Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Ide gila



Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi ketika akhirnya Andrew dan Clark tiba di rumah dinas. Clark memarkir mobil di halaman, sementara Andrew lebih dulu berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. Ruang tamu langsung terang benderang ketika saklar di dekat pintu ditekan.


“Aku mengantuk sekali,” gumam Clark seraya membuka kancing kemejanya.


Sambil berjalan menuju kamar, pria itu melepas pakaian yang sudah dipakainya seharian dan memasukkannya dalam keranjang laundry. Tubuhnya yang kekar terlihat lengket dan berminyak. Ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


“Jangan mandi dengan air dingin. Tubuhmu bisa shock. Kamu belum cukup tidur dan beristirahat,” tegur Andrew seraya berjalan ke dapur.


“Aku tahu!” teriak Clark dari dalam kamar mandi, “Hanya ingin cuci muka.”


Andrew menuang air panas ke dalam dua buah cangkir yang sudah terisi bubuk kopi dan satu sendok gula. Ia mengambil sendok dan mengaduk larutan itu hingga aroma yang khas menguar di udara. Pria itu bersandar di meja dengan satu tangan memegang cangkir kopi, meniup minuman panas itu sebelum menyesapnya sedikit.


Ia berdiri sambil menatap kosong pada cermin pajangan yang menempel di tembok. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan segala kemungkinan dan jalan terbaik yang bisa diambil. Mereka ulang setiap rencana dan menyusun plan-B jika semua tidak berjalan sesuai yang ia harapkan.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Clark yang sudah berganti dengan kaos oblong putih.


Wajahnya terlihat lebih segar. Ia menghampiri meja dan mengambil secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas. Ini yang membuatnya sangat menyukai Andrew. Meski terlihat cuek dan dingin, sebenarnya pria itu berhati hangat. Dia tidak pernah perhitungan atau pun memikirkan diri sendiri saja.


“Drew?” panggilnya lagi Andrew hanya terdiam dan meniup-niup cairan panas dalam cangkirnya, “Apa yang sedang kamu rencanakan?”


“Semuanya,” jawab Andrew pelan.


“Oh, aku lupa. Bukankah tadi kita memperkenalkan diri pada Sakamoto Keiko dengan nama asli kita? Menurutmu itu tidak apa-apa? Aku baru mengingatnya ketika sedang mencuci muka tadi.”


“Tidak masalah. Mengikuti rencana Mr. Tanaka, aku akan menggunakan nama asliku untuk memancing Kobayashi di acara amal nanti.”


“Oh ... aku tidak memikirkan hal itu sampai ke sana,” balas Clark sambil manggut-manggut, “Jadi, kamu akan memakai nama Andrew Roux ... um, menurutmu itu tidak apa-apa?”


Sejujurnya, Clark sedikit khawatir ketika mengingat kecerobohan yang ia lakukan tadi. Menggunakan nama asli saat bertugas sangat tidak disarankan. Musuh bisa melacak semuanya hanya dari sepotong nama yang kau sebutkan.


“Anggota EEL tidak terdaftar secara resmi dalam lembaga negara mana pun, jadi meski mereka berhasil melacak namaku, itu hanya akan menghubungkannya dengan ayahku atau pun Phoenix.Co, jangan khawatir.”


“Maksudku, jika sesuatu terjadi dan mereka mengincarmu, bukankah akan membahayakan ayahmu dan Phoenix.Co?”


“Aku akan mengabari Alfred untuk berjaga-jaga. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.” Andrew mendesah pelan dan menepuk pundak Clark. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Kamu juga berhati-hatilah.”


“Hum,” gumam Clark seraya melambaikan tangan, “Aku bisa menjaga diriku, jangan cemas.”


Andrew meletakkan cangkirnya yang sudah kosong dan berjalan menuju kamar. Ia ingin membersihkan diri dan beristirahat sebentar. Namun, sebelum melakukan hal itu, ia ingin mengirim e-mail untuk si Tua Alfred. Memang ia berharap semua rencana berjalan mulus, tanpa hambatan yang cukup berarti. Akan tetapi, bukankah lebih baik berjaga-jaga sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?


Pria itu duduk di dekat meja yang terletak di samping ranjang dan mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Setelah mengetik dan menjelaskan situasi yang terjadi secara singkat, Andrew mendesah pelan dan menatap layar monitor dengan sedikit ragu.


“Hah ... semoga si Tua Alfred tidak melakukan sesuatu yang membuat semuanya menjadi lebih runyam,” gumam pria itu sambil menekan tombol enter.


Saat ini ia benar-benar tidak membutuhkan masalah tambahan dari ayahnya yang memaksanya untuk segera menikah itu. Setidaknya, sampai ia berhasil mendapatkan hati Keiko. Sampai hari itu tiba, ia pasti akan melangkah menuju altar dengan sukarela.


Baby, aku merindukanmu ....


Tanpa sadar Andrew menggigit bibir dan menekan dadanya yang kembali berdesir. Tiba-tiba ia sangat ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Bagaimana caranya agar ia dapat ....


Pluk!


“Aw!”


Andrew memekik pelan seraya mengusap pelipisnya. Ia menatap sebuah pulpen yang baru saja menghantam kepalanya dan terguling di atas lantai. Matanya menyipit, lalu menoleh ke arah pintu. Clark berdiri di sana sambil tersenyum lebar tanpa merasa berdosa sama sekali.


“Otakmu bisa rusak kalau terus seperti itu,” ujar Clark seraya memutar telunjuknya di samping kepalanya, “Aku benar-benar khawatir—“


“Kamu!”


Andrew menggebrak meja dan berdiri dengan cepat, tapi Clark telah lebih dulu melesat menjauh sambil terbahak puas.


“Clark! Ke mari!”


“Tidak mau!”


“Aku akan menghajarmu!”


Clark berlari menuju ruangan kosong di dekat dapur dan menutup pintunya secepat mungkin. Ia terkekeh ketika Andrew berusaha mendobrak daun pintu yang sudah dikuncinya itu.


“Aku akan memanggil Jovanka ke mari kalau kamu bersikeras ingin membalasku,” ancam Clark dari balik pintu.


Bugh!


Andrew meninju daun pintu dengan kesal.


“Dasar bedebah cilik!” umpatnya sebelum berbalik dan berjalan menjauh.


Ia tahu Clark cukup nekad dan sangat menyebalkan. Pria licik itu pasti akan melakukan apa ancamannya jika Andrew terus mendesak.


“Aku akan mematahkan tanganmu kalau berani mengundang wanita itu ke sini!” teriak Andrew sebelum masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


Ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Setelah menyetel suhu air menjadi suam-suam kuku, Andrew membasuh wajahnya yang terlihat kusam dan menyabuninya sampai bersih. Gerakan Andrew tiba-tiba terhenti.


“Bagaimana kalau aku menculiknya, membawanya ke suatu tempat, mengganti identitas dan hidup bahagia ....”


Andrew memerhatikan pantulan wajahnya di cermin yang beruap, menatap lurus pada manik kelamnya dan mendesah pelan, “Bedebah cilik itu tidak sepenuhnya salah, otakku bisa kacau kalau terus memikirkan Sakamoto Keiko.”


***