Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Akan menjadi suami yang baik



Matahari sudah hampir mencapai kaki cakrawala ketika akhirnya Keiko keluar dari kamar. Setelah mengunci pintu, seharian ia mengurung diri di dalam ruangan berwarna putih itu. Ia juga mengabaikan panggilan Andrew yang beberapa kali berdiri di depan kamarnya dan mengetuk pintu.


Setelah berpikir dan merenung seharian, Keiko masih tetap tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Andrew. Semua yang terjadi terlalu mendadak. Dalam jangka waktu tidak sampai 24 jam, ia sudah terdampar bersama pria itu di sebuah rumah terpencil di puncak tebing, ribuan kilometer jauhnya dari Tokyo.


Bukankah akan terlihat aneh kalau aku langsung menuruti semua perkataan pria itu tanpa curiga sedikit pun? Siapa yang dapat menjamin bukan dia dalang dari semua ini? Bagaimana kalau ternyata dia yang mencelakai Hiro dan mengatur semuanya agar terlihat seperti jebakan yang dilakukan oleh orang lain?


Keiko mengembuskan napas dengan kasar dan menggeleng kuat-kuat, membuat Andrew yang sedang berkutat di depan laptop mendongak dan menoleh ke arahnya.


“Sudah bangun?” tanya Andrew seraya melepas kacamata virtual yang menghubungkannya dengan Clark dan juga Garry, mengabaikan teriakan protes dari dua orang itu karena tiba-tiba ia abaikan.


“Ya,” jawab Keiko singkat.


Gadis itu hanya membalas tatapan Andrew sekilas, lalu membalikkan tubuh dengan kikuk ke arah kamarnya. Karena terlalu hening, ia mengira Andrew sedang keluar. Siapa sangka pria itu sedang duduk di dekat jendela yang memisahkan pintu kamar mereka.


“Makanlah, tadi aku memasak sedikit. Mungkin tidak terlalu enak, tapi bisa menghilangkan lapar,” ujar Andrew sambil menunjuk pintu yang terletak setelah kamar mereka.


“Tinggal dihangatkan saja. Kamu belum makan seharian, ‘kan?" sambungnya lagi ketika melihat gadis di hadapannya itu buru-buru ingin membuka pintu kamarnya lagi.


Gerakan tangan Keiko terhenti di udara. Ia memang belum makan seharian, tapi ....


“Kalau aku membuatmu tidak nyaman, aku akan keluar. Kamu bisa makan dengan tenang,” sambung Andrew lagi ketika memerhatikan gerak-gerik Keiko yang agak ragu-ragu.


“Aku ... tidak lapar,” jawab Keiko sambil mengalihkan pandangannya.


Akan tetapi, baru saja mulutnya terkatup, suara yang sangat keras bergema di udara hingga terdengar jelas oleh mereka berdua.


Kruuuk ... kruk.


Suara perutnya yang bergemuruh kencang membuat wajah Keiko merah padam. Ia sungguh ingin memukuli perutnya yang tidak bisa diajak kerja sama itu. Benar-benar memalukan.


Andrew mengulum senyum sambil membereskan berkas-berkas yang berserakan di hadapannya dengan cepat. Ia membiarkan laptopnya tetap menyala, lalu membawanya dan berjalan melewati Keiko menuju ruang depan. Ia tidak ingin membuat gadis itu semakin malu, jadi ia berjalan melewatinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah bayangan Andrew tidak lagi terlihat, Keiko menempelkan keningnya ke daun pintu dan memukuli kepalanya sendiri.


“Dasar bodoh! Bodoh ... sangat memalukan...,” gerutu Keiko sambil meremas perutnya pelan.


Gadis itu ingin kembali ke kamar dan mengurung diri untuk selamanya, tidak ingin bertemu Andrew lagi ... tapi, saat ini ia benar-benar lapar. Akhirnya setelah mengenyahkan ego terakhir yang ia miliki, Keiko berjalan menuju dapur dan menemukan satu panci sup miso di atas kompor listrik.


Ia menyalakan kompor dan menunggu hingga uap panas mengepul dari rebusan itu. Suara desisan pelan terdengar karena uap yang menerobos lewat celah tutup panci. Keiko segera mematikan kompor, kemudian mengambil mangkuk untuk sup dan memindahkan kuah panas dengan hati-hati ke dalam mangkuk. Ia lalu menyendok nasi dan menambahkan beberapa potong daging ayam karage yang ada di atas meja.


