Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Pulang



Mobil yang dikendarai Hansel melaju tenang di jalanan Kota Paris, tidak seperti saat ia membawa kendaraan itu menuju rumah sakit tadi. Cecille yang duduk di sebelahnya menatap keluar jendela. Sejak meninggalkan rumah sakit, wanita itu hanya diam, Hansel pun tidak ingin mengganggunya. Namun, saat mobil melewati jalan dan bangunan yang sudah sangat dikenalnya, Cecille menoleh ke arah Hansel. Ada sorot keterkejutan dan sedikit rasa cemas di manik birunya yang masih tampak sembab.


“Kita mau ke mana?” tanya wanita itu dengan sedikit curiga.


“Ke rumahmu,” jawab Hansel dengan tenang.


Pernyataan itu mematahkan keraguan dalam benak Cecille. Ternyata pria itu memang berniat mengantarnya ke rumah. Tiba-tiba ia menjadi sedikit panik. Bagaimana reaksi orang tuanya kalau mengetahui hal ini?


“Nanti turunkan saja aku di gerbang depan,” ujar Cecille kemudian.


Hansel mengangkat alisnya dan melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya.


“Kenapa?” balasnya.


“Aku ... um, aku belum siap.”


Cecille memilin ujun blusnya dengan gugup. Ia tidak berani menoleh ke arah Hansel. Ia tahu mungkin Hansel akan salah paham dengan sikapnya itu, tapi untuk sekarang ia benar-benar belum siap.


“Kapan kamu siap? Saat bayinya sudah akan lahir? Kamu mau dia lahir tanpa status yang jelas? Anak di luar nikah ... seperti itu?”


Suara Hansel sangat pelan dan tenang. Setiap kata yang terucap terdengar sedikit acuh tak acuh dan santai, tapi telah menusuk ke bagian yang paling dalam di hati Cecille. Secara tidak sadar ia mengangkat tangan dan mengusap perutnya dengan sikap seolah sedang melindungi. Tentu saja ia tidak mau anaknya menjadi anak haram.


Gerakan kecil itu tertangkap oleh ekor mata Hansel. Sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum dengan lembut dan mengulurkan satu tangan untuk menangkup jemari Cecille yang masih berada di atas perutnya.


Tubuh Cecille sedikit menengang karena kontak fisik itu. Dengan gerakan yang sedikit kaku, ia melirik ke samping dan mendapati wajah Hansel yang sedang tersenyum. Cahaya matahari menerobos dari kaca jendela, menerpa sisi wajahnya dari sisi kanan. Fitur wajahnya tidak buruk, tidak kalah tampan dari Andrew Roux. Alisnya tebal dan melengkung indah di atas sepasang mata yang tajam dan memikat. Hidungnya mancung, tampak serasi dengan segaris bibir tipis yang sensual. Saat dia tersenyum sekarang, pesonanya meningkat berkali lipat ....


“Sudah puas memandangi wajah calon suamimu?”


Suara yang magnetis itu membuat Cecille hampir tersedak. Ia berkedip cepat dan mengalihkan tatapannya keluar. Sambil menggigit bibir, wanita itu mengutuki kebodohannya dalam hati. Rona merah menjalar hingga ujung telinganya.


Hansel terkekeh pelan. Ia mengusap punggung tangan Cecille dengan lembut seraya berkata, “Setelah menikah nanti, kamu boleh memandangiku sepanjang hari.”


Cecille mencibir dan memutar bola matanya. Dasar narsis! Siapa juga yang mau memandanginya sepanjang hari? Memangnya ia tidak punya pekerjaan lain?


Di sebelahnya, Hansel tersenyum semakin lebar karena Cecille tidak membantahnya saat ia mengucapkan kata “calon suami”. Mendadak hatinya seperti dipenuhi bunga sakura yang sedang bermekaran, semerbak di mana-mana.


“Dari mana kamu bisa tahu semuanya? Menemukanku, juga alamat rumahku. Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Cecille yang masih sedikit penasaran. Bagaimana Hansel mengetahui ia pergi ke rumah sakit mana, juga alamat rumahnya ini.


“Itu hal mudah untuk menemukanmu,” jawab Hansel seraya memasang senyum misterius.


Sekali lagi Cecille mencibir dan memutar bola matanya.


“Bersikap sok misterius seperti itu untuk memikat siapa?” gerutunya.


“Tentu saja untuk memikatmu,” jawab Hansel sambil terkekeh pelan.


“Papa mungkin akan menghajarmu,” gumam Cecille tiba-tiba.


“Huh?”


“Papa mungkin akan menghajarmu sampai babak-belur,” ulang wanita itu.


