Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Terlalu dimanjakan



Setelah mengemudi selama 30 menit, Andrew mengarahkan mobilnya ke sebuah hangar yang dijaga oleh pengawal pribadinya. Di lapangan hampir seluas dua stadion bola, ada tiga buah helikopter dan satu buah pesawat jet yang terlihat di landasan. Keiko hampir lupa menutup mulutnya ketika melihat semua fasilitas itu.


“Milik siapa ini semua?” desis gadis itu ketika Andrew menghentikan mobil tepat di samping pesawat jet pribadi berwarna metalik yang sangat mencolok.


“Anggap saja akomodasi dari perusahaan karena sudah menyelesaikan misi dengan baik,” jawab Andrew seraya mengedipkan mata.


“Tidak bisakah kita memakai mobil saja?” tawar Keiko seraya menggigit bibir dengan sedikit gugup.


“Kalau memakai mobil, ketika tiba di sana nanti maka sudah besok. Apa yang mau kamu lihat?” tanya Andrew sambil mematikan mesin mobil, “Lagipula, tidakkah menurutmu ini menyenangkan? Melarikan diri menggunakan pesawat jet, pasti seru sekali.”


Keiko menggigit bibir lagi dan berharap dalam hati, semoga saja memang seseru yang dikatakan oleh kekasihnya itu.


Andrew lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Keiko. Dua orang pengawal yang berada di sisi pesawat jet menyingkir dan memberi jalan ketika Andrew dan Keiko lewat. Keiko menggenggam tangan Andrew erat-erat ketika berjalan menaiki anak tangga dan memasuki kabin pesawat yang tampilan interiornya setara dengan hotel bintang lima.


Sebagai putri seorang mafia, Keiko bukannya tidak pernah menaiki pesawat jet pribadi. Akan tetapi, bagaimana ia harus menjelaskannya?


“Duduk dan bersantailah, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar dua jam,” ujar Andrew seraya membantu Keiko duduk dan memasang sabuk pengaman.


Keiko mengangguk-angguk pasrah. Perjalanan yang jika ditempuh dengan jalur darat akan memakan waktu kurang lebih 18 jam itu kini hanya memerlukan dua jam saja. Sungguh luar biasa. Sayangnya ... harus ditempuh melalui jalur udara ....


“Kamu ingin makan? Tadi belum sarapan, ‘kan?” tawar Andrew seraya duduk di hadapan Keiko.


“Bisa tunggu sampai pesawat ini lepas landas dengan aman dulu tidak?” tanya Keiko dengan mata membulat.


Ia berpegangan pada pinggiran kursi erat-erat ketika suara mesin yang halus mulai terdengar. Samar-samar suara pilot yang bergema melalui alat komunikasi masih terdengar jelas oleh Keiko, tapi lamat-lamat ... semuanya terasa kabur ... apalagi ketika badan pesawat mulai melambung ke udara.


Andrew terkekeh pelan dan mengulurkan tangan untuk mengusap jemari Keiko, menenangkan gadis itu. “Tenanglah, setelah pesawat mengudara, semuanya tidak akan terasa lagi, goncangannya—“


“Aku tahu!” sela Keiko seraya mengangkat telunjuknya sebagai pertanda agar Andrew diam, “Aku justru ... uhuk! aku ....”


Wajah Keiko memucat. Cekalan tangannya semakin erat hingga kuku-kukunya menancap di punggung tangan Andrew. Kini pria itu tahu bahwa kekasihnya mengalami panick attack ketika pesawat lepas landas. Bagus sekali. Mengapa ia tidak mencari hal itu sebelumnya?


“Kamu baik-baik saja, Baby?”


Keiko mengangguk, kemudian menggeleng ... mengangguk lagi, lalu menggeleng lagi ....


“Sial, Andrew! Kenapa tidak ... oh, sepertinya aku akan muntah! Uhuk!”


Dengan cepat Andrew bangun dari kursinya. Ia melepas sabuk pengaman Keiko kemudian mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya ke atas pangkuannya.


“Bagaimana sekarang? Sudah merasa lebih baik?” tanya pria itu ketika melihat Keiko terpana dan tidak mengucapkan apa-apa lagi.


Keiko ingin protes, tapi ia sungguh tidak merasakan apa-apa lagi sekarang ... jadi ia hanya diam di atas pangkuan Andrew dengan wajah memerah.


“Ck! Kekasihku manja sekali.” Andrew pura-pura menggerutu pelan. Ia baru ingat ketika menyelamatkan Keiko dari pulau, cekalan gadis itu mengetat ketika helikopter mengudara. Namun, karena saat itu sedang dalam situasi darurat, ia tidak sempat menanyakan atau mengamati lebih jauh lagi.


“Ma-maaf ...,” ujar Keiko sambil menyembunyikan wajahnya yang merona. Ia ingin pindah, tapi dekapan Andrew benar-benar menghilangkan mabuknya karena turbulensi akibat lepas landas.


