Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Merawat suami



Sudah lewat tengah malam ketika akhirnya jamuan makan malam yang diadakan oleh Marco Roux selesai. Clark yang diundang oleh Andrew dan hadir belakangan kini sudah seperti anak koala yang bergelung dan memeluk pinggiran sofa sambil meracau; Alfred mendengkur keras dengan kepala mendongak, sesekali tangannya menepuk udara kosong sambil bergumam dan terkekeh tidak jelas; Marco Roux bahkan sudah tergeletak di atas meja makan seperti orang pingsan. Wajah Andrew merah padam dan tidak bisa bicara dengan benar. Kecuali para pengawal yang bertugas jaga pada malam itu dan Keiko yang tidak diperkenankan meminum alkohol, tampaknya semua orang sudah benar-benar mabuk, tapi belum ada yang beranjak dari aula utama.


Akhirnya Keiko tidak tahan lagi. Ia bangun dan berkata, “Ayah, sudah larut malam ... sebaiknya kalian semua pergi istirahat. Aku akan meminta pelayan untuk membuatkan sup anti mabuk ....”


Marco Roux hanya mendengkus pelan, berusaha mengangkat tangannya untuk merespon ucapan menantunya itu, tapi pada akhirnya pundaknya hanya bergetar samar tanpa berhasil mengangkat bahunya sama sekali.


Keiko mendesah tak berdaya dan meminta kepada pelayan yang masih terjaga untuk membuatkan ramuan penawar pengar untuk mertuanya dan yang lainnya.


"Bawakan semangkuk ke kamar suamiku," pesannya kepada Marry yang masih berjaga di sisinya.


"Baik, Nyonya." Gadis itu berderap pergi dan melakukan tugasnya.


Keiko juga meminta pengawal untuk membawa orang-orang mabuk itu ke kamar mereka masing-masing, kemudian ia menghampiri Andrew.


“Apa kamu masih bisa berjalan ke atas?” tanyanya, sedikit ragu melihat ekspresi wajah Andrew yang tampak sedikit polos dan murni, seakan semua ketenangan dan kebijakan berlapis yang ditunjukkannya selama ini telas terlepas habis.


“Hum ... masih bisa jalan,” gumam Andrew sambil berusaha untuk tersenyum lebar, tapi justru terlihat seperti seringai bodoh yang sangat jelek.


Keiko tidak bisa menahan tawa dan membuat bahunya berguncang. Suaminya ternyata sangat lucu dan imut. Apanya yang gagah dan berwibawa? Itu semua omong kosong!


Mata gadis itu berkilat seterang bintang jatuh ... detik berikutnya, ia sudah tertawa lepas seraya mengambil selfie dengan ponselnya. Lihat bagaimana ia akan menggoda suaminya habis-habisan besok.


Gadis itu lalu menggunakan seluruh kekuatannya, menyeret Andrew yang bertumpu di pundaknya hingga mencapai anak tangga paling atas. Napasnya terengah. Ia bersandar sebentar di tembok sebelum kembali memapah Andrew menuju kamar.


Setelah perjalanan panjang yang seolah menguras seluruh tenaganya, Keiko mengambil tangan Andrew dan menempelkan ibu jari pria itu di panel. Layar berubah hijau dan pintu terbuka lebar. Keiko menarik Andrew masuk, lalu mendudukkannya di sisi ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam dan menggerakkan bahunya yang mati rasa.


“Benar-benar berat seperti ba*bi,” gerutu Keiko dengan bibir mengerucut.


Mata Andrew tampak sayu, menatap gadis mungil di hadapannya dengan sedikit terdistorsi. Emosi yang kompleks berkumpul di manik kelamnya untuk sesaat, kemudian tiba-tiba ia mengulurkan lengannya yang panjang melingkari pinggang Keiko.


Tubuh Keiko tiba-tiba membeku. Napas Andrew yang panas menembus blus yang ia kenakan, menyapu permukaan kulitnya dengan irama yang stabil. Kulit kepala Keiko mendadak menebal. Rasanya seperti ada ribuan serangga yang sedang menggerogoti dadanya dan membuatnya meremang hingga ke tulang sumsum


Pelaku yang tidak sadar efek dari perbuatannya itu terus bersandar di dada istrinya dan bergumam dengan suara yang terdengar manja, “Istriku, aku haus ... ingin minum ....”


Keiko membuka mulutnya, tapi mendadak menjadi bisu dan gagap. Ada hawa aneh yang terus menerus menggelitik panca indranya dan mengikis akal sehatnya.


“Istri ... panas sekali ....”


Suara Andrew membawa kembali kesadaran Keiko. Kebetulan di saat yang sama terdengar ketukan di pintu. Ia bergegas membukakannya dan mengucapkan terima kasih kepada Marry yang menyerahkan nampan berisi rumuan penghilang pengar dan seteko air dingin.


Ia meletakkan nampan di meja, lalu mengambil mangkuk obat dan bergegas kembali ke tepi ranjang. Namun, saat sampai di sana, ia menyadari Andrew sudah setengah berbaring dan melepaskan ikatan dasinya dengan asal-asalan, dua kancing kemejanya sudah terbuka dan menampilkan permukaan kulit yang liat di balik lapisan kain.


Keiko menelan ludah, lalu mendekatkan mangkuk ke mulut Andrew. Pria itu mengernyit, tapi tetap menghabiskan isi mangkuk sampai habis.


"Masih haus," gumam Andrew dengan mata terpejam.


Keiko mengambil air dingin di atas meja dan menyodorkannya lagi ke mulut suaminya.


Di bawah temaram cahaya lampu, Keiko bisa melihat bahwa Andrew berkeringat. Sepertinya pria itu benar-benar merasa gerah. Ia tercenung sejenak. Jika membiarkan suaminya tidur dengan kondisi seperti itu, bukankah dia bisa sakit?


“Sungguh merepotkan.”


Meski menggerutu, senyum manis terpatri di wajah Keiko ketika pergi mengambil handuk kecil dan wadah di kamar mandi, mengisinya dengan air dan membawanya ke kamar. Dengan sangat hati-hati ia membuka jas dan kemeja Andrew, lalu melepaskan ikat pinggangnya dengan gugup.


Wajah Keiko yang putih berubah menjadi ungu dan hijau. Tangannya sedikit gemetar ketika melepaskan celana pria itu. Senyum sudah menghilang dari wajahnya yang memerah dan panas, sama sekali tidak berani melihat sepotong kain yang menutupi ar*ea inti*m suaminya.


Tarik napas, Keiko ....


Bernapas ....


Dia suamimu, tidak apa-apa ....


Keiko membasahi handuk kecil dan mulai menyeka wajah Andrew, turun ke leher ... dada ... sial, tangannya semakin gemetar.


Andrew yang merasakan kesejukan bergerak di sekujur tubuhnya mendesah pelan dan menyambut dengan antusias, membuat air dari wadah yang ada di tangan Keiko memercik dan jatuh ke dagunya. Tetesan air itu bergulir turun di lehernya, meluncur di antara otot-otot dadanya yang liat. Keiko mengepalkan tangan dan memalingkan wajah. Mengapa ia merasa seperti sedang melecehkan seorang pria yang mabuk? Jelas-jelas itu adalah suaminya sendiri!


“Lain kali tidak boleh minum lagi, kamu dengar tidak?”


Keiko mengomel dan memarahi suaminya dalam hati sambil menggertakkan gigi dan menyelesaikan ritual yang menguji kesabarannya itu dengan cepat. Setelah mengembalikan handuk dan wadah ke kamar mandi, ia mencari piyama di lemari dan menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk memakaikannya kepada Andrew yang tidak mau bekerja sama. Pria itu mengancingkan kaki dan tangannya di tubuh Keiko erat-erat, tidak mau melepaskannya sama sekali.


Kalau bukan karena matanya yang tetap terpejam, mungkin Keiko sudah akan berpikir bahwa Andrew sedang mengerjainya. Namun, dari awal sampai akhir, selain memeluknya erat-erat, pria itu tidak melakukan apa pun lagi.


Ketika semuanya selesai, Keiko bahkan sudah tidak memiliki tenaga untuk meronta dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.


“Istriku ... Keiko ... aku sangat bahagia, kamu tahu? Aku sangat mencintai kamu ... di kehidupan ini dan selanjutnya, tetap jadi milikku, ya ...,” gumam Andrew dengan mata yang masih terpejam erat, sepertinya sedang bermimpi atau mengigau, tapi senyuman di wajahnya terlihat secerah matahari.


Keiko benar-benar merasa tak berdaya dengan sikap imut suaminya. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap alisnya yang melengkung indah seperti bulan sabit dan membalas, “Ba*bi mabuk, aku juga sangat bahagia. Di kehidupan ini dan selanjutnya, aku hanya milikmu seorang, tidak akan ada yang lain lagi ....”


Lengan yang hangat dan kokoh melingkari pinggangnya, memeluknya dengan posesif ... membuat hatinya perlahan meleleh seperti ice cream yang lumer, lembut dan manis ....


Keiko menyurukkan kepala ke dada Andrew, mendengarkan jantungnya memompa dengan kuat dan stabil, lalu rasa aman yang tak terlukiskan membuatnya tanpa sadar memejamkan mata sambil tersenyum.


Dalam ruangan yang hening itu, hanya terdengar deru napas yang teratur dan dua detak jantung yang saling beresonansi, saling mengikat dan menjalin simpul erat, seolah berjanji untuk tetap bersama selamanya ....


***




Eleh, jomlo gosah baper!


yg punya suami rapatkan barisaaann 😂😂😂