
Rumah Sakit Militer.
Sesuai perintah Andrew, seluruh penjagaan di rumah sakit militer Kota Chiba diperketat. Lantai 12 tempat Keiko dirawat dikosongkan. Selain dokter dan perawat yang bertugas, dua lusin pasukan khusus berjaga di sepanjang selasar depan kamarnya. Tidak ada yang bisa keluar atau masuk selain tenaga medis yang bertugas.
Kim berjaga di depan pintu kamar, memindai setiap orang yang hendak masuk ke kamar pasien. Sistemnya sudah di-upgrade sehingga tersambung langsung dengan satelit milik EEL. Dengan demikian, ia memiliki kemampuan seperti kamera CCTV yang dapat merekam wajah seseorang, memasukkannya ke dalam pusat data dan menemukan identitas orang tersebut hanya dalam hitungan detik.
Ketika Keiko memasuki ruang perawatan tadi, Garry sudah mengirimkan akses untuk mengunduh semua data petugas medis yang ada di rumah sakit militer. Dengan kemampuan itu, sudah pasti tidak akan ada yang bisa menerobos masuk ke ruangan Keiko. Apalagi dengan pasukan berlapis yang berjaga mulai dari pintu masuk rumah sakit hingga lorong-lorong di tiap lantai.
Semua fasilitas penjagaan itu bukan hanya karena Keiko adalah kekasih Andrew saja, melainkan keputusan langsung dari markas EEL. Sakamoto Keiko adalah kunci dari semua pertikaian dan pertumpahan darah itu, dia tidak boleh jatuh ke tangan yang salah. Oleh karena itulah semua akses khusus diberikan untuk keselamatannya.
Kim menghela napas. Sudah hampir sepuluh kali para perawat bergantian keluar-masuk ke dalam kamar Keiko dengan alasan pemeriksaan rutin, mengantar pakaian ganti, hingga mengecek suhu tubuh. Tentu saja ia harus memindai semua orang itu berulang kali.
Baru saja salah seorang perawat keluar dari kamar itu, Kim kembali menoleh ketika terdengar suara pintu yang dibuka dari balik tubuhnya. Seorang perawat berambut pirang keluar dan berbicara dengan Kim.
“Nona, pasien sudah sadar,” ujar perawat itu, “Silakan kalau Anda ingin menjenguknya.”
“Baik,” jawab Kim. Ia bergegas masuk dan menghampiri Keiko yang masih berbaring di ranjang.
“Nona Keiko, bagaimana keadaanmu?” tanyanya ketika melihat Keiko tersenyum kepadanya.
“Lumayan,” jawab Keiko dengan suara serak.
“Mau minum?” tawar Kim.
“Boleh.”
Kim mengambil gelas dan mengisi air dari dispenser, lalu menyerahkannya kepada Keiko.
“Terima kasih.” Keiko menerima gelas itu dan meminum isinya sampai tandas. Sekarang kerongkongannya terasa jauh lebih baik. Ia menyerahkan gelas kosong kepada Kim dan bertanya, “Berapa lama aku tertidur?”
“Tidak lama. Hanya sekitar 30 menit,” jawab Kim sambil tersenyum tipis. Ia mengembalikan gelas ke tempat semula dan kembali ke sisi ranjang.
“Oh. Aku pikir sudah tertidur seharian. Rasanya sudah lama sekali,” balas Keiko sedikit terkejut.
“Mungkin karena pengaruh obat biusnya,” ujar Kim seraya menarik bangku dan duduk di samping Keiko, “Apakah efeknya sudah hilang? Lukanya mulai terasa sakit lagi?”
Keiko menyeringai dan mengangguk. Luka di pinggang dan betisnya memang mulai berdenyut nyeri.
“Apa perlu kupanggilkan dokter untuk memberikan pereda nyeri?” tawar Kim.
Keiko menggeleng cepat dan menjawab, “Tidak. Tidak usah. Masih bisa aku tahan.”
