Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Cemas



Setelah hampir 15 menit berkendara, guncangan dalam mobil perlahan berkurang sebelum akhirnya sepenuhnya berhenti. Pintu mobil terbuka, membuat cahaya lampu yang cukup terang menerobos masuk ke dalam kotak besi itu.


Empat orang petugas medis segera masuk dengan membawa tandu. Mereka memindahkan tubuh Hiro dengan hati-hati, lalu meletakkan tandu ke atas brankar yang sudah berada di dekat pintu mobil. Orang-orang berseragam putih itu lalu mendorong Hiro melewati halaman.


Keiko segera melompat turun dan berjalan cepat mengikuti rombongan paramedis itu. Wajahnya benar-benar terlihat cemas. Baru kali ini ia melihat Hiro tidak berdaya seperti itu. Biasanya pria itu selalu menatapnya dengan sorot mata yang tajam dan membara. Akan tetapi, kali ini dia terus menutup mata meski Keiko sudah memanggilnya berkali-kali.


Tandu Hiro dibawa memasuki sebuah bangunan yang memiliki perpaduan arsitektur zen dan gaya modern. Cat temboknya didominasi oleh warna putih dan abu-abu. Selain bentuk dan warna bangunan, Keiko tidak sempat memerhatikan ornamen dan hiasan dalam bangunan yang menyerupai kantor itu. Ia terlalu fokus berlari di sisi brankar.


Hingga akhirnya ketika mereka berhenti di depan sebuah pintu kaca, Keiko ditahan oleh seorang pria yang memakai pakaian mirip seragam militer. Gadis itu sedikit mengernyit karena ia belum pernah melihat jenis seragam seperti itu sebelumnya.


“Nona, Anda tidak boleh masuk,” cegah pria itu seraya memblokir akses Keiko di depan pintu.


“T-tapi ... tunanganku—“


“Tenanglah, Nona. Ada dokter spesialis di dalam. Tunangan Anda akan ditangani dengan baik. Silakan tunggu di luar. Rekan saya akan membantu Anda untuk membersihkan diri.”


“Oh.”


Keiko termangu. Ia mematung dan menatap daun pintu yang tertutup rapat. Jika Hiro tidak berhasil selamat, apa yang harus dikatakannya kepada Tuan Kobayashi? Apa yang harus ia lakukan ....


“Nona, silakan ikut saya.”


Keiko mengerjap pelan ketika seorang wanita yang berdarah Jepang sama seperti dirinya sudah berdiri di sebelah pria yang tadi menahannya untuk masuk.


Keiko menggigit bibir dan ragu-ragu untuk memutuskan. Ia tidak tahu sekarang berada di mana. Ia juga tidak tahu apakah orang-orang ini ingin membantunya atau justru bermaksud jahat. Akan tetapi, untuk saat ini ia sungguh tidak punya pilihan lain. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti wanita yang tampak sedikit lebih tua darinya itu.


Mereka berbelok ke lorong sebelah kiri, berjalan lurus melewati pintu-pintu lainnya. Keiko terus mengikuti ketika wanita di depannya kembali berbelok ke kiri. Mereka melewati beberapa petugas berseragam semi militer yang berjaga di setiap sudut ruangan, lalu memasuki ruangan yang pintunya berwarna putih.


Wanita berambut cepak itu membuka lemari di dekat jendela dan mengambil satu setel kaos dan celana training. Keiko melirik sekilas pada name tag yang menempel di dadanya.


Kim.


Namanya Kim.


Sepertinya itu hanya nama panggilan, atau nama samaran ... entahlah, Keiko tidak mau ambil pusing. Ia mengulurkan tangan untuk menerima pakaian yang disodorkan oleh Kim.


“Silakan, Nona. Maaf, hanya itu yang tersedia di sini,” ujar Kim.


“Tidak apa-apa. Terima kasih,” balas Keiko.


“Untuk sementara, Anda dapat beristirahat di sini. Jangan khawatir, kami akan memberitahu jika Tuan Kobayashi sudah siuman.”


“Baik.” Keiko mengangguk pelan. Memangnya apalagi yang bisa ia katakan?


“Um, sebelum berganti pakaian, izinkan saya untuk mengobati luka Anda,” kata Kim seraya kembali membuka lemari dan mengambil kotak P3K.


