Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Bereaksi Untukmu



Orang-orang sudah berkumpul di tepian sungai Kikuchi. Keramaian itu tampak semakin semarak dengan cahaya keemasan dari lampion memancar ke semua tempat. Keiko melepaskan tangan Andrew dan berlari ke tepian sungai.


“Keiko, tunggu aku!” seru Andrew seraya menyusul kekasihnya.


Keiko tertawa lebar dan menghampiri dermaga kecil yang ada di tepi sungai. Masih ada tempat untuknya dan Andrew di sana. Ia berdiri di balik pagar kayu dan melambaikan tangan ke arah kekasihnya.


“Cepat sedikit, Kakek Tua!” serunya dengan suara lantang.


Andrew melotot dan mendatangi Keiko dengan napas memburu.


“Kamu memanggilku dengan sebutan apa?”


“Kakek Tua, jalanmu lambat sekali,” ulang Keiko seraya menjulurkan lidahnya.


“Anak nakal!”


Plak!


Keiko tertegun beberapa saat sebelum pulih dari rasa terkejutnya. Ia menatap tangan Andrew yang baru saja memukulnya. Pria itu ... berani-beraninya ....


“Kamu ... kamu ....” Gadis itu tergagap-gagap dan menunjuk ke arah Andrew dengan tidak percaya.


“Kenapa?” Andrew menaikkan alisnya dan memberikan tatapan acuh tak acuh. “Sudah aku bilang, kalau nakal ... aku akan memukul pantatmu ....”


Wajah Keiko memerah karena sangat malu. Pukulan Andrew memang tidak keras, tapi rasa malu membuatnya benar-benar sudah ingin menangis. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka menatapnya sambil mengulum senyum. Ini benar-benar memalukan.


“T-tapi tadi katamu ... aku boleh menindasmu,” gerutu Keiko dengan wajah tampak tidak rela. Bibirnya mengerucut karena kesal, tapi justru terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Andrew.


“Memang, kamu boleh membuliku. Kamu boleh balas memukulku sekarang,“ ujar pria itu seraya membalikkan tubuhnya, seolah sedang menyerahkan pantatnya untuk dipukul oleh Keiko.


Keiko menarik lengan pria itu dengan gemas, memutarnya hingga kembali menghadap ke arahnya. Ia memelototi pria itu dan mendesis, “Andrew Roux—“


Duar!


Duar!


Duar!


Ribuan kembang api meledak di atas Sungai Kikuchi. Pekik sukacita gegap gempita dan membahana, bersahut-sahutan dengan suara kembang api yang tak henti ditabuh. Manik bukat Keiko berbinar cerah, memantulkan cahaya warna-warni dari langit yang mendadak terang benderang. Dalam sekejap ia melupakan semua rasa kesalnya akibat tingkah Andrew tadi. Tanpa sadar ia menggenggam jemari pria itu erat-erat. Senyum lebar yang sangat cantik mengihiasi wajah mungilnya.


Andrew memperhatikan semua gerak-gerik kekasihnya sambil menyeringai puas. Ini adalah hal paling indah yang terjadi dalam hidupnya. Hatinya menghangat dan dipenuhi ucapan syukur. Penantiannya selama ini tidak sia-sia ....


Pria itu bergeser ke belakang tubuh Keiko dan melingkarkan kedua tangannya melewati bahunya. Ia mendekatkan wajah ke telinga gadis itu dan berbisik, “Aku sangat mencintaimu, Baby ....”


Keiko sedikit terkejut mendengar pernyataan cinta yang tiba-tiba itu. Akan tetapi, sekejap kemudian ia sedikit menoleh ke belakang sambil tersenyum manis dan membalas, “Aku mencintaimu, Mr.Roux.”


Seringai di wajah Andrew semakin lebar. Di bawah cahaya kembang api yang sedang memancarkan cahaya terakhirnya, pemandangan dua orang yang berdiri di jembatan dan saling memeluk itu terlihat sangat hangat dan penuh cinta.


Ketika akhirnya cahaya kembang api telah hilang, satu per satu orang-orang yang mengikuti festival itu melepaskan lampion dari tangan mereka. Andrew mengangkat tangan kanan yang memegang lampion dan memberi isyarat agar Keiko melakukan hal yang sama. Pria itu lalu mengangguk dan melepaskan lampion di tangannya. Keiko tersenyum cerah dan melepaskan lampion miliknya. Kedua benda itu mulai melambung perlahan, melayang dan berbaur dengan ribuan lampion lainnya.


