Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Pertempuran (2)



Melihat Ryuchi yang masih bersikeras untuk memberikan perlawanan, Andrew mengetatkan rahangnya hingga suara bergemerutuk terdengar jelas. Ia mengangkat kakinya dan menendang kepala Ryuchi hingga pria itu kembali terpelanting dan menghantam dinding altar.


“Ryuchi, menyerahlah. Ini sudah berakhir,” ujar Andrew seraya menoleh ke arah pasukan EEL yang masuk dari tempat ia datang tadi.


Sepertinya micro chip dalam tubuhnya bekerja dengan sangat baik. Tadinya ia sempat khawatir lokasinya tidak bisa ditemukan karena berada di bawah tanah, tapi untunglah kekhawatirannya itu tidak terjadi.


“Andrew Roux, kuperingatkan ... lebih baik kamu membunuhku sekarang, kalau tidak ... aku akan kembali untuk menghancurkanmu,” gumam Ryuchi seraya menatap hampa ke depan.


Matanya kini benar-benar tidak berfungsi lagi. Selain warna merah, tak ada lagi yang terlihat jelas. Bahkan suara Andrew hanya terdengar seperti bisikan. Ryuchi menggenggan tangannya erat-erat. Ia sudah gagal ... benar-benar telah mengecewakan kedua orang tuanya dan kepala pelayan yang sudah membesarkannya sampai sekarang. Sungguh tidak berguna.


“Sayang sekali kemampuanmu digunakan untuk balas dendam. Seharusnya dengan semua kekayaan dan kekuatan itu, kamu bisa—“


“Tutup mulutmu! Aku tidak butuh omong kosong dan petuah darimu. Bunuh aku atau enyah dari sini,” desis Ryuchi dengan penuh kebencian.


Andrew terdiam dan mematung sejenak. Di kehidupan yang mana pun, amarah dan kebencian selalu menjadi pemantik yang mematikan. Ia membuka mulut dan ingin mengucapkan beberapa nasihat untuk Ryuchi, tapi ia tahu saat ini pria itu tidak ingin mendengar apa pun. Karena terkadang, untuk manusia yang hatinya dipenuhi kebencian ... mereka tidak bisa melihat dengan jelas, sudut pandang mereka hanya untuk melampiaskan dendam hingga kehidupan berlalu begitu saja dalam keputusasaan dan kesia-siaan.


“Kamu bisa membunuh dirimu sendiri atau tetap hidup dan menyiksa diri dalam kebencianmu ... tentu saja setelah selesai menjalani sidang militer,” gumam Andrew seraya berbalik dan berjalan meninggalkan Ryuchi.


Ia bukan seorang saint. Bukan pula seorang biksu. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Ryuchi telah memakan begitu banyak korban. Apalagi pria itu menargetkan kekasihnya, tentu ia tidak bisa memaafkannya begitu saja. Kalau boleh membunuh, ia lebih memilih untuk menghabisi nyawa pria itu dengan tangannya sendiri. Akan tetapi, kematian terlalu mudah bagi Ryuchi. Biarkan EEL menangani pria itu dengan cara yang semestinya.


Andrew menghampiri pintu masuk, menunggu hingga semua pasukannya tiba dan membereskan kekacauan di tempat itu. Mayat-mayat dimasukkan ke dalam kantong hitam dan dibawa keluar. Petugas medis masuk dan membawa pengawal yang masih hidup dan terluka, temasuk Ryuchi yang tidak memberikan perlawanan saat diangkut ke atas tandu.


“Buka pintunya!” perintah Andrew sambil menunjuk ke kotak kaca.


Karena terlalu sibuk mengurusi Ryuchi, ia sampai tidak menyadari kalau Clark dan Leon sudah siuman. Mereka sedang membuka mulut dan memukul-mukul kotak kaca. Jelas terlihat mereka sedang berteriak, tapi tidak ada suara yang terdengar. Sepertinya ruangan itu kedap suara.


Dua orang anak buah Andrew segera menghampiri kotak kaca, masing-masing berdiri di depan pintu dan memasang alat peledak berkekuatan kecil. Mereka memberi isyarat agar Clark dan Leon menjauh dari pintu, kemudian menekan tombol pemicu. Dalam hitungan kesepuluh, terdengar suara dentuman kecil disertai rusaknya gembok yang menempel di pintu.


