
Keiko meronta dari pelukan Andrew dan menekan tangan Hiro yang berdarah. Ia hanya bisa mengeluh dalam hati, mengapa suaminya begitu perhitungan dan kekanakan? Ini namanya bukan menjenguk, tapi membuat pasien terkena serangan jantung.
“Hiro, jangan begini ... kamu duduklah dulu, lihat darahmu berceceran ke mana-mana. Dokter, tolong—“
“Katakan itu bohong! Katakan dia sedang menipuku! Kumohon Keiko ... kalian tidak ... kalian ... aku ....” Seluruh tubuh Hiro gemetaran.
Pria itu terlihat seperti daun lisut yang bisa melayang tertiup angin kapan saja. Telapak tangannya yang merangkum jemari Keiko terasa sangat dingin. Dingin dan gemetar. Keiko sungguh merasa kasihan dan tidak tega, tapi ia juga harus membuat garis batas yang jelas. Statusnya sekarang adalah Mrs.Roux. Oleh karena itu, dengan sangat pelan dan hati-hati ia menarik tangannya dari genggaman Hiro.
“Hiro, maaf ... kami sudah pergi membuat akta nikah.”
Pengakuan itu bagaikan petir yang menyambar telinga Hiro, mengisap habis semua tenaganya yang tersisa. Ia terduduk di atas ranjang dan menatap Keiko seolah gadis itu berada sangat jauh dari jarak jangkauannya. Tatapannya menerawang jauh, kembali ke masa-masa ketika Sakamoto Keiko masih miliknya. Sekarang ia sungguh menyesal, mengapa dulu tidak memaksa Keiko untuk langsung menikah dengannya saja? Sekarang ... ia sama sekali sudah tidak punya harapan, bukan?
Tiba-tiba mata Hiro berkilat tajam. Andrew Roux benar-benar sangat licik, memaksanya dengan cara seperti ini ... memaksanya sampai tak ada jalan kembali. Bahkan jika ia sangat ingin, Keiko sudah berada di luar jangkauannya.
Akan tetapi, semarah apa pun, sekesal apa pun, ia tetap berutang budi kepada Andrew Roux. Berkali-kali Andrew menyelamatkannya dan Keiko. Jadi dengan pengaturan status yang dilakukan oleh Andrew sekarang, mau tidak mau ... suka atau tidak ... ia tidak boleh mendambakan Keiko lagi.
Senyum getir tersungging di bibir Hiro. Pria itu mengalihkan pandangannya dari wajah Keiko, mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan menggumam, “Selamat atas pernikahan kalian, Kakak Sepupu, Kakak Ipar ....”
“Terima kasih,” balas Andrew dengan puas, “Aku berharap, kamu tidak akan menyusahkan kakak iparmu lagi.”
“Terima kasih sudah menolongnya, menolongku. Aku anggap dengan begini kita impas. Jaga dia baik-baik. Sedikit saja kamu membuatnya menangis, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”
“Jangan khawatirkan itu, aku tahu cara menjaga istriku dengan sangat baik. Kamu pulihkan saja kondisimu, lalu pikirkan mengenai pekerjaanmu di sini. Aku sarankan agar kamu menjual aset dan propertimu di Jepang, lalu bangunlah perusahaan baru di sini. Atau, kamu bisa berdiskusi dengan kakak iparmu, dia memiliki separuh saham Phoenix.Co, mungkin dia bisa melakukan pengaturan agar kamu dapat bekerja di salah satu kantor cabang miliknya.”
Entah mengapa perkataan Andrew itu seolah ingin membantu sekaligus terdengar sangat pamer. Hiro membutuhkan waktu selama lebih dari satu menit untuk mencerna informasi itu. Ia menatap Andrew dan Keiko bergantian. Seingatnya, Andrew adalah putra dari pemilik Phoenix.Co. Bagaimana bisa sekarang Keiko adalah pemilik separuh saham? Itu artinya ....
Hiro menatap Keiko dengan mata membulat, tidak berani percaya jika ucapan Andrew itu benar.
Keiko yang ditatap seperti itu hanya bisa berdeham dan mengulas senyum kikuk sebelum berkata, “Ya, kita bisa mengatur agar kamu bekerja di salah satu kantor Phoenix.”
