Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Meninggalkan rumah tebing



Andrew membaca pesan yang baru saja masuk dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mendongak dan menatap rumah putih yang menjulang di atas tebing terjal, kemudian memantau melalui alat perekam yang sudah ia pasang di setiap sudut rumah.


Rumah itu terlihat sepi dan suram. Semua benda-benda yang dapat memberitahu bahwa ia dan Keiko pernah berada di sana sudah disingkirkan. Kini rumah itu benar-benar terlihat seperti bangunan kosong yang sudah lama tidak ditinggali.


Untungnya, berkat peringatan dari Kim, ia dan Keiko bisa segera bertindak tepat waktu. Andrew kembali menghubungi pemilik kapal yang mereka gunakan untuk melarung abu jenazah Mr.Sakamoto. Lalu, di sinilah mereka sekarang, di atas perahu motor yang melaju dengan tenang menjauh dari bibir pantai.


Andrew mendesah pelan dan membaca lagi pesan yang masuk dari salah satu anak buahnya. Kim tidak berhasil diselamatkan. Dia lebih memilih untuk mati bersama Mr.Tanaka, bahkan menyiarkan peristiwa itu secara online dengan meretas jaringan satelit militer EEL.


Andrew tidak bisa menduga kekacauan seperti apa yang kini terjadi di markas EEL. Begitu pun dengan Jovanka. Sayang sekali wanita itu memilih sisi yang salah dalam pertarungan ini. Meski tidak bisa dibilang menyukai Jovanka, tapi mereka pernah bekerja dalam tim yang sama. Mengetahui mungkin saja akan ada lagi orang yang dikenalnya yang bisa berakhir tragis seperti Mr.Tanaka membuat Andrew merasa sedikit tidak nyaman.


“Ada apa?” tanya Keiko yang dari tadi memerhatikan semua gerak-gerik Andrew dari belakang. Pria itu terlihat sedikit murung, tidak seperti biasanya.


Andrew menoleh dan tersenyum ketika mendapati sedikit rasa khawatir terpancar dari wajah gadis di hadapannya. Ia menggeleng pelan dan menjawab, “Tidak apa-apa. Jangan khawatir.”


Keiko mendengkus pelan dan memalingkan wajahnya. Jika tidak perlu khawatir, lalu mengapa mereka mengarungi lautan di tengah malam buta seperti ini? Ia bukan gadis yang bodoh. Kalau memang semuanya baik-baik saja, seharusnya sekarang mereka sedang tidur di kamar seperti biasanya.


Rumah tebing bisa dikatakan semacam save house. Jika Andrew terpaksa mengajaknya keluar dari tempat itu secara mendadak, itu artinya rumah itu sudah tidak aman lagi. Satu-satunya yang bisa membuat rumah tebing sudah tidak aman lagi adalah karena musuh sudah mengetahui lokasi mereka.


“Dari mana mereka tahu tempat ini?” tanya Keiko pelan. Gurat-gurat halus muncul di keningnya, pertanda ia sedang berpikir dan menganalisa semua kemungkinan.


Andrew tidak terlihat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Keiko. Ia tahu gadis itu cukup cerdas. Gelar dokter tentu tidak diperolehnya hanya dengan duduk di rumah dan bertingkah seperti seorang tuan putri.


“Dari mana pun mereka mendapat informasi itu, kamu tidak perlu cemas. Aku akan memastikan semuanya baik-baik saja,” jawab Andrew lugas.


Ia tidak mau memberitahukan apa yang terjadi pada Kim. Ia tahu Keiko memperlakukan Kim dengan cukup baik. Mungkin itu karena Kim sudah membantunya saat di markas EEL. Selain alasan itu, Andrew juga tidak mau membuat Keiko menjadi merasa bersalah karena Kim datang ke sini untuk mengantar abu jenazah ayahnya. Bisa saja gadis itu menganggap dirinyalah penyebab semua ini, lalu memaksa untuk menyerahkan diri kepada orang-orang yang sedang mengejarnya. Atau, yang lebih parah lagi, bisa saja Keiko nekat dan melarikan diri dari pengawasannya, kemudian melakukan hal-hal ekstrem yang tidak ia inginkan.


Keiko menatap Andrew lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. Ia menghargai usaha pria itu untuk membuatnya tetap nyaman. Akan tetapi, ia tidak memerlukan semua itu. Hal yang ia inginkan adalah terlibat dalam semuanya, bukannya dilindungi dan diblokir dari semua informasi seperti ini.


