafia di Jepang dan Mexico hingga ke akarnya. Akan tetapi, sekarang kemungkinan semua rencananya berantakan. Entah kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Jadi Andrew pikir, kalau Hiro meninggal dan Robert berhasil melarikan diri maka ... mungkin saja pria tua itu akan menjadikan siapa pun sebagai tempat pelampiasan amarah.


“Andrew!” seru Jovanka dan alat komunikasi yang sempat terputus sesaat, “Laporkan posisimu!”


Wanita itu bisa melihat kekacauan yang terjadi di dalam melalui monitor mini yang tersambung melalui perangkat milik Andrew. Jantungnya berdebar kencang. Ia sama sekali tidak menyangka akan terjadi kekacauan dalam misi kali ini.


“Aku baik-baik saja. Kobayashi tertembak, segera kirim tenaga medis,” jawab Andrew seraya berjongkok di samping Hiro, “Tutup semua pintu keluar. Tidak mungkin bedebah itu pergi jauh.”


“Mengerti!”


Jovanka memberi aba-aba kepada anak buah Mr. Tanaka untuk mengepung gedung yang menjadi tempat hiburan malam itu. Beberapa pasukan segera membentuk barikade dan memblokir semua akses untuk keluar. Para pengunjung yang berhamburan ke pintu diarahkan ke satu sisi dan harus melewati pemeriksaan kartu identitas sebelum benar-benar boleh meninggalkan tempat itu. Setelah memberi instruksi, Jovanka memimpin sisa pasukan untuk masuk ke dalam gedung.


Andrew mengumpat keras. Ia tidak menduga akan ada serangan seperti ini sehingga tidak menyiapkan obat-obatan. Dengan cepat ia membuka jas dan membuangnya ke sembarang arah, lalu melepas kemejanya dan menekan luka tembak di dada Hiro dengan gumpalan kain itu.


“Kobayashi, kamu bisa mendengarku?” tanya Andrew seraya memeriksa denyut nadi Hiro.


Hiro mengerang pelan dan membuka mata. Bayangan yang tertangkap oleh retinanya terlihat samar, tapi ia masih bisa mengenali sosok di hadapannya. Di antara embusan napasnya yang berat dan terputus-putus, pria itu mengumpulkan tenaga untuk dapat berbicara kepada Andrew.


“Aku menagih janjimu ...,” gumam Hiro di ambang kesadarannya.


“Diamlah. Jangan banyak bergerak. Hemat tenagamu,” sela Andrew seraya menatap ujung lorong, berharap bantuan akan segera datang.


Ia sangat ingin mengejar Ryuchi dan Robert, tapi tidak mungkin ia meninggalkan Hiro sendirian di tempat itu.


“Jimmy?” panggil Andrew sambil mencoba mengaktifkan alat komunikasinya lagi. Sayangnya usahanya tidak berhasil. Suara statis dengan nada melengking tinggi membuatnya terpaksa memutuskan koneksi lagi.


Aneh. Mengapa hanya saluran Jovanka yang terhubung? Mengapa bantuan lama sekali?


Hiro mencekal lengan Andrew dengan sisa tenaganya. Dadanya terasa seperti dirobek dari dalam setiap kali ia berbicara. Akan tetapi, ia harus memastikan bahwa keselamatan Keiko terjamin jika ia tidak bisa bertahan.


“Dengarkan aku ...,” gumam Hiro lirih seraya menarik tangan Andrew untuk mendapatkan perhatiannya, “Ryuchi mengincar Keiko. Kamu harus menyelamatkannya ....”


“Apa katamu?” seru Andrew cukup keras. Seluruh tubuhnya mendadak menegang. Mengapa semuanya berubah sangat cepat. Ini benar-benar di luar rencana semula.


“Orang-orang kalian ada yang berkhianat. Kalau tidak ... bagaimana mungkin dia mengetahui semuanya. Cepat. Pergi dan selamatkan Keiko!”


“Tapi kamu—“


“Jangan pikirkan aku, sialan! Pergi selamatkan dia!”


Hiro terbatuk-batuk dan kembali memuntahkan darah segar. Andrew mendekat dan ingin membantunya, tapi Hiro meraih sepucuk pistol yang tergeletak di dekat tangannya dan menodongkannya ke arah Andrew.


“Pergilah! Berengsek! Atau aku yang akan menghabisimu!” desisnya seraya membidik tepat ke kening Andrew.


Kedua tangan Andrew terkepal kuat. Ia harus segera membuat keputusan. Ia juga tahu Hiro tidak sedang berdusta atau memanipulasi dirinya. Darah yang terus menetes keluar dari tubuh pria itu jelas bukan tipu muslihat.


Akhirnya Andrew memutuskan untuk bangun dan berkata, “Bertahanlah. Paramedis segera datang. Jangan banyak bergerak!”


Hiro bahkan sudah tidak sanggup untuk mengangguk atau menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan bersandar di tembok dengan pasrah. Setidaknya jika ia benar-benar mati kali ini, akan ada seseorang yang menjaga Keiko dengan baik.


Andrew berlari ke ujung lorong, lalu hampir terjungkal ketika daun pintu terbuka lebar dan beberapa petugas berhamburan masuk. Ia mengenali Jovanka di antara orang-orang itu, tapi jika yang dikatakan oleh Hiro tadi benar, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu barang satu detik pun.


“Dia ada di sana, cepatlah,” ujar Andrew pada petugas medis yang melintas di dekatnya.


Ia menghampiri Jovanka dan berkata, “Ryuchi. Dia mengkhianati keluarga Kobayashi. Aku akan mengejarnya.”


“Aku ... hey! Andrew!” seru Jovanka ketika melihat Andrew berlari menjauh tanpa menunggu jawaban atau persetujuan darinya.


“Sial!” umpat wanita itu seraya meninju tembok di dekatnya hingga muncul bercak kemerahan di buku-buku jarinya yang putih.


“Kalian berdua, cepat ikuti Kapten Andrew!” perintah Jovankan sambil menunjuk ke arah dua orang pria yang mengawalnya di belakang.


“Siap, Komandan!” jawab dua orang pria berseragam semi militer itu bersamaan. Tak lama kemudian, mereka berdua menghilang di ujung lorong tempat Andrew pergi tadi.


Jovanka menghela napas dalam-dalam sebelum mengaktifkan alat komunikasinya.


“Kapten Andrew mengejar asisten keluarga Kobayashi. Robert Castillo sudah dipastikan tewas, sedangkan Kobayashi Hiro terluka parah,” lapornya dengan ringkas.


Di ujung telepon, Mr. Tanaka terus menyumpah dalam bahasa Jepang sambil memukuli meja di hadapannya. Sorot matanya berkilat mengerikan ketika memutus sambungan telepon. Pria tua itu mengambil sebuah ponsel sekali pakai dari laci meja dan menghubungi nomor asing yang sudah dihafalnya di luar kepala.


“Jalankan rencana cadangan,” perintahnya begitu terdengar suara gemerisik di ponselnya.


“Baik, Tuan.”


***