
Setelah selesai makan, Keiko kembali ke kamarnya dan mandi. Ia memeriksa lemari cokelat yang berdiri di sisi kanan ranjang, ada beberapa setel pakaian wanita di laci ketiga, juga sekitar setengah lusin pakaian dalam. Semuanya terlihat masih baru.
Gadis itu mengernyit dan tampak sedikit ragu. Apakah pria di luar sana yang menyiapkan semua ini untuknya? Bukankah mereka baru tiba di sini? Kapan pria itu mempersiapkan semua ini?
Meski bertanya-tanya dan cukup curiga, Keiko tetap mengambil kaos oblong hitam dan celana santai berwarna biru dongker dan memakainya. Wajahnya tiba-tiba memerah ketika menyadari pakaian dalam yang ia ambil dari dalam lemari pun ternyata ukurannya sangat pas dengan tubuhnya. Bagaimana Andrew Roux bisa menebak ukurannya dengan sangat tepat?
Gerakan gadis itu terlihat kaku. Untuk alasan yang tidak jelas, ia benar-benar merasa malu sekaligus kesal. Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin memakai pakaian yang sudah ia kenakan sejak kemarin. Setelah menempuh perjalanan panjang, pakaian itu benar-benar kusut dan lembab karena keringat.
Duduk di tepi kasur, tatapan Keiko menerawang jauh. Tidak ada alat komunikasi, tidak tahu informasi terbaru mengenai Hiro dan ayahnya, benar-benar seperti sedang berjalan dengan mata tertutup. Ia tidak tahu bagaimana ini semua akan berakhir.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Keiko. Dengan alami gadis itu segera membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak, kemudian tertegun sesaat ketika menyadari Andrew tidak bisa melihat dirinya.
Ia berdeham sebentar untuk menjernihkan suara, lalu sedikit berseru, “Mr. Roux?”
“Ya. Apakah kamu sedang sibuk?” balas Andrew dari balik pintu.
Raut wajah pria itu tidak enak dilihat. Ia menatap ponsel di tangannya tanpa berkedip. Clark baru saja mengonfirmasi bahwa ayah Keiko benar-benar sudah meninggal, begitu pula dengan kedua orang tua Hiro. Sedangkan tunangan gadis itu sampai sekarang masih belum ditemukan juga.
Setelah terdiam sesaat dan menimbang, akhirnya Keiko berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit. Raut wajah Andrew yang tampak serius di hadapannya memicu rasa ingin tahunya. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan oleh pria itu.
“Tidak sibuk. Ada apa, Mr. Roux?”
Kening Andrew mengernyit dalam, terlihat jelas ekspresi wajahnya yang tidak suka. “Panggil Andrew saja,” ujarnya seraya menatap Keiko lekat.
Keiko tidak mengerti pria di hadapannya tiba-tiba kesal, tapi ia hanya bisa mengikuti permintaan pria itu dan berkata, “Baik, Andrew. Ada apa?”
Kerutan-kerutan halus di kening Andrew perlahan memudar. Ia menoleh ke luar dan berkata, “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini mengenai ... um, mengenai ayahmu.”
Keiko membeku. Firasat buruk tiba-tiba menghampirinya, membunyikan alarm tanda bahaya yang membuat tubuhnya limbung. Di bawah cahaya lampu kamar yang tidak terlalu terang, wajah gadis itu memucat. Ia meremas gagang pintu hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.
Andrew pernah menyinggung masalah mengenai atasannya yang ingin menjadikan ia dan Hiro sebagai umpan untuk menangkap kedua orang tua mereka. Meski merasa tidak nyaman dan khawatir, ia juga tidak bisa melakukan sesuatu untuk melawan hal itu.
“Ada apa dengan ayahku?” Akhirnya Keiko bertanya dengan suara yang serak.
Sesungguhnya, ia tidak ingin mendengar berita yang ingin disampaikan oleh Andrew. Akan tetapi, ia tetap harus mengetahui kebenarannya bukan? Sepahit apa pun itu ....
Andrew menunduk dan berbalik perlahan sambil bergumam, “Kemarilah. Kita bicara di luar.”
Napas Keiko terasa sesak, seolah ada gumpalan kapas yang mengganjal di tenggorokan, membuatnya merasa tidak tenang. Meski begitu, ia tetap keluar, berjalan mengekori Andrew selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya ketika mereka berhenti di sisi barat rumah itu, Keiko terpana untuk sesaat. Matahari berwarna keemasan yang seolah sedang ditelan oleh samudra itu terlihat sangat cantik.
Andrew membiarkan gadis di sampingnya terdiam seperti itu. Ia sendiri memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan berdiri menghadap Keiko, menikmati semburat cahaya matahari terbenam yang terpantul di wajah gadis itu. Benar-benar sangat cantik. Untuk sesaat ia bahkan hampir lupa caranya untuk bernapas dengan benar. Sakamoto Keiko sungguh terlihat seperti seorang dewi.
Sepersekian detik sebelum Keiko menoleh ke arahnya, Andrew lebih dulu menurunkan tatapan matanya dan mengalihkan pandangan ke depan, lalu bersikap seolah-olah hatinya baik-baik saja. Padahal hanya Tuhan yang tahu, gemuruh dalam dadanya mengalahkan deburan ombak yang sedang memecah karang.
“Apa yang terjadi pada ayahku?” tanya Keiko setelah berhasil menenangkan diri. Ada hal-hal yang tidak bisa dihindari, ia tahu itu dengan sangat baik.
“Maafkan aku,” ujar Andrew setelah berpikir cukup lama tapi tetap tidak dapat menemukan kalimat yang tepat untuk menyampaikan kabar duka itu kepada Keiko.
Dua orang itu saling menatap, tak ada yang berkedip, seolah mereka ingin saling menyelami kedalam hati masing-masing dan menemukan kebenaran. Lalu ketika rasa takut yang asing merayap keluar dan menggerogoti benteng pertahanan, mereka sama-sama memalingkan wajah dan memandang laut lepas yang seolah tanpa ujung.
Suara Keiko terdengar bergetar, memecah keheningan. “Dia sudah meninggal?”
Andrew menoleh, lalu mendapati bahwa bukan hanya suara gadis itu saja yang terdengar gemetaran, tapi seluruh tubuhnya juga berguncang, seolah menahan kepedihan yang sangat. Satu bulir bening lolos dari antara bulu matanya yang lentik, meluncur melewati pipi dan berkumpul di ujung dagu sebelum jatuh ke tanah.
Andrew sangat ingin mengulurkan tangan dan mengusap jejak air mata yang tertinggal, tapi ia sadar tidak memiliki kualifikasi untuk melakukan hal itu. Kedua tangannya terkepal erat, menahan emosinya yang meluap.
Keiko terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hanya air matanya yang semakin menderas. Gadis itu menangis tanpa suara, membuat hati Andrew semakin sakit saat melihatnya.
“Apakah dia meninggal dengan tenang?” tanya Keiko setelah menyusut air matanya dengan punggung tangan.
Apakah itu bisa dibilang tenang? Andrew tidak tahu bagaimana menjawabnya. Sakamoto Zen ditembak tepat di kening dengan senjata berkaliber besar, membuat otaknya berceceran ke mana-mana. Ibu jarinya dipotong untuk mengambil stempel keluarga yang tersembunyi di tempat terpisah.
“Mereka menyiksanya, bukan?”
Keiko berjongkok, menutup mulutnya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu. Dadanya benar-benar sesak. Rasa sakit membuatnya seolah ingin meledak. Sekarang ia benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi.
Andrew hanya bisa berdiri di sana dan menemani gadis pujaannya dalam diam. Ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak terbiasa membujuk seseorang, apalagi seorang gadis ... tapi, dengan Keiko berbeda.
Ia sangat ingin menenangkan gadis itu, memberitahunya bahwa semua akan baik-baik saja, meyakinkanya bahwa dia bisa bersandar di bahunya jika merasa lelah. Akan tetapi, Andrew takut jika ia melakukan hal itu maka Keiko justru akan menjauh darinya.
“Ayahku ... dia selalu mengatakan ingin agar abunya dapat disebar di lautan. Apakah ... apakah kamu bisa membantuku?” tanya Keiko dengan suara sengau. Ia masih berjongkok sambil memeluk lutut erat-erat, seolah-olah jika ia melepaskan kedua tangannya yang saling bertaut, maka ia akan jatuh ke dasar jurang dan tidak bisa kembali lagi.
“Ya. Aku bisa mengaturnya untukmu,” jawab Andrew dengan tatapan menerawang jauh.
“Kamu tenang saja, aku akan menemukan orang-orang itu dan membalaskan dendam ayahmu,” sambung Andrew lagi dengan suara lirih. Setidaknya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur gadis di sampingnya ini.
Matahari sudah tidak terlihat lagi, tapi api yang berkobar dalam mata Andrew menyala semakin terang. Ia sudah bertekad untuk membalas orang-orang yang sudah menjebaknya, juga membuat gadisnya menangis dengan sangat sedih seperti ini.
***
Haiii...
aku kembalii,please komen,like,dan vote yang banyak yaa
tengkyuu😍