Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Memori



Matahari belum muncul sempurna di ufuk timur ketika akhirnya kapal merapat ke dermaga kecil yang berada di sebuah teluk. Semburat oranye keemasan muncul di garis langit, memantul indah di permukaan air. Riak kecil memukul-mukul badan kapal, membuat kapal itu bergoyang pelan.


Keiko membuka pintu kabin dan ingin mencari Andrew. Ia tidak bisa tidur semalaman. Ide-ide bermunculan satu per satu, membuatnya sibuk membuat rencana dan mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi jika idenya itu dilaksanakan. Sekarang ia sudah tidak sabar untuk membahasnya bersama Andrew. Mungkin pria itu tidak akan setuju, tapi ia harus tetap mencoba. Oleh karena itulah pagi-pagi ia sudah mandi dan keluar dari kabin.


Keiko langsung menuju ke geladak utama. Ia mengangguk sekilas kepada dua orang anak buah kapal yang baru saja menurunkan tangga untuk menuju dermaga. Sambil mengedarkan pandangannya, ia bertanya, “Apakah Anda melihat di mana Tuan Andrew ber—“


“Ada apa mencariku sepagi ini?” sela suara bariton yang terdengar serak dan seksi dari balik tubuh Keiko. Andrew baru saja ingin memeriksa kapal yang sedang bersandar. Tak disangka justru bertemu dengan Sakamoto Keiko di sini.


Keiko membalikkan tubuh dengan cepat dan terpana mendapati Andrew Roux yang berdiri hanya sekitar dua langkah di belakangnya. Sepertinya pria itu baru bangun tidur. Rambutnya terlihat masih acak-acakan. Kancing kemejanya terbuka hingga dada, menampilkan otot yang keras dan liat dalam cahaya yang masih sedikit temaram. Untuk sesaat Keiko terkejut dan kehilangan fokusnya sehingga hampir terjungkal.


“Hati-hati!” seru Andrew seraya melompat maju dan menangkap tubuh Keiko yang limbung.


Pria itu menahan pinggang Keiko dengan hati-hati, menyisakan jarak agar tubuh mereka tidak terlalu saling menempel. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana bagian bawah tubuhnya bereaksi ketika melihat penampilan Keiko yang sangat menawan sepagi ini.


Sementara itu, Keiko pun terbengong seperti orang bodoh. Dalam sekejap aroma mint yang segar menghantam indera penciumannya, membuat sistem syarafnya mendadak lumpuh selama beberapa detik. Seluruh permukaan tubuhnya seolah dialiri listrik statis ketika sebuah gambaran muncul di kepalanya. Ia bisa melihat dirinya sendiri sedang merangkum wajah Andrew dalam tangannya, lalu menunduk dan mengecup bibir pria itu.


Rasa panas menjalar dari ujung-ujung jari hingga ke seluruh tubuh, menimbulkan rona di pipi hingga leher. Keningnya mengernyit dalam karena heran dan takjub. Ia tidak pernah mencium pria mana pun! Kecuali Hiro yang memaksakan ciumannya waktu itu. Jadi bagaimana mungkin ... oh, reinkarnasi? Apakah beberapa kepingan memori masih tersimpan dalam alam bawah sadarnya?


Tanpa sadar Keiko mendorong tubuh Andrew agar menjauh, lalu mengusap permukaan bibirnya sekilas. Ia tidak bisa menahan diri untuk menatap bibir pria di hadapannya yang tampak menggoda. Dalam ingatannya, rasanya sangat manis dan lembut. Keiko jadi ingin mencobanya, apakah rasanya benar selembut dan semanis itu?


Gadis itu memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya keras-keras.


Jangan bodoh, Keiko, serunya dalam hati.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Andrew ketika merasakan perubahan sikap Keiko yang sedikit aneh.


“Oh ... um, yeah. Well, maaf ... aku ....”


Keiko tidak bisa menahan diri untuk terus menatap bibir Andrew yang mendadak benar-benar terlihat menggoda. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam sambil mengepalkan kedua tangannya, kemudian melanjutkan, “Tadinya aku ingin menyampaikan sesuatu, tapi ... aku rasa sebaiknya kita bicarakan setelah ... um, kita ada di mana sekarang?”


Andrew mengangkat alisnya untuk merespon tingkah Keiko yang benar-benar terlihat aneh dan mencurigakan. Meski demikian, ia pun tidak ingin memaksa gadis itu. Ia mengalihkan pandangan ke daratan dan menjawab, “Ada pondok kecil di sana. Aku membelinya secara pribadi atas nama si Tua Alfred. Tidak akan ada yang tahu, jangan khawatir. Untuk sementara kita akan tinggal di sini.”


“Baik. Tunggu sebentar, aku mengambil tas dulu,” balas Keiko. Ia buru-buru kembali ke kabin untuk mengambil tas ranselnya, lalu kembali ke dek.


