
Setelah jeda keheningan yang cukup panjang di ruang tamu, akhirnya Cecille lebih dulu mengambil inisiatif untuk berpamitan. Andrew yang acuh tak acuh dan Marco Roux yang tampak biasa saja membuat harga dirinya terluka. Tadinya ia berharap salah satu dari mereka akan membujuknya dan mengatakan bahwa pernyataan Andrew tadi hanyalah lelucon. Akan tetapi, kenyataannya bahkan saat ia sudah sampai di depan pintu, tidak ada satu orang pun yang menahan langkahnya.
Air mata Cecille tumpah seperti tetesan hujan, berderai satu demi satu melewati pipinya yang memerah. Ia merasa dipermainkan, perasaannya yang tulus diperlakukan seperti lelucon. Dalam kabut dan rinai di wajahnya, pupil gadis itu menyusut. Ia pasti akan membalasnya. Semua perlakuan yang diterimanya hari ini, harus dibayar dengan setimpal.
Gadis itu lalu menuju mobilnya dan meminta supir untuk mengantarnya pulang. Entah ayahnya sudah menerima kabar ini atau belum, yang jelas ... ia akan meminta ayahnya untuk menuntut keluarga Roux. Ia bersumpah tidak akan tinggal diam.
“Andrew, apa kamu tidak merasa sedikit keterlaluan terhadap gadis itu?” bisik Keiko ketika deru mobil di depan meninggalkan suara berdecit yang cukup keras.
Andrew mendengkus. Apanya yang keterlaluan. Masih baik ia mau berbicara dengan gadis itu, bukannya memerintahkan pengawal untuk melemparkannya keluar sejak awal.
“Jangan terlalu memikirkannya. Lebih baik sekarang kamu minum suplemen ini, kemudian beristirahat,” balas Andrew. Ia lalu menyodorkan sebuah pil berwarna merah tua beserta segelas air yang tadi ia minta untuk disiapkan oleh pelayan.
“Andrew benar. Minum itu dan tidurlah dulu sebentar,” timpal Marco Roux, “Nanti sore akan ada seorang desainer yang datang. Kalian bisa membicarakan masalah gaun dengannya. Oh, Ayah juga sudah mengundang seseorang untuk mengurus masalah dekorasi dan acara untuk resepsi nanti.”
“Baik, Ayah,” jawab Keiko dengan patuh. Ia mengambil pil dan air dari tangan Andrew dan meminumnya.
“Antar istrimu ke atas!” perintah Marco kepada putranya.
Pipi Keiko bersemu merah mendengar kata “istrimu”. Rasanya sedikit aneh sekaligus manis, membuat dadanya berdebar-debar ... seolah ada pusaran air yang melayang dan berputar dalam perutnya.
“Baik, Ayah.” Andrew bangkit dan menyodorkan tangan ke arah Keiko sambil berkata, “Ayo, istriku. Kita pergi beristirahat.”
Keiko melotot. Kini rona merah sudah menjalar ke leher dan telinganya. Mengapa Andrew Roux sangat suka menggodanya?!
Andrew terkekeh puas melihat Keiko salah tingkah, membuatnya semakin ingin mengerjai istrinya itu.
“Hari pertama menikah, tidak boleh marah-marah. Harus baik dan patuh kepada suamimu ini. Bukan begitu, Ayah?”
“Hum, bukan hanya hari pertama saja, untuk seterusnya tidak boleh bertengkar, harus saling mencintai sampai akhir hayat.” Marco Roux memberi gerakan mengusir kepada putranya dan menambahkan, “Sudah, jangan mengganggu istrimu lagi. Sana, antar dia beristirahat di kamar. Aku harus bersiap untuk menemui Marquess of Alrico.”
“Baik, Ayah. Kalau begitu kami pergi dulu.”
Andrew menarik tangan Keiko yang masih terbengong dan menuntunnya menapaki anak tangga. Ia mengantar gadis itu kembali ke kamar tamu yang tadi ditempatinya. Sesuai kesepakatan semula, ia tidak akan memaksa gadis itu untuk tinggal satu kamar dengannya. Biarkan semua mengalir apa adanya. Jika sudah tiba waktunya, ia yakin Sakamoto Keiko akan menjadi miliknya seutuhnya.
