
Hari sudah hampir pagi ketika mobil yang dikendarai oleh Leon memasuki perbatasan kota Chiba. Semburat jingga membias di kaki cakrawala, menerobos gumpalan-gumpalan awan tipis yang berarak dengan tenang. Suara ombak yang memecah di tepi pantai menarik perhatian Keiko, tapi gadis itu tetap berpura-pura memejamkan mata. Ia sempat tertidur beberapa kali selama di perjalanan tadi, tapi dengan cepat terbangun ketika mobil memasuki jalanan yang berlubang atau melewati tanggul yang cukup tinggi.
Di depan, Andrew masih terus fokus pada jalanan yang seolah tak berujung, berkelok-kelok di sepanjang pesisir pantai. Mereka hanya berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar dan merenggangkan tubuh sebelum kembali berkendara menuju tempat yang sudah disepakati sebelumnya.
Sebenarnya Andrew tidak perlu pergi sejauh ini. Kalau mengikuti rencana semula, ia hanya perlu terus berpura-pura tidak tahu apa-apa, membiarkan dirinya diinterogasi agar dapat bertatap muka langsung dengan orang-orang yang mungkin menjadi dalang di balik semua ini. Akan tetapi, sekarang ada seseorang yang harus dilindungi olehnya, seseorang yang sangat berarti baginya. Tidak mungkin ia mengambil resiko dan membiarkan Sakamoto Keiko menjadi korban. Tidak akan. Ia tidak akan pernah membiarkannya.
“Kita sudah hampir sampai, Kapten,” ujar Leon ketika mobil berbelok memasuki jalan setapak.
Andrew bergumam pelan sambil menoleh ke luar. Pohon ginko dengan daun berwarna merah kekuningan berjajar rapi di sisi kiri dan kanan jalanan yang masih lengang. Mobil bergerak pelan, menanjak menuju sebuah rumah putih di puncak tebing. Rumah itu berdiri sendiri, tidak terlihat bangunan lain di sekitarnya, terlihat seperti bangunan kuno yang sudah tidak terpakai.
“Tidak ada burung gagak di sekitar sini,” ujar Andrew sambil menoleh ke arah Leon.
“Yeah, burung elang sudah kembali ke sarangnya,” jawab Leon sambil tersenyum lebar.
Tubuh Andrew yang tegang kembali rileks. Perlahan ia memasukkan kembali pistol yang sempat digenggamnya ke dalam tas ransel yang ada di pangkuannya. Ia sudah menguji pemuda itu beberapa kali, dan terbukti tidak ada yang perlu dikhawatirkannya. Lagipula, tidak ada pergerakan yang aneh di sepanjang perjalanan. Monitor mini yang selalu dipegangnya menunjukkan tidak ada yang mendekat atau mengikuti sejak mereka meniggalkan Tokyo tadi malam.
Andrew melirik melalui kaca spion dan mendapati mata Keiko masih terpejam di bangku belakang. Ia tersenyum samar ketika melihat gadis itu masih menggenggam pistol dalam tangannya erat-erat, bahkan pundaknya terlihat sedikit kaku, entah karena lelah atau karena tegang. Gadis itu terlihat rapuh sekaligus berbahaya dengan penampilannya yang seperti itu, membuat Andrew semakin ingin melindunginya.
Leon mengarahkan kemudi mendekati halaman rumah, lalu berhenti di depan sebuah kotak pos usang berwarna putih. Jika dilihat sekilas, kotak itu tidak menarik sama sekali, terlihat seperti benda ketinggalan zaman yang sudah tidak berguna lagi. Di era yang sudah begini modern, tidak ada lagi yang mengirim surat secara manual, semuanya dilakukan melalui gadget dan internet. Jadi siapa pun yang melintas di tempat itu pasti tidak akan berpikir untuk membuka kotak itu dan memeriksa isinya.
