
Pesisir Pantai Chiba.
Kesibukan tampak di sebuah hanggar yang sudah lama tidak terpakai. Satu kompi pasukan sudah bersiap di landasan helikopter. Beberapa kelompok lainnya menuju speedboat yang sudah siap di dermaga.
Mr.Durrant mengatur anak buahnya dan memberitahu rencana penyergapan mereka nanti kepada enam pemimpin kompi. Setelah semua bersiap di posisi masing-masing, pria itu sendiri yang memimpin ke arah pulau yang terdeteksi dalam radar pelacak di tangannya.
Mimik wajah Mr.Durrant dipenuhi kepuasan. Seringai kejam dan bengis membuat tidak ada satu orang pun yang berani menatapnya. Penampilan pria itu benar-benar berubah 180° dari wajah tenang dan sopan yang biasa ia tampilkan selama menjabat sebagai petinggi EEL. Sudah cukup semua kepura-puraan yang menyiksa itu. Mulai sekarang, ia akan menjadi diri sendiri. Jika rencana kali ini berhasil, maka kesempatannya semakin besar untuk menggeser kedudukan Mr.X.
Pemikiran itu membuat Mr.Durrant terbahak hingga seluruh tubuhnya bergetar. Tawa yang keras itu membahana di udara ketika helikopter yang ia tumpangi mulai mengangkasa.
“Ikuti titik koordinat dari radar!” perintah pria itu seraya menyerahkan sebuah benda persegi yang menunjukkan lokasi pulau kepada pilot, “Gunakan kecepatan penuh!”
“Baik, Kapten!”
Dalam sekejap dua buah helikopter melesat menuju titik yang berkedip dalam radar,disusul oleh tiga buah speedboat yang melaju tak kalah kencang membelah laut. Dalam masing-masing kendaraan itu berisi enam orang pasukan terlatih yang sudah disiapkan oleh Mr.Durrant. Tiap orang membawa senjata termutakhir yang dapat menghancurkan baja setebal 20 sentimeter, termasuk RPG dan granat yang melingkar di pinggang setiap pasukan.
Alat pelacak di tangan sang pilot berkedip-kedip dan menunjukkan arah munculnya helikopter Andrew tadi. Alat itu sudah dinyalakan sejak rumah tebing digeledah, tapi tidak ditemukan apa-apa di dalamnya. Sejak saat itu, Mr.Durrant langsung memerintahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga dan mengaktifkan alat pelacak dalam radius 50 kilometer di sepanjang laut Jepang. Alat itu dapat langsung menangkap sinyal helikopter atau perahu cepat yang melaju di sepanjang perairan itu.
Kesabaran pria itu membuahkan hasil ketika tadi pagi radar mendeteksi ada sebuah helikopter mendarat di salah satu pulau tak berpenghuni, lalu kembali berangkat tidak lama kemudian. Berdasarkan titik koordinat yang terbaca di radar, Mr.Durrant dapat memprediksi bahwa helikopter itu menuju Kota Kamakura. Oleh karena itulah ia cukup yakin pulau itu adalah tempat persembunyian Andrew Roux dan Sakamoto Keiko.
“Kapten, ada pergerakan dari atas tebing di pulau itu!” seru pilot seraya memperhatikan layar monitor. Jarak mereka dari pulau hanya sekitar 10 kilometer lagi.
“Siapkan amunisi! Tunggu perintah dariku untuk menyerang!”
“Siap, Kapten!”
“Semua pasukan, bersiap untuk menyerang!” seru Mr.Durrant kepada kepala pasukannya melalui alat komunikasi.
***
Kim sedikit gelisah. Alarm di kepalanya susah menyala sejak helikopter Kapten Andrew menjauh dari pulau. Sebagai mesin, ia tidak memiliki firasat seperti manusia, tapi instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi. Oleh karena itulah ia keluar dari rumah pondok dan mengaktifkan alat pemindai panas. Wanita setengah robot itu mulai mendeteksi jika ada kendaraan yang mendekat, baik dari laut maupun udara.
Benar saja, tak lama kemudian dua titik merah mendekat dari udara, sedangkan tiga titik merah meluncur di atas permukaan laut. Semua kendaraan itu mengarah tepat ke arah pulau. Dengan sigap Kim mengirim pesan untuk Andrew, lalu berseru kepada Tuan Sergio agar membawa anak buahnya dan berjaga di dermaga.
“Apa yang terjadi?” tanya TuanSergio karena tiba-tiba Kim memberi perintah seperti itu.
