Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kim



Kim melajukan mobilnya dengan kecepatan konstan. Sesekali ia melihat ke belakang melalu kaca spion, lalu sedikit mengernyit. Sebenarnya masih ada waktu sekitar lima jam untuknya sebelum harus kembali melapor ke markas. Sedangkan sisa perjalanan ini hanya tersisa kurang lebih satu jam lagi karena ia bisa menggunakan helikopter yang sudah disiapkan sebelumnya, jadi ia sama sekali tidak khawatir akan terlambat.


Akan tetapi, yang membuatnya sedikit cemas adalah sebuah mobil ranger hitam yang mengikutinya sejak dari perbatasan kota.


Awalnya ia tidak menyadari hal itu, sampai kemudian ia berbelok ke jalan pintas yang menuju kota Tokyo. Tidak banyak kendaraan yang melewati jalan itu sehingga ia bisa melihat dengan jelas bahwa mobil ranger hitam itu mengikutinya ke mana pun ia berbelok.


Wanita itu sudah mencoba menguji dugaannya dengan sengaja berhenti di pom bensin. Mobil ranger itu ikut masuk ke barisan untuk antri, tapi langsung kembali melaju ketika Kim selesai mengisi bahan bakar. Kemudian, saat ia menepi di depan sebuah kedai makan pinggir jalan untuk membeli makan, mobil itu kembali menepi tidak jauh dari tempat mobilnya parkir.


Kim berjalan dan masuk ke dalam toko bernuansa minimalis itu, lalu langsung memesan menu yang tersedia. Ia mengedarkan pandangan sekilas untuk mengamatik dekorasi ruangan yang cukup unik itu, perpaduan antara budaya timur dan barat yang serasi. Cat dinding berwarna abu-abu dan putih memberi kesan elegan sekaligus luas. Semuanya terlihat bersih dan cukup rapi. Aroma masakan yang khas tercium dari arah dapur dan menerbitkan selera untuk makan.


Kim yang tadinya hanya ingin menguji para penguntitnya akhirnya benar-benar merasa lapar. Setelah memesan nasi, oseng daging dengan saus teriyaki, sayur rebus, juga segelas teh melati, ia segera duduk di bangku khusus yang disediakan untuk pembeli yang ingin makan di tempat. Dengan santai ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat.


Ada yang mengikutiku. Jika terjadi sesuatu kepadaku, segera pindahkan anak burung dari sarangnya.


Gadis itu langsung mengirim pesan kepada salah satu anak buahnya, lalu mengembalikan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia tidak mau mengambil risiko dengan menghubungi Clark karena tahu pria itu sedang disadap dan diawasi dengan ketat.


Jika ia sampai ketahuan menjalin komunikasi dengan Clark, maka hal itu akan membahayakan posisi mereka berdua. Oleh karena itulah mereka tidak pernah melakukan kontak melalui media apa pun, termasuk ponsel ataupun email.


Tidak lama kemudian, makanan yang dipesannya sudah datang. Kim menikmati makan malamnya dengan sangat tenang, seolah ia tidak menyadari kehadiran dua orang pria dari mobil ranger yang kini ikut turun dan duduk dua bangku di sisi kirinya.


Kedai makan itu cukup ramai sehingga dua orang penguntit itu terhalang oleh pengunjung yang lain. Mungkin karena itulah mereka berani menghampiri Kim dan duduk di dekatnya.


Sudut bibir Kim terangkat, membentuk seringai sinis yang tampak suram. Sorot matanya terlihat tenang tapi menakutkan. Bahkan pelayan yang lewat di dekatnya tidak berani menyapanya.


Sambil terus menatap ke jalan raya yang masih cukup ramai, Kim memainkan ujung ibu jarinya perlahan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan hampir tidak terlihat, ia menarik selaput tipis yang menyelubungi ujung ibu jarinya, lalu menjatuhkan kapsul mini berwarna putih yang tadinya menempel pada selaput pelindung. Kapsul itu hanya seukuran sebutir nasi. Jika dilihat oleh orang awan, pemandangan itu hanya terlihat seperti ada sebutir nasi yang menempel di jari Kim.


Dengan santai Kim mendekatkan jarinya ke mulut, lalu menelan kapsul itu seperti sedang memakan bulir nasi yang tertinggal. Setelah menelan mini kapsul itu, Kim melanjutkan makannya sampai habis dan menikmati teh melatinya. Ia menyesap minuman itu perlahan-lahan dan menghidu aromanya yang harum.


Ia adalah prajurit khusus yang dilatih untuk menghadapi hal-hal semacam ini, oleh karena itu ia tidak terlihat panik sama sekali meskipun di dalam hati ia merasa cukup khawatir. Namun, setidaknya sekarang ia sudah merasa jauh lebih baik setelah menelan kapsul tadi.


Benda itu berisi mikro chip yang berfungsi sebagai pemancar sinyal. Selubung kapsul tidak akan mencair meski terkena cairan asam lambung. Benda itu terbuat dari campuran batu dan logam khusus yang dibuat untuk tahan panas dan api, bahkan air raksa sekalipun. Oleh karena itu, chip pemancar sinyal itu akan tetap utuh, tidak akan terpengaruh oleh cairan asam yang berfungsi menghancurkan apa pun yang masuk ke perut.


Dengan ukuran yang mungil, benda itu tidak akan memberikan pengaruh yang cukup berarti selama berada di dalam tubuhnya.


Phoenix.Co sudah memastikan benda itu aman bagi manusia atau jika diletakkan di dalam benda-benda elektronik, jadi Kim tidak merasa ragu akan kemampuan benda itu sedikit pun. Selama benda itu berada di dalam tubuhnya, maka rekan-rekannya akan selalu bisa menemukan lokasinya. Jadi, yang perlu ia lakukan sekarang adalah tidak mengeluarkan benda itu dari tubuhnya, bagaimanapun caranya.


“Pelayan,” panggil Kim seraya melambaikan tangannya.


Ia segera membayar sejumlah uang sesuai dengan tagihan yang tertera di bon, lalu berjalan kembali menuju mobil. Dengan ekor matanya, ia dapat melihat dua orang pria tadi juga keluar dari kedai makan dan berjalan menuju mobil mereka dengan langkah yang stabil, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.


Ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam sehingga ban mobilnya berdecit di jalanan, membuat hampir semua mata tertuju pada kendaraan yang segera melesat kencang meninggalkan tempat itu. Dari kaca spion, ia masih sempat melihat dua orang penguntitnya kelabakan dan masuk ke mobil mereka dengan tergesa-gesa.


“Rasakan!” cibir gadis itu sambil menyeringai puas.


Ia memutar kemudi dan berbelok ke arah kanan ketika menjumpai persimpangan jalan. Gadis itu merasa senang karena mengira telah berhasil mengelabui dua orang pria di belakang sana.


Akan tetapi, ternyata dugaannya keliru. Ketika ia baru saja memasuki terowongan di under pass, sebuah truk kontainer melaju kencang dari depan dan melesat ke arahnya tanpa terkendali. Gerakan mobil itu terlihat seperti kendaraan yang mengalami rem blong, tapi Kim curiga kenyataannya tidak seperti itu.


Dengan sigap Kim menekan tombol klaksonnya berulang-ulang, tapi mobil truk itu justru melindas mobil-mobil lain yang ada di depannya. Hanya ada beberapa detik untuk mengambil keputusan. Dengan cepat Kim membanting setir dan berusaha menghindari truk yang menggila itu.


Ia melihat ada peluang untuk meloloskan diri dari sisi kanan, di bagian jalan yang setidaknya cukup untuknya menghindar sebelum momentum benturan dengan pembatas jalan terjadi.


Sialnya, begitu Kim memutar kemudi ke arah yang sudah ia perkirakan sebelumnya, sebuah ranger hitam menghantam bagian belakang mobilnya dengan sangat keras. Tubuh Kim tersentak ke depan, matanya membulat disertai pekikan tajam yang melengking tinggi.


Braaak!


Suara benturan yang sangat keras bergema di dalam terowongan. Mobil Kim melayang beberapa detik sebelum kembali jatuh dan bertabrakan dengan mobil-mobil lain yang tadi dihantam oleh truk kontainer.


Leher Kim terasa seolah patah ketika mobilnya terguling ke sisi kiri jalan dan terseret oleh truk yang masih melaju kencang. Kendaraan raksasa itu terus menyeret mobil Kim hingga terjepit di antara body truk dan dinding terowongan.


Kim terbatuk-batuk karena asap dan debu yang memenuhi paru-parunya. Napasnya terasa sesak, ia seperti sedang dicekik oleh sebuah tangan tak kasat mata. Tubuhnya terikat di kursi dengan posisi terbalik, membuat cairan merah yang merembes keluar dari kulit kepalanya menetes ke atap mobil. Pedih menyengat di pipi dan dadanya, tapi ia tidak punya waktu untuk mengurus hal itu.


Dengan cepat ia menekan tombol untuk melepas sabuk pengaman, membuat tubuhnya merosot turun dan menghantam atap mobil yang dipenuhi pecahan kaca. Lengan dan sikunya tergores dan mengeluarkan darah saat ia berusaha merangkak keluar dari mobil itu.


Ketika wanita itu baru saja hendak mengambil senjata di balik jaketnya, sebuah tendangan keras mendarat di ujung dagunya sehingga membuatnya kembali tersungkur.


Kim mengerang keras. Sepertinya giginya ada yang patah. Ia meludah ke tanah, menyaksikan cairan merah dan kental meluncur keluar dari mulutnya, lalu menyeka sudut bibirnya dengan lengan. Mata kanannya membengkak, terasa berdenyut dan nyeri.


“Akh!” erangnya lagi ketika rambutnya ditarik dengan keras sehingga ia terpaksa mendongak.


Dua orang pria yang mengikutinya tadi menyeringai kejam ke arahnya sambil berkata, “Ingin melarikan diri? Mimpi!”


Pandangan Kim menggelap ketika pukulan dan tendangan bertubi-tubi dilayangkan kedua orang itu ke tubuhnya. Rasanya terlalu sakit hingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Matanya terpejam erat ketika ia akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran.


***