
“Nona, ini obat untuk Tuan Muda.” Dokter Graham menyerahkan obat untuk anti radang, nano ion spray untuk menghilangkan lebam dan bekas luka, juga tablet penurun demam.
“Saya sudah memberi obat agar Tuan Muda tidur sejenak. Dia harus beristirahat. Jangan banyak bergerak dulu agar lukanya cepat menutup.”
“Oke.” Cecille mengangguk dengan patuh.
“Jika Tuan Muda tidak demam sampai besok, maka cukup berikan anti radang dan semprotkan nano ion di lukanya saja. Oh, ya, lukanya jangan dulu terkena air sampai benar-benar kering,” pesan Dokter Graham lagi.
“Baik, Dokter. Terima kasih.”
“Saya pamit dulu, Nona.”
Cecille mengantar Dokter Graham sampai ke pintu. Saat ia kembali ke sisi ranjang, tampak mata Hansel sudah terpejam. Plester yang melintang di atas punggungnya cukup panjang, hampir sepanjang 30 sentimeter untuk tiap bekas cambukan. Cecille duduk di samping Hansel dan mengusap sisi plester dengan hati-hati.
Cahaya matahari yang jatuh di atas wajah Hansel membuat fitur wajahnya tampak semakin bersinar. Dari jarak sedekat ini, ia semakin menyadari bahwa wajah pria itu cukup tampan.Kulit wajahnya sangat halus dan mulus, Cecille tidak tahan untuk mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Jari telunjuknya bergerak dari kening, menyusuri tulang hidung yang tinggi dan garis rahang yang kokoh, lalu menyapu permukaan bibir pria itu sekilas.
Wanita itu sedikit terkesiap ketika melihat bulu mata Hansel bergetar. Ia buru-buru menarik tangannya dengan panik, tapi gerakan itu terhenti ketika sebuah lengan yang kekar mencekal pergelangan tangannya. Mata yang tadinya menutup kini terbuka diiringi senyuman tipis yang tampak seksi dan menggoda, membuat Cecille terpana ....
“Kamu ingin mengambil kesempatan ketika aku sedang lengah, Istriku?”
Mulut Cecille membuka dan menutup tanpa suara selama beberapa saat. Ia sangat terkejut sampai tidak tahu harus menjawab apa. Wajahnya berubah pucat, lalu merona hingga ujung telinga. Ia ingin menarik tangannya yang masih digenggam oleh Hansel, tapi pria itu justru menahan dan mencium telapak tangannya dengan lembut.
“Apa aku sangat tampan?” tanya pria itu seraya tersenyum lebar sehingga matanya menyipit.
Di bawah berkas cahaya yang membias di udara, senyuman itu terlihat sangat indah. Cecille mengerjap dengan linglung kemudian mengangguk tanpa sadar. Hansel Roux memang sangat tampan. Mengapa ia baru menyadarinya sekarang?
Tawa Hansel semakin lebar. Ia menarik tangan Cecille sehingga wanita itu menunduk ke arahnya, kemudian dengan satu gerakan cepat menekan tengkuknya sehingga wajah mereka mendekat. Saat mata biru yang jernih itu terbelalak kaget, Hansel sudah menempelkan bibirnya dan menjarah mulut wanita itu dengan semena-mena. Ia ******* bibir yang manis dan lembut itu dengan rakus, penuh dominasi dan menuntut.
Cecille yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu akhirnya menemukan kembali kesadarannya.
“Umph!”
Ia meronta dan ingin melepaskan diri, tapi lidah Hansel menerobos masuk dan melibasnya dengan kuat. Ia menggigit bibir pria itu dengan kesal. Namun, alih-alih kesakitan dan melepaskannya, Hansel hanya tertawa dan menjilat bibirnya dengan lembut, seperti sedang menikmati es krim yang manis, pria itu tidak menjauhkan wajahnya sama sekali.
Saat Cecille merasa napasnya sudah hampir habis dan paru-parunya sudah hampir meledak, Hansel melepaskan pagutannya sambil menyeringai puas.
“Kamu!” Cecille bangkit berdiri dan menuding wajah Hansel. Pipinya merah padam. Matanya seolah akan memancarkan api yang akan membakar habis pria di hadapannya.
“Ssst ... pelan sedikit, teriakanmu akan mengundang ayahmu yang galak itu kemari,” gumam Hansel dan memasang wajah tak berdosa.
“Bukankah seharusnya kamu tidur?” Cecille mendesis sambil melotot.
“Um, memang mau tidur, tapi kamu menyentuhku seperti itu ... aku tidak tahan ....” Hansel menatap lekat ke arah wanita yang sedang cemberut itu dan menambahkan, “Lagipula itu hanya ciuman saja, kenapa berisik sekali. Minggu lalu kamu tidak keberataan saat aku men—“
“Aduh, sakit ....”
Suara Hansel yang teredam bantal terdengar samar di telinga Cecille. Secepat kilat ia menarik kembali bantal dari wajah Hansel dan mendekat ke arah pria itu.
“Mana yang sakit?” tanyanya dengan cemas. Ia menyentuh wajah Hansel dan memeriksanya dengan ekspresi yang sangat serius.
“Di sini,” jawab Hansel seraya menarik tangan Cecille dan meletakkannya di dadanya. “Sakit sekali, coba kamu periksa.”
Cecille menggertakkan gigi dan menahan dorongan yang sangat kuat untuk mencekik leher pria itu. Ia benar-benar khawatir karena takut telah melukainya, tapi dia malah bertingkah seperti orang bodoh yang menjengkelkan!
“Jangan marah lagi, aku hanya bercanda,” bujuk Hansel. Kali ini ia meletakkan tangan Cecille di bibirnya dan menciumnya dengan lembut.
“Temani aku tidur,” pintanya dengan sangat rendah hati.
Cecille menatap pria yang sedang berbaring itu dengan mata menyipit. Apa lagi triknya kali ini?
Hansel mendesah tak berdaya dan berkata, “Aku janji tidak akan macam-macam. Lagipula jika ingin, aku juga tidak bisa bergerak ... selain itu masih ada bayi di perut, aku tidak mungkin—“
“Sudah! Diam! Cecille memutar bola matanya dan duduk di sisi ranjang yang lebih luas, kemudian bersandar di bantal.
“Tidurlah. Jangan berisik lagi,” gerutunya.
“Kamu ingin resepsi pernikahan seperti apa?”
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Cecille menoleh ke arah Hansel. Ekspresi wajah pria itu berubah lembut tapi penuh kesungguhan, sangat berbeda saat dia sedang bertingkah konyol dan menyebalkan.
“Aku belum memikirkannya,” jawab Cecille dengan jujur. Tadinya ia pikir Hansel tidak akan datang. Siapa yang tahu semuanya akan berakhir seperti ini? Sebelumnya ia tidak memikirkan pernikahan sama sekali.
“Masih ada waktu untuk memikirkannya. Juga gaun pengantinnya ... jangan khawatir, aku sanggup mengadakan upacara pernikahan yang megah untukmu,” ucap Hansel seraya mengulurkan tangan dan melingkarkannya di pinggang Cecille. Matanya mulai terasa berat.
“Eng. Nanti akan aku bicarakan dengan Papa dan Mama.”
“Um ... bagus ... aku akan membuatmu menjadi pengantin yang paling cantik ... juga paling bahagia ....”
Suara Hansel terdengar semakin pelan, tapi Cecille masih bisa menangkap kalimat terakhirnya dengan cukup jelas. Ia berpaling untuk membalas perkataannya, tapi mata pria itu sudah terpejam.
“Hansel?” panggil Cecille sambil menggoyang tangannya pelan, tapi pria itu tak bergeming. Bahkan saat ia mencubit pipinya, Hansel sama sekali tidak bereaksi. Sepertinya dia benar-benar sudah tertidur.
Dengan sangat hati-hati Cecille menarik selimut dan menutupi punggung Hansel tanpa mengenai plester lukanya. Sambil menatap wajah pria yang sedang terlelap dengan damai, Cecille mengangkat tangan dan mengusap bibirnya. Rasa dan aroma pria itu masih tertinggal di sana, hangat dan manis.
***