Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Lampion para dewa



Keiko tertidur selama satu jam penerbangan. Ketika pesawat sudah menempuh separuh rute, gadis itu terbangun dengan linglung dan melihat ke sekeliling. Ia tidak menyangka akan benar-benar tertidur di atas pesawat. Rasanya sedikit memalukan. Apakah Andrew akan menertawakannya?


Oh, bukankah tadi aku tertidur di ruang makan? Bagaimana bisa pindah ke sini? Apakah dia menggendongku?


Keiko menggigit bibir dan memukul kepalanya pelan. Bagaimana bisa ia benar-benar tertidur setelah makan? Gadis itu turun pelan-pelan dari atas ranjang yang super empuk dan nyaman, kemudian membereskan selimut sebelum melangkah keluar. Dari depan pintu kamar ia dapat melihat Andrew yang sedang tampak serius menatap laptopnya di atas meja. Ia menghampiri pria itu dan duduk di sebelahnya dengan hati-hati.


“Aku pikir kamu sedang berlibur,” ujar Keiko pelan.


Andrew sedikit terkejut karena tidak menyadari kehadiran kekasihnya itu. Ia sedang fokus mengisi berkas pengunduran diri. Ada cukup banyak formulir yang harus diisi. Semuanya baru dikirimkan ke emailnya 10 menit lalu. Ia langung mengisinya agar proses pengunduran dirinya bisa berjalan secepat mungkin, kalau bisa ... sebelum berangkat ke Paris nanti semuanya sudah selesai.


“Yeah, memang sedang berlibur ... tapi aku ditinggal tidur oleh seseorang,” jawab Andrew sambil memasang ekspresi murung.


Keiko tersenyum kikuk dan merapikan ujung-ujung bajunya yang kusut.


“Maaf, tadi pagi aku bangun terlalu awal, jadi sedikit mengantuk ...,” balas gadis itu sedikit merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, aku hanya bercanda saja,” ujar Andrew seraya mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Keiko, “Nontonlah dulu sebentar, ya. Aku bereskan ini dulu supaya kita bisa liburan dengan tenang di Yamaga, oke?”


“Oke,” jawab Keiko sambil mengangguk cepat, “Kalau begitu, kamu lanjut sibuk saja dulu.”


Gadis itu segera menyingkir dan pindah ke bagian room theater mini yang ada di sebelah. Ia memilih satu film action Korea dan mulai menonton. Tak lama kemudian, pramugari masuk ke ruangan itu dan membawakan aneka camilan.


“Ini pesanan dari Kapten untuk Anda, Nona. Selamat menikmati,” ujar sang pramugari sebelum kembali keluar.


Keiko tersenyum dan menggelengkan kepala dengan tak berdaya. Andrew Roux benar-benar telah memanjakannya hingga batas yang tidak wajar.


Di luar, Andrew mengisi semua formulir dengan teliti. Ia juga melampirkan berkas kasus yang pernah ditanganinya beserta nama anggota yang bekerja bersamanya dalam setiap misi. Ia harus membuka file sejak pertama kali bergabung dengan EEL. Itu artinya, ia harus memeriksa hingga delapan tahun ke belakang. Untunglah semuanya masih tersimpan rapi di dalam foldernya.


Tanpa terasa, itu semua memakan waktu hampir satu jam untuk membereskan semua berkas. Ketika Andrew mengirimkan email terakhir, suara pilot terdengar mengabarkan bahwa mereka akan segera mendarat. Pria itu bergegas mematikan laptopnya dan pergi ke ruangan theater.


“Baby, pesawat akan segera mendarat,” ujarnya seraya duduk di sebelah Keiko.


“Oh. Kamu sudah selesai?”


“Sudah. Baru saja.” Andrew mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Keiko erat-erat. “Takut tidak?”


Keiko tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Ada kamu, aku baik-baik saja,” jawabnya.


“Gadisku sudah pintar merayu,” balas Andrew sambil mendekatkan wajahnya, “Apakah kamu belajar dari film itu?”


“A-apa? Ti-tidak,” Keiko tergagap dan melirik ke layar theater. Rupanya sedang adegan pemeran wanita merayu dan mencumbu pemeran pria!


Sial! Mengapa pas sekali ketika Andrew datang?


Gadis itu meraih remote control dan mematikan layar theater, kemudian berdiri dan terburu-buru berjalan menuju pintu.


“Sudah sampai, ‘kan? Ayo, siap-siap untuk turun,” ujarnya seraya melesat keluar.


Andrew hanya bisa menghela napas dan ikut berjalan keluar. Dilihatnya Keiko sudah duduk dengan tenang dan memasang sabuk pengaman. Ia pun duduk dan melakukan hal yang sama.


Tak lama kemudian, badan pesawat mulai sedikit berguncang. Andrew melirik Keiko yang sedang mencengkeram pegangan kursi erat-erat sambil memejamkan mata. Tanpa mengucapkan apa-apa, pria itu mengulurkan tangan dan menggenggam jari-jari mungil kekasihnya.


“Tenanglah, ini hanya sebentar.”


“Hum ....” Keiko mengangguk dan membalas genggaman tangan Andrew.


Tak lama kemudian, guncangan itu berhenti. Roda pesawat melaju dengan mantap di atas landasan. Keiko membuka matanya dan bernapas dengan lega. Sekarang selain ayahnya dan Hiro, bertambah satu orang lagi yang mengetahui phobianya yang memalukan. Memikirkan hal itu membuat wajah Keiko memerah.


“Ayo, sepertinya jemputan kita sudah datang,” ajak Andrew sambil melihat keluar melalui jendela. Ia membereskan laptop dan barang-barangnya yang lain, kemudian menyimpannya ke dalam metal case.


