Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Interogasi



Ruang interogasi yang tidak terlalu luas seketika terasa semakin sempit ketika Hansel masuk. Suhu dalam ruangan menurun drastis, tatapan pria itu terlalu dingin dan menusuk, membuat petugas yang ada di dalam berdeham untuk meredam rasa gugup.


Hansel duduk sambil menyilangkan kaki dan merentangkan satu tangannya di sandaran kursi dengan santai, menetap lurus kepada petugas yang duduk di depannya. Tatapannya itu sungguh membuat gentar.


Siapa penjahat di sini, kenapa dia yang terlihat sangat mengintimidasi, gerutu sang opsir polisi dalam hati.


Meski demikian, ia tetap mempertahankan posisi tegaknya dan bersiap untuk mengajukan pertanyaan. Namun, sebelum ia sempat mengajukan pertanyaan pertama, suara yang penuh sindiran sudah terdengar dalam ruangan.


“Tak disangka, begini cara kerja aparat penegak hukum, penjahat dilindungi, sedangkan korban dijadikan tersangka.”


Mendengar ucapan itu membuat sang petugas polisi memberikan tatapan tidak suka. Tidak hanya sok, tapi ucapan "si tersangka" juga sangat blak-blakan dan tidak sopan.


“Apa maksud Anda, Tuan?” balas sang opsir dengan alis terangkat. Tentu ia harus membela harga diri pihak kepolisian.


“Bukankah Bryan Scoth melarikan diri dari penjara? Dia menyerang seorang gadis di toilet khusus perempuan, dan kalian masih membelanya. Seharusnya kaki dan tangannya dipotong agar tidak sembarangan keluyuran dan menyerang orang.”


“Bukan begitu cara kerja hukum, Tuan Hansel. Meskipun Bryan Scoth bersalah, Anda tidak berhak menghajarnya sampai kehilangan seluruh gigi depannya dan mengalami gegar otak,” tukas si Petugas dengan wajah masam.


“Oh, jadi saat melihatnya sudah merobek pakaian si gadis, aku harus menegurnya dengan lemah lembut dan mengajaknya dengan sopan untuk menyerahkan diri ke kantor polisi? Atau perlu aku ajak minum kopi dulu agar dia tidak ketakutan melihatku?” sindir Hansel seraya menaikkan alisnya. Tatapan sinis itu kini mengandung sedikit cemoohan samar. Aura yang terpancar dari tubuhnya membuat orang merasa sesak napas.


Wajah petugas polisi di depannya semakin cemberut. Ia memilih untuk mengacuhkan sindiran itu dan mulai bertanya.


“Pukul berapa Anda tiba di Berlyn’s Club?”


“Sekitar pukul satu siang.”


“Apakah Anda ada janji dengan Nona Cecille untuk bertemu di tempat itu?”


“Tidak. Aku kebetulan datang, tidak tahu kalau dia juga ada di sana.”


“Di mana Anda pada pukul—“


Klik.


Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian sang opsir dan Hansel. Mereka berdua menatap petugas bertubuh bongsor yang tadi menjemput Hansel di kantor. Pria itu berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.


“Bryan Scoth menghilang dari rumah sakit,” ujar pria itu seraya melayangkan tatapan penuh prasangka ke arah Hansel. Ia masuk dan duduk di sebelah rekannya. Tatapannya tak teralihkan dari wajah Hansel, memperhatikan semua perubahan ekspresinya dengan saksama.


“Apa Anda mengetahui hal ini, Tuan?” tanyanya dengan mata menyipit.


Hansel mencibir sekilas sebelum menjawab, “Bukankah aku bersama kalian sepanjang waktu?”


“Itu benar, tapi ... bisakah kami memeriksa catatan panggilan Anda?”


Hansel mengeluarkan ponsel dari sakunya dan meletakkan benda itu di atas meja. Pria bongsor itu segera keluar sambil membawa ponsel di tangannya. Di dalam ruangan, Hansel kembali diinterogasi, mulai dari di mana dirinya saat Cecille ke toilet, mengapa ia bisa menyusul ke toilet wanita, hingga mengapa ia mengurung Bryan di ruangan VIP setelah dihajar sampai babak belur.


Setelah semua prosesi itu selesai, Hansel dan keluarga Marquess of Alrico diperbolehkan untuk pulang, tentu saja setelah mereka memberikan uang jaminan yang tidak sedikit.


Karena Bryan Scoth masih belum ditemukan, maka polisi masih fokus untuk mencari keberadaannya lebih dulu. Marquess of Alrico berderap keluar dari kantor polisi dengan wajah merah padam. Seumur hidup, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini.


