
Keiko tersenyum puas setelah menulisi lampionnya. Ukiran tangannya terlihat sangat indah. Ketika lampion itu dinyalakan, tinta berwarna hitam terlihat anggun sekaligus elegan terkena cahaya lampion yang keemasan.
Andrew melongok dan bertanya, “Apa yang kamu tulis?”
“Tunjukkan punyamu lebih dulu,” balas Keiko seraya mengangkat alisnya.
“Hm ... aku meminta kepada para dewa agar mempertemukan kita lagi di kehidupan berikutnya,” ujar Andrew sambil memutar lampionnya dan menunjukkannya kepada Keiko.
“Bagaimana kalau aku tidak mau bertemu lagi denganmu?” goda Keiko dengan mata berkilat jenaka.
Andrew menggeram. Sorot matanya berapi-api dan penuh kesungguhan ketika menjawab, “Aku akan mengguncang kediaman para dewa, membuat keonaran di sana dan memaksa mereka untuk menyeretmu ke hadapanku.”
Keiko terbahak sampai air matanya hampir menetes.
“Kamu barbar sekali. Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau takut mendengarnya,” ujar gadis itu setelah tawanya mereda.
Andrew menunjukkan wajah acuh tak acuh. Ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya tadi. Bertarung dengan para dewa untuk mendapatkan kekasihnya lebih baik daripada harus tersiksa karena terpisah dengan gadis itu.
“Sampai kapan pun, kamu hanya boleh milikku seorang. Di kehidupan ini atau di masa yang akan datang." Andrew menggenggam tangan Keiko dan menatapnya dengan penuh tekad. "Ingat ini baik-baik, Baby ... yang perlu kamu lakukan hanyalah menunggu. Di mana pun kamu berada, akulah yang akan mencari dan menemukanmu. Oke?”
Keiko tersenyum manis dan menjawab dengan patuh, “Oke.”
“Gadis pintar. Sekarang tunjukkan padaku, apa yang kamu tulis?”
Keiko memutar lampionnya dan menunjukkannya kepada Andrew sambil berkata, “Aku berterima kasih karena sudah dipertemukan denganmu. Aku berharap, kita bisa terus bersama sampai maut memisahkan.”
Anda membaca ukiran di lampion dengan hati-hati, meresapi kata demi kata yang tertulis di sana. Perlahan senyum bodoh mengembang di wajahnya. Matanya bercahaya seperti seorang bocah yang baru saja mendapatkan hadiah.
“Kamu sungguh-sungguh?” tanya pria itu tanpa melepaskan tatapannya dari lampion.
“Tentu saja,” jawab Keiko dengan yakin, “Bertemu denganmu adalah salah satu kemujuran dalam hidupku. Sampai kapan pun, aku tidak rela berpisah denganmu, kecuali kamu sudah tidak menginginkanku lagi.”
Andrew meraih pinggang Keiko dan menariknya mendekat. Sebelum gadis itu sempat memberikan reaksi, ia sudah mendaratkan sebuah kecupan di pipinya.
“Aku tidak mungkin tidak menginginkanmu. Di dunia ini, memilikimu saja sudah lebih dari cukup. Aku tidak mau yang lain lagi,” ujar pria itu dengan ekspresi penuh kesungguhan di wajahnya.
Keiko tersenyum lebar. Mata bulatnya memantulkan wajah Andrew yang sangat dekat dengannya. Tanpa ragu-ragu gadis itu meraih dagu Andrew dan mencium sudut bibirnya sekilas.
“Mulutmu manis sekali, rasanya seperti madu,” ujar Keiko seraya terkekeh pelan.
Andrew terpaku sesaat sebelum mengulurkan tangan dan mengusap bibirnya yang baru saja dicium. Pria itu tersenyum tak berdaya dan menarik tangan Keiko menuju lapangan. Lama-lama seperti itu bisa membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
“Ayo, sebentar lagi acara akan dimulai. Kamu pasti tidak mau kehabisan tempat, kan?”
“Hum.” Keiko bergumam dan mengikuti langkah Andrew menuju kerumunan.
Tampak para penari sudah bersiap di posisi mereka. Lampion-lampion yang cantik berjejer di sepanjang jalan. Beberapa digantung di dahan-dahan pohon, menambah semarak suasana. Orang-orang lalu-lalang dengan penuh sukacita, berbicara dan bercanda dengan pasangan masing-masing.
“Tetap di belakangku,” ujar Andrew sambil memegang tangan Keiko erat-erat. Ia terus melangkah perlahan, menerobos lautan manusia yang juga ingin menonton pertunjukan tari.
Untunglah mereka berhasil mendapat tempat di bagian depan. Andrew melingkarkan tangannya di pinggang Keiko dan menarik tubuh gadis itu agar semakin dekat kepadanya.
“Jangan sampai terpisah. Tempat ini sangat luas, akan sulit mencari seseorang di tempat yang begini ramai.”
“Baik, Sayangku,” jawab Keiko.
“Setelah dari sini, kita akan ke sungai Kikuchi untuk melepaskan lampion.”