“Kalau begitu ....” Kim tampak ragu-ragu sejenak. Ia tahu waktunya tidak tepat, Keiko baru saja siuman. Akan tetapi, situasinya mendesak. Tidak bisa menunggu terlalu lama.
“Ada apa?” tanya Keiko saat menyadari ekspresi wajah Kim yang tampak serius, “Apa terjadi sesuatu pada Andrew?”
Kim menggeleng cepat. “Tidak, Kapten baik-baik saja. Jangan khawatir. Tapi ....”
“Apa? Ada apa?” Keiko menatap Kim dengan cemas.
“Kim ....”
“Nona Keiko, dengarkan saya baik-baik.” Kim lalu mendekat dan berbisik di telinga Keiko. Ekspresi wajahnya benar-benar serius.
Keiko mendengarkan dengan cermat. Mata bulatnya semakin lebar ketika Kim selesai menjelaskan situasi kepadanya. Isi kepalanya mendadak kosong sehingga membuatnya linglung sekejap. Informasi yang diberitahukan oleh Kim terlalu mengejutkan, ia perlu waktu untuk mencernanya dengan baik.
“Kamu yakin itu akan berhasil?” tanyanya setelah pulih dari keterkejutannya.
“Ya. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan semua ini. Tenanglah, ada Kapten Andrew. Semuanya pasti baik-baik saja,” jawab Kim untuk menenangkan gadis di hadapannya.
“Baiklah kalau begitu. Aku percaya kepadamu.”
Kim tersenyum lega dan berkata, “Kalau begitu bersiaplah. Aku akan kembali ke depan.”
“Ya. Kamu juga berhati-hatilah.”
Kim tersenyum dan bangkit dari kursinya. Ia membungkuk dengan hormat, lalu berjalan menuju pintu. Ia melanjutkan tugasnya untuk berjaga, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam ruang perawatan tadi.
“Nona, saya ingin mengantarkan makanan untuk pasien.”
Kim menoleh ketika mendengar suara lembut yang datang dari hadapannya. Ia memperhatikan gadis yang memakai seragam perawat dan berdiri sekitar tiga langkah di depannya. Gadis itu membawa troli berisi makanan yang tampak penuh dengan beragam hidangan.
“Ini kartu tanda pengenal saya,” sambung gadis itu lagi seraya menyodorkan sebuah kartu platinum ke arah Kim.
“Tunggu sebentar,” jawab Kim sambil menerima kartu itu dan memindainya.
Ia juga mencocokannya dengan pemindai retina pada wajah gadis itu. Setelah yakin tidak ada kekeliruan, ia menyingkir dari depan pintu dan memberi jalan agar gadis itu dapat masuk ke ruang perawatan Keiko.
Kim kembali siaga di depan pintu. Begitu pun para pengawal yang ditugaskan untuk menjaga ruang pasien. Tak ada satu pun yang tampak lengah atau acuh tak acuh.
Lima belas menit kemudian, sang perawat pengantar makanan keluar dengan mendorong troli yang sama. Bedanya kini bagian atas troli itu berisi piring dan mangkuk kosong.
Diam-diam Kim menghela napas lega. Kalau sampai Nona Keiko tidak mau makan, Kapten Andrew pasti akan meminta pertanggungjawaban darinya.
“Nona, pasien sudah selesai makan,” lapor sang perawat seraya membungkuk dengan sopan.
“Baik,” jawab Kim seraya menyingkir dan membiarkan gadis itu lewat.
“Terima kasih,” ujar gadis itu, kemudian melanjutkan mendorong troli menyusuri selasar.
“Hey!” Kim memanggil salah seorang penjaga yang ada di dekatnya dan memberi isyarat agar pria itu mendekat.
“Aku ingin ke kamar mandi sebentar. Tolong gantikan aku dan berjaga di sini. Apa pun yang terjadi, jangan pergi ke mana-mana. Tunggu aku kembali. Mengerti?” pesan Kim setelah pria itu tiba di hadapannya.