Andrew segera turun dan mendekati kotak itu. Ia membuka tutupnya dan mengulurkan tangan untuk menekan kombinasi beberapa angka dan huruf di atas mini keypad. Tak lama kemudian selubung transparan yang menjadi tameng untuk save house itu terbuka, terlihat seperti lapisan hologram tipis berwarna keemasan yang luruh ke tanah, memberi akses kepada orang dari luar untuk masuk. Andrew menarik tangannya dengan cepat lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Setelah merasa aman, Leon segera menjalankan kembali kendaraan yang dikemudikannya memasuki halaman yang cukup luas dan berhenti di depan teras.
“Miss Sakamoto,” panggil Andrew seraya menoleh ke belakang, “kita sudah sampai.”
Keiko tidak bergeming, kedua matanya tertutup rapat. Setelah memanggil beberapa kali dan Keiko tetap tidak merespon, akhirnya Andrew membuka pintu mobil dan keluar. Ia memeriksa di dalam tas ransel dan menemukan serangkaian anak kunci di kantong tas bagian depan.
Suara “klik” terdengar samar ketika gembok itu terbuka. Andrew melepaskan benda itu dari kotak besi, lalu menekan jari telunjuknya pada alat pemindai yang tersimpan dalam kotak besi itu. Seketika lampu di teras dan ruang tamu menyala terang disertau bunyi pintu depan yang bergerak dan terbuka.
Andrew melompati dua anak tangga sekaligus dan kembali ke mobil. Ia menunduk dan membuka pintu di bagian kursi penumpang, lalu mengambil pistol dalam tangan Keiko dan menyelipkannya di pinggang. Pria itu mengangkat tubuh Keiko dengan hati-hati dan membawanya memasuki rumah.
Leon mengekor dari belakang, tapi hanya sampai di ruang tamu. Pemuda itu memerhatikan isi ruangan yang tidak terlalu banyak, hanya ada sebuah kursi sofa berwarna biru muda dan sebuah lemari kaca berisi pajangan porselen dan beberapa batu giok.
Ada tiga buah pintu kayu berwarna cream dalam rumah itu. Andrew menebak dua pintu di bagian adalah pintu kamar tidur, sedangkan pintu paling belakang untuk dapur. Ia mendorong pintu paling depan dengan kaki dan berjalan masuk.
Benar seperti dugaannya, itu adalah kamar tidur. Meski terlihat sederhana, ruangan itu cukup bersih dan nyaman, tampaknya baru saja dibersihkan. Perlahan Andrew membaringkan tubuh Keiko di atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Melihat gadis itu masih tertidur pulas, Andrew segera berjalan keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima ....
Dengan sangat pelan Keiko membuka matanya. Debaran halus dalam dadanya perlahan menghilang. Aroma Andrew Roux masih tertinggal di udara dan membius akal sehatnya. Sentuhan pria itu yang lembut dan hati-hati membuat Keiko meremang. Ia bisa merasakan ketulusan pria itu, tidak ada maksud jahat atau ingin mengambil kesempatan ketika ia pura-pura tertidur. Atau, jangan-jangan pria itu tahu kalau ia hanya berpura-pura?
Keiko menggeleng pelan dan membuka alas kakinya. Sambil berjinjit, ia berjalan menuju jendela kamar yang menghadap laut lepas. Karena berada di atas tebing, angin yang berembus cukup kencang, memukul-mukul kaca jendela dengan keras. Suara deburan ombak berbaur dengan pekik burung camar yang melayang-layang di atas karang terdengar samar-samar.
Keiko menopang dagunya di atas tangan, menatap hamparan samudra luas yang terbentang di hadapannya. Untuk saat ini, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Secara aneh nalurinya memberi perintah untuk percaya kepada Andrew. Meski begitu, ia masih sedikit ragu. Mereka baru bertemu beberapa kali. Lagipula, pria itu pernah secara terang-terangan menggodanya, meski hanya untuk bercanda, tapi ....
Gadis itu mendesah pelan. Ia sama sekali tidak punya pilihan lain, jadi untuk saat ini ... ia hanya bisa mengikuti ke mana arus akan membawanya.
***