“Bajingan tengik itu, seharusnya aku membiarkannya mati kehabisan darah! Dasar bocah terkutuk!” umpat sang Marquess setelah mereka keluar dari kantor polisi.


Tadi ia membawa Bryan ke rumah sakit karena kondisinya yang sangat mengenaskan, siapa sangka bocah tidak tahu diri itu justru meminjam ponsel perawat dan menelepon ke kantor polisi. Benar-benar tidak tahu diuntung!


“Antonio, hati-hati bicara ... takutnya polisi mendengar dan mengira kamu ingin membunuhnya,” tegur Maria seraya mengusap lengan suaminya untuk menenangkan pria itu.


“Aku memang ingin membunuhnya! Bedebah sialan!”


Kalau bukan karena ayah Bryan yang terus meminta ampun untuk nyawa anaknya, entah apa yang sudah akan ia lakukan kepada bocah sialan itu.


“Papa, sudah ... ayo, pulang. Kita tunggu kabar selanjutnya di rumah.” Cecille ikut membujuk ayahnya.


Sekilas gadis itu melirik Hansel yang berjalan dengan tenang di sampingnya. Apakah hilangnya Bryan ada hubungannya dengan pria itu? Meski sangat penasaran, Cecille tidak berani bertanya. Ia tetap bungkam hingga mereka tiba di tempat parkir.


“Pulang dan beristirahatlah, ingat apa yang aku katakan tadi. Jangan cemas,” ujar Hansel kepada Cecille. Ia lalu menoleh ke arah sang Marquess dan istrinya, lalu menyapa dengan sopan, “Tuan, Nyonya, hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi.”


Ia membungkuk sekilas, kemudian membalikkan tubuh dan pergi. Sang Marquess yang sibuk mengomel sejak tadi seolah baru mendapatkan kembali kesadarannya. Ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi pemuda yang menyelamatkan putrinya itu sudah masuk ke dalam mobilnya.


“Cecille, ajak dia makan malam. Papa dan mama ingin berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkanmu berulang kali,” ujar Antonio.


“Tapi dia sibuk.” Cecille berusaha mencari alasan. Ia tahu apa tujuan kedua orang tuanya itu. Ia tidak ingin dijodohkan dengan Hansel!


“Tanyakan kapan dia ada waktu.” Maria ikut mendukung suaminya. “Tidak mungkin dia bekerja sepanjang waktu.”


Cecille hanya bisa mengerucutkan bibir dan menjawab, “Oke.”


Tentu saja hal itu tidak akan dilakukannya. Siapa yang mau makan malam dengan pria sombong dan menyebalkan seperti itu? Huh! Lebih baik ia mencari waktu untuk ... um, kapan Andrew pulang? Ia sudah tidak sabar ....


Sementara itu, di depan sana, mobil yang menjemput Hansel segera melesat kembali ke Injan Entertainment. Mobil itu berhenti di lobby utama. Betty yang sudah menunggu dengan was-was akhirnya bisa menghela napas lega ketika atasannya kembali tanpa dikawal polisi.


“Aku ingin beristirahat, jangan biarkan siapa pun masuk,” pesan Hansel sebelum masuk ke kantornya dan menutup pintu.


Alibi yang sempurna sudah tercipta, sekarang waktunya untuk pembalasan ....


Pria itu mengetik dengan serius di depan laptop, mencetak hasil tulisannya, kemudian berjalan masuk ke kamar yang disiapkan khusus untuknya beristirahat. Ia melangkah lurus menuju tembok di sisi lemari dan memutar lukisan naga merah yang menempel di sana. Sepersekian detik kemudian, dinding di depannya bergeser seperti pintu, menampilkan sebuah lift yang hanya muat untuk satu orang.


Ketika Hansel masuk, pintu kembali bergeser dan menutup. Ia menyentuh angka dua yang berpendar di sisi kiri panel. Sekejap kemudian, kotak besi itu meluncur turun dan berhenti di dalam sebuah ruangan berukuran 8 x 8 meter.


Ruangan itu tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, cukup untuk bertemu dengan kaki tangan Tuan Muda Kobayashi Hiro yang masih terikat sumpah setia dengannya. Meski jumlahnya tidak sebanyak ketika masih di Jepang, tapi kemampuan orang-orang itu tidak perlu diragukan lagi.


Ya, di atas bangunan itu dia adalah Hansel Roux, di bawah tanah ... ia tetaplah Kobayashi Hiro. Ia tidak bisa selalu mengandalkan Andrew Roux untuk menyokongnya. Oleh karena itu, ia membangun jaringannya sendiri. Berdiri di antara terang dan gelap, menjaga teritorinya dengan waspada. Kali ini, ada yang berani mengganggu seseorang yang berada dalam pengawasannya, tentu saja ia harus bertindak.


***