“Sialan! Kenapa lama sekali?” umpat Clark begitu pintu kaca hancur berkeping-keping. Ia memungut pakaiannya dan memakainya secepat yang ia bisa. Namun, dengan kondisi tubuh yang dipenuhi luka dan rusuknya yang terasa seolah baru saja dipatahkan satu per satu, gerakannya tetap saja terlihat lamban.


“Maaf, kami harus membereskan pasukan Keluarga Nakamura yang ada di luar terlebih dahulu,” jawab salah seorang pengawal sambil membantu Clark memakai bajunya.


“Ada apa ribut-ribut?” tanya Andrew yang sudah ikut masuk ke dalam kotak kaca itu.


“Kamu harus memberiku kompensasi,” jawab Clark dengan kesal, “Pria gila itu hendak membiarkanku dan Leon mati kehabisan napas di sini, setelah menelanjangi dan memukuli kami seperti binatang, benar-benar bedebah tengik.”


“Aw! Kamu sudah ikut gila, ya? Otakmu kemasukan debu?” maki Clark dengan mata melotot.


“Ck! Seperti bayi saja. Bukankah masih bisa marah-marah? Itu artinya masih sehat,” jawab Andrew enteng.


“Sehat kepalamu!” desis Clark dengan kesal, “Kamu belum berterima kasih padaku. Kalau bukan karena aku yang mengirim—“


“Cerewet sekali!” sela Andrew seraya mengayunkan tinjunya sekali lagi, membuat Clark benar-benar sudah hampir menangis.


“Bedebah sialan! Aku akan mencekikmu sampai mati!” umpat Clark seraya terbungkuk dan terbatuk-batuk.


Andrew melambaikan tangan ke arah anak buahnya yang sedang membantu memapah Clark ke atas tandu dan berkata, “Bawa dia ke rumah sakit, suruh dokter memeriksa luka-lukanya itu. Jahit yang perlu dijahit, terutama mulutnya yang tidak bisa diam itu.”


“Siap, Kapten!”


Clark mengangkat kaki dan menendang pengawal yang sedang mengangakat tandunya. “Siap kepalamu! Memangnya kalau dia menyuruhmu melompat ke jurang, kau akan mematuhinya?”


Sang pengawal hanya bisa menahan napas dan terus menggotong tandu Clark menuju pintu keluar. Sementara itu, Andrew mengabaikan ocehan sahabatnya dan berjalan lebih dulu menuju pintu keluar. Mengikuti hitungan langkah yang ia lakukan sebelumnya, Andrew lebih mudah menemukan jalan keluar dari kediaman Keluarga Nakamura.


Pupil matanya melebar ketika melihat kekacauan yang terjadi di luar tak kalah dengan yang terjadi di ruangan bawah tanah. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Pilar-pilar bangunan tercungkil oleh granat dan proyektil. Lantai melesak ke dalam karena ledakan. Kaca dan ornamen lain hancur berkeping-keping. Bahkan di kejauhan, ia bisa melihat bahwa gerbang utama sudah dirobohkan.


Andrew menunduk sekilas dan memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Seharusnya semua ini tidak terjadi kalau ... ah, sudahlah. Ini sama sekali bukan urusannya.


“Bawa aku kembali ke rumah sakit!” perintahnya seraya melompat masuk ke dalam helikopter yang kini terparkir di depan pintu utama.


“Siap, Kapten!”


Tak lama kemudian baling-baling helikopter berputar cepat, menyebarkan debu dan sisa aroma pertempuran ke udara. Kendaraan itu perlahan terangkat dan membubung tinggi dan melesat menuju rumah sakit militer.


Andrew bersandar di tempat duduk dan memejamkan mata. Kini rasa sakit mulai terasa, satu per satu menghantam bagian tubuhnya. Sialnya, indera perasanya seolah menjadi ratusan kali lebih sensitif sehingga setiap tarikan napasnya menjadi siksaan tersendiri.


Namun, ada hal penting yang harus ia kerjakan sekarang. Ia berjanji akan membawakan hadiah untuk Keiko. Semoga masih ada waktu untuk membereskan semuanya tepat waktu.


***