Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kebenaran terungkap



Melihat atasan mereka dijatuhkan, para pengawal langsung menodongkan senjata mereka ke arah Andrew. Mereka mengepung dan berdiri mengelilingi dengan rapat. Tindakan itu membuat Andrew menampilkan ekspresi mencemooh dan jijik.


“Aku hanya sendiri, kalian ada begitu banyak ... tetapi begitu takut kepadaku? Lucu sekali,” ejek Andrew, sengaja memancing amarah Ryuchi.


Benar saja, tak lama kemudian Ryuchi mendorong beberapa pengawal yang berdiri di depannya dan merangsek maju. Ia menggeram dan menerjang ke arah Andrew, mencengkeram kerah baju Andrew erat-erat sambil berkata, “Kamu sudah mengacaukan rencana yang kususun selama belasan tahun. Kali ini, lihatlah bagaimana aku menghabisi kekasihmu itu!”


Mata Andrew membulat dan memancarkan sorot mengejek. Senyumannya yang misterius seolah menyimpan rahasia.


“Kekasih? Kekasih yang mana? Sepertinya Tuan Ryuchi salah mengenali orang,” balasnya dengan santai. Ekor matanya melirik sekilas ke altar, kemudian kembali menatap ke arah Ryuchi yang tampak linglung di hadapannya.


Semua gerak-gerik Andrew itu tidak luput dari pengamatan Ryuchi. Dari ketenangan yang terpancar dari tubuh Andrew Roux, sepertinya pria itu tidak hanya sedang menggertaknya saja. Pupil Ryuchi menyusut. Tanpa sadar cekalannya di kerah baju Andrew melonggar. Keyakinannya mulai goyah. Kini rasa panik pelan-pelan menggerogoti jiwanya dan membuat wajahnya sedikit memucat.


“Apa maksudmu?” tanya Ryuchi dengan suara tercekat. Semua rasa percaya diri dan kesombongannya menguap entah ke mana.


“Maksudku, apakah kamu pikir bisa menyusup ke dalam penjagaan yang berlapis di rumah sakit karena kamu hebat? Kamu pikir ... helikopter itu bisa mencapai lantai 12 karena kemampuanmu sendiri? Sayang sekali. Tidak ada satu hal pun yang terjadi tanpa izin dariku, itu artinya ... oh, apakah kamu sudah memeriksanya?” Telunjuk Andrew mengarah ke sosok yang masih berbaring di atas altar. “Apakah kamu yakin dia adalah Sakamoto Keiko? Sudah memeriksanya sebelum membawanya ke sini?”


Mulut Ryuchi membuka dan menutup beberapa kali, tapi tak ada satu kata pun yang ia ucapkan. Tangannya perlahan terlepas dari kerah baju Andrew dan terkulai di sisi tubuhnya. Jemarinya terkepal erat hingga kuku-kukunya menancap dalam telapak tangan. Seolah ada pergolakan batin yang sangat hebat di dalam dadanya, deru napasnya meningkat hingga membuat bahunya bergerak naik-turun tak beraturan.


“Kamu hanya sedang menggertakku,” desis Ryuchi setelah berhasil mengendalikan emosinya.


Andrew terkekeh pelan, terus memberikan provokasi secara terang-terangan. Ia menggelengkan kepalanya dan mengacungkan telunjuk tepat ke wajah Ryuchi.


“Kamu hanya akan muncul jika sudah merasa menang, kalau tidak ... pasti bidak-bidakmu saja yang maju dan membuat kekacauan. Oleh karena itu, aku memberikan apa yang kamu inginkan, membuatmu merasa bahwa kamu sudah memegang kendali, membuatmu mengira bahwa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau ... tapi ....” Andrew mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh sebelum melanjutkan, “Sudah kukatakan sebelumnya, sayang sekali kemampuanku masih jauh di atasmu, Tuan Muda Nakamura.”


Ryuchi tidak membalas semua ejekan Andrew itu. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menahan keinginan untuk menghajar Andrew Roux sampai babak belur. Dengan satu gerakan cepat ia membalikkan tubuh dan berderap menuju altar. Hampir satu menit pria itu mematung di sana, menatap sosok yang terbaring di atas altar lekat-lekat, seolah ingin menguliti gadis itu dengan sosot matanya yang tajam dan penuh dengan kebencian.


Selama menjadi bawahan Hiro, ia juga mengamati Sakamoto Keiko setiap kali ada kesempatan. Tinggi badannya, postur tubuhnya, bentuk hidung dan matanya, bahkan makanan kesukaannya ... semuanya ia tahu. Tidak mungkin ada kesalahan. Ia sudah memperhitungkan semuanya dengan sangat matang. Tidak mungkin meleset.


Tanpa sadar tangan kanan Ryuchi terulur ke depan dan menekan pangkal leher gadis yang masih terbaring dengan mata terpejam itu. Semakin lama tekanannya semakin keras. Pria itu menggunakan seluruh kekuatannya tanpa menguranginya sama sekali. Ia melirik sekilas ke bawah dan mendapati ekspresi Andrew yang tampak acuh tak acuh.