“Satu-satunya orang yang bisa dilacak menuju tempat ini hanya Kim. Dia yang mengantarkan abu jenazah ayahku. Apakah mereka berhasil menangkapnya?” tanya Keiko tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Andrew, tidak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan untuk mengamati perubahan pada raut wajahnya.


Mata Andrew berkilat tajam, sudut bibirnya berkedut samar. Ia merasa kagum dengan kemampuan analisa Sakamoto Keiko. Menilik dari ucapan gadis itu, dia tidak sedang bertanya, melainkan menegaskan dugaan. Dia ingin memastikan apakah tebakannya benar atau tidak.


Oleh karena itu, Andrew hanya bisa mendesah pelan dan menjawab, “Ya, mereka menangkapnya di dekat perbatasan kota.”


Wajah tenang Keiko sedikit berubah, persis seperti yang diduga Andrew sebelumnya. Gadis itu menautkan jemarinya dan bertanya dengan nada yang terdengar sedikit khawatir, “Siapa yang menangkapnya? Bagaimana keadaannya?


Keiko mengangguk dan bergumam sekilas. Sorot matanya kini terlihat lebih serius. Ia tahu pria tua itu tidak memiliki hati nurani, kejam, dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkan yang dia inginkan. Tiba-tiba Keiko merasa sangat cemas dengan keadaan Kim.


“Dia yang melakukannya. Sepertinya dia benar-benar sudah terdesak. Mungkin juga karena bukan dirinya saja yang mengincar dirimu dan ingin mengetahui lokasi tersembunyi yang ada dalam cincin itu sehingga harus bertaruh dengan waktu, oleh karena itu dia menjadi gegabah,” ujar Andrew seraya mengamati perubahan ekspresi pada wajah Keiko.


“Bagaimana dengan Kim? Apa kamu mendapat kabar mengenai kondisi terakhirnya?” cecar Keiko.


Seharusnya ia memaksa Kim untuk makan malam lebih dulu. Sekarang ia merasa sedikit menyesal karena belum sempat membalas kebaikan wanita itu. Lagipula, karena mengantar abu jenazah ayahnya lah sehingga Kim diikuti dan ditangkap.


Andrew menghela napas panjang dan menjawab, “Dia meledakkan diri.”


“A-apa?!” seru Keiko dengan sangat kencang, lalu buru-buru menutup mulut dengan kedua tangannya yang gemetaran. Sorot matanya meredup, menatap Andrew dengan linglung. Tekanan macam apa yang dialami oleh wanita itu sehingga lebih memilih untuk meledakkan diri? Ia tidak sanggup membayangkannya. Benar-benar tidak sanggup ....


“Dia mengubah setting menjadi manual dan memerintahkan inti tubuhnya untuk meledak,” jawab Andrew lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit lebih tenang, berbanding terbalik dengan Keiko yang semakin terkejut sekaligus tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Andrew.


“Apa maksudmu? Jelaskan ... aku tidak mengerti,” pinta Keiko dengan suara yang hampir tidak terdengar.


“Kim adalah salah satu humanoid yang diciptakan oleh Phoenix.Co. Dia adalah salah satu prototipe terbaik yang pernah diciptakan. Bisa berbicara, melakukan ekspresi seperti manusia, juga merasakan apa yang seharusnya dirasakan oleh manusia. Sakit, senang, sedih, takut ... ia bisa merasakan semuanya, juga untuk mengambil keputusan tanpa campur tangan remote control. Semuanya sudah diprogram agar dia benar-benar menyerupai manusia yang sesungguhnya,” jelas Andrew perlahan.


Ia tidak ingin menyembunyikan kebenaran lagi. Toh dengan video yang menyebar di internet, Keiko pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat. Jadi lebih baik ia mengatakannya sekarang.


Seluruh informasi itu terlalu banyak untuk dicerna dalam satu waktu. Keiko mematung dan menatap Andrew seolah pria itu adalah makhluk asing dari planet Mars yang sedang berbicara dengan bahasa luar angkasa.


Humanoid ....


Di era ini, hal semacam itu bukannya tidak masuk akal. Hanya saja ... Kim terlalu sempurna sebagai seorang manusia. Bagaimana mungkin ....


Keiko benar-benar tidak tahu apakah harus berduka atau justru tertawa mendengar pernyataan Andrew barusan. Semuanya terasa tidak nyata. Semua kehidupannya yang biasa saja mendadak jungkir-balik dalam sekejap, jauh melebihi nalar yang bisa diterima olehnya.


Pada akhirnya, gadis itu tetap memilih untuk berduka bagi sebuah mesin yang nyatanya lebih memiliki hati nurani jika dibandingkan dengan "manusia" itu sendiri.


***