Pertama-tama, Keiko menyendok kuah sup miso, meniupnya sebentar lalu mencicipi kuah berwarna kecokelatan itu. Rasa gurih yang pas membuat gadis itu berdecap. Rasanya benar-benar enak.


Apakah pria itu memasaknya sendiri? Atau ada orang yang datang ketika aku tidur tadi? gumam Keiko dalam hati.


Dengan antusias ia kembali menyendokkan sup itu ke dalam mulut, disusul oleh nasi dan potongan ayam karage. Perpaduan rasanya benar-benar sempurna. Meskipun mungkin hidangan ini disiapkan untuk makan pagi, rasanya tetap nikmat.


Tanpa sadar sepiring nasi di hadapannya sudah habis. Keiko melirik ragu-ragu ke arah penanak nasi yang terletak di sebelah kompor, lalu kembali menatap piringnya. Jika ia mengambil nasi dan lauk lagi, apakah Andrew Roux akan mengetahuinya?


Setelah menimbang-nimbang sejenak, Keiko mengusap perutnya sekilas lalu berjalan menuju penanak nasi. Perutnya masih lapar! Persetan kalau pria itu mengetahui porsi makannya yang banyak! Memangnya kenapa?


Salah sendiri menyuruhku makan!


“Kamu suka? Baguslah kalau begitu ... habiskan saja.”


“Uhuk!”


Suara dari balik tubuhnya membuat Keiko tersedak hingga wajahnya memerah. Ia memukul-mukul dadanya dengan panik. Dari mana pria itu datang? Mengapa ia tidak menyadarinya datang?


Andrew ikut panik. Ia segera menuang segelas air putih dan menyodorkannya ke arah Keiko. Sambil mengusap-usap punggung gadis itu, ia berkata, “Pelan sedikit, tidak ada yang berebut makanan denganmu.”


“....”


Keiko tidak bisa membalas ucapan itu. Ia menenggak habis air dalam gelas dan mengatur deru napasnya yang tak beraturan. Matanya berair dan hidungnya terasa perih. Sialan.


“Aku mengagetkanmu?” tanya Andrew ketika menyadari Keiko menatap ke arahnya dengan mata menyipit.


Menurutmu?


Keiko mendengkus pelan. Tiba-tiba ia kehilangan minat untuk makan, tapi makanan seenak ini terlalu sayang untuk disia-siakan.


“Maaf, aku hanya ingin mengambil air minum. Melihatmu makan dengan lahap aku ....”


Andrew mengangkat kedua tangannya dan membuat gerakan mengunci di depan mulut ketika melihat sorot membara dalam tatapan Keiko. Ia berkata, “Aku tidak bicara lagi. Lanjutkan makanmu.”


Andrew mengambil air minum untuk dirinya sendiri, lalu buru-buru keluar dari ruangan itu. Sedangkan Keiko ... gadis itu kembali menyantap hidangan di hadapannya dengan lahap. Ia menghabiskan semuanya hingga tak ada sisa sama sekali di dalam piring dan mangkuk.


Masakannya benar-benar enak. Dia pasti akan menjadi suami yang baik ....


Tubuh Keiko mendadak tegang karena pemikiran absurd yang mampir dalam kepalanya secara tiba-tiba itu.


Haishh ... bagaimana bisa aku berpikir seperti itu? Keiko, sadarlah ....


***


Sup Miso atau miso shiru adalah masakan sup khas Jepang berbahan dasar dashi yang ditambahkan makanan laut atau sayur-sayuran sebagai isi dan diberi miso sebagai perasa.


Umumnya Sup Miso dihidangkan bersama nasi putih dan biasa dijadikan menu sarapan.


Rasa dari Sup Miso sendiri gurih dan khas, tergantung dari jenis miso yang digunakan, kualitas dashi, dan keterampilan orang yang membuatnya.


***


Karaage (唐揚げ atau 空揚げ atau から揚げ [kaɾaaɡe]) (pengucapan kira-kira kah-rah-ah-ge), adalah teknik memasak ala Jepang di mana berbagai jenis bahan makanan — lebih sering ayam, juga daging, atau ikan — digoreng rendam dalam minyak yang banyak. Potongan daging ini dibumbui dengan mirin atau saus rendaman asin yang dibuat dari campuran kecap asin, bawang putih, dan jahe, kemudian dilapisi tepung terigu atau tepung kentang, lalu digoreng dalam minyak goreng yang banyak — mirip dengan cara memasak tempura.


sumber: Wikipedia


***


Halo semuanya, author pengen hiatus dulu naskah ini. Mungkin dilanjutkan setelah lebaran. Sedih ... stuck di level 3,hiks...😖