
Cahaya matahari menerobos jendela, menghasilkan bias pelangi di permukaan kaca yang basah karena embun. Masih terlalu pagi, tapi Mr. Tanaka sudah mengumpulkan semua orang di ruangan rapat. Wajah-wajah yang terlihat kurang tidur itu mendadak serius ketika sang pimpinan memasuki ruangan.
Tiga hari berjalan dengan sangat cepat. Semua orang berburu dengan waktu. Bahkan para mata-mata mengerjakan tugas mereka dengan sangat baik. Kepingan informasi dan detail-detail kecil dikumpulkan, dirangkai menjadi senjata berharga yang dapat digunakan untuk menaklukkan lawan.
Mr. Tanaka mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Informannya baru saja melapor bahwa Kobayashi Sora dan Sakamoto Zen sedang mengerahkan seluruh pasukan untuk mencari putra-putri mereka. Anak buah Robert Castillo pun menyusup dan menyebarkan desas-desus beredar di mana-mana. Spekulasi bermunculan, seperti magma yang menggelegak pelan di dalam perut bumi dan siap dimuntahkan kapan saja. Situasi sudah cukup memanas, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggunakan Hiro sebagai umpan.
“Luka Kobayashi Hiro sudah cukup pulih. Aku rasa, kita sudah bisa menggunakannya untuk memancing Robert Castillo keluar dari persembunyiannya,” ujar Mr. Tanaka. Ekspresi wajahnya terlihat serius.
“Baik, Sir. Kami akan mengatur tempat agar Hiro bisa muncul. Beberapa barang selundupan milik Robert masih ditahan oleh pria itu. Robert jelas tidak akan melepaskannya begitu saja,” jawab Jovanka dengan yakin.
Wanita itu cukup optimis karena Hiro sudah memberi tahu semua permasalahan antara dirinya dan Robert Castillo. Hiro mencoba memeras Robert dan menahan senjata ilegal yang diselundupkan dari Mexico melalui kargo miliknya. Hiro ingin memperluas wilayah jajahannya, tapi ia mencakar di tempat yang salah. Siapa sangka Robert Castillo sendiri yang langsung turun tangan dan datang ke Jepang untuk mengurusnya.
“Saya akan menemani Hiro ke salah satu klub malam yang biasa didatanginya. Menurut mata-mata kita yang mencari informasi di sana, anak buah Robert terlihat di beberapa tempat hiburan malam itu dan mengawasi dengan ketat. Saya rasa tidak akan membutuhkan waktu lama bagi Robert untuk memakan umpan yang kita lempar,” timpal Andrew seraya menunjuk beberapa titik lokasi dalam blue print yang melayang di atas meja.
“Itu adalah wilayah yang mencolok. Tempat-tempat itu selalu ramai dan cukup terkenal. Mari kita coba,” lanjutnya lagi seraya menatap Mr. Tanaka untuk meminta persetujuannya.
“Oke,” jawab Mr. Tanaka seraya mengangguk-angguk pelan, “Jangan lupa ikuti prosedur operasi dengan baik ... oh, bagaimana dengan gadis itu? Miss Sakamoto?”
“Kami masih menahannya di sini karena situasi di luar masih belum kondusif. Takutnya beberapa anak buah Robert masih berkeliaran dan mengincarnya,” jawab Andrew.
“Apa dia berulah?”
“Tidak. Dia sangat kooperatif, tidak pernah membantah atau mencoba melarikan diri.”
Jovanka memutar bola matanya ketika mendengar jawaban Andrew. Di sini ia sama sekali tidak berkutik karena harus tetap bersikap profesional, jadi ia tidak bisa mendekati Andrew atau mengerjai Keiko. Oleh karena itu, ia hanya bisa menahan semua rencananya. Lagipula, Andrew dan Keiko pasti akan berpisah kalau misi di sini sudah selesai. Jadi untuk saat ini, ia hanya harus bersabar.
“Bagus. Kalau begitu, mari rencanakan semuanya dengan baik.”
“Baik, Sir,” jawab Jovanka seraya memberi isyarat kepada rekan-rekannya agar mendekat.
“Mari kita coba hari pertama di Zeotrope. Andrew bisa lebih dulu masuk ke sana untuk mengawasi, jika anak buah Robert ada di sana, aku akan mengirim Hiro masuk. Jimmy akan menyamar untuk back up jika terjadi sesuatu di luar rencana. Sementara itu, Naoko dan Satoru yang mengurus jalur keluar-masuk. Mereka yang lebih hafal jalanan kota Tokyo dibanding yang lain.”
“Bagaimana dengan Kobayashi Sora dan Sakamoto Zen? Bukankah mereka juga sedang mencari anak mereka?” tanya Mr. Tanaka.
“Clark akan mengalihkan perhatian mereka. Untuk itulah saya meminta pasukan tambahan untuk membantu memblokir agar informasi ini tidak sampai kepada mereka. Setelah Robert berhasil ditangkap, kita bisa meringkus mereka dengan menggunakan anak-anak mereka sebagai tameng.”
Lagi-lagi Mr. Tanaka mengangguk pelan. Rencana ini terlihat sedikit kejam, tapi inilah satu-satunya cara untuk menumpas para mafia Jepang itu sampai ke akarnya. Kesempatan ini mungkin tidak akan pernah ada lagi. Oleh karena itu, ia akan mengambil kesemapatan ini, sekecil apa pun kemungkinannya untuk berhasil.
“Bagus. Segera siapkan semuanya. Pasukan tambahan yang kamu minta akan segera datang. Sekarang persiapkan diri kalian. Aku ingin misi ini segera dijalankan.”
“Baik, Sir!” jawa semua orang dalam ruangan itu serentak.
“Ikut denganku,” ujar Mr. Tanaka seraya memberi isyarat kepada Jovanka.
Wanita itu bangun dan mengikuti Mr. Tanaka dengan patuh. Sedangkan Clark bangun dari tempat duduknya seraya menguap. Ia baru tidur selama tiga jam setelah hampir 12 jam mengintai di kediaman Sakamoto.
Jimmy mendesah pelan dan mengusap wajahnya yang kuyu. Profesi sementara sebagai tukang kebun di keluarga Kobayashi membuatnya hampir mati muda. Setiap hari, ada orang-orang yang dibawa masuk ke dalam rumah megah itu, tapi tidak pernah keluar lagi.
“Aku rasa aku akan tidur lagi ... mungkin lima belas menit,” gumam Clark seraya berjalan keluar.
“Aku ikut denganmu,” timpal Jimmy sambil merangkul pundak Clark.
“Kamu tidak ikut?” tanya Clark ketika melihat Andrew berbelok ke arah yang berlawanan.
Andrew melambaikan tangan sambil terus berjalan. Ia harus menyampaikan ini semua kepada Keiko. ia ingin gadis itu juga berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Apalagi kalau ayahnya akan ditangkap dalam operasi selanjutnya. Andrew tidak ingin gadis itu mengetahuinya dari orang lain.
***