“Kamu sudah mengatakannya tadi.”
“Hanya mengingatkan saja.”
“Oke.”
“Tidak boleh melepaskan tanganku, nanti kamu tersesat.”
Keiko menghela napas dan menjawab, “Oke.”
“Aku—“
“Ssst, tariannya sudah akan dimulai,” sela Keiko. Ia menatap dengan serius ke depan.
“Mereka cantik sekali,” puji Keiko, tak melepaskan pandangannya dari para penari yang bergerak gemulai di depan sana.
“Kamu lebih cantik,” bisik Andrew di telinga Keiko.
Keiko mengulurkan tangan dan mencubit lengan Andrew tanpa menoleh, membuat pria itu mengaduh dan meringis kesakitan.
“Pacarku galak sekali,” keluh Andrew sambil mengusap bekas cubitan di lengannya, “Aku ‘kan hanya mengungkapkan—“
“Ssst ... kamu berisik sekali,” gerutu Keiko seraya menghadap Andrew dan meletakkan telunjuknya di bibir Andrew, “Aku tidak bisa menonton dengan tenang. Kamu diamlah dulu sebentar.”
“Um!” Andrew mengangguk dengan patuh.
“Bagus.” Keiko tersenyum puas dan kembali melihat ke depan.
Andrew menghela napas pasrah. Ia pun kini memfokuskan pandangannya ke depan. Sejujurnya, ia pun baru kali ini datang ke festival lampion. Semuanya cukup menarik. Apalagi Keiko tampak sangat menikmatinya, membuatnya tidak merasa menyesal telah memutuskan untuk datang ke sini.
Ketika tarian selesai, Andrew langsung mengajak Keiko untuk pergi ke sungai Kikuchi. Mereka berjalan bersama rombongan orang-orang yang juga akan pergi ke sana.
“Oh, Andrew ... tarian tadi benar-benar sangat indah. Aku sangat menyukainya,” ujar Keiko dengan mata berbinar bahagia.
“Tahun depan kita bisa ke sini lagi dan menyaksikannya.”
“Benarkah?” tanya Keiko penuh harap.
“Tentu saja,” jawab Andrew dengan sungguh-sungguh, “Sudah aku katakan sebelumnya, kamu bisa kembali ke sini kapan pun kamu mau. Pada saat bunga sakura mekar, musim salju, atau bahkan hanya karena kamu ingin makan tumis abalone dan lobster, aku akan mengantarmu ke sini dengan senang hati.”
Keiko terkekeh hingga matanya menyipit. Ia melambaikan tangannya ke arah Andrew dan berkata, “Jangan terlalu memanjakanku, nanti aku besar kepala.”
“Tidak apa-apa, aku rela ditindas olehmu,” jawab Andrew seraya memasang wajah memelas, membuat tawa Keiko semakin lebar dan kencang.
“Mulutmu benar-benar sangat manis, Mr.Roux,” ujar gadis itu di sela tawanya.
“Memang. Bukankah kamu sudah merasakannya?”
“Hum. Memang sangat manis.”
Tiba-tiba langkah kaki Andrew terhenti. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
“Ada apa?” tanya Keiko yang ikut berhenti di samping Andrew. Apakah tiba-tiba pria itu mendapat tugas rahasia lagi? Tapi, bukankah dia sudah mengundurkan diri?
“Andrew?” panggilnya lagi ketika Andrew hanya terdiam dan menatap ponselnya dengan sangat serius, “Ada apa? Jangan menakutiku.”
“Author baru saja mengirim pesan, katanya kita berhasil naik ke level 7,” jawab Andrew sambil tersenyum lebar.
“Benarkah?” seru Keiko. Ia sudah hampir melompat karena sangat bahagia.
“Benar. Kita berhasil, Baby ... aku sangat senang!”
“Kalau begitu, kita harus berterima kasih kepada para pembaca yang selalu menyemangati author!” ujar Keiko sambil mengguncang bahu Andrew, “Tanpa support dari mereka, author pasti sudah menyerah sejak bulan lalu.”
“Itu benar, Sayang. Nanti aku akan membuatkan cookies untuk mereka sebagai bentuk ucapan terima kasih.“ Andrew menoleh dan tersenyum manis kepada mereka yang sedang membaca tulisan ini, “Terima kasih untuk kalian semua, terima kasih untuk support, komen, like, dan vote kalian ... aku dan Keiko sangat menghargainya, terutama author ... sepertinya sekarang dia sedang menangis karena terharu. Jangan lelah untuk menyemangati kami, ya!”
“Yeay! Terima kasih untuk para pembaca yang keren dan baik hati! Kalian luar biasa!” imbuh Keiko seraya melambaikan tangan ke arah pembaca yang mungkin sekarang sedang ikut tersenyum lebar.
Ia sungguh berharap kondisi ini akan bertahan untuk seterusnya.
***
Author mencintai kalian semuaaa ....
Terima kasih banyak-banyakkk
*nangis di pojokan
Ini cookies dari Mr.Roux, semoga kalian sukaa😘😘