Andrew Roux, kamu benar-benar membuatku sakit kepala, sambungnya lagi dalam hati.
“Jadi begitu ...,” gumam Hiro pelan.
Ia menundukkan kepala dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Betapa bodoh dirinya, mengira bisa menyaingi kemampuan Andrew Roux. Sepertinya sampai kapan pun, ia akan selalu kalah ....
“Tidak perlu mencemaskanku. Aku akan memikirkan cara untuk diriku sendiri,” ujar Hiro sambil tersenyum pahit. Ia tidak mau semakin banyak berutang kepada Andrew atau Keiko.
“Tidak perlu sungkan, kita adalah keluarga,” balas Andrew.
“Ya. Keluarga ....” Suara Hiro tercekat di tenggorokan. Ia berbaring dan memiringkan tubuhnya membelakangi Andrew dan Keiko, lalu bergumam, “Kalian pergilah, aku ingin beristirahat. Terim kasih sudah datang ....”
Keiko mengulurkan tangan hendak menyentuh pundak Hiro, tapi gerakan itu tertahan di udara. Sekarang ia adalah istri Andrew Roux ....
Akhirnya gadis itu hanya menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Baik, kami pergi dulu.”
“Jangan lupa minum suplemen agar lekas pulih. Kamu harus datang ke resepsi pernikahan kami minggu depan,” kata Andrew sebelum menggandeng tangan Keiko dan berjalan menuju pintu.
Sampai di luar, Keiko menarik Andrew menuju lorong emergency exit, lalu melepaskan genggaman tangannya. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Andrew dengan sorot yang sedikit berbahaya.
“Kamu menjenguknya ingin agar dia lekas sembuh atau sengaja membuatnya mati lebih cepat?” tanyanya dengan mata menyipit.
Wajah Andrew terlihat seperti seorang murid yang kedapatan menyontek saat ulangan. Ia menyentuh ujung hidungnya sekilas sebelum menjawab, “Salah siapa dia sangat ingin merebutmu dariku. Aku hanya ingin dia tahu statusnya dengan jelas ....”
Keiko mendongak dan menarik napas dalam-dalam. Mulutnya terbuka, lalu menutup lagi. Jari-jarinya mengepal, lalu terurai kembali. Terus begitu hingga beberapa kali.
“Setidaknya tidak bisakah kamu menunggu sampai dia benar-benar pulih?”
“Itu ... itu karena aku terlalu bersemangat ... maafkan aku ....”
Andrew maju dua langkah, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Keiko dan menyandarkan kepala di bahunya.
“Jangan marahi aku lagi, ya ...,” bujuknya dengan suara memelas.
Keiko mengembuskan napas keras-keras. Andrew Roux membuatnya benar-benar merasa tidak berdaya. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap punggung pria itu seperti sedang membuai seorang bayi besar.
“Sudah, tidak marah lagi ... jangan bersikap seolah aku sedang membuli kamu,” gerutu Keiko pelan.
“Benarkah? Tidak marah lagi?” Andrew menjauhkan tubuhnya dengan cepat dan menatap Keiko dengan mata berbinar cerah.
“Hum ... salah siapa aku terlalu mencinta kamu,” desah Keiko sambil menggeleng pelan.
“Istriku yang terbaik!” Andrew bersorak dan memeluk tubuh Keiko erat-erat.
“Sudah ... sudah, aku tidak bisa bernapas.” Keiko berusaha melepaskan pelukan Andrew yang seketat tentakel gurita. Ia memukul-mukul lengan pria itu agar merenggangkan capitannya.
“Sini, suami kamu bantu beri napas buatan.”
“Tidak—“
Bibir Andrew menyumbat semua protes yang akan meluncur dari bibir istrinya. Ia menjilat dengan rakus, menyesap hingga wajah istrinya berubah merah padam dan gemetar dalam pelukannya, barulah ia berhenti.
“Aku mencintamu, Baby,” kata Andrew sambil menatap istrinya dengan sorot memuja.
Semua kalimat yang sudah menggantung di ujung bibir Keiko seketika lenyap. Pada akhirnya ia hanya bisa membalas tatapan itu dengan sorot yang sama sambil berkata, “Aku mencintaimu, Suamiku ....”
***