Hal itu membuatnya semakin kesal dan menggunakan kedua tangannya untuk mencekik. Ia tidak percaya Andrew benar-benar tidak akan memberikan reaksi sama sekali, atau tidak melakukan apa pun untuk menolong kekasihnya.


“Percaya tidak, aku akan mencekiknya sampai mati, lalu memotong-motong tubuhnya untuk diberi kepada anjing liar,” geram Ryuchi dengan aura ingin membunuh yang terpancar jelas dari tubuhnya, “Setelah itu kita lihat bagaimana aku akan menghabisimu.”


Andrew masih berdiri dengan tenang. Tidak menanggapi semua tingkah gila Ryuchi. Seolah gadis yang sedang dicekik itu tidak ada hubungan dengannya sama sekali.


Di depan sana, gadis yang terbaring di atas altar tiba-tiba tersentak bangun sambil terbatuk hebat. Matanya melotot hingga urat-urat merah di matanya terlihat jelas. Ia mencekal tangan Ryuchi dan memukul-mukulnya sekuat tenaga.


“Le-lepaskan ...,” desisnya dengan suara yang terdengar serak dan jelas menahan rasa sakit.


Mendengar suara yang asing itu membuat Ryuchi terhuyung ke belakang hingga nyaris terjungkal dari atas altar. Ia menatap gadis yang sekarang sudah setengah berdiri itu dengan ekspresi yang campur aduk. Seluruh tubuh gadis itu jelas-jelas adalah milik Sakamoto Keiko, tapi mengapa suara yang keluar dari mulutnya terdengar berbeda.


“Siapa kamu?” gertak Ryuchi setelah pulih dari keterkejutannya.


“Aku? Aku adalah ... ah ...." Gadis itu tampak linglung sesaat. Ia menoleh ke sekeliling dengan hati-hati, kemudian menemukan kembali kesadarannya.


“Tidak mungkin!” raung Ryuchi dengan murka.


Seluruh tubuhnya gemetar hebat ketika melihat gadis di hadapannya menyeringai seraya memegang sebuah topeng kulit. Wajah asli gadis itu terlihat sangat jauh berbeda dari Sakamoto Keiko. Dengan wajah bulat dan rambut pirang yang dipotong cepak ... benar-benar bukan dia. Hanya postur tubuh mereka yang benar-benar mirip, selain itu ... mereka benar-benar orang yang berbeda.


Itu bukan Sakamoto Keiko!


Jovanka yang ada di bawah pun tercengang, menatap Andrew dan gadis pengecoh itu bergantian. Wajahnya memucat. Ia sama sekali tidak menyangka jika Andrew Roux akan menggunakan cara nekat seperti ini untuk memancing Ryuchi agar keluar dan menunjukkan identitas aslinya. Wanita itu terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangannya. Ia menoleh dan menatap Andrew dengan ekspresi yang rumit. Seharusnya ....


Andrew berdeham untuk menarik perhatian Ryuchi dan berkata, “Menyerahlah. Seharusnya sekarang semua pasukanmu di luar sudah dibekuk. Kalau kamu menyerahkan diri baik-baik, ada—“


“Mimpi!” teriak Ryuchi seraya menatap Andrew dengan mata memerah. Tangan kanannya mengacung ke arah Andrew sambil berseru kepada pengawalnya, “Bunuh mereka semua!”


Para pengawal serentak mengarahkan senjata ke arah Andrew. Namun, sebelum mereka menarik pelatuk, gadis di atas altar lebih dulu mengayunkan tangannya ke depan.


Sret!


Sebilah pengait meluncur dalam lengan bajunya dan melilit erat tangan para pengawal yang paling dekat. Ia menarik tali besi itu kembali sehingga tubuh para pengawal tertarik dan terjerembab ke depan. Aksi itu mengalihkan perhatian sisa pengawal yang lain. Kini mereka mengincar sang gadis yang sudah melompat dan berlari untuk berlindung di balik pilar marmer.


Saat para pengawal masih berfokus pada gadis itu, secepat kilat Andrew mengambil senjata yang tadi terjatuh di lantai dan berlari menjauh, bersembunyi di balik pilar yang paling dekat dengannya.


Dor!


Dor!


Dor!


Dalam sekejap ruangan bawah tanah itu kacau balau. Para pengawal yang masih berada di tengah kubah menjadi sasaran empuk peluru yang melesat keluar dari selongsongnya, beberapa yang selamat melarikan diri dan bersembunyi di balik pilar-pilar yang lain.


Ryuchi yang tidak menyangka keadaan akan berbalik seperti ini hanya bisa berjongkok dan bersembunyi di balik altar. Semua rencananya ....


Tidak mungkin!


Matanya berkilat seperti seekor binatang buas yang terluka. Cakarnya menancap erat dan menusuk daging di telapak tangannya hingga berdarah.


Tidak ada yang boleh menggagalkan rencananya! Sama sekali tidak boleh!


***


Haii... maaf untuk late update, lg kurang fit sejak dua hari lalu, kepala dan badan rasanya nggak karuan.


Semoga kalian yang membaca ini sehat selalu yaa...


salam sayang, B ❤️