
Setelah selesai mengobati luka-luka Keiko, Hiro menuntun meminta
pengawalnya membereskan sisa-sisa kapas yang berceceran di lantai.
“Mau pulang? Biarkan aku mengantarmu,” tawar Hiro.
Pria itu memerhatikan ekspresi tunangannya dengan waspada. Ia takut Keiko
akan kembali menjauh dan memasang jarak karena masalah ini. Susah payah ia
memperbaiki hubungan mereka yang sangat rapuh dan rentan. Pria itu sungguh
merasa tidak rela kalau semuanya menjadi kacau dalam sekejap.
Keiko menggeleng pelan dan menjawab, “Tidak perlu. Aku ingin menginap
di sini saja. Terima kasih.”
Ia sudah menggunakan kartu unlimited itu untuk membayar kamar VIP ini.
Sungguh sia-sia kalau ia harus pulang sekarang. Setidaknya, harga yang telah
dibayar tidak akan terbuang percuma.
“Kalau begitu aku akan menemanimu.”
“Tidak. Tidak usah, Hiro. Aku baik-baik saja,” jawab Keiko cepat. Ia
benar-benar sedang tidak ingin diganggu saat ini.
“Tapi, Sayang ... orang-orang ini, mereka sangat berbahaya dan kejam.
Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.”
Melihat sorot khawatir dalam tatapan Hiro membuat Keiko melunak. Ia mendesah
pelan dan mengulurkan tangannya.
“Berikan sepucuk Baretta padaku. Aku jamin aku akan baik-baik saja. Tadi
aku sama sekali tidak memiliki senjata apa pun yang dapat digunakan untuk
membela diri.”
Hiro menatap Keiko dengan mata menyipit. Kedua alisnya hampir bertaut
di kening.
“Siapa yang menolongmu? Bagaimana kamu bisa sampai di sini?” tanyanya
dengan wajah serius.
Karena terlalu mencemaskan Keiko, ia sampai tidak memikirkan hal itu
sebelumnya. Ia baru tersadar ketika tunangannya itu mengatakan tidak memliki
senjata. Kalau benar gadis itu tidak bersenjata maka kemungkinan untuk lolos
sangat kecil, apalagi bisa sampai di sini dengan hanya mengalami luka ringan. Pasti
ada seseorang yang telah membantunya.
“Aku bertemu seseorang. Dia membantuku melarikan diri dengan mobil
temannya,” jawab Keiko lugas.
“Seseorang?” tanya Hiro dengan tatapan menyelidik, “Apa aku mengenalnya?”
Keiko menggeleng dan menjawab, “Tidak. Kamu tidak mengenalnya.”
“Kamu mengenalnya?” cecar Hiro lagi. Ia memiliki semacam perasaan aneh
mengenai siapa pun yang menolong tunangannya itu.
Lagi-lagi Keiko menggeleng dan berkata, “Tidak, Hiro. Dia hanya orang
asing yang kebetulan lewat. Dia langsung pergi setelah mengantarku ke sini.”
Gadis itu tidak berniat menceritakan secara detail mengenai pertemuannya
dengan Andrew, atau pun mengenai *unlimited*access yang diberikan padanya. Kalau
Hiro sampai salah paham dan mencelakai Andrew, maka ia akan merasa berdosa
seumur hidup. Kalau bukan karena bantuan Andrew tadi, mungkin ia sudah
tertembak dan terkapar di jalanan, atau diculik dan dibawa entah ke mana.
“Sudah sangat larut. Aku ingin beristirahat,” ujar Keiko sebelum Hiro
mengajukan pertanyaan lagi. Ia bangun dan memberi tanda agar para pria dalam
ruangan itu segera keluar.
Hiro memasukkan tangan dalam saku celananya. Ia tahu Keiko sedang berusaha
menyembunyikan sesuatu, tapi ia juga sadar gadis itu pasti sangat lelah setelah
mengalami rentetan kejadian yang memacu adrenalin. Jadi akhirnya yang bisa ia
lakukan adalah mengalah dan menuruti keinginan Keiko.
“Aku akan mengirim beberapa pengawal untuk berjaga di pintu masuk.
Jangan khawatir, mereka tidak akan terlihat mencolok,” ujar Hiro seraya berdiri
di dekat kekasihnya.
