
Mata Andrew membara. Ia menggeram dan berbisik, “Kelinci kecil, jangan menyesal ....”
Segera setelah kata terakhir lolos dari bibirnya, pria itu membuka ikatan piyama istrinya di bagian pinggang sehingga bagian dada yang polos dan ranum seperti buah persik itu terpampang di hadapannya.
Dada Andrew bergerak naik turun tak beraturan. Pemandangan di hadapannya terlalu indah, ia tak sanggup mengalihkan tatapannya. Jakunnya bergulir dua kali, seolah sedang menghadapi hidangan yang sangat lezat dan membuat liurnya hampir menetes.
Dalam kungkungan lengan Andrew yang kokoh, tubuh Keiko hampir tenggelam. Ia kembali gemetar ketika tatapan dari sang suami membuatnya panas-dingin. Ia merasa malu dan gugup, jadi dengan sangat perlahan tangannya bergerak untuk menutupi dadanya yang terekspos tepat di depan wajah pria itu.
Andrew menahan tangan istrinya di sisi ranjang dan berkata, ”Waktu untuk melarikan diri sudah habis, Baby ....”
“Tidak lari ... aku hanya—“
Andrew menunduk dan membungkam mulut istrinya, membuat ******* tertahan bergema di udara. Telapak tangannya yang lebar membungkus puncak bukit yang membusung tanpa penghalang, merem*snya perlahan sehingga tubuh mungil di bawahnya tiba-tiba menegang seperti tersengat listrik.
“An-drew ....”
Keiko tersengal dan gemetar ketika telapak tangan yang mengusap kulitnya digantikan dengan lidah yang menari dengan nakal, menjilat dan mngulum titik sensitif yang membuatnya menggeliat dan melepaskan diri dari siksaan itu. Namun, gerakan itu hanya membuat suaminya semakin berinisiatif ....
Keiko menarik napas panjang ketika tubuh Andrew sedikit menjauh. Akan tetapi, kelegaan itu tidak berlangsung lama. Pria itu menarik piyama Keiko dan melemparkannya ke sembarang arah, melepaskan jubah mandinya sendiri, lalu kembali menyerang seperti seekor serigala lapar, menggigit dan menjilat dengan rakus, mengusap dan membelai ....
Tubuh Keiko membusur, ia mencengkeram seprai erat-erat ... tidak sanggup menahannya lagi ....
Napas tersengal, jantung berdegup kencang, keringat yang membasahi kulit, perpaduan antara antusiasme dan gugup memuncak saat kenikmatan yang tak bisa dijelaskan merangsang seluruh panca indra.
Keiko membuka mata, mendapati bahwa Andrew sama kacaunya seperti dirinya.
“Baby, tahan sedikit ....”
Pria itu mencoba masuk dengan sangat perlahan, tapi gerakannya itu tetap membuat tubuh Keiko menegang dan tersentak karena rasa sakit yang sangat. Gadis itu merasa tubuhnya seperti sedang dibelah menjadi dua. Ia mencengkeram kedua lengan Andrew erat-erat, sampai kuku-kukunya hampir tertanam di dalam daging pria itu.
“S-sakit ... p-pelan ... An-drew, pelan ...,” desis Keiko sambil menutup mata. Ia menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan rasa sakit yang membuatnya ingin berteriak kencang.
Andrew berhenti bergerak. Ia membungkuk dan mencium bibir Keiko, lalu mengusap butiran-butiran keringat yang muncul kening istrinya itu.
“Sangat sakit?” tanyanya pelan seraya mengecupi sudut-sudut bibir Keiko dengan sangat lembut. Seingin apa pun untuk membuat gadis itu menjadi wanita miliknya seutuhnya, ia tetap tidak rela melihatnya kesakitan seperti ini.
Keiko bergumam dan mendesah pelan. Rasanya memang sangat sakit sampai membuatnya ingin menangis, tapi ... bukankah suatu saat proses ini tetap harus ia lewati? Tidak mungkin meminta untuk berhenti setiap kali ia merasa kesakitan. Oleh karena itu, Keiko membuka matanya perlahan dan membalas tatapan Andrew.
Ia mengangkat kepala untuk membalas kecupan suaminya sambil berbisik, “Tidak apa-apa ... aku bisa menahannya, asal kamu pelan sedikit.”
Wajah Keiko langsung memerah setelah selesai mengatakan kalimat itu. Ia mengalihkan tatapan ke arah lain dengan malu-malu.
Andrew terkekeh pelan dan berkata, “Baiklah ... nanti kalau tidak tahan, beritahu aku, ya ....”
“Um.”
Andrew menunduk dan kembali menciumi leher istrinya. Lidahnya mencecap rasa asin dari keringat yang membasahi tubuh Keiko. Aroma khas yang menguar dari tubuh gadis itu kembali membakar gairah yang menggebu-gebu, membuat tangan Andrew kembali bergerilya untuk menyentuh setiap inci permukaan tubuh istrinya dengan lembut dan hati-hati, seolah tidak mau melewatkan satu senti pun.
“Sakamoto Keiko,” panggil Andrew pelan. Suara mulai terdengar berat. Rasanya seolah seluruh aliran darahnya bermuara pada satu titik dan membuatnya sangat tidak nyaman.
“Hum,” gumam Keiko seraya menangkup wajah Andrew dan menciumi bibirnya.
Andrew menjilat dan mengulum bibir istrinya sebelum memberikan sebuah gigitan yang cukup keras sehingga membuat gadis itu menjerit pelan. Lidah pria itu menelusup masuk, mengisap dengan sangat kuat sehingga otak Keiko tiba-tiba menjadi kosong. Di waktu yang bersamaan, Andrew menahan pinggul Keiko dan menerobos masuk.
Andrew berhenti bergerak, membiarkan tubuh istrinya beradaptasi sejenak. Ia melepaskan ciumannya dan menatap nanar pada bukit indah yang membusung di depan wajahnya. Sekujur tubuh yang semua putih dan polos kini dipenuhi bekas ciumannya.
Sial. Ia tidak tahan. Sambil menggeram pelan, Andrew menunduk dan menjilat puncak bukit yang menggoda. Menjilat dengan sangat pelan dan hati-hati, lalu membenamkan wajahnya dan melum*at gundukan kenyal itu dengan rakus. Ia sudah hampir meledak karena kenikmatan yang menyiksa.
Tubuh Keiko benar-benar gemetaran sekarang. Rasanya benar-benar sesak dan penuh di bawah sana. Ia tidak berani bergerak sama sekali, tapi setiap sentuhan Andrew membuatnya hampir gila. Tubuhnya merespon di luar kendalinya, diiringi suara erotis yang ia tidak tahu milik siapa.
Setelah merasa istrinya sudah lebih relaks, Andrew mulai bergerak perlahan, tangannya membelai wajah Keiko dengan penuh perasaan. Momen ini ... ia tidak akan melupakannya seumur hidup.
Wanita miliknya ....
Hanya miliknya seorang ....
Andrew menunduk dan meng*lum bibir istrinya yang tampak kemerahan dan bengkak, tangannya kembali bergerilya dan menyentuh setiap bagian yang membuatnya tergila-gila.
Keiko mendesah-desah. Rasa sakit itu sudah sepenuhnya hilang. Sekarang ia menginginkn lebih. Ia ingin ....
“An-andrew ...,” panggil Keiko dengan terbata-bata.
"Hum?” Andrew meraih jemari Keiko dan menciuminya dengan penuh rasa sayang.
“A-aku ... aku ... oh!” Keiko menjerit keras ketika Andrew bergerak semakin intens.
Ia melingkarkan kakinya di pinggul Andrew. Matanya terpejam erat, tidak sanggup menahan siksaan itu lagi ....
“Andrew, a-aku ....”
“Yes, Baby?”
Suara Keiko yang mendesah-desah seperti itu membuat Andrew benar-benar hampir gila. Ia mengunci tubuh mereka berdua dan menghujam dalam-dalam.
“Ah!”
Keiko mengangkat tangan dan memeluk leher Andrew erat-erat. Ia menggigit bahu suaminya itu untuk meredam teriakannya saat gelombang datang dan menyeretnya ke dasar samudra. Satu kilasan cahaya putih berkelebat di balik matanya, membuat semuanya seolah menghilang dari pandangan. Semua panca inderanya berkumpul di satu titik, membuat inti tubuhnya meledak dalam kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Aku mencintaimu, Baby,” bisik Andrew sebelum mendapatkan pelepasannya sendiri.
Peluh yang membanjiri tubuh pria itu menetes satu demi satu, bercampur dengan keringat istrinya yang membasahi tempat tidur. Sekilas senyum hangat tersungging di wajahnya. Meski harus mengulang ribuan kali, ia rela mencari dan menunggu untuk dapat bertemu dengan wanita yang menjadi cinta sejatinya ini.
***
Jan lupa napaaass😁
Udah kan? Utangku udah lunass yaaa🤣🤣🤣
Segala bentuk kepanasan dan kegerahan di luar tanggung jawab penulis.
jangan lupa likee yaa
Byeeee!
😂😂😂