Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Plan-B



“Pergi ke lorong sebelah kiri! Aku sudah memasang tanda di dekat toilet!” seru Andrew pada Clark dan Jovanka.


Ia mengaktifkan pemindai pada softlens yang dipakainya. Puluhan siluet pria bersenjata lengkap langsung bermunculan dalam kegelapan, bergerak dengan penuh perhitungan dan menyerang anak buah Hiro. Tampaknya para penyusup itu menggunakan alat pemindai panas tubuh.


Hal itu terlihat dari sinar laser yang membidik ke beberapa titik dengan akurat, disusul suara yang memekakkan telinga dari peluru-peluru yang melesat dari selongsongnya. Anak buah Hiro yang tidak memiliki persiapan hanya bisa berteriak dan meregang nyawa ketika timah panas menembus tubuh mereka.


Andrew merangsek keluar. Ia menghindar dari beberapa orang yang berpapasan dengannya, lalu mengambil pulpen yang tersemat di saku jas. Setelah menekan tombol on, ia melemparkan benda itu ke anak tangga, tempat beberapa orang penyusup sedang menerobos naik.


Boom!


Suara ledakan disertai getaran yang cukup keras membuat tubuh-tubuh di anak tangga terpental. Andrew berlari masuk kembali ke ruangan VIP, menghiraukan jerit kesakitan dan semua kekacauan. Tidak ada waktu untuk mengurusi orang-orang itu, biarlah anak buah Hiro yang menghabisi sisanya. Prioritasnya sekarang adalah membawa putra Mr.Kobayashi keluar hidup-hidup dari tempat ini.


Jovanka segera bereaksi setelah Andrew mengalihkan perhatian musuh. Sambil merunduk, ia menarik simpul di atas wedges-nya sehingga bagian samping alas kaki itu otomatis terbuka. Dengan cepat ia mengambil sebuah alat kejut bertegangan tinggi dan menggenggamnya erat-erat.


Tiga orang pengawal Hiro yang berdiri di sekeliling pria itu terlalu fokus mengawasi pergerakan musuh sehingga tidak menyadari serangan Jovanka. Tubuh-tubuh itu berkelonjotan sebelum tumbang ke atas lantai ketika Jovanka menyetrum mereka.


“Ikutlah dengan kami,” ujar Jovanka seraya mengulurkan tangan ke arah Hiro.


Pria yang terluka itu mendesis dan hendak melawan, tapi Clark lebih dulu menangkis gerakannya dan mengunci kedua tangannya. Akhirnya Hiro hanya bisa mengerang dan mengumpat. Ia tidak memiliki kekuatan untuk berkelahi. Pundak kanannya terasa semakin panas, pedih menyengat kuat. Ia terlambat menghindar ketika peluru mulai berdesing di udara tadi. Sepertinya salah satu timah panas itu berhasil bersarang di belikatnya.


“Cepat bawa dia pergi!” seru Andrew dengan cukup keras, mengalahkan suara teriakan di sekitar mereka.


Ia lalu berlari menuju meja bar, menghampiri Keiko yang masih meringkuk sambil menutupi telinganya dengan tangan.


“Ayo, pergi dari sini,” ujar Andrew seraya menarik tangan Keiko.


Gadis itu mengikuti langkah Andrew tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia terlalu terkejut atas serangan kedua yang dialaminya ini. Tadinya salah satu alasan Hiro memaksanya untuk ikut ke sini adalah agar ada yang menjaganya. Tunangannya itu cukup yakin keamanan di sini sangat bagus. Namun, nyatanya pria itu salah besar. Para penyerang itu jelas terlihat lebih unggul.


“Cepatlah!” seru Andrew pada kedua rekannya yang masih tarik-menarik dengan Hiro.


Clark mencekal pergelangan tangan Hiro kuat-kuat dan menyeretnya keluar. Ia menggeram marah ketika masih merasakan perlawanan dari pria itu.


“Menurutlah kalau kau ingin selamat!” desis Clark seraya menarik tubuh pria itu melewati pecahan kaca yang berderak ketika terinjak.


Saat ini setiap detik sangat berarti. Jangan sampai para penyerang itu menyadari bahwa mereka sedang mengevakuasi Kobayashi Junior, kalau tidak ....


“Siapa kalian sebenarnya?” tanya Hiro yang tersaruk-saruk mengimbangi kecepatan langkah kaki Clark.


Pundak kanannya seolah akan terlepas. Cairan hangat yang merembes di bajunya sepertinya semakin banyak, menguarkan aroma anyir yang membuatnya mual. Sejujurnya, aroma anyir ini sepertinya tercium di mana-mana. Entah sudah berapa banyak nyawa yang telah melayang. Suara jeritan dari lantai bawah sudah tidak terdengar lagi, hanya tersisa suara-suara tembakan, perkelahian dengan tangan kosong, dan rintih kesakitan dari mereka yang masih bertahan.


“Diam!” sergah Jovanka seraya bersandar ke tembok di lorong kamar mandi pria.


Layar hologram di hadapannya berkedip-kedip, memberi tahu bahwa itu adalah lokasi yang sudah ditandai oleh Andrew. Wanita itu maju beberapa langkah, mencabut bross kupu-kupu di gaunnya dan menempelkan benda itu ke jendela kaca.


“Tunggu di sini,” kata Andrew pada Keiko.


