Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Wedding Ceremony



Kediaman Keluarga Roux sudah semarak sejak pagi-pagi sekali. Pengawal, pelayan, Almira Gonzales dan asistennya, make up artis ... semuanya mondar-mandir di aula utama untuk mempersiapkan segala sesuatu menjelang wedding ceremony nanti sore. Upacara pernikahan akan diadakan pukul 17.00, langsung dilanjutkan dengan resepsi pada pukul 19.00.


Gaun untuk upacara pernikahan yang dikenakan Keiko adalah gaun putih gading yang memiliki sedikit renda di bagian dada, sedangkan untuk resepsi nanti malam, ia akan memakai gaun pertama yang dicobanya kemarin.


Ketika jam dinding menunjukkan pukul 06.00, seorang penata rias berjalan masuk ke aula bersama sepuluh orang asistennya. Ia memberi perintah dengan ringkas dan mulai mengeluarkan peralatan make up dari wadahnya.


“Riasannya jangan terlalu tebal, ya,” pinta Keiko kepada pria berambut ikal yang sudah berdiri di hadapannya.


“Anda tenang saja, Mrs.Roux, saya akan membuat Anda cantik dengan sangat elegan sehingga semua gadis di kota ini akan iri melihat wajah Anda,” balas pria itu seraya mengedipkan mata.


Keiko tersenyum dan mengangguk puas. Ia percaya kepada orang yang telah disiapkan oleh ayah mertuanya untuk merias hari ini. Di sudut ruangan, tampak Marry dan Sofie juga sedang dirias. Mereka akan menjadi pengiring pengantin wanita.


Di tempat yang berbeda, Andrew, Clark, dan Hansel pun sedang didandani oleh penata busana. Rambut Hansel telah disemir warna cokelat muda. Penampilannya menjadi sungguh jauh berbeda dengan dirinya sebelumnya yang berambut hitam dan panjang. Clark pun tak kalah menawan dengan setelan biru tua yang senada dengan pakaian Hansel. Meski demikian, di antara mereka bertiga tetap saja Andrew Roux yang terlihat paling memikat. Aura yang terpancar dari tubuh pria itu tak tertandingi oleh siapa pun.


Keiko tak pernah menyangka bahwa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berdandan, menata rambut, dan berganti gaun pengantin. Sudah hampir pukul empat sore ketika akhirnya semuanya siap. Keiko dan para pengiring wanita dari aula timur, Andrew pengiring pria dari aula barat, mereka bertemu di aula utama yang juga sudah didekorasi dengan aneka rangkaian bunga yang sangat indah.


Pandangan Andrew jatuh ke wajah mempelai wanitanya, lalu terpana di detik berikutnya.Pada saat cahaya matahari sore yang menembus kaca mansion dan menerangi bagian dalam, sinar yang jatuh ke permukaan gaun Keiko membuatnya tampak gemerlap seperti bintang yang bertaburan di langit malam. Ia sudah memimpikan momen ini ribuan kali, siang dan malam ... berharap suatu waktu bisa berjalan bersama gadis itu menuju altar ....


“Apa ada yang aneh dengan wajahku?” bisik Keiko ketika menyadari Andrew sedang menatapnya tanpa berkedip.


“Semuanya sempurna. Kamu sangat sempurna, cintaku ....”


Keiko merona dan menunduk malu-malu. Binar yang terpancar dari sorot mata Andrew jelas memancarkan emosi yang kompleks. Ada pemujaan, kelegaan, kerinduan, juga kebahagiaan yang teramat sangat. Ia melipat lengan kanannya di pinggang, memberi isyarat kepada Keiko agar melingkarkan tangannya di sana, kemudian mereka berdua berjalan bersisian menuju teras.


Marco Roux yang menyaksikan semua itu sungguh tidak tahan dan menyusut sudut matanya dengan sapu tangan. Seandainya istrinya masih hidup dan ikut menyaksikan momen ini, alangkah bahagianya ....


“Jangan menangis, Tuan. Anda tentu tidak ingin terlihat jelek di pesta pernikahan Tuan Muda, bukan?” bujuk Alfred seraya mengusap-usap pundak tuannya.


Marco Roux segera berdeham dan menegakkan postur tubuhnya. Alfred benar, ini adalah hari bahagia, tidak boleh menangis! Ia segera berderap mengikuti anak dan menantunya yang sudah hampir mencapai mobil pengantin.


Mesin Bentley State Limousin yang disiapkan sebagai mobil pengantin sudah menyala. Dua orang pengawal membukakan pintu untuk penumpang istimewa hari itu. Alfred masuk ke sebuah Maybach yang berada di belakang mobil pengantin, sedangkan pengiring pengantin pria dan wanita menaiki mobil lainnya yang ada di belakang mobil itu.


Iring-iringan itu kemudian berangkat menuju Hotel Le Bristol. Di luar gerbang mansion, puluhan reporter langsung menyambut dengan kamera. Kilasan lampu blitz yang bertubi-tubi tampak seperti kilat yang berkelebat di langit. Untung saja kaca jendela mobil iring-iringan pengantin tidak bisa ditembus oleh cahaya lampu-lampu itu. Para bodyguard yang mengawal dengan sepeda motor membuka jalan dengan tangkas sehingga mobil bisa tetap lewat tanpa hambatan yang berarti.


“Gugup?” tanya Andrew ketika melihat raut wajah istrinya yang sangat tegang.


“Sangat gugup.” Keiko mendesah pelan dan tersenyum kaku. Bohong kalau ia bilang tidak gugup. Ia tidak pernah membayangkan bahwa acara pernikahannya akan semegah ini.


“Jangan cemas, semua akan baik-baik saja ....” Andrew meraih jemari Keiko dan menciuminya dengan sangat hati-hati.


“Bagaimana kalau aku membuat kesalahan saat janji pernikahan? Atau tersandung saat sedang berjalan menuju altar?”


Andrew terkekeh pelan sebelum menjawab, “Aku akan menangkapmu. Jangan takut ....”


Binar di mata Andrew berpendar semakin indah. Ia sangat ingin mencium istri mungilnya itu, tapi takut akan merusak riasannya. Oleh karena itu ia hanya bisa tersenyum lembut dan mengecup punggung tangan Keiko lagi.


Tidak sampai setengah jam kemudian, mobil memasuki pelataran Hotel Le Bristol. Rangkaian bunga terlihat dari gerbang depan. Aromanya yang segar langsung menyambut kedua mempelai ketika mereka turun dari mobil.


Pengawal dan pemimpin WO segera menggiring kedua pasangan itu menuju ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya dan melakukan final briefing dengan pengantin. Setelah siap, Andrew lebih dulu berjalan menuju ballroom bersama ayahnya dua orang pengiringnya, sedangkan Keiko tetap menunggu di dalam ruangan itu bersama si Tua Alfred yang akan menjadi walinya.


Keiko memegang buket bunga di tangannya erat-erat. Acara bahkan belum dimulai dan ia merasa sudah hampir pingsan. Untung saja mesin pendingin di ruangan itu bekerja dengan sangat baik, kalau tidak ... mungkin sekujur tubuhnya sudah basah karena keringat.


“Nyonya, jangan terlalu tegang seperti itu ... Anda terlihat seperti sedang demam panggung,” goda Kim yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Keiko.


“Kapan kamu datang? Kenapa aku baru melihatmu?” tanya Keiko sedikit terkejut.


“Aku tiba bersama rombongan pengiring pengantin, Anda yang tidak menyadarinya sejak tadi,” balas Kim sambil tersenyum lebar, “Tersenyumlah sedikit, kalau tidak orang-orang akan mengira Tuan memaksa Anda untuk menikah dengannya.”


Perkataan Kim berhasil membuat Keiko tertawa lepas. Ia pun menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Setelah mengulangi gerakan itu beberapa kali, Keiko merasa lebih santai.


Ia lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap kuntum mawar dalam genggamannya yang tampak sangat indah, aromanya sangat harum.


Gadis itu mendongak dan mendapati ruangan itu juga dipenuhi aneka bunga. Tatapan matanya jatuh melewati jendela kaca, tampak deretan kursi di halaman luar dan lorong di sepanjang selasar pun dihias dengan sangat cantik dan indah.


Keiko mengerjapkan matanya pelan ... ini semua masih terasa seperti mimpi ....


***


Silakan kondangan, cari kursi sendiri yaaa... mau duduk di mana aja bolehhh 😁








sumber pict:google.