Ketika sudah sampai di depan pintu kamar, Andrew melepaskan tangannya dan berkata, “Kamu tidurlah sebentar, jangan sampai sakit saat resepsi pernikahan kita nanti.”
Keiko mematung, masih sedikit tidak percaya jika sekarang ia benar-benar sudah menjadi istri Andrew Roux. Rasanya seperti mimpi. Kemarin ia masih berlarian dikejar oleh musuh dan hampir mati, tapi sekarang berakhir di dalam mansion mewah dengan status sebagai Mrs.Roux. Tidak sampai 24 jam kehidupannya sudah jungkir balik tak karuan.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, gadis bodoh?” tegur Andrew seraya menyentil kening Keiko.
Gadis itu tersadar dari lamunannya dan mengaduh, “Sakit ... aku akan melaporkan kepada Ayah bahwa kamu menganiaya aku.”
“K-kamu ... mau apa? M-mundur sedikit ....”
Andrew mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di atas kepala Keiko, membuat tubuh gadis itu terkurung dalam lengannya. Ia menikmati mata bulat istrinya yang mengerjap-ngerjap dengan gelisah, ingin membuatnya semakin gugup dan merona. Ia sangat menikmati wajah istrinya yang seperti itu ....
“An—“
Cup.
Bibir Keiko yang terbuka langsung tersumpal bibir Andrew yang hangat dan lembab. Seluruh tubuh gadis itu menegang. Mereka masih berada di depan pintu kamar! Cahaya matahari yang menerobos dari kaca jendela membuat keberadaan mereka berdua semakin terekspos jelas. Bisa-bisanya Andrew Roux ....
“Ah!” Keiko mengerang ketika Andrew menggigit bibirnya dengan gemas.
“Jangan memikirkan hal lain ketika sedang bersamaku,” gumam Andrew tanpa menjauhkan wajahnya. Ia lalu kembali menyesap bibir istrinya dengan rakus.
Setelah puas, pria itu baru melepaskan Keiko yang sudah hampir pingsan karena kehabisan udara untuk bernapas.
Ia lalu mendaratkan kecupan ringan di kening gadis itu, kemudian berkata, “Nanti sore setelah mengukur baju, aku akan mengajakmu menjenguk Hiro. Kita harus memberitahunya kabar baik ini. Selain itu, identitas barunya yang dibuatkan oleh anak buahku sudah siap.”
“Benarkah?”
“Hum. Selamat beristirahat, istriku. Aku mencintaimu.”
Tubuh Keiko membeku lagi. Ia masih sedikit tidak terbiasa dengan sapaan itu.
“Masuklah kalau tidak ingin aku memakanmu lagi,” tegur Andrew ketika melihat istrinya masih berdiri di depannya dengan ekspresi yang rumit.
“Aku pergi tidur. Sampai jumpa nanti sore.” Keiko buru-buru membuka pintu dan melarikan diri dari hadapan Andrew sebelum pria itu benar-benar menindasnya lagi.
Andrew terkekeh pelan dan berjalan meninggalkan kamar Keiko. Ada hal penting yang harus segera diurusnya sekarang.
Di dalam kamar, Keiko naik ke ranjang dan berbaring. Dampak dari serangkaian kejadian cepat tadi baru ia rasakan saat ini. Sedikit pusing dan mual, kepalanya terasa berputar saat ia memejamkan mata. Inilah salah satu alasan ia tidak suka bepergian lintas negara, efek jet lag selalu membuatnya pengar. Belum lagi pikiran mengenai Cecille terus berputar di otaknya. Entah mengapa ia memiliki firasat bahwa gadis itu tidak akan menyerah dengan mudah.
Kening Keiko berkerut, seperti sedang menghadapi soal essay yang sangat sulit. Meski matanya tertutup, tapi kelopak matanya bergerak-gerak dengan gelisah. Hatinya benar-benar terasa tidak nyaman. Sejujurnya ia ingin membicarakan hal tentang Cecille dengan Andrew. Ada semacam insting dalam dirinya yang membunyikan alarm agar ia bersiaga, melarangnya untuk memejamkan mata.
Akan tetapi, mengingat masih ada banyak hal yang harus dilakukannya nanti sore membuat Keiko memaksakan diri untuk tidur. Ia menarik selimut dan membungkus tubuhnya, berusaha untuk tidur meskipun segala sesuatu terasa bercampur aduk dalam tempurung kepalanya yang sempit.
***