“Siap!” Pria itu memberi hormat dan berdiri tegap di posisinya.
Kim segera berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di ujung lorong. Namun, saat berbelok dan memasuki area kamar mandi, wanita itu menoleh dan memeriksa wilayah di sekitarnya dengan cermat. Setelah yakin tidak ada yang melihat, ia langsung berbelok ke arah tangga darurat dan mendorong pintu besi yang menghalangi jalannya. Dengan cepat wanita itu berlari turun satu lantai dan kembali mendorong pintu besi yang ada di ujung anak tangga.
Sementara itu di depan kamar Keiko, seorang pria yang memakai jubah dokter segera menyelinap keluar dari balik bayang-bayang pilar bangunan begitu melihat Kim pergi dari area itu. Ia sudah menunggu sejak tadi. Tidak mudah untuk menyusup ke dalam penjagaan yang berlapis seperti ini. Lebih tidak mudah lagi untuk bersabar dan menunggu hingga Kim pergi. Namun, kini semuanya terasa sepadan.
Sambil berjalan menuju penjaga yang berdiri di depan kamar Keiko, pria itu membetulkan letak kacamata agar posisinya tidak bergeser dari ujung hidungnya.
“Selamat pagi, sudah waktunya pemeriksaan rutin untuk Nona Keiko,” ujarnya kepada penjaga yang menghadang di depan pintu. Ia mengeluarkan tanda pengenal dari saku jas dan menyerahkannya kepada penjaga itu.
Sang penjaga memeriksa sebentar, lalu memberi izin untuk masuk. Dokter itu tersenyum lebar dan melangkah ke dalam. Ia menutup dan mengunci pintu, lalu melenggang menuju ranjang tempat Keiko sedang berbaring dengan mata terpejam.
“Sakamoto Keiko, kita bertemu lagi ....”
Pria itu mengeluarkan jarum yang sudah disiapkan di dalam jasnya dan mengarahkan ujungnya yang berkilat ke leher Keiko.
Setelah selesai menyuntikkan semua isi cairan, pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan.
Paket siap dijemput.
Pria itu kemudian membelit seluruh tubuh Keiko ke dalam selimut dan membopongnya menuju balkon. Ia menyeringai lebar ketika suara baling-baling helikopter terdengar semakin mendekat. Ia sangat puas, semua berjalan sesuai rencananya.
Dugh! Dugh! Dugh!
“Buka pintunya!”
Terdengar teriakan dan gedoran dari balik pintu, tapi pria itu tidak menggubris.
Dugh! Dugh! Dugh!
“Siapa di dalam? Buka pintunya!”
Pria itu bersenandung kecil, lalu meraih tali yang terulur dari atas helikopter. Ia melilitkan tali itu ke tubuh Keiko, mengunci pengaitnya, lalu memberi tanda agar tali ditarik ke atas.
Dugh! Dugh! Dugh!
Dugh! Dugh! Dugh!
Gedoran semakin cepat dan kencang, tapi pria itu sudah melompat ke arah tangga yang terjulur beberapa senti dari balkon. Seringai lebar menghiasi wajahnya ketika helikopter membubung tinggi di angkasa.
Kini, tidak ada lagi yang bisa menghentikannya ....
***
Hmmm....
Apa yang akan terjadi kepada Sakamoto Keiko? Ke mana Kim pergi? Siapa dokter gadungan itu?
Ha-ha-ha....
Ayo, main tebak2an.
***
PS: yang bilang "Kim kan humanoid, kok bisa ke kamar kecil?"
kan sdh dikasih tau kl kim dimodifikasi sehingga bener2 menyerupai manusia,termasuk makan-minum-bab-bak.
kok bisa? ya bisalah ... dalam dunia haluku😂😂😂
lagian yg tau kl dia itu humanoid kan cuma kalian, tokoh lain dalam cerita mah gatau, kecuali Mr.Roux dan Keiko.
Mr.Tanaka sm Mr.Durrant yg tau pun sudah mati.😂😂
so,enjoy this story ❤