Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Obati Lagi



Setelah memilih kostum di Toko Nyonya Yue, Andrew mengajak Keiko makan siang di sebuah restoran tradisional di dekat penginapan yang akan mereka tempat selama dua hari. Dari semua hidangan yang disajikan, Keiko dapat menebak bahwa harganya tidak murah.


Senyum lebar terus tersungging di bibir gadis itu, matanya bersinar seperti matahari di musim semi. Tangannya menenteng dua kantong belanja yang penuh dengan pakaian dan berbagai pernak-pernik ketika memasuki penginapan. Seorang penjaga menyapa mereka dengan sopan dan menyerahkan kartu yang bertuliskan beberapa angka yang menunjukkan nomor kamar.


Setelah menerima benda itu dan mengucapkan terima kasih, Andrew menuntun Keiko memasuki lorong yang menyerupai gapura kecil dan masuk ke halaman utama. Ia memang sengaja memilih tempat penginapan yang dekat dengan Kuil Omiya untuk memudahkan pulang dan pergi ke sana. Akan ada banyak sekali orang yang berpatisipasi dalam acara tersebut sehingga Andrew sengaja memilih tempat yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Ia tidak ingin membawa mobil dan terjebak dalam kemacetan.


“Tempat ini indah sekali,” gumam Keiko ketika kakinya melangkah di pelataran yang dipenuhi dengan pohon sakura. Sayangnya bunga-bunganya sedang tidak mekar. Meski begitu, Keiko cukup puas dengan keindahan taman dan arsitektur bangunan yang benar-benar masih tradisional.


“Kita bisa kembali ke sini ketika sakura sedang mekar,” ujar Andrew seolah bisa membaca isi pikiran kekasihnya.


Mata bulat Keiko berbinar semakin cerah. “Benarkah?” tanyanya.


“Tentu saja. Kita bisa kembali ke sini kapan pun kamu mau.”


“Terima kasih. Aku pasti akan menagih janjimu ini suatu saat nanti,” ujar Keiko sambil tersenyum puas.


Ia kembali mengamati bangunan indah itu dengan kagum. Seluruh bangunan masih menggunakan papan kayu dengan pintu geser. Patung dewa-dewi tampak di beberapa tempat. Aroma dupa menguar di udara, memberi efek menenangkan dan damai. Keiko benar-benar terbawa suasana.


Andrew menuntun kekasihnya hingga sampai di depan pintu kamar yang akan ditempati oleh gadis itu dan berkata, “Kamu tidur di sini. Kalau ada apa-apa, aku ada di kamar sebelah. Oke?”


“Oke.” Keiko mengangguk dengan patuh.


Gadis itu kembali mengedarkan pandangan dan seolah baru saja menyadari sesuatu, ia menatap ke arah Andrew dengan mata menyipit dan bertanya, “Ngomong-ngomong, ke mana orang-orang yang lain? Aku tidak melihat siapa pun sejak tadi.”


“Oh, itu ....” Andrew menggaruk bagian belakang kepalanya dengan kikuk. “Sebenarnya ... aku—“


“Mr.Roux, Anda sudah datang?”


Andrew dan Keiko serentak menoleh ke arah sumber datangnya suara barusan. Seorang pria yang berusian sekitar 60-an tergopoh-gopoh keluar dari lorong ketiga di sisi kiri dan menghampiri mereka. Pria itu tampak sangat ramah dan sopan. Meski lebih tua, ia lebih dulu membungkuk untuk memberi hormat kepada Andrew dan Keiko.


“Senang bisa berjumpa dengan Anda,” ujar pria itu seraya tersenyum hingga matanya menyipit.


“Halo, Tuan Kenjiro. Senang berjumpa dengan Anda juga,” balas Andrew seraya membungkuk.


“Halo, Tuan. Senang berjumpa dengan Anda.” Keiko ikut tersenyum dan memberi hormat. Dari penampilannya, ia bisa menebak bahwa pria yang dipanggil dengan sebutan Tuan Kenjiro itu adalah pemilik penginapan, atau paling tidak merupakan orang yang memiliki kedudukan penting di sana.


“Haiya ... tidak perlu sungkan,” ujar pria tua itu seraya melambaikan tangannya, “Maaf, aku tidak tahu kalau kalian sudah datang. Barusan salah satu pegawaiku memberi tahu, jadi aku langsung ke sini. Semoga kalian cocok dengan penginapan kami. Hidangan spesial untuk makan malam sedang disiapkan oleh koki terbaik yang kami miliki.”


“Hari masih siang, tidak perlu begitu repot, Tuan,” ujar Andrew.


Lagi-lagi Tuan Kenjiro melambaikan tangannya sambil berkata, “Omong kosong. Tidak repot sama sekali. Suatu kehormatan bagi kami untuk bisa melayani Anda. Oleh karena itu, tentu saja semuanya harus disiapkan dengan baik.”


Andrew tersenyum dan membalas, “Kalau begitu, terserah Tuan saja ... kami akan ke kamar dan beristirahat sebentar.”


“Ya ... ya ... ya ... betul sekali. Sekarang lebih baik kalian beristirahat dan menunggu festival lampion dimulai. Akan sangat ramai nanti malam. Untung saja Mr.Roux sudah memesan seluruh tempat ini, kalau tidak, pasti akan sangat penuh sesak. Nona, Anda sangat beruntung memiliki kekasih yang perhatian seperti pria ini.”


Keiko. “....”


Andrew. “....”


Tuan Kenjiro memperhatikan dua orang yang saling menatap di hadapannya itu dan bertanya,“Ada apa? Apa aku salah bicara?”