Senyuman di wajah Hansel semakin lebar, membuat Cecille berpikir bahwa pria itu benar-benar sinting. Mana ada orang yang tersenyum bodoh seperti itu saat diberitahu bahwa dia akan dipukuli?


“Tenang saja, aku bisa menanggungnya,” kata Hansel seraya membelokkan kemudi memasuki memasuki pelataran kediaman sang Marquess.


Bangunan serupa kastil zaman dahulu itu tampak seperti bangunan yang ditinggalkan oleh mesin waktu, tampak anggun dan elegan, menyendiri di antara bangunan modern yang menjamur di sekelilingnya. Hansel mematikan mesin mobil, kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk Cecille.


Telapak tangan Cecille mulai berkeringat saat melihat ayahnya berdiri di dekat pilar depan pintu utama. Ia menepis tangan Hansel yang melingkar di pinggangnya, tapi pria itu bersikeras dan menahan jemarinya di sana. Dari kejauhan Cecille bisa merasakan tatapan ayahnya yang dipenuhi rasa ingin tahu. Meski ia sendiri berpikiran terbuka dan modern, kedua orang tuanya masih sangat konvesional.


“Papa,” sapa Cecille ketika berhenti di depan ayahnya. “Ini Hansel Roux, Papa sudah pernah bertemu dengannya saat di kantor polisi.”


“Selamat siang, Tuan,” sapa Hansel seraya membungkuk dengan sopan dan mengulurkan tangannya ke arah sang Marquess.


“Aku baru saja ingin keluar untuk mencarimu. Kamu membuat mamamu cemas, Cecille,” ucap Antonio.


Cecille menunduk malu-malu. Ucapan ayahnya membuatnya terlihat seperti gadis kecil berusia tujuh tahun yang pergi bermain tanpa meminta izin.


“Sayang, kamu dari mana saja? Menghilang sejak kemarin tanpa kabar, membuatku sangat khawatir!” seru Maria dari atas anak tangga.


“Oh, ada tamu,” sambung wanita itu saat melihat Hansel berjalan masuk bersisian dengan putrinya. Ia bergegas turun dan menghampiri mereka di lantai bawah.


“Sayang, kamu ingat pemuda yang menyelamatkan Cecille tempo hari? Ini dia, Hansel Roux,” kata Antonio kepada istrinya.


Maria yang sudah mencapai lantai dasar segera menghampiri putrinya dan Hansel yang berdiri di samping suaminya.


“Bagus sekali, karena sudah datang ... mari makan siang bersama,”ajak Maria dengan sangat bersemangat.


“Mama ....” Cecille menahan lengan ibunya. “Ada yang ingin aku dan Hansel bicarakan.”


Melihat ekspresi serius bercampur cemas di wajah putrinya membuat Antonio dan Maria menyadari ada hal serius yang ingin dibahas oleh putri mereka. Sang Marquess memberi isyarat agar Cecille dan Hansel mengikutinya ke ruang tamu.


Setelah mereka semua duduk berhadapan, pria itu membuka suara, “Ada apa?”


Cecille melirik ke arah Hansel sekilas, lalu kembali menatap ayahnya. Tiba-tiba lidahnya kelu, mulutnya tidak mau terbuka meski kalimat yang diaturnya sudah melayang-layang di dalam kepala.


“Ada apa, Sayang?” tanya Maria yang mulai ikut merasa cemas. Hatinya memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi antara putrinya dan pemuda bermarga Roux itu.


Melihat Cecille yang hanya memilin jemarinya dengan gelisah dan tidak berani menatap kedua orang tuanya, Hansel akhirnya berdeham dan berniat untuk mewakilinya dan memberitahukan kepada kedua orang tuanya.


“Tuan, Nyonya—“


“Mama, aku hamil.” Cecille mendongak dan menatap kedua orang tuanya, lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi.


“Apa katamu?” Antonio tercengang.


Maria sama terkejutnya dengan suaminya. Ia menatap putrinya dan Hansel bergantian dengan ekspresi tak percaya.


Hamil?


Dihamili oleh pemuda itu?


Bukankah mereka berdua belum terlalu lama saling mengenal?


Bagaimana bisa?


***


Haiii kalian semua, as i promised, semuanya akan happy ending di kisah ini.


semoga kalian suka, ya😁


oh, ya, mungkin beberapa bab lagi kisah ini akan berakhir.


kalau boleh, komen dong bagian yang paling berkesan untuk kalian dari seluruh cerita yang hampir mencapai 200 bab ini (fiuuuh, cerita terpanjang yang pernah saya tulis😅😅😅)


komentar dari kalian itu obat semangat paling ampuh dan mujarab. terima kasih sudah menemani sampai sejauh ini.


love you all



~B