Keiko ikut mengintip. Sekitar 20 meter di depan sana sudah ada sebuah mobil sport keluaran terbaru yang terparkir di jalur penjemputan.


“Apakah semua ini menggunakan dana pribadimu?” tanya Keiko, merasa sedikit curiga dengan semua kemewahan ini.


Pria itu menggandeng tangan Keiko dan berjalan menuju pintu keluar. Ia membantu kekasihnya keluar dan menuruni anak tangga dengan hati-hati, benar-benar memperlakukan gadis itu layaknya seorang putri.


Keiko menoleh lingkungan sekitar yang terlihat asri dan damai, sungguh jauh berbeda dengan hiruk-pikuk di Kota Tokyo. Rasanya perjalanan jauh yang ditempuhnya sepadan dengan keindahan yang disajikan di hadapannya itu.


“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Andrew.


Ia membukakan pintu mobil dan meletakkan metal case di bagian belajang, lalu memberi jalan kepada Keiko untuk masuk lebih dulu. Setelah yakin gadis itu sudah duduk dengan nyaman dan memakai sabuk pengaman, ia memutar dan masuk dari sisi yang berseberangan.


“Kita akan ke mana?” tanya Keiko penasaran.


“Nanti kamu akan tahu,” jawab seraya hanya mengedipkan mata.


Ia menyalakan mesin dan mengoper persneling. Suara khas mobil sport menderu di udara, ban berdecit dan berputar cepat ketika mobil melesat keluar dari landasan pribadi. Keiko mengamati pohon-pohon sakura yang seolah berlari cepat di sisi kanan dan kiri mobil. Jalanan yang menanjak dan berliku dilalui dengan mudah, melewati bangunan-bangunan yang masih tampak kuno, sangat kontras dengan bangunan yang ada di kota-kota besar. Keiko sungguh menikmati semuanya.


“Terima kasih sudah mengajakku ke sini,” ujar Keiko seraya menoleh ke arah Andrew.


“Tidak takut aku menculikmu?” goda Andrew.


“Tidak,” balas Keiko cepat, “Lagipula tidak perlu diculik pun aku akan mengikutimu dengan sukarela.”


Andrew terbahak hingga kepalanya mendongak. Ia tidak menyangka Keiko akan balas menggodanya seperti itu. Bagus juga. Itu berarti gadisnya sudah merasa nyaman dengannya. Bukankah begitu?


“Kita sudah sampai,” ujar Andrew sembari membelokkan kemudi ke arah sebuah toko yang bangunannya terkesan kuno. Ia memarkir mobil di depan toko dan keluar untuk membukakan pintu mobil bagi Keiko.


“Ayo, masuk.”


Keiko menurut dan masuk dengan patuh. Ketika pintu didorong terbuka, dekorasi dan interior di bagian dalam tampak memukau. Ada banyak kostum tradisional dan asesoris untuk pria dan wanita, juga bermacam-macam bentuk lampion yan dipajang di etalase, beberapa tergantung di langit-langit toko.


Seorang wanita paruh baya yang memakai kimono merah keluar dan menyapa, “Halo, ini pasti Mr.Roux dan Nona Keiko, bukan? Cantik sekali ... ayo, masuk ....”


“Halo, Nyonya ...,” sapa Keiko seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Halo, Nyonya Yue. Aku ingin mengambil pesanan,” ujar Andrew sambil tersenyum lebar.


Wanita yang dipanggil Nyonya Yue itu melambaikan tangannya dan memanggil pelayan untuk membawakan barang yang dimaksud oleh Andrew.


Rupanya itu adalah sepasang lampion kertas dengan bentuk yang unik. Warnanya keemasan dan masih polos.


“Ini, kalian bisa mengukir nama di sini dan menerbangkannya nanti malam. Dengan begitu, kisah cinta kalian akan terbang ke tempat para dewa. Jika mereka merestui, kalian akan menjadi pasangan kekasih untuk selamanya. Bahkan di kehidupan berikutnya, tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian.”


Andrew menerima lampion itu dan tersenyum lebar. Berbanding terbalik dengan Andrew yang tampak sangat puas, Keiko sedikit terpana dan menatap tidak percaya ke arah lampion yang sedang dipegang oleh Andrew.


Bukankah itu hanya mitos? Andrew Roux jauh-jauh ke sini hanya untuk hal sepele seperti ini? Keiko menatap kekasihnya dengan ekspresi yang campur aduk. Ia ingin tertawa, tapi juga merasa terharu dan tersanjung.


“Terima kasih, Nyonya Yue,” ujar Andrew seraya memeluk pinggang Keiko dengan mesra, “Aku memang berharap tidak akan berpisah dengannya sampai kapan pun ....”


“Sama-sama. Anda tidak perlu sungkan,” jawab Nyonya Yue yang tampaknya sudah biasa menemui pelanggan seperti Andrew. Wanita yang masih terlihat cantik dan memesona itu melanjutkan, “Sekarang pilihlah kostum yang ingin kalian pakai nanti malam. Aku punya beberapa koleksi yang didesain seperti milik para kaisar dan permaisuri pada zaman dahulu, tapi ada juga versi yang lebih modern. Kalian lihat-lihat saja dulu, ya.”


“Baik. Pacarku akan memilih untuk kami,” jawab Andrew.


Pria itu dengan antusias menarik tangan Keiko sambil berkata, “Ayo, Baby ... carikan aku baju yang akan membuatku terlihat semakin tampan.”


“Dasar tidak tahu malu,” gerutu Keiko pelan. Meski begitu, seulas senyum manis tetap tersungging di bibirnya.


Tak bisa dipungkiri, bersama Andrew Roux selalu membuatnya bahagia dan merasa lebih hidup. Ah ... ia benar-benar sudah tidak sabar menantikan festival nanti malam .....


***