Pria itu mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jasnya dan meletakkan
benda itu di tangan Keiko. Ia juga memberi isyarat pada salah seorang
pengawalnya agar mendekat.
“Berikan pada Nona Muda!” perintahnya dengan suara pelan tapi tegas.
di tangannya pada Keiko. Setelah itu, ia dan dua orang rekannya langsung
berjalan keluar dan menunggu di lorong. Mereka tahu Tuan Muda Kobayashi
memerlukan waktu berdua bersama tunangannya.
“Apa ini?” tanya Keiko seraya mengintip isi kantong belanja itu.
“Ponsel baru. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu,” jawab Hiro seraya
menatap Keiko lekat-lekat.
Tiba-tiba, taanpa aba-aba pria itu menyentuh dagu Keiko dan menarik
wajahnya mendekat. Gadis itu belum sempat bereaksi atau pun menyadari apa yang
sedang terjadi ketika dirasakannya sesuatu yang lembut dan basah menempel di
bibirnya.
Seluruh tubuh Keiko mendadak menegang, kaku bak sepotong kayu oak
yang mati di tengah hutan. Hiro menyesap
bibirnya selama beberapa detik sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya.
“Jaga dirimu baik-baik,” ujar pria itu seraya tersenyum lembut.
Keiko terlalu shock untuk merespon. Ia terus mematung di tempat semula
meski pintu telah ditutup rapat. Gadis itu masih tetap terdiam ketika terdengar bunyi “klik” ketika daun pintu
terkunci secara otomatis. Ia benar-benar tidak menduga Hiro akan berbuat
senekat itu. Ia tidak memiliki persiapan sama sekali, bahkan untuk menampar
pria itu saja ia tidak sempat memikirkannya.
Ia ingin berteriak dan memaki, tapi kemudian sadar bahwa Hiro berhak
menciumnya. Mereka akan segera menikah, bukan? Saat hal itu terjadi, Hiro
bahkan berhak melakukan apa pun yang diinginkannya. Memikirkannya saja langsung
membuat wajah Keiko memerah dan terasa panas.
Gadis itu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran
dan menadahkan tangan di bawahnya untuk menampung aliran air yang terasa dingin. Cairan itu terus mengalir
hingga memenuhi telapak tangannya yang menyatu dan membentuk cekungan. Keiko menatap nanar pada pantulan wajahnay di cermin. Entah ... untuk alasan
yang ia sendiri tidak mengerti, ia merasa kotor. Hal itu membuatnya sangat
frustasi.
Keiko menahan napas ketika genangan
air dalam tangannya membasahi wajah. Ia melakukan
hal itu beberapa kali, menggosok bibirnya dengan cukup keras, lalu membilasnya
lagi hingga ia merasa bibirnya telah cukup bersih.
Ini adalah ciuman pertamanya.
Sialan!
Alih-alih merasa berbunga-bunga
dan dihinggapi jutaan kupu-kupu, ia justru merasa kesal dan tidak rela
... juga sedikit merasa berdosa karena memiliki perasaan seperti itu.
Apakah itu artinya aku belum bisa menerimanya? Belum bisa mencintainya?
Keiko menghela napas dalam-dalam dan memejamkan mata, berusaha
mengingat perasaan apa yang timbul dalam hatinya ketika Hiro menyentuhnya tadi.
Tidak ada. Kosong. Semuanya terasa kosong dan hampa.
Gadis itu mendengkus putus asa. Ia meraih handuk untuk mengeringkan
wajah, lalu kembali ke dalam kamar. Saat matanya menangkap pantulan kartu
silver yang menyembul dari balik bantal, ia tiba-tiba teringat pada pria asing
yang menolongnya.
Tubuh pria itu yang kokoh tapi lembut, memberi rasa nyaman yang belum pernah ia
rasakan sebelumnya. Sorot matanya yang tenang dan teduh. Suara yang terdengar
tulus dan penuh perhatian ... semuanya terasa benar-benar berbeda.
Padahal Hiro pun memiliki kharisma yang sama, tapi Keiko seolah tidak
bisa merasakan hal itu darinya.
Sementara Andrew ....
Keiko mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya, membayangkan bagaimana
jika Andrew yang menciumnya. Memikirkannya saja sudah membuat jantungnya
berdentam tak beraturan.
“Ini benar-benar gila. Aku tidak boleh bertemu dengannya lagi. Benar-benar
tidak boleh!”