Ia berjalan masuk ke dalam toilet dan melompat ke atas wastafel. Dengan satu dorongan kuat, pria itu menjebol saluran udara di langit-langit dan meraba-raba, mencari perlengkapan mereka yang sudah diselundupkan oleh Satoru.


Ketemu!


Pria itu segera membawa tas itu keluar dan membongkar isinya. Andrew, Clark, dan Jovanka melepaskan ikat pinggang mereka dan memakai sebuah alat pengaman yang terlihat seperti mini backpack. Mereka menarik ujung-ujung tali dari kanan dan kiri dan menyatukannya di depan perut. Dengan cekatan mereka juga memakai sarung tangan khusus yang dirancang untuk mengatasi gesekan dengan kawat baja. Tidak sampai satu menit, semua telah siap, lalu kembali ke posisi masing-masing.


Dalam kegelapan, bross yang ditempel oleh Jovanka berkedip-kedip. Wanita itu mengambil ikat pinggang yang tadi dilepasnya, lalu menekan semacam kait kecil di ujungnya. Ia menarik kait itu dan menyatukannya dengan alat pengaman di pinggangnya, kemudian mengambil ancang-ancang di dekat jendela.


“A-apa yang kalian lakukan?” tanya Hiro ketika melihat Andrew dan Clark melakukan hal yang sama. Ia sama sekali tidak bisa bergerak. Sekarang separuh tubuhnya terasa dingin dan mati rasa.


“Berpegangan padaku kalau kau ingin selamat,” jawab Clark seraya mengetatkan cekalannya di pinggang Hiro.


“Hey! Apa—“


Gadis itu menahan napas. Ia tidak berani protes atau pun mempertanyakan semua yang dilakukan oleh pria di sampingnya itu. Ia yakin Andrew bisa menyelamatkannya seperti kemarin, jadi yang ia lakukan adalah menempelkan tubuhnya dan berpegangan erat-erat di lengan pria itu.


“Sekarang!” teriak Jovanka lewat alat komunikasi, memberi isyarat kepada Jimmy bahwa mereka sudah siap.


Blup!


Pyar!


Ledakan kecil membuat kaca jendela pecah. Suara tembakan mulai terdengar mendekat, disusul oleh cahaya laser di mana-mana. Suara-suara dalam bahasa Mexico bergema di sepanjang lorong. Mereka harus melompat sekarang atau tidak akan ada kesempatan lagi.


Jovanka lebih dulu melompat dan menerjang keluar. Tubuhnya melayang, terjun bebas mengikuti gaya gravitasi. Melihat hal itu membuat Hiro ingin menarik tubuhnya dan melarikan diri, tapi Clark menyeret tubuh pria itu dan menyusul Jovanka.


“T-tidak! Tidak! Tidaaak ....” Jeritan Hiro menghilang terbawa angin.


Set!


Set!


Ujung sabuk yang menggantung bebas kini melesat bak anak panah, menembus tembok bangunan dan menancap erat. Tubuh Jovankan, Hiro, dan Clark sedikit melenting ke atas sebelum kembali meluncur turun dengan mulus.


Keiko sebenarnya sedikit gentar, tapi cekalan Andrew di pinggangnya membuatnya merasa aman.


“Tutup matamu,” ujar Andrew sebelum ikut melompat.


Dsing!


Suara peluru melesat di samping tubuh mereka membuat Keiko refleks menyusupkkan kepalanya ke dada Andrew. Gadis itu memekik pelan ketika tubuh mereka sedikit melambung ketika jangkar di ujung sabuk Andrew menancap di tembok.


“Jangan takut.”


Suara Andrew berbaur dengan angin yang berkesiur. Keiko menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Gaun putih gadis itu berkibar-kibar, tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Semua adrenalin yang mengalir di pembuluh darahnya saat ini membuat jantungnya hampir meledak.


Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan berpelukan dengan seorang pria asing dan melayang-layang di tengah kota Tokyo yang ramai, diiringi suara tembakan yang masih terdengar dari atas. Sepertinya para penyerang itu sangat gigih. Untung ada Andrew dan rekan-rekannya, kalau tidak, pasti dirinya dan Hiro tidak akan berhasil lolos.


Setelah beberapa menit yang terasa seperti sewindu, satu per satu tubuh yang melayang-layang itu akhirnya mendarat di atas gumpalan-gumpalan busa yang empuk.


Klik.


Jovanka melepaskan kait pada alat pengamannya, diikuti oleh dua Clark dan Andrew. Gerakan mereka melepas semua peralatan sama cepatnya dengan ketika memakai benda itu tadi.


“Jalan!” seru Jovanka seraya memukul sisi mobil hingga suaranya yang nyaring terdengar sampai ke depan.


Naoko menginjak pedal gas dalam-dalam. Suara ban berdecit terdengar bersamaan dengan suara tembakan yang bersahut-sahutan. Pemuda itu menekan tombol hijau di dashboard. Perlahan-lahan atap mobil yang menutup, melindungi para penumpangnya di belakang.


“Target aman.” Jovanka berbicara di alat komunikasinya. “Bersiaplah di posisi kalian.”


Naoko memutar kemudi ke arah kiri di persimpangan jalan. Sementara jauh di belakang sana, mobil-mobil hitam dengan kecepatan tinggi mengejar dengan kecepatan penuh.


***


Haii... semoga kalian sukaa...


Muahh dari Babang Alex ... eh, Andrew 😁


nih,yg minta visual 😂😂