“Aku sungguh berharap para dewa membaca catatan kecil kita.” Andrew mendesah pelan dan mendongak, mengikuti arah lampionnya yang semakin tinggi menembus langit malam.


“Kamu ... dasar anak nakal, merusak suasana hatiku saja,” gerutu Andrew pelan. Pria itu mendengkus dan mengetatkan pelukannya di pinggang Keiko.


“Cepat, beri aku kompensasi agar hatiku kembali bahagia,” imbuhnya lagi.


Keiko memutar tubuhnya sehingga kini ia dan Andrew saling berhadapan. Ia mengulurkan tangan untuk merapikan syal yang melilit di leher pria itu dan menyingkirkan anak rambutnya yang mencuat di kening. Karena selisih tinggi mereka yang lumayan jauh, ia harus mendongak agar bisa melakukan hal itu.


“Cintaku, aku hanya bercanda ... jangan merajuk lagi, ya,” bujuk Keiko dengan sangat lembut. Jari-jarinya yang mungil mengusap pipi Andrew dengan sangat perlahan.


Andrew meremang ... seolah ada aliran listrik yang menjalar di setiap bekas sentuhan Keiko. Ia segera meraih tangan gadis itu dan menyingkirkannya dari wajahnya. Darahnya mendadak terasa panas dan menggelegak. Ini benar-benar tidak baik. Efek Sakamoto Keiko terhadap dirinya semakin parah ... ia sama sekali tidak bisa menahannya.


“Hentikan, atau aku akan menerkam dan memakanmu di sini.”


Keiko tertegun sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia hanya ingin menggoda saja, tapi tak disangka respon Andrew akan seperti ini.


Ia mencondongkan tubuh hingga wajahnya sejajar dengan lengan Andrew, kemudian berbisik pelan, “Memang benar, ya ... kalian para lelaki, hanya berpikir menggunakan tubuh bagian bawah saja.”


Wajah Andrew memerah mendengar sindiran Keiko. Namun, apa boleh buat ... tubuh bagian bawahnya memang tidak bisa diajak untuk bekerja sama jika menyangkut Sakamoto Keiko. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan reaksi.


“Tubuh bagian bawahku hanya memberikan reaksi untukmu, gadis lain ... dia tidak berminat sama sekali,” jawab Andrew dengan wajah penuh kesungguhan, seolah ia sedang membicarakan misi berbahaya yang menyangkut hidup dan mati.


Keiko melotot dan mendorong dada Andrew hingga tubuh pria itu terjajar ke belakang. Ada begitu banyak orang di sekitar mereka, tapi pria itu berbicara dengan suara yang sangat keras! Benar-benar minta diberi pelajaran!


“Dasar tidak tahu malu!” serunya sebelum membalikkan tubuh dan berjalan dengan cepat meninggalkan pria itu di belakang.


“Hey! Apa salahku? Aku hanya mengatakan hal sebenarnya. Kenapa kamu marah?”


Andrew berusaha mengejar Keiko yang sudah semakin menjauh. Banyaknya pengunjung membuatnya tidak bisa berlari dengan cepat. Beberapa kali ia hampir menabrak pasangan yang sedang bergandengan tangan. Untungnya orang-orang itu tidak mempermasalahkannya.


“Baby! Tunggu aku!” serunya ketika akhirnya melihat Keiko hanya berjarak sekitar lima langkah di hadapannya. Gadis itu tampak mematung dan menatap ke satu titik dengan linglung.


“Hey ... ada apa?” tanya Andrew seraya menyentuh lengan gadis itu perlahan, “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kesal ....”


Keiko mengerjap pelan dan menoleh ke arah Andrew. Gadis itu memaksakan seulas senyum dan berkata, “Tidak apa-apa, aku pikir aku melihat seseorang yang kukenal, tapi ... sudahlah, ayo, kembali ke penginapan. Aku lelah ....”


“Baik,” jawab Andrew, tidak ingin memaksa kekasihnya untuk menceritakan apa yang terjadi.


Ia menggandeng tangan Keiko dan berjalan pulang ke penginapan. Sekilas, ia mengarahkan pandangan ke stand cenderamata yang sedang dilihat oleh Keiko tadi, tapi tidak ada hal yang mencurigakan di sana. Meski demikian, sepanjang jalan pulang ia terus mengawasi keadaan di sekitar mereka dengan waspada. Instingnya memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


***


disclaimer: cerita ini hanya fiktif semata, perayaan lampion di yamaga tidak persis seperti ini.


gambar hanya pemanis.