Keiko menunduk dan baru menyadari jika telapak kakinya lecet. Betis kanannya tergores cukup dalam, sepertinya terkena pecahan kaca. Ia tidak menyadarinya. Sekarang luka-luka itu baru terasa pedih.


“Berikan saja kotak obatnya, aku bisa sendiri,” ujar Keiko sambil duduk di tepi ranjang yang ada dalam kamar.


“Kapten?”


“Um, Kapten Andrew. Dia menugaskan saya untuk merawat Anda. Jadi selama di sini, apa pun yang Anda butuhkan, silakan sampaikan kepada saya.”


Andrew. Pria itu ....


“Katakan padanya, aku tidak membutuhkan belas kasihannya.”


“Tapi, Nona—“


“Keluarlah, aku bisa sendiri.”


Kim terlihat serba salah. Kapten Andrew dengan jelas memintanya untuk menjaga Nona Sakamoto, tapi jika gadis itu menolak, tidak mungkin ia harus memaksanya, ‘kan?


Akhirnya wanita itu menunduk sekilas dan berkata, “Baiklah. Saya ada di luar jika Anda membutuhkan saya.”


Keiko bergeming hingga Kim menghilang di balik pintu. Kedua tangannya terkepal erat. Ia tahu secara tidak resmi telah menjadi tahanan di tempat ini. Entah sampai kapan.


Ia mengedarkan pandangan dan menemukan bahwa kamar itu cukup luas. Tidak ada banyak hiasan di tembok, hanya ada sebuah lukisan abstrak dalam bingkai biru dan sebuah jam dinding antik. Sebuah kursi dan meja di sisi ranjang, juga sebuah meja rias di samping lemari. Ranjangnya terasa cukup empuk.


Keiko mendengkus dan mencibir sekilas. Ia tidak tahu harus merasa senang atau kesal. Fakta bahwa Andrew Roux menutupi identitas entah mengapa berhasil membuatnya marah. Akan tetapi, kenyataan bahwa pria itu juga memutuskan untuk menyelamatkannya meskipun tidak ada dalam daftar yang harus diselamatkan membuatnya sedikit ... um, bagaimana menjelaskannya? Senang? Berbunga-bunga?


Tidak. Tidak. Itu terlalu berlebihan. Ia hanya merasa ... seperti memiliki arti lebih bagi pria itu.


Atau, benarkah begitu?


“Oh, astaga ....”


Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu bangun dan menuju pintu cokelat di seberang ranjang. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan dan menyadari kamar mandi itu cukup lengkap. Ada air hangat, juga sudah tersedia handuk dan perlengkapan mandi yang masih baru.


Setelah menimbang-nimbang sejenak, akhirnya Keiko memutuskan untuk membersihkan diri sebelum berganti pakaian. Kalau pun menjadi tahanan, ia akan menjadi seorang tahanan yang bersih dan segar. Tidak boleh terlihat lusuh dan menyedihkan.


“Pemikiranmu kadang-kadang benar-benar konyol, Keiko,” gumam gadis itu pada dirinya sendiri.


Ia mendesah pelan sebelum menyalakan shower. Guyuran air hangat membuat tubuhnya sedikit relaks, meskipun menyebabkan luka di kaki dan betisnya berdenyut perih. Tidak masalah, ia bisa menahan rasa sakit itu.


Tapi Hiro ... bagaimana keadaannya? Bagaimana kalau dia mati? Apa yang harus aku lakukan?


Sejujurnya, Keiko takut Mr. Sora akan mengira dirinya bersekongkol dengan para penyusup di acara amal tadi. Atau bahkan yang lebih parah, bagaimana kalau pria berdarah dingin itu menuduhnya bersekongkol dengan komplotan Andrew? Sudah pasti ia tidak akan selamat. Pria tua itu pasti akan mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun.


Ia tidak memiliki bukti apa pun untuk membela diri. Oleh karena itu, ia sangat berharap Hiro bisa bertahan dan selamat agar bisa menjelaskan pada ayahnya bawah ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua kekacauan ini.


Hiro, bertahanlah ... jangan tinggalkan aku menghadapi ini sendirian. Kalau tidak, aku juga pasti akan mati ...


***