Andrew mengangguk sekilas, lalu kembali ke kabinnya juga untuk mengambil barang-barangnya. Pria itu lebih dulu kembali ke dek. Ketika melihat Keiko kembali sambil memanggul ransel, ia keluar dari kapal dan berdiri di ujung tangga. Karena sedang surut, posisi dermaga lebih tinggi dari badan kapal.


Ia lalu mengulurkan tangan kepada Keiko dan berkata, “Ayo, naik.”


“Oh ....”


Keiko menerima uluran tangan Andrew dan membiarkan pria itu membantunya menapaki anak tangga menuju dermaga. Meski tidak terlalu jauh, goncangan akibat riak air membuat tangga besi itu ikut bergoyang-goyang. Keiko menggenggam jemari Andrew erat-erat. Jatuh ke dalam air laut sepagi sungguh bukanlah pilihan yang bijak.


“Jalan setapaknya cukup licin, sepertinya karena jarang dipakai,” ujar Andrew ketika merasakan Keiko hendak mengendurkan genggamannya.


Keiko menunduk dan memerhatikan setapak yang dipenuhi lumut, memang terlihat licin. Akhirnya gadis itu tetap membiarkan Andrew menuntunnya menerobos semak-semak ke bagian sisi kanan teluk. Ia menoleh ke belakang dan melihat lima orang awak kapal sedang membawa beberapa tas besar dan berjalan menyusul.


“Aku menyuruh mereka tetap tinggal di pulau untuk memudahkan jika terjadi sesuatu,” jelas Andrew tanpa diminta.


Keiko hanya bergumam pelan, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Tidak berapa lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah bangunan berwarna cokelat tua yang terbuat dari papan kayu. Bangunan itu tidak terlihat dari bibir pantai, tersembunyi di balik deretan pohon-pohon yang tinggi. Namun, jika berdiri dari depan halaman, siapa pun yang mendekat dari dermaga akan terlihat dengan cukup jelas.


Andrew melepaskan cekalannya di tangan Keiko, lalu mengeluarkan anak kunci dari saku celana dan membuka pintu. “Masuklah,” ujarnya seraya memberi jalan untuk Keiko.


“Kamarmu di lorong sebelah kiri, pintu ke dua,“ sambungnya lagi.


“Baik,” ujar Keiko


Meski terlihat sederhana dari luar, bagian dalam bangunan itu cukup nyaman dan modern. Kamar yang akan ia tempati pun sangat bersih, rapi, dan wangi. Seolah seseorang baru saja membersihkannya.


Keiko tidak mengeluarkan barang bawaannya dari dalam tas. Ia takut jika sewaktu-waktu mereka harus meninggalkan tempat ini lagi, dengan begitu ia tidak akan meninggalkan apa pun sebagai petunjuk bagi musuh yang mencarinya.


Setelah membersihkan diri lagi dari lumpur dan berganti pakaian, gadis itu keluar dan hendak berjalan menuju ruang tamu. Akan tetapi, ia tertegun karena mendapati Andrew sudah menunggunya di depan pintu sambil memegang piring yang berisi setangkup roti bakar dan segelas susu hangat.


“Sarapanlah dulu, setelah itu aku akan mengajakmu ke puncak bukit. Pemandangan dari sana cukup indah,” ujar Andrew seraya menyodorkan piring di tangannya.


Keiko tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Ia mengambil roti panggang yang disodorkan oleh Andrew sambil bertanya, “Bagaimana kamu menyiapkan semua ini?”


Bahkan jika Andrew mempersiapkan semuanya sejak mereka masih di rumah tebing, waktunya terlalu singkat. Sehebat apa pun pria itu, ia rasa tidak akan mungkin melakukan antisipasi sedetail ini.


Andrew menangkap sorot penuh tanya dalam raut wajah Keiko. Ia tersenyum dan menjawab, “Aku sudah curiga sejak misi terakhir di Rusia. Organisasi tidak pernah salah memberikan informasi ataupun target, tapi kali itu yang datang adalah orang yang berbeda. Hanya ada satu kemungkinan, informasi telah bocor sehingga musuh melakukan rencana cadangan. Oleh karena itu saat mendapat perintah untuk langsung ke Tokyo, aku sudah meminta orang untuk mengurus hal-hal ini.”


Keiko benar-benar dibuat kagum. Gadis itu mengulas senyum dan berkata, “Sungguh kemampuan analisis yang sangat hebat disertai kemampuan yang memang benar-benar hebat.”


“Apakah ini adalah sebuah pujian?” tanya Andrew. Manik hitamnya berpendar samar.


“Anggap saja begitu,” jawab Keiko seraya berjalan menuju ruang depan. Ia duduk dengan anggun dan mulai menikmati makan paginya.


Sementara itu, Andrew berdiri tidak jauh dari sana, bersandar pada tembok seraya memerhatikan gadis di hadapannya tanpa berkedip. Ia sungguh berharap semua ini segera berakhir agar ia dapat fokus mengejar cinta Sakamoto Keiko.


***