Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Sekarang kamu milikku



Hansel segera menekan tubuh Cecille di bawahnya, merangkum wajah gadis itu dalam tangannya dan membalas setiap sentuhan dengan penuh minat. Sebetulnya wajah dan tubuh Cecille sangat lumayan, melebihi kecantikan rata-rata gadis-gadis Eropa. Ia tidak mengerti mengapa Andrew tidak tergerak sama sekali terhadap Cecille.


“Engh ....”


Cecille mendesah keras ketika bibir Hansel menempel di dadanya. Permukaan lidah yang hangat dan kasar membuatnya meliuk dan mengerang tak karuan. Tubuh mereka saling menempel tanpa penghalang. Rasa dingin yang menjalar dari kulit Hansel membuat Cecille seperti baru saja menemukan oase di tengah padang yang tandus dan gersang. Gadis itu menggila, melingkarkan kaki di pinggang Hansel dan mengetatkan pelukannya.


“An-drew ... oh, An—“


Tubuh Hansel mendadak menjadi kaku. Pria itu menjauhkan wajahnya dan mencubit dagu Cecille. Ia menggeram, “Lihat aku! Cecille, lihat wajahku!”


Rasa dingin yang menjauh dari tubuhnya membuat Cecille membuka mata dengan linglung. Wajah pria di atasnya berbayang, tatapannya tidak fokus antara bibir yang sensual dan tulang selangka yang sangat indah. Cecille mendekatkan wajahnya, hendak menjilat jakun yang bergulir di depan wajahnya, tapi Hansel tidak mengizinkannya melakukan hal itu.


Gadis itu merajuk dengan bibir mengerucut, ia mendesis putus asa, “Berikan padaku ... berikan ....”


Hansel menduduk dan mengigit bibir Cecille dengan keras, lidahnya menyusup masuk dan melibas mulut gadis itu dengan semena-mena, membelit dan menyesap dengan kuat hingga gadis dalam pelukannya meronta dan hampir menangis.


“Sakit! Pelan sedikit!” seru Cecille sambil memukuli bahu Hansel ketika pria itu melepaskan bibirnya.


Hansel menahan rahang Cecille sehingga gadis itu bertatapan dengannya. “Siapa aku?”


Pupil mata Cecille bergetar sekilas. Otaknya yang seperti kemasukan air tiba-tiba menjadi lebih jernih.


“Han-sel?”


Hansel mengendusi leher Cecille dan berbisik di telinganya dengan suara yang serak, “Ingat namaku baik-baik.”


Pria itu merem*as gundukan kenyal yang terasa pas di telapak tangannya dan mencubit puncaknya dengan lembut. Cecille me*ngerang dan meleng*h, tapi suara desahannya segera teredam ketika Hansel membungkam mulutnya dan menjarah dengan rakus.


Cecille benar-benar sudah hampir menangis. Rasanya terlalu luar biasa sehingga ia tidak tahu harus meletakkan tangan dan kakinya di mana. Hansel menyerangnya tanpa ampun, membuatnya merintih sekaligus ingin berteriak agar pria itu memberinya lebih. Telapak tangannya yang menyusuri tubuhnya seperti jejak es yang membuatnya merasa sangat nyaman dan tidak ingin pria itu menjauh sedikit pun.


“Oh ... a-ku ... mau ....”


Cecille mengangkat pinggulnya ketika jemari yang panjang dan ramping menyentuhnya di bawah sana. Sementara kedua tangannya tidak tahu harus menekan kepala Hansel agar semakin menempel di dadanya atau mendorong agar pria itu menjauh. Ia mengigil ... menggigil karena itu terlalu nikmat dan menyenangkan ... rasanya ia hampir gila karena kenikmatan yang melanda. Ia mencengkeram rambut Hansel erat-erat saat pusat tubuhnya seolah hampir meledak.


“Panggil namaku,” perintah Hansel dengan suara yang berat. Kabut yang memenuhi matanya semakin pekat.


Hampir di detik yang sama Cecille segera menyahut, “Han-sel, oh ... ja-ngan ber-henti ....”


Napas gadis itu berantakan, sama seperti rambut emasnya yang terurai di atas bantal. Bercak merah tercetak jelas mulai dari leher, tulang selangka hingga dadanya yang membusung dengan indah.


Hansel menatap itu semua dengan puas sebelum menjawab, “Tidak akan. Tidak akan berhenti meskipun kamu berteriak dan memohon.”


“Patuh,” ujar Hansel seraya menahan kedua tangan Cecille di atas kepalanya.


Air mata Cecille merebak. Ia mengigit bibir untuk menahan pedih yang menyengat di bawah sana. Kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri, membuat dua bulir air mata mengalir di pipinya yang seputih porselen.


“S-sakit ... Hansel ... uh, p-pelan ....” Gadis itu tidak tahan dan benar-benar mulai terisak. Bahunya yang mungil dan terlihat rapuh bergetar.


Napas Hansel yang memburu bergema di dalam ruangan, beradu dengan isak tertahan yang lolos dari bibir Cecille. Pria itu menghentikan gerakannya dan melirik ke bawah. Warna merah cerah itu menusuk mata. Seketika ototnya berhenti berkontraksi. Ia menunduk dan mengusap air mata di pipi Cecille dengan hati-hati.


“Pertama kali?” gumamnya di dekat telinga gadis itu.


Cecille mengangguk tanpa berani membuka mata. Ia bisa merasakan Hansel masih berada di dalam tubuhnya, dan itu membuatnya tidak berani bergerak. Semua antusiasme dan rasa panas dikalahkan oleh rasa sakit yang tak terperikan itu.


Hansel mengecup kedua kelopak mata Cecille bergantian. Kilau yang tak terbaca terpantul di manik hitamnya yang tajam dan cemerlang. Ia membujuk wanita itu untuk lebih relaks dan bisa menerimanya, menciumi bibirnya dengan hati-hati ... menggoda dengan lidahnya agar diizinkan memperdalam ciuman itu. Tangannya kembali menjelajah dan menyentuh di mana-mana ... kali ini ia melakukannya dengan sangat lembut.


“Aku akan sangat pelan,” ucapnya dengan suara yang sangat serak dan berat. Ia sungguh tidak tahan. Rasa hangat yang menyelimuti membuatnya hampir kehilangan kendali.


Cecille menggumam dan memberikan akses kepada Hansel untuk melakukan apa pun. Ia tidak berusaha menolak atau menangis lagi. Meski masih sakit, tapi gerakan Hansel yang hati-hati tidak membuat rasanya tidak seburuk tadi.


“Jangan terlalu tegang, kamu menjepit dengan ketat ... aku tidak bisa tahan,” goda Hansel sambil terkekeh pelan di telinga Cecille.


Cecille mendongak dan menggigit leher pria itu karena kesal dan malu. Namun, ia sama sekali tidak menyangka jika gerakan itu justru akan membuat Hansel menekannya dengan keras dan mulai bergerak dengan ritme yang teratur ... terlalu stabil sehingga membuatnya menggeliat di bawah tubuh pria itu, menyambut setiap gerakannya dengan antusiasme yang sama.


“Cecille ....”


Bulir keringat yang berkumpul di permukaan kulit Hansel menetes dan bersatu dengan keringat milik Cecille. Rintihan dan gumamam ambigu dalam kamar berbaur dengan suara ranjang yang melesak-lesak dengan cepat ... semakin cepat ....


“Akh ... oh ... Hans ....” Cecille mencengkeram seprai erat-erat. “Kya—“


Hansel menunduk dan meredam teriakan yang lolos dari mulut Cecille. Tubuh gadis itu membusur dan menggigil ... ia meliuk dan melingkarkan kakinya di pinggul Hansel.


Gerakan itu membuat Hansel menggeram dan menegang. Seluruh ototnya berkontraksi saat magma yang menggelegak menerobos keluar, membuatnya seperti melihat kilasan cahaya putih meledak di balik kelopak matanya. Tubuhnya mengejang beberapa saat sebelum akhirnya ambruk di atas tubuh Cecille yang tergeletak seperti kelopak mawar yang luruh dari mahkotanya, terlihat indah sekaligus menawan.


Deru napas Hansel yang memburu itu perlahan kembali ke ritme semula. Sudut-sudut bibirnya berkedut, dalam hati tiak tahu harus memarahi Andrew Roux atau berterima kasih kepadanya. Perlahan ia bangun dan menatap Cecille yang sudah kepayahan dengan sorot yang lembut.


“Gadis bodoh, sekarang kamu milikku.”


***