
Di dalam ruang persembunyian, Keiko mengawasi semuanya dari layar monitor. Tebakan Mr.Durrant benar, memang ada kamera CCTV di berbagai sudut rumah yang tersambung ke dalam alat pemantau di dalam bungker itu. Bahkan Keiko baru tahu jika ada kamera pengintai juga yang terpasang di dermaga dan beberapa pohon di sepanjang jalan setapak menuju tebing.
Oleh karena itulah ia bisa menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di dua tempat itu dan hanya bisa gemetaran menahan amarah. Melihat Kim terluka parah hingga tak bisa bergerak lagi membuat Keiko ingin membalasnya kepada pria botak yang pongah di luar sana. Apalagi ketika Tuan Sergio dipukuli seperti itu, Keiko benar-benar ingin menghancurkan Mr.Durrant.
“Baby, jangan keluar. Apa pun yang terjadi, tetap sembunyi. Oke?”
Suara Andrew terdengar dari ponsel Keiko yang tergeletak di atas meja. Ia langsung memerintahkan anak buahnya yang menempuh jalur darat untuk melanjutkan perjalanan ke Kamakura ketika mendapat pesan dari Kim, sedangkan ia sendiri putar haluan dan kembali ke pulau, berharap bisa tiba di sana tepat waktu.
“T-tapi ... Kim ... Tuan Sergio ... mereka menyiksanya,” ujar Keiko sambil menatap layar monitor lekat-lekat. Tadi ia langsung menghubungi Andrew ketika pintu ruang bawah tanah ditutup.
Pria itu langsung melakukan video call. Sinyal yang jelek menyebabkan panggilan video mereka terputus-putus dan membuat Andrew sudah hampir gila. Seperti kali ini, suara gemerisik kembali terdengar sebelum Andrew bisa membalas ucapan Keiko.
“Tidak apa-apa, mereka bisa bertahan. Aku datang, jangan takut. Aku—“
“Cepat keluar!”
Teriakan Mr.Durrant menyela ucapan Andrew yang belum selesai. Pria itu menarik salah seorang anak buah Tuan Sergio dan mengarahkan pistol ke kepalanya.
“Jangan keluar, Baby! Aku mohon ... apa pun yang terjadi, jangan keluar. Aku sedang dalam perjalanan kembali, tolong bertahanlah sebentar lagi,” ujar Andrew ketika melihat kecemasan di wajah kekasihnya.
Keiko benar-benar cemas dan kalut. Suara Andrew hanya terdengar seperti dengungan yang tidak jelas di telinganya. Seluruh fokusnya tertuju pada pemuda yang sedang meringis di depan kamera. Wajahnya tampak babak belur, lengan dan kausnya robek. Darahnya merembes dan mengering di beberapa tempat.
Ya, Tuhan ... berapa umurnya? Apakah dia sudah menikah. Apakah anak dan istrinya sedang menunggunya pulang ke rumah?
“Mereka tidak memiliki tanggung jawab untuk keselamatanku, Andrew,” gumam Keiko dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku akan segera sampai. Tunggu, ya ...,” pinta Andrew dengan sungguh-sungguh. Ia sudah benar-benar ketakutan. Ia takut kalau Keiko akan berlari keluar dan menyerahkan diri.
“Aku akan mulai menghitung!” seru Mr.Durrant dengan tidak sabar, “Satu ... dua ....”
“Andrew, aku tidak bisa—“
“Tiga!”
“Tidak!”
Dor!
Suara tembakan yang keras membelah angkasa. Cairan putih dan kental bercampur dengan pecahan tempurung kepala dan darah segar terciprat ke mana-mana, beberapa bagian menutupi sebagian kamera CCTV. Pemuda malang yang dijadikan sandera oleh Mr.Durrant tumbang dengan darah merembes keluar dari lubang di kepalanya.
Keiko terhuyung dan menutup mulut dengan tangannya, tapi rasa mual yang bergejolak di dalam perutnya tidak bisa ia tahan. Gadis itu berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
“Huek! Uhuk! Tidak ... huek ...!”
Keiko terus muntah sampai tak ada lagi yang tersisa dalam perutnya. Matanya memerah, tenggorokannya terasa masam. Ia jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.
“Andrew, aku akan keluar ... tidak bisa ... aku tidak bisa ....”
“Tidak! Tidak boleh!” seru Andrew, hampir kehilangan akal.
“Tuan Sergio dan anak buahnya ... juga siapa pun itu, mereka tidak bertanggung jawab atas kehidupanku, Andrew. Nyawa mereka tidak sepadan untuk ditukar dengan nyawaku,” gumam Keiko sambil menyusut air mata yang menetes di pipinya.
“Sakamoto Keiko! Aku tidak mengizinkanmu keluar! Kamu dengar aku? Tidak boleh!” Andrew berteriak dan meninju body helikopter dengan sangat keras. Bercak merah tertinggal ketika Andrew menarik tangannya kembali, tapi rasa sakit di buku-buku jarinya sama sekali tidak terasa.