“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan,” balas Andrew seraya mengetatkan cekalannya di pinggang Keiko.


Keiko duduk dengan tenang hingga laju pesawat telah stabil di udara, barulah ia berani bergerak dan pindah ke sofa besar dan empuk di sebelah mereka. Ia tampak salah tingkah saat sudah bersandar di sofa, tapi Andrew tidak ingin menggodanya lagi. Pria itu memanggil pramugari dan memesan makanan untuk Keiko.


Tak lama kemudian datang kentang ruffle, langoustine Prancis, daging sapi fillet carpaccio, truffle hitam dari Perigord, dan mini baquette.


Keiko menatap Andrew dengan ekspresi tak berdaya. Ia tahu harga-harga makanan itu. Meski demikian, ia akhirnya memilih langoustine, mini baquette, dan jus jeruk.


Ia menoleh ke arah Andrew dan bertanya, “Kamu tidak sarapan?”


“Aku sudah makan sebelum ke rumah sakit tadi.”


“Oh. Oke. Ini sudah cukup, terima kasih,” kata Keiko kepada pramugari yang tampak sangat cantik dengan seragam berwarna biru muda.


“Baik, Nona. Terima kasih, silakan menikmati perjalanan ini.” Gadis itu kemudian mendorong troli kembali ke pantry.


Keiko duduk dan makan dengan tenang. Sesekali ia melirik ke luar jendela dan melihat awan yang menggumpal seperti kapas di luar sana. Dengan latar belakang langit cerah, semuanya tampak sangat indah.


“Ngomong-ngomong, terima kasih ... ini adalah pelarian termahal dan tercantik yang pernah aku lakukan,” ujar Keiko seraya mengulas senyum, “Makanannya sungguh enak.”


Andrew mengangguk puas, dalam hati mencatat untuk memberikan kompensasi kepada Garry karena sudah memberinya ide ini. Untung saja pemuda itu memberitahunya tepat waktu, sebelum mereka berangkat ke Paris pada hari Sabtu nanti.


“Baguslah kalau kamu suka,” balas Andrew ikut tersenyum lebar. Ia mengetuk-ngetukkan jari ke pahanya, sudah tidak sabar melihat reaksi Keiko saat melihat penginapan dan persiapan mereka untuk menyambut festival lampion nanti malam.


Keiko meneguk jus jeruknya perlahan, kemudian menyelesaikan sisa sarapannya hingga tandas. Rasanya benar-benar nikmat. Ia sangat puas dan senang.


“Terima kasih,” ujarnya ketika sang pramugari kembali dan membereskan piring kotornya di atas meja.


“Ingin nonton? Atau mendengarkan lagu?” tawar Andrew ketika melihat Keiko menoleh ke sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu.


Keiko terkekeh pelan kemudian menjawab, “Anda terlalu memanjakanku, Mr.Roux. Tidak takut aku akan besar kepala dan merepotkanmu?”


Andrew mengangkat alisnya dengan acuh tak acuh sambil berkata, “Memanjakan pacar sendiri, sudah sepantasnya ... jika kamu besar kepala, tinggal menciummu saja, pasti kepalamu akan kembali mengecil karena ... aduh! Kenapa melemparku dengan bantal?”


Keiko melotot dan melengos, tidak mau membalas omong kosong pria sampingnya lagi. Ia sudah kenyang, dan sekarang mengantuk ... tiba-tiba ingin memejamkan mata sebentar ....


“Baby, nanti setelah sampai, aku akan mengajakmu ke suatu tempat sebelum pergi ke festival. Kamu pasti akan suka,” ujar Andrew seraya menoleh ke arah Keiko.


“Sayang?” panggilnya lagi ketika melihat Keiko duduk miring dengan posisi sedikit bersandar.


Andrew bergeser sedikit dan menggoyang pundak Keiko, tapi lalu menyadari bahwa mata gadis itu sudah terpejam.


“Pacarku benar-benar pemalas,” ujar pria itu dengan ekspresi tak berdaya.


Meski demikian, ia tetap membungkuk dan mengangkat tubuh Keiko dengan hati-hati dan memindahkannya ke kamar suite di bagian belakang pesawat. Ia membaringkan Keiko di atas kasur dan menyelimutinya dengan selimut sutra yang berwarna abu tua, kemudian berjalan keluar dan menutup pintu. Tampaknya keinginannya untuk bermesraan harus tertunda untuk sementara waktu. Salah siapa ia terlalu memanjakan gadis itu. Tidak. Salah siapa ia terlalu mencintainya?


He-he-he ... Andrew, otakmu benar-benar sudah rusak karena cinta ....


***



Seperti request dari kalian, mulai sekarang kita kasih yang manis2 saja untuk Mr.Roux dan Nona Keiko 😁