“Tidak. Tidak sama sekali,” jawab Keiko cepat sambil menggeleng. Seringai di wajahnya terlihat benar-benar jelek. Ia sudah hampir mengulurkan tangan dan memukul kepala Andrew Roux. Pria itu boros sekali!


Andrew mengusap ujung hidungnya, dengan ragu-ragu menebak ekspresi wajah Keiko dan berkata, “Tidak apa-apa, Tuan. Jangan khawatir.”


Sepertinya aku yang harus khawatir, sambungnya lagi dalam hati.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan kembali ke dapur dan mengawasi semuanya. Selamat beristirahat. Sampai jumpa.” Pria tua itu kemudian berlalu dengan tenang, meninggalkan angin dan badai di belakangnya.


Keiko menoleh dan menatap Andrew dengan sorot mata yang sangat tajam, seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup.


“Jet pribadi, lampion para dewa, makan siang yang mahal, memesan seluruh tempat ini ... Mr.Roux, apa ada yang tidak bisa Anda lakukan? Apakah Anda juga akan menyewa seluruh Kuil Omiya dan seluruh lampion di sana untuk kita?” sindir Keiko, masih dengan aura sengit yang memancar dari tubuhnya. Meski tersanjung dengan seluruh perhatian pria itu, ia benar-benar tidak menyukai pemborosan.


“Baby, jangan marah, ya ...,” bujuk Andrew seraya menggenggam tangan Keiko, “Aku hanya ingin menebus semua yang tidak sempat kulakukan untukmu dulu ... jadi, jangan kesal padaku ... oke?”


Akhirnya gadis itu hanya bisa menarik napas tanpa daya dan menggerutu, “Singkirkan muka memelasmu itu. Aku benar-benar kesal.”


Tanpa mengatakan apa-apa, Andrew mengarahkan tangan Keiko yang berada dalam genggamannya dan memukulkannya ke pipinya dua kali.


“Apa yang kamu lakukan?” seru Keiko dengan wajah terkejut. Ia menarik tangannya dengan cepat dan menatap Andrew dengan sorot mata tidak mengerti.


“Bukankah aku membuatmu kesal? Aku memang bodoh, pukul aku—“


“Memangnya aku ini preman?” sela Keiko seraya memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut pening. Gadis itu benar-benar dibuat sakit kepala oleh tingkah kekasihnya.


Sekali lagi gadis itu menghela napas dalam-dalam sebelum mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Andrew.


“Sakit tidak?” tanyanya.


Andrew mengangguk seperti seorang anak kecil yang baru saja dihukum oleh orang tuanya.


“Sedikit,” gumam pria itu pelan.


“Dasar ceroboh. Aku kesal bukan berarti ingin memukulmu. Meski kadang-kadang sangat ingin menendang bokongmu itu, aku juga tidak tega,” gerutu Keiko seraya menarik dasi Andrew dan mendaratkan satu kecupan lembut di pipi pria itu.


Andrew membeku, melotot menatap Keiko yang justru bersikap seolah tidak melakukan apa-apa.


“Masih sakit tidak?” tanya gadis itu dengan wajah polosnya.


“Sakamoto Keiko ...,” gumam Andrew dengan suara serak.


“Ada apa, Mr.Roux?”


“Apa yang baru saja kamu lakukan?” Pria itu menatap kekasihnya dengan ekspresi yang rumit. Selama ini dirinyalah yang selalu berinisiatif untuk mencium, tapi kali ini ....


“Mengobati kekasihku,” jawab Keiko seraya mengangkat alisnya, “Keberatan?”


Andrew mengangkat tangannya dan menarik pinggang Keiko hingga tubuh mereka berdua saling berimpit erat.


“Tidak. Aku menyukainya.” Andrew mengambil tangan Keiko dan menggunakannya untuk memukul bibirnya sendiri.


“Sekarang sakit di sini. Obati lagi,” pinta pria itu dengan mata yang berpendar penuh harap.


“Hm.”


Keiko menjilat bibirnya dan menatap Andrew dengan sensual. Gadis itu lalu berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibir Andrew. Napasnya yang hangat dan wangi membuat Andrew merinding. Pria itu benar-benar sudah hampir gemetaran ketika merasakan bibir Keiko terbuka dan ******* bibirnya pelan.


Akan tetapi, pria yang sudah memejamkan mata itu sama sekali tidak menyadari jika kekasihnya sedang menatapnya dengan mata bulat seraya menahan tawa. Dengan jarak sedekat itu, wajah Andrew terlihat sangat lebar.


Hhh ... tapi tetap tampan, gerutu Keiko dalam hati.


Namun, kemudian tanpa aba-aba gadis itu membuka mulutnya dan mengigit bibir Andrew cukup kuat hingga pria itu mengaduh kesakitan.


“Rasakan! Dasar mesum!” teriak Keiko seraya berlari masuk ke kamarnya sebelum Andrew memberikan respon.


“Sakamoto Keiko!” raung Andrew dari luar, “Aku memang sudah terlalu memanjakanmu! Keluar! Lihat bagaimana aku memukul pantatmu! Dasar anak nakal!”


Pria itu maju dan mencoba membuka pintu kamar Keiko, tapi gadis itu sudah menguncinya dari dalam. Akhirnya ia hanya bisa mengusap bibirnya yang berdenyut nyeri sambil mengernyit kesal.


Sial. Ia pikir gadisnya sudah berubah dan berinisiatif ... rupanya ia yang terlalu berharap.


***


Jangan lupa like, vote dan komen, biar otor makin semangatt.. makasihh...😍😍😍