Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Namaku Kobayashi Hiro



“Jangan tersenyum seperti itu, kamu akan membuat Papa semakin kesal.” Cecille mendesis pelan seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Hansel, tapi pria itu justru menjerat jemarinya semakin erat.


“Sudah kukatakan, biarkan saja dia kesal. Itu tidak menggangguku sama sekali,” balas Hansel tanpa menghilangkan seringai bodoh di wajahnya.


Antonio yang melihat kedua sejoli itu berbisik-bisik dan mengabaikannya, membuatnya sudah hampir muntah darah. Namun, sebelum emosinya kembali menggelegak, Maria sudah menyeret lengannya untuk menjauh.


“Cecille, bawa dia ke kamar tamu. Panggil dokter untuk mengobati lukanya,” pesan Maria kepada putrinya.


“Untuk apa mengobatinya?!” seru Antonio tidak terima. “Biarkan—“


“Sudah cukup, Antonio!” Maria menarik tangan suaminya dan menaiki anak tangga. Suara perdebatan mereka perlahan menghilang saat keduanya mencapai anak tangga.


Cecille menghela napas lega dan berdiri.


“Kemari,” ujarnya seraya mengulurkan tangan kepada Hansel.


Hansel menerima uluran tangan itu dan bangkit perlahan. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat saat gerakan ringan itu membuat punggungnya seolah sedang dirobek oleh mata pisau. Bulir keringat menggantung di keningnya yang mengerut karena menahan rasa sakit.


Refleks Cecille melingkarkan tangannya di pinggang Hansel yang sedikit limbung. Jari-jarinya seperti tersetrum ketika menyentuh otot yang padat dan liat di pinggang Hansel, tidak ada lemak sama sekali. Tiba-tiba otaknya berkelana, mengingat kembali postur tubuh pria di sampingnya saat tidak memakai busana. Benar-benar terlihat sangat menawan dan ....


Hansel berdeham dan berbisik, “Sampai kapan kita akan berdiri di sini? Aku tidak keberatan diraba olehmu seperti ini, tapi ... bukankah ayahmu akan semakin mengamuk kalau melihatnya?”


Cecille mengerjap dengan linglung. Wajahnya memerah ketika melihat Hansel sedang menatapnya dengan ekspresi jenaka. Ia kehabisan kata-kata, tidak bisa membalas ucapan itu karena tertangkap basah sedang melamun dan membayangkan sesuatu yang mes*um.


Sialan. Mengapa otaknya tidak mau bekerja sama di saat seperti ini? Wanita itu merutuki dirinya dalam hati, kemudian mulai memapah Hansel menuju kamar tamu yang berada di sisi timur.


Setelah membuka pintu kamar dan membantu Hansel duduk di ranjang, Cecille segera mengambil ponsel dan menghubungi Dokter Graham yang menggantikan Keluarga Scott untuk menjadi dokter keluarga mereka. Setelah menjelaskan situasinya dengan singkat, Cecille memutuskan sambungan telepon dan menghampiri Hansel.


“Dokter akan segera datang.” Cecille menggumam pelan. Ia berdiri di depan Hansel dan menatap pria itu dengan penuh rasa bersalah.


“Maaf, ini salahku ... kamu dipukuli seperti ini ...,” sambungnya lagi seraya menunduk, tak kuasa membalas tatapan Hansel yang menghujam sampai ke dasar jiwanya.


Hansel tersenyum lembut dan menyentuh ujung dagu Cecille.


“Ini sepadan. Aku tidak keberatan,” balas pria itu sambil menarik tangan wanita di hadapannya agar mendekat. Ia menurunkan pandangannya dan menatap perut Cecille yang terbungkus blus hijau tosca. Senyuman di wajahnya semakin lebar.


Ada bayinya di sana ....


“Dia baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya. Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati dan menyentuh permukaan perut yang masih rata itu.


Tubuh Cecille menegang. Tindakan ini terlalu intim dan tiba-tiba. Akan tetapi, bukankah mereka sudah pernah melakukan yang lebih intim dari ini? Memikirkan hal itu kembali membuat wajah Cecille merona. Ia menggigit bibir dan memarahi dirinya dalam hati.


“Bayinya belum terbentuk, masih sangat kecil ....” Suara Cecille hampir tidak terdengar ketika menjawab pertanyaan Hansel.


“Masih kecil pun harus dijaga dengan baik, tidak boleh membuatnya merasa sedih atau menderita.”


“Um.”


“Aku sungguh berharap ini adalah bayi bermata biru yang montok dan lucu, tapi jangan keras kepala sepertimu,” gumam Hansel, kemudian terkekeh pelan.


Cecille tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya sedikit canggung membahas masalah bayi dengan pria di hadapannya itu. Seolah mereka adalah sepasang suami istri yang sudah lama menanti kehadiran buah hati. Akhirnya ia hanya bisa memikirkan alasan lain untuk mengalihkan pembicaraan.


“Sini, buka bajumu ... biar nanti langsung diobati oleh dokter,” ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk membuka kancing kemeja Hansel.


Penampilan Cecille yang panik seperti itu membuat Hansel sangat ingin menggodanya. Ia mendekatkan wajah ke telinga Cecille yang sedang menunduk di depannya dan berbisik, “Minggu lalu kamu melakukannya dengan sangat terampil. Apa perlu aku ingatkan bagaimana cara kamu melucuti pakaianku dengan sangat cepat?”


Tiba-tiba Cecille memiliki dorongan yang sangat kuat untuk memanggil ayahnya dan mencambuk Hansel Roux lagi.


“Tutup mulutmu!” Cecille mendesis seperti seekor ular kobra yang siap mematuk mangsanya, tapi Hansel justru menyeringai semakin lebar.


“Kamu bisa menutup mulutku dengan bibirmu. Aku tidak keberatan,” balas pria itu seraya mengerling jail.


“Aku pasti sudah gila karena setuju untuk menikah denganmu,” gerutu Cecille kesal.


Ia menarik paksa ikat pinggang Hansel hingga wajah pria itu mengerut menahan sakit, kemudian mendorongnya agar tengkurap di atas kasur.


“Pelan sedikit. Kamu ingin membunuhku?” Hansel merintih dan mengeluh, tapi tentu saja Cecille tidak peduli.


Wanita itu pergi mengambil handuk kecil dan air hangat untuk membasuh luka Hansel. Darah di punggungnya sudah mengering, lebam dan luka sobeknya tampak mengerikan.


Mendadak wanita itu tidak tega untuk bersikap kasar lagi. Ia menunduk dan meniup-niup luka itu sambil menyeka pinggirannya dengan hati-hati, membersihkan jejak darah dan serabut kain dari kemeja yang sobek.


“Cecille,” panggil Hansel tiba-tiba.


“Hum?”


“Namaku Kobayashi Hiro.”


Gerakan Cecille terhenti. Ia menatap Hansel dengan ekspresi tidak mengerti.


“Apa maksudmu?” tanyanya.


“Namaku Kobayashi Hiro. Hansel Roux adalah identitas yang diberikan oleh Andrew untuk menghindar dari musuh kami, salah satu klan terkuat di Jepang. Kita akan menikah. Kamu berhak tahu kebenarannya. Kelak, anak yang lahir akan kuberi nama sesuai marga leluhurnya. Apa kamu keberatan?”


Cecille sudah menebak sejak awal bahwa ada hubungan yang tidak biasa antara pria di hadapannya itu dengan Andrew dan istrinya. Namun, ia sama sekali tak menyangka bahwa identitas calon suaminya akan serumit itu.


Wanita itu balik bertanya, “Jadi aku harus memanggilmu dengan nama Hansel atau Hiro?”


Hansel sedikit terkejut dengan respon yang di luar perkiraannya itu. “Kamu tidak keberatan?” tanyanya.


“Memangnya aku punya pilihan lain?”


“Tidak.”


Cecille memutar bola matanya dan mengerucutkan bibirnya ke arah Hansel.


“Kalau begitu, tidak usah bertanya,” gerutunya seraya menekan punggung Hansel dengan keras


Untungnya saat Hansel merasa Cecille sudah hampir menambah luka baru di punggungnya, seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu dan segera mengambil alih tindakan pengobatan secara resmi.


Di ujung ranjang, Cecille bersedekap dan menatap pria yang sedang terbaring itu dan hanyut dalam pikirannya sendiri.


Kobayashi Hiro ....


***