“Aku bilang gunakan kecepatan penuh! Sialan!” seru pria itu lagi kepada anak buahnya yang mengemudikan helikopter.
“Baik, Kapten,” jawab sang pilot.
Pria yang memegang kendali helikoter itu hanya bisa menahan napas. Ia sudah menggunakan kecepatan penuh sejak tadi. Tentu kaptennya yang sedang panik itu tidak akan menerima alasan apa pun. Oleh karena itu, ia hanya bisa melakukan tugasnya sebaik mungkin.
Sementara itu, Mr.Durrant kembali menyeret salah satu anak buah Tuan Sergio dan membawanya ke depan kamera CCTV.
“Ingin bermain-main denganku, Gadis Kecil?” tanyanya dengan ekspresi yang sangat menjijikkan, “Kali ini, aku memberimu waktu tiga menit untuk berpikir baik-baik. Bagaimana? Aku cukup murah hati, bukan? Cepat keluar!”
Kalau menuruti emosinya, Mr.Durrant sudah sangat ingin meratakan pondok kayu itu dengan tanah. Sayangnya, partner bisnisnya menginginkan gadis itu hidup-hidup. Benar-benar sial.
Sementara itu di dalam bunker, Keiko benar-benar mual melihat wajah Mr.Durrant. Kini tidak hanya kedua tangannya yang gemetaran, seluruh tubuhnya ikut bergetar hebat. Dengan tertatih gadis itu bangun dan menghampiri meja, meraih ponsel dan menatap nanar layarnya yang masih menyala.
“Andrew, maafkan aku ...,” gumamnya pelan seraya berjalan menuju rak kaca yang memajang bermacam-macam senjata.
Setelah memindai isi lemari beberapa saat, Keiko memilih sebuah Thunder 50 BMG, salah satu senjata api keluaran lama dari Amerika Serikat. Keiko tahu senjata itu menggunakan sistem hidrolik yang akan mengurangi rekoil sebanyak kurang lebih 20% saat hentakan tembakan terjadi. Dengan begitu, setidaknya tubuhnya bisa menoleransi lentingan senjata itu. Setelah mengambil amunisi, Keiko berjalan menuju anak tangga.
“Keiko! Jangan gegabah! Tunggu aku!”
Keiko menulikan telinga, mengabaikan teriakan Andrew yang sarat dengan rasa putus asa.
Ia menatap nanar pada ponselnya dan berkata, “Aku tetap menunggumu. Cepatlah datang.”
Gadis itu lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Andrew. Satu per satu langkah kakinya menapaki anak tangga, kemudian tangannya menekan tombol di dekat palang besi hingga suara dengungan halus terdengar ketika sekat bergeser dan terbuka. Gadis itu memanjat keluar dan terpaku selama beberapa detik. Ia mengintip lewat kaca jendela, mencari tempat yang aman untuk membidik sasaran.
Satu-satunya tempat terdekat dan teraman adalah ....
Jantung Keiko berdegup seirama detik jam yang terus berputar. Yang harus ia lakukan adalah menumbangkan Mr.Durarnt, dengan demikian anak buahnya akan lebih mudah ditaklukkan. Selain itu, ia juga yakin Andrew akan tiba tepat waktu untuk menolongnya. Oleh karena itu, ia tidak merasa ragu sama sekali.
Cepat! Harus lebih cepat. Waktunya tak banyak ....
Gadis itu merangkak keluar dari bawah kolong tempat tidur, lalu menunduk dan berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya sendiri. Dengan cepat ia menarik kursi dan menaikkannya ke atas meja, lalu mendorong tutup saluran udara di langit-langit kamar dan menggesernya ke samping.
Keiko bertumpu pada kedua tangannya, menganyunkan kaki ke depan dan menggunakan momentum itu untuk menarik bobot tubuhnya dengan kekuatan otot lengan. Dalam satu tarikan kuat, tubuhnya terangkat hingga pinggangnya sejajar dengan lubang saluran udara.
Ia lalu sedikit membungkuk dan mulai merangkak masuk menyusuri lorong ke arah depan. Untunglah ia memperhatikan bentuk bangunan ketika tiba kemarin sehingga bisa mengetahui bahwa saluran udara di dalam kamarnya tersambung ke loteng kecil di bagian depan rumah pondok.
Keiko menarik napas dalam-dalam. Tak disangka hasil pengamatannya itu sangat berguna saat ini. Gerakan gadis itu semakin cepat, menuju cahaya yang menembus kaca kecil di ujung lorong.
Jantungnya berdentam-dentam, berharap musuh tidak menyadari pergerakannya ini sebelum ia melancarkan aksinya nanti. Kalau tidak ....
***
rekoil (tolak balik) adalah hentakan yang disebabkan oleh senjata api ketika ditembakkan.