Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Mr.X



Sepanjang hari Andrew duduk di sisi ranjang Keiko, mengajaknya berbicara segala hal. Hingga akhirnya ketika gadis itu mengantuk dan tertidur, ia tetap duduk di ruangan itu dan menemaninya dengan tenang. Sambil menopang dagu dengan satu tangan, Andrew memperhatikan ekspresi Keiko yang tidur dengan pulas. Tanpa sadar sudut-sudut bibir pria itu tertarik ke atas, membentuk busur yang melengkung indah. Entah kapan terakhir kali ia menikmati kedamaian seperti ini. Hari-harinya selalu diisi dengan ketegangan, intrik, dan pertikaian. Semua orang berlomba-lomba dan saling menjatuhkan demi berada di puncak piramida kekuaasaan.


Mungkin ... sekarang sudah saatnya ....


“Kapten!” Kim berdiri di balik pintu dan mengetuk pelan. Ia takut mengganggu Kaptennya, tapi ada hal penting yang harus segera ia sampaikan.


“Kapten Andew, bisakah saya masuk?” panggilnya lagi ketika tak terdengar jawaban dari dalam.


“Tunggu sebentar.”


Andrew bangun dengan hati-hati dan berjalan menuju pintu. Ia tidak ingin membangunkan Keiko. Istirahat yang cukup akan mempercepat pemulihan gadis itu.


“Ada apa, Kim?” tanya Andrew. Suaranya lebih menyerupai bisikan. Ia benar-benar mengatur nada suaranya serendah mungkin agar tidak mengganggu tidur Keiko.


Melihat hal itu, Kim pun menurunkan nada suaranya. “Maaf, Kapten. Saya tidak ingin mengganggu, tapi ... ada yang ingin bertemu dengan Anda. Saya tidak bisa menahannya di lobi. Dia bersikeras untuk naik dan menemui Anda langsung di sini.”


Kening Andrew mengernyit dalam, mencoba menerka siapa yang ingin bertemu dengannya. Kalau tebakannya benar ... mungkin memang sekarang saatnya ....


“Di mana dia? Aku—“


“Apanya yang di mana dia, Bocah? Begitu caramu menyambutku?”


Andrew langsung terkesiap mendengar suara bariton yang datang bersama derap langkah kaki yang mantap dan sedikit terburu-buru dari balik tubuh Kim. Ia menoleh dan cukup terkejut ketika melihat seorang pria paruh baya memakai setelan militer sudah berdiri di hadapannya dengan tegap. Atribut yang menempel di dada dan lengan bajunya menunjukkan bahwa orang itu bukan orang sembarangan, jelas memiliki kedudukan yang penting dalam dunia militer.


“Ketua,” sapa Andrew seraya menyingkir dari pintu dan memberikan penghormatan kepada pria itu, “Anda bisa memintaku datang ke markas, tidak perlu repot-repot—“


“Omong kosong!” sela pria di hadapan Andrew seraya melambai-lambaikan tangannya dengan tidak sabar, “Di mana gadis itu? Sudah mengguncang dunia mafia dan militer dengan begitu keras, aku ingin melihatnya sendiri.”


“Itu ... dia ....”


“Menyingkir! Kamu tidak percaya padaku? Aku hanya ingin bertemu, bukannya ingin memarahinya. Apa yang kamu takutkan?”


“Tapi ... dia baru saja tidur,” ujar Andrew dengan ekspresi tidak berdaya.


Ia sungguh tidak menyangka bahwa Mr.X yang tersohor itu akan datang sendiri untuk menjenguk Keiko. Ia sendiri baru bertemu dengan pria itu sebanyak lima kali. Dengar-dengar, kabarnya pria itu sangat sulit untuk ditemui, tapi sekarang dia bahkan mau repot-repot muncul di sebuah rumah sakit militer ... tidakkah sedikit berlebihan?


Mr.X melambaikan tangannya dengan tidak sabar dan menerobos masuk ke kamar pasien, membuat Andrew benar-benar tidak tahu harus menangis atau merasa tersanjung.


“Ketua, kenapa repot-repot ke mari. Kami pasti akan mengunjungi Anda kalau kondisi sudah memungkinkan.”


“Oh, dia sedang tidur,” gumam Mr.X seolah tidak mendengar ucapan Andrew, “Aku pikir kamu hanya beralasan agar aku tidak datang dan mengganggu. Pria itu menelisik wajah Andrew dan Keiko bergantian, lalu mengangguk-anggukan kepalanya dengan puas.


“Kerja bagus ... benar-benar kerja bagus, tidak salah aku mempercayakannya kepadamu,” gumam pria nyentrik itu seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Ia mengambil kursi yang tadi diduduki oleh Andrew dan mengempaskan bokongnya dengan keras di atas bantalan kursi.


“Aku sudah mempertimbangkannya baik-baik, sudah sepatutnya aku mencari seorang pengganti. Aku rasa kamu memiliki kemampuan itu ... maksudku, untuk menggantikanku mengatur organisasi—“


“Kapten!”


Andrew menghela napas dan memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening. Inilah alasan ia tidak langsung menemui Mr.X setelah misinya selesai. Pria tua itu pasti akan terus mengoceh seperti sekarang ini.


“Kapten, seperti yang kita bicarakan sebelumnya ... saat ini semua selesai, saya berhenti, tidak lagi terlibat dalam organisasi dan—“


“Bocah sialan!” teriak Mr.X dengan volume suara maksimal.


Teriakannya itu tidak hanya mengejutkan Andrew, tapi Keiko yang sedang terbaring pun terlonjak dan hampir terguling dari atas ranjang rumah sakit.


Gadis itu terduduk dan menatap ke sekeliling dengan linglung. Matanya mengerjap-ngerjap untuk menghalau pusing yang mendera kepalanya.


“Apa apa ini?” tanyanya dengan ekspresi wajah kebingungan, “Andrew?”


“Hey, maaf mengagetkanmu. Kenalkan, ini pimpinanku, Mr.X,” ujar Andrew seraya menghampiri Keiko dan membantu mengganjal sebuah bantal di punggung gadis itu.


“Oh, hallo ... Sir, saya Keiko. Senang bertemu dengan Anda,” sapa Keiko seraya sedikit membungkukkan punggungnya.


“Ya ... ya ... ya, aku sudah tahu namamu. Memang sangat cantik, pantas saja cecunguk ini tidak sabar dan ingin buru-buru menikahimu,” jawab Mr.X dengan acuh tak acuh, “Bahkan menolak kedudukan yang begitu bagus. Ck!”


Mendengar jawaban yang blak-blakan itu membuat Keiko hampir tersedak, sedangkan wajah Andrew sudah semerah tomat matang. Andrew mengangkat tangan dan mengusap ujung hidungnya dengan canggung. Mulut ketua memang sangat tajam.


“Ketua, Anda akan menakutinya kalau terus bicara seperti itu,” tegur Andrew dengan suara sangat pelan.


Mr.X mencibir dan memeloloti Andrew. Ia lalu berkata, “Seharusnya kamu yang menakutinya, bukan? Baru beberapa hari, sudah mau menculik dan melarikannya ke Paris? Benar-benar tidak tahu malu!”


Kali ini Andrew benar-benar tersedak dan terbatuk-batuk. Diungkit seperti itu di depan Keiko benar-benar membuatnya kehilangan muka.


“Ketua, kumohon ... beri aku muka sedikit, kalau tidak gadis ini mungkin akan berubah pikiran dan melarikan diri dariku,” pinta Andrew dengan sangat rendah hati, “Aku sudah bersusah payah mendapatkan hatinya, tolong bantu aku, ya?”


“Berciuman pun sudah, masih takut kehilangan?”


“A-apa? B-bagaimana ....”


Keiko benar-benar sudah ingin menggali tanah dan bersembunyi di dalam lubang. Dalam hati ia terus memaki dan memarahi Andrew.


“Sudah ... sudah, aku tidak mengganggu kalian lagi. Seperti kataku tadi, aku hanya ingin menjenguknya dan menawarimu posisi itu kepadamu. Kalau tidak mau ya sudah, aku akan mencari orang lain saja.”


Seperti kedatangannya yang tiba-tiba dan tak terduga, kepergian pria itu pun seperti angin badai yang menghilang di gurun pasir, tak meninggalkan bekas sama sekali. Kalau bukan karena gema suaranya yang terus terngiang di telinga Keiko, ia pasti mengira bahwa baru saja mengalami mimpi yang aneh.


“Andrew,” panggil Keiko dengan suara menyerupai desisan, “Bagaimana dia bisa tahu soal ....”


“Aku pun tidak tahu,” jawab Andrew dengan mimik wajah sangat serius, “Mungkin lain kali kita harus menutup semua pintu dan jendela kalau ingin berciuman.”


“Dasar mesum!” seru Keiko seraya mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Andrew.


Andrew terkekeh dan berkelit dengan mudah. Ia lalu melompat maju dan mendaratkan satu kecupan di bibir Keiko sebelum gadis itu sempat memprotes.