“Ada dua helikopter dan dua speedboat pasukan yang menuju ke sini. Sepertinya orang-orang itu adalah musuh Kapten yang mengincar Nona Keiko,” jawab Kim.
“Apa? Bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini?” seru Tuan Sergio, sedikit tak percaya bahwa tempat ini akan ditemukan dengan mudah.
“Mungkin karena mereka sudah mengawasi sejak lama. Lagipula, sumber daya yang digunakan oleh kapten sangat terbatas sehingga tidak bisa maksinal. Cepatlah, bersiap untuk menyambut mereka di dermaga,” perintah Kim.
“Baik.”
“Ada apa?” tanya Keiko yang terburu-buru keluar karena mendengar percakapan antara Kim dan Tuan Sergio.
“Nona, ikut aku!” ajak Kim seraya menarik tangan Keiko dan mengajaknya untuk kembali masuk ke rumah. Kapten Andrew sudah memberitahu ke mana harus menyembunyikan gadis itu jika sampai ada musuh yang datang ke pulau.
“Apa yang terjadi, Kim?” tanya Keiko lagi, sedikit kewalahan mengikuti langkah kaki Kim yang panjang-panjang dan cepat.
“Ada yang mendekat ke pulau. Untuk berjaga-jaga saja, sebaiknya Anda bersembunyi, Nona,” jawab Kim seraya berjalan menuju kamar Andrew. Akses menuju ruang rahasia ada di sana. Untunglah semua informasi penting sudah tersimpan di data base-nya.
“Cepat masuk,” perintah Kim lagi ketika berhasil membuka pintu dengan anak kunci yang diberikan oleh Andrew.
Dengan sigap wanita itu menuntun Keiko menuju ranjang. Ia menarik benda itu hingga bergeser dua meter, lalu mencari tombol di bagian bawah dipan. Suara dengungan halus bergema dalam ruangan ketika lantai di bawah ranjang bergerak ke samping.
Ada anak tangga yang melingkar ke bawah, ke dalam sebuah ruang rahasia yang tampaknya baru saja dibuat. Keiko mengernyit ketika mengingat pernyataan Andrew yang mengatakan bahwa dia telah menyiapkannya sejak misi di Rusia. Apakah itu berarti pondok kayu ini juga baru saja dibangun?
“Nona, Anda bersembunyilah di dalam sana. Jangan keluar meski apa pun yang terjadi. Mengerti?”
“Baik,” jawab Keiko.Meski sedikit ragu-ragu, akhirnya ia tetap melangkah turun dengan hati-hati.
Kim kembali menekan tombol ketika kepala Keiko sudah sepenuhnya masuk ke ruang bawah tanah. Ia lalu menggeser kembali ranjang ke posisi semula, memeriksa jika tidak terlihat keanehan yang tampak setelah ranjang dipindahkan posisinya. Ia berlari keluar setelah yakin semuanya sudah aman.
Wanita itu lalu kembali ke kamarnya sendiri dan membongkar tas ranselnya. Ia mengambil pelontar roket portable, beberapa senjata otomatis dan alat peledak, kemudian segera berlari ke tebing.
Sesampainya di atas sana, deru helikopter sudah terdengar jelas. Dua buah titik hitam terlihat dari kejauhan, semakin lama semakin membesar.
Kim mengaktifkan program pelacak dan memindai para awak helikopter. Dalam hitungan detik, wajah-wajah orang-orang yang ada di dalam kendaraan udara itu muncul dalam data base-nya dengan bingkai merah pada tiap profil mereka. Secara otomatis Kim tahu bahwa orang-orang itu adalah musuh. Andrew sudah memasukkan semua informasi itu ke dalam program di chip-nya.
Dengan sigap Kim mengambil posisi. Lutut kirinya menyentuh tanah, sedangkan kaki yang satu lagi menekuk hingga pahanya membentuk garis lurus dan dapat digunakan sebagai alas untuk membidik.
Ia lalu mengambil peluncur roket dan menopangnya di atas paha. Setelah memasukkan amunisi dengan daya ledak maksimal, ia menekan pelatuk tanpa ragu sedikit pun.
Dsing! Dsing!
Tubuh Kim sedikit tersentak ke belakang ketika dua buah roket melesat berturut-turut dengan kecepatan penuh dari pelontarnya, meluncur ke arah dua helikopter yang semakin mendekat.
Tak mau memberi kesempatan kepada musuh untuk menghindar, Kim kembali memasukkan misil dan menembakkannya lagi.
Ekspresi wajah wanita itu bersiaga penuh, bersiap menghadapi kemungkinan yang terburuk sekalipun.
***