
Garry melepas kacamata virtualnya dan menyentuh lambang pause di TV Plasma layar lebar miliknya. Musik yang berdentum dalam ruangan berwarna abu-abu itu mendadak berhenti. Peluh membanjiri kening dan punggung pemuda itu. Kaus hitam bergambar Darth Vader menempel erat pada tubuhnya, basah dan lengket. Ia mengembuskan napas kuat-kuat sehingga embun panas keluar dari mulutnya dan membaur dengan udara.
Jika bukan karena nada dering khusus yang disetelnya berbunyi nyaring selama lebih dari satu menit, Garry tidak akan menghentikan permainan yang hampir ia menangkan itu. Ia berjalan menuju meja hitam di pojok ruangan, lalu membuka laptopnya dan menekan tombol enter. Dengan cepat jemarinya yang gemuk menari di atas keypad hingga akhirnya sebuah pesan dengan font besar muncul di tengah layar monitor.
Garry mengunduh berkas terlampir sambil berdecak keras. Ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot sampai ke ujung hidung, lalu memicing ketika melihat tampilan di layar. Ada beberapa buah foto yang sepertinya diambil dari kamera CCTV. Gambar-gambar itu sedikit buram, tapi jelas bukan sebuah masalah besar baginya.
“Mengganggu kesenanganku saja,” gerutu pemuda itu pelan. Meski demikian, ia tetap meneruskan gambar yang terunduh itu ke ke main computer yang berada di basemen.
Pemuda itu menarik celana joger berwarna navy yang menggantung di bawah lipatan lemak perutnya, lalu berjalan ke sisi lemari pakaian. Ia mengambil kaus hitam dan mengganti bajunya yang basah kuyup, lalu menjulurkan jari ke bagian belakang lemari itu dan menekan bulatan kecil yang tersembunyi agak ke atas.
Dengungan halus merambat melalui udara dan bergema dalam gendang telinga. Garry menatap lemarinya yang bergeser secara otomatis ke kiri, lalu melangkah masuk ke dalam kotak besi yang tersembunyi di balik benda itu.
Garry menekan huruf “B” yang menyala kekuningan di hadapannya. Dalam sekejap kotak besi itu bergerak turun dengan cepat. Tidak sampai satu menit, benda itu berhenti dengan stabil. Pintu terbuka dan Garry berjalan keluar. Ia langsung duduk dengan khidmat di atas kursinya yang lebih mirip sebuah singgasana berwarna merah tua.
Di hadapannya terbentang monitor raksasa selebar hampir lima meter. Layar itu terhubung dengan sebuah super komputer yang diciptakan oleh Phoenix.Co. Hanya ada sepuluh prototipe serupa di seluruh dunia. Beruntungnya, Andrew menyerahkan satu kepadanya.
Sejujurnya, Andrew Roux adalah satu-satunya orang yang bisa menakluklan Garry dengan mudah. Bisa dibilang pemuda itu hampir tidak pernah menolak perintah Andrew sama sekali. Hubungan yang aneh itu dimulai sejak lima tahun lalu, saat Garry yang masih berusia 16 tahun dikejar oleh semua pasukan mata-mata di dunia karena berhasil membobol data rahasia milik CIA dan Interpol, lalu menyebarkannya di internet. Ia sempat tertangkap dan diinterogasi selama 48 jam tanpa pengacara, tanpa makanan, hanya sebotol air mineral yang menemaninya selama itu.
Kemudian, saat ia sudah benar-benar putus harapan, Andrew Roux muncul secara tiba-tiba dan menjadi dewa penyelamatnya. Ia sendiri tidak dapat mengingat dengan jelas bagaimana bisa keluar dari neraka itu, yang pasti ketika ia membuka mata keesokan harinya, ia sudah berada di kota ini, kota kelahirannya.
Mulanya Garry cukup ragu dengan keputusan Andrew yang membawanya kembali ke Jakarta. Pria itu mengatakan bahwa tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Tadinya Garry mengira pria itu sinting. Namun, nyatanya perkataan pria itu benar. Sampai sekarang ia masih aman di kota metropolitan ini. Tidak ada gangguan sama sekali.
Mungkin kalau Andrew tidak muncul lima tahun lalu dan membantunya keluar, bisa jadi saat ini ia sudah menjadi tahanan seumur hidup di penjara federal, atau lebih buruk lagi ... belum tentu ia masih hidup sampai sekarang. Oleh karena itu, Garry tidak pernah bisa menolak permintaan Andrew Roux.
Pemuda itu mulai mengaktifkan program khusus yang dibuatnya untuk menyusup ke dalam data base yang menyimpan informasi hampir semua orang di seluruh dunia. Itu adalah semacam program pengenalan wajah, tapi lebih canggih. Program yang ia ciptakan ini bisa menemukan seseorang hanya dari pengenalan lokasi dan waktu ketika orang tersebut berada di tempat itu.
“Well, mari kita lihat ... siapa kamu,” gumam pemuda itu sambil memasukkan kode pemrograman dan mulai memindai lokasi dalam gambar yang dikirim oleh Andrew tadi.
Gambar di layar komputer bergerak seperti potongan puzzle yang dicocokkan dengan cepat, berhenti sepersekian detik pada beberapa titik, kemudian kembali bergeser untuk memenuhi kepingan-kepingan lain yang tertangkap kamera lalu lintas di sepanjang jalan dekat stasiun.
Monitor berkedip cepat ketika berhasil mengenali orang yang sama di pintu masuk stasiun, di seberang jalan dekat halte ... terus merunut hingga ketika pria itu baru saja keluar dari sebuah hotel bintang satu di pinggiran kota Tokyo.
“Huh. Bahkan seekor tikus got pun tidak bisa bersembunyi dariku,” ujar Garry seraya menggosok-gosokkan tangannya dengan cepat, lalu menekan enter satu kali lagi.
Dalam sekejap seluruh informasi mengenai pria di foto itu tertera di layar komputer, mulai dari tempat dan tanggal lahir hingga catatan waktu perjalanan ke luar negeri terakhir kali. Garry tersenyum puas dan menyimpan data ke dalam file di komputernya. Tak lama kemudian, ia mengirim salinan informasi itu kepada Andrew dengan catatan: mission completed, Boss.
Pemuda itu baru saja akan kembali ke ruangan atas untuk melanjutkan permainannya ketika kotak pesan di layar komputernya menyala lagi. Dengan mata memicing ia meng-klik kotak persegi yang menyerupai gambar amplop itu dan membaca isi pesan.
Kerja bagus. Lakukan lagi.
Bip.
Bip.
Bip.
Hampir 20 foto terlampir di bawah tulisan itu, seperti sebuah pedang yang menusuk mata Garry. Wajah pemuda itu mendadak muram, tapi ia hanya bisa mengembuskan napas dan mulai berkutat lagi di depan komputer. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan? Lebih cepat mengerjakan tugas ini maka bisa lebih cepat selesai.
"Haiiish ... aku sungguh ingin mengomelinya, tapi tidak berani," gerutu Garry sambil memindai tiap gambar satu per satu dalam program komputernya.
Tak lama kemudian, dalam ruangan itu hanya terdengar mesin-mesin yang bergetar halus ketika menjalankan perintah yang diketik di atas keypad.
Wajah Garry yang tadi terlihat konyol dan kekanakan kini tampak lebih serius ketika mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Ia mengerti Andrew Roux sedang sangat membutuhkan bantuannya saat ini. Oleh karena itu, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan pria itu .
***
kira2 Andrew lagi mikir aap ya? xixixi...