Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Terjebak



Benar saja, tak sampai lima menit kemudian, Hansel bisa merasakan ada sebuah bola api menggelinding ke arahnya. Bola api yang penuh amarah dan dendam. Mau tidak mau sudut bibir Hansel berkedut, tidak sabar melihat pertunjukan seru yang akan segera terjadi.


“Hey, kalian berdua!” seru Cecille dengan mata yang seolah hendak memancarkan api.


Hansel masih sibuk menggoda Lanny, bertingkah seolah seruan itu bukan ditujukan untuknya. Samar-samar, ia bisa merasakan bola api itu sudah hampir meledak di dekatnya.


“Hansel Roux! Aku sedang bicara denganmu!”


Teriakan Cecille menarik perhatian beberapa orang yang ada di sekitar situ, yang lainnya tetap larut dalam keseruan di lantai dansa.


Hansel menoleh perlahan dengan kening mengernyit, lalu saat tatapannya bertemu dengan manik biru Cecille yang berkobar-kobar, ia menampilkan ekspresi terkejut yang sedikit dibuat-buat.


“Oh, apa kita saling mengenal, Nona?” tanyanya dengan intonasi sopan yang berlebihan.


Cecille sudah hampir menerjang ke depan dan memukuli kepala pria itu dengan tasnya.


Apa katanya? Apa kita saling mengenal? Siapa yang menggodanya sejak kemarin? Dasar sialan! Pria bedebah!


Setelah puas memaki dalam hati, Cecille menjawab dengan keras, “Tidak kenal! Pergi dari sini, kalian tidak diundang di acaraku!”


Tawa Hansel hampir menyembur melihat kucing kecil yang sedang menunjukkan cakarnya itu. Ia mengambil kartu keanggotaannya dengan santai dan meletakkannya di atas meja bar. Dalam hati ia diam-diam bersyukur karena memutuskan untuk menjadi anggota Berlyn’s Club, kalau tidak ....


“Aku membayar dengan uangku sendiri, aku rasa ... aku berhak memakai semua fasilitas yang ada,” ucap pria itu sambil menaikkan alisnya dan memberikan tatapan mengejek, "Kalau tidak, Nona panggil saja manajer kemari, biar dia yang memutuskan apakah aku bisa tetap tinggal atau harus pergi dari sini."


Mulut Cecille membuka dan menutup tanpa suara. Ia tahu kalau terus memaksa maka orang-orang justru akan curiga dan menganggapnya terlalu kekanak-kanakan. Oleh karena itu, pada akhirnya ia hanya bisa memelototi Hansel sekilas lalu berderap pergi. Kepalanya pengar, tidak bisa berpikir dengan jernih. Takutnya ia akan semakin menggila dan mempermalukan diri sendiri jika terus berada di sana.


Mata Hansel dipenuhi dengan bias yang kompleks saat melihat Cecille melintasi ruangan dan menuju pintu dengan tulisan "Exit".


"Itu mengarah ke mana?" tanyanya kepada Lanny.


"Restroom, Tuan," jawab gadis itu seraya menjauhkan tubuhnya. Tugasnya sudah selesai, dan tampaknya Tuan Hansel cukup puas.


Di depan sana, Cecille terus menerjang seperti banteng yang terluka. Ia mengabaikan sapaan beberapa orang yang berpapasan dengannya di lorong, hanya terus berjalan sambil mengumpat. Menenggak empat gelas tequila dalam satu tarikan napas membuat kepalanya mulai pening, belum lagi martini dan bloody mary yang ia minum sejak siang. Kini wajahnya terasa panas dan kebas. Ia ingin mencuci muka dan merapikan riasannya sebentar, juga menjauhkan diri dari Hansel Roux keparat itu.


Gadis itu berbelok ke kanan, memasuki ruangan dengan tulisan "Ladies" di bagian depannya. Hanya ada empat orang wanita yang sedang merias diri di depan cermin dan dua bilik toilet tertutup. Itu artinya hanya ada tujuh orang dalam ruangan itu, tidak seramai yang ia pikirkan.


"Cecille," sapa salah satu dari empat perempuan tersebut.


"Eng." Cecille hanya menggumam sekilas, lalu berjalan menuju bilik paling ujung dan mengunci pintunya. Perutnya bergolak hebat, rasanya ingin mengeluarkan semua isinya.


Hoek!


Suara muntahan yang keras bergema dalam bilik. Cecille menunduk dan menahan helaian rambutnya agar tidak masuk ke dalam kloset dan terkena muntahannya sendiri. Ia terbungkuk dan terbatuk hingga air mata merebak di pelupuk matanya.


"Benar-benar sialan! Hansel Roux keparat! Uhuk ... hoeeek!"


Air mata yang menderas di pipinya membuat penampilannya tampak sangat menyedihkan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, tidak ingin gadis-gadis di luar mendengar dan menjadikannya sebagai bahan gunjingan, lalu menertawakannya bersama teman-teman mereka yang lain.


Ia terus menangis hingga matanya sembab dan bengkak, lalu memutuskan dalam hati untuk langsung pulang saja. Tidak mungkin kembali ke hall utama dengan keadaan seperti ini.


Setelah merasa semua isi lambungnya sudah terkuras habis dan perasaannya sudah lebih baik, Cecille membuka pintu dan menghela napas, bersiap menghadapi tatapan penuh selidik dari gadis-gadis di luar. Namun, saat ia keluar dari bilik itu, tidak ada siapa pun di sana.


Ke mana perginya semua orang?


Jantungnya berdentam. Keheningan ini terasa sedikit aneh. Meski begitu, ia tetap memberanikan diri untuk berdiri di depan wastafel, menyalakan keran kemudian menunduk untuk membasuh wajahnya.


Saat tubuh gadis itu kembali tegak, pantulan bayangan di depan cermin membuatnya memekik kaget. Ia berbalik dengan cepat, menatap dengan sorot tak percaya pada sosok yang menyandar pada bilik di depannya.


“B-bagaimana kamu bisa masuk?”


Tubuh Cecille gemetar. Ia melirik sekilas pada pintu utama yang menghubungkan toilet dengan lorong menuju hall utama. Pintu itu tertutup rapat, entah terkunci atau tidak. Bisakah ia menerobos ke sana dan berlari keluar tepat waktu?


“Bagaimana bisa masuk? Apakah kamu pikir, hanya keluargamu saja yang memiliki kemampuan?”


Suara kekehan pelan yang terdengar setelah kalimat balasan itu membuat Cecille pias. Ia meremas ujung gaunnya dengan gugup dan mencuri pandang ke arah kenop pintu sekali lagi.


Seharusnya bisa ....


Dalam satu gerakan cepat, Cecille berputar dan mengayunkan kaki ke arah pintu. Jantungnya sudah hampir meledak karena adrenalin yang tiba-tiba membanjiri pembuluh darahnya.


Dua langkah lagi.


“Argh!”


Cecille menjerit saat rambutnya ditarik dari belakang, membuat tubuhnya tersentak dan ikut terseret ... menjauh dari kenop pintu yang sudah di depan mata.


Tidak!


"Tolong!"


Brak!


"Ah!"


Cecille memekik keras saat tubuhnya terlempar ke samping dan menabrak tempat sampah. Ia berlutut ketakutan, seluruh tubuhnya gemetaran ketika sebilah pisau menempel di ujung dagunya.


"Coba berteriak lagi."


Cecille mengigit bibir dan menggeleng pelan. Napasnya yang terputus-putus terdengar jelas dalam ruangan yang sunyi itu. Ia melirik ke arah pintu dengan penuh harap, memohon